My Pretty Boss

My Pretty Boss
Theo Pingsan



Hendra mengantar Aulia ke lokasi pemotretan dalam diam. Hendra terus dibayangi stempel merah di lehernya Binar.


Kau sudah menjadi miliknya kak Theo sepenuhnya ternyata. Stempel merah di leher kamu, itu buktinya. Aku memang pengecut, sedari awal rasa cintaku untukmu hadir di hatiku, aku tidak memperjuangkannya. Batin Hendra penuh rasa sesal.


Aulia terus menatap ke depan dan berkata di dalam hatinya, aku akan menjadi wanita yang bisa kau lirik, Mas. Aku akan berubah dan aku akan membuatmu mengalihkan tatapan cintamu ke aku, bukan lagi ke kak Binar.


"Mas, nanti ditinggal aja nggak apa-apa. Aku pulangnya bisa naik taksi kalau kamu repot dan nggak bisa menjemputku"


Hendra menoleh sekilas ke Aulia dengan menautkan kedua alisnya, "tumben. Biasanya kalau aku nggak bisa jemput, kamu uring-uringan terus ngambek sepanjang hari nggak jelas"


Aulia menyentuh pundaknya Hendra, "aku akan berubah sedikit demi sedikit ke arah yang lebih baik, Mas. Aku janji akan menjadi Aulia yang seusia dengan ekspektasi kamu, Mas"


Deg........Hati Hendra tersentuh mendengar ucapannya Aulia dan dia pun berkata sambil meraih tangannya Aulia untuk dia genggam, "aku juga berjanji akan berubah dan mulai membuka hati untukmu" Hendra mencium tangannya Aulia dan Aulia tersenyum bahagia.


Makasih kak Theo, kak Binar, kalian udah membuka mata Aulia. Aulia benar-benar akan berubah demi pernikahannya Aulia, demi mas Hendra. Kata Aulia di dalam hatinya.


Theo menoleh sekilas ke Binar sambil terus mengemudikan mobilnya, "kenapa diam? kamu akhir-akhir ini banyak diam, bukan lagi Binar yang dulu aku kenal"


Binar menoleh ke Theo, "ibu hamil memang berganti-ganti moodnya. Aku lagi pengen diam akhir-akhir ini mungkin karena fakto U juga, hehehehehe"


"Aku cuma khawatir kalau keputusan kita menikah membuatmu sedih. Aku nggak ingin kamu dan anak kamu merasa sedih"


"Aku bahagia kok. Cukup bahagia memiliki suami seperti kamu, sungguh. Bahkan aku bersyukur bisa menjadi istri kamu" sahut Binar sambil mengelus pundaknya Theo.


"Aku rela melakukan apapun demi kamu dan anak kamu Bin......"


"Eits! aku udah manggil kamu mas Theo kok kamu masih manggil aku Bin?" ucapan Binar memotong ucapannya Theo dengan cepat.


Theo menoleh sekilas lalu tersenyum lebar dengan sangat tampannya, "lalu kamu pengen aku memanggilmu apa?"


Binar mengalihkan pandangannya ke depan untuk menutupi rona merah di wajahnya dan berucap, "terserah kamu, dong"


Theo terkekeh bahagia, "emm, oke kalau begitu, aku panggil kamu sayang, boleh?"


Binar mematung mendengar kata sayang keluar dari mulutnya Theo. Binar teringat akan Aksa. Aksa hanya mengucapkan kata sayang saat mereka berpelukan di malam hari setelah penyatuan cinta mereka yang selalu membara di kala itu. Binar mendesah panjang karena, secara tiba-tiba dan tanpa dia minta, dia merindukan Aksa. Sangat merindukan Aksa.


"Bin?"


Binar mengangkat kedua bahunya karena kaget. Kemudian menoleh ke Theo dan berkata, "boleh" dengan lirih.


"Oke sayang, mas Theo kamu ini akan melakukan apa saja untuk kamu dan anak.....kita" ucap Theo sambil mengusap rambut Binar dengan penuh rasa sayang.


Binar tersenyum ke Theo namun, benaknya melayang ke sosoknya Aksa.


Aksa merasakan percikkan aneh di hatinya dan bayangannya Binar melayang di benaknya secara tiba-tiba. Aksa mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang untuk mengusir bayangan Binar Adelard, wanita yang sangat dia benci namun, juga tanpa bisa dia pungkiri, Binar Adelard juga sangat dia rindukan.


Aksa kembali fokus belajar setelah berhasil mengusir bayangannya Binar dari dalam benaknya. Aksa tidak sudi lagi mengingat Binar Adelard, wanita yang sudah menyakitinya begitu dalam. Wanita yang telah menyembunyikan perihal masa lalu Damian Adelard, papanya Binar dengan almarhum Dona, mamanya Aksa, yang telah mengatakan putus dan menikahi orang lain.


Aksa kemudian teringat kalau surat rekomendasi magang masih ada di tangannya Binar Adelard dan dia belum menandatanganinya. Aksa meraih ponselnya dan menelepon Boy.


"Aaahhh, gila Lo! kalau nelpon tuh lihat dulu jam berapa di sana? aku lagi repot nih" sahut Boy kesal.


"Aku yang harusnya protes, aku belum bisa tidur padahal di sini udah jam 12 malam, aku ingat kamu malah kayak gini balasanmu, cih!" sahut Aksa tidak kalah kesalnya.


"Sori Bro. Oke! aku hargai waktu dan pulsa kamu deh, hahahahaha, ada apa?" tanya Boy kemudian.


"Tolong mintakan surat rekomendasi magangku ke bos kamu, bisa? kampusku di sini membutuhkan itu" ucap Aksa.


"Kamu udah tanda tangan?" tanya Boy.


"Belum" sahut Aksa singkat.


"Waahhh! nggak bisa dong. Kalau kamu belum tanda tangan maka, kamu harus ke sini sendiri menghadap ke kak Binar, menandatangani surat itu" ucap Boy dengan santainya sambil meneruskan pekerjaannya di proyek.


"Kamu nggak bisa meniru tanda tanganku?" tanya Aksa.


"Tanda tangan kamu itu rumit, ruwet, penuh misteri, nggak bisa aku menirunya, hahahaha"


Sahut Boy.


Boy langsung melepas tawa renyahnya kemudian bertanya, "Sa, kalau kamu ke Amerika lalu pacar kamu gimana, dong?"


"Aku udah putus sebelum berangkat ke Amerika"


"Oh. Kalian nggak siap LDR, ya?" tanya Boy.


"Bukan soal LDR tapi dia menyembunyikan rahasia yang sangat besar. Rahasia yang sudah merubah hidupku, merubah hidup keluargaku. Papanya yang telah membuat papaku menceraikan almarhum mamaku, kemudian dia meminta putus tanpa penjelasan" kesedihan mendalam terdengar di nada bicaranya Aksa.


"Aku ikut prihatin. Semoga kamu bertemu dengan wanita yang lebih baik dari dia dan bisa move on" ucap Boy.


"Aku rasa aku nggak akan mencari wanita lagi. Semua wanita sama saja, bisanya cuma mempermainkan perasaanku saja. Apa aku ini terlalu naif sehingga mereka dengan gampangnya menganggapku sebagai mainan mereka?" ucap Aksa.


"Yeeeaahh aku paham perasaanmu. Kamu udah dua kali putus cinta dan putusnya karena, masalah yang pelik dan menyakitkan tapi, aku harap kamu bisa move on dan bisa jatuh cinta lagi dengan wanita yang lebih baik"


"Well, thank you Bro untuk doanya tapi, nggak akan aku Amini, hehehehe. Kamu bagaimana?" tanya Aksa.


"Aku udah move on dari Lela. Lela aku lihat semakin gila dan sejak tahu kak Theo menikah dengan kak binar, Lela menjadi sosok yang tidak aku kenal dan aku menjadi nggak respect lagi dengannya" ucap Boy.


"Waaahhh selamat! sekarang, siapa pacar kamu?" tanya Aksa.


"Kasih tahu nggak, ya?" ucap Boy.


"Jangan bilang kalau kamu pacaran dengan anaknya Bu kantin, pppffttt" Aksa bisa terkekeh geli berkat Boy.


"Hahahaha, kenapa kalau iya? anaknya Bu kantin tuh manis dan masih belia, daun muda Bro! hahahahaha"


"Jadi benar?" sahut Aksa dengan nada setengah tidak percaya.


"Hehehehe, aku berharap sih iya tapi, aku lebih memilih Nana, dia anak magang baru di sini. Dia baik, ramah, dan dewasa walaupun umurnya sama dengan kamu tapi dia dewasa" ucap Boy.


"Emangnya aku nggak dewasa? cih!" Aksa mendengus kesal.


"Hahahaha, iya kamu juga dewasa" ucap Boy.


"Memangnya kamu udah kenal sama anak magang itu berapa hari? kok udah jadian aja?" tanya Aksa.


"Dia juniorku waktu kuliah dan kami bertemu lagi di sini. Baru seminggu magang di sini, aku tembak langsung mau, hehehehe, ya udah deh kita jalan, pacaran sambil jalan, hehehehe"


"Lapar dong kalau pacaran sambil jalan" ucap Aksa sekenanya.


"Hahahahaha, lucu kamu Bro. Maksudku tuh sambil jalan untuk lebih mengenal pribadi masing-masing" ucap Boy.


Deg.........Dada Aksa berdegup kencang mendengar kata lebih mengenal pribadi masing-masing. Kata itu sering dia dengar setiap kali dia memeluk Binar di malam hari setelah percintaan mereka yang penuh gairah kala itu. Aksa kemudian menepis kenangan itu dengan berdeham dia berkata, "aku akan pulang tiga bulan lagi, untuk mengambil surat rekomendasi magangku, tolong sampaikan ke bos kamu"


"Oke! tapi kenapa nggak kamu sampaikan sendiri?"


Klik......Aksa langsung memutus sambungan teleponnya dengan Boy. Dia sedikit terhibur bisa mengobrol dengan Boy. Kemudian dia mematikan lampu belajar dan lampu kamarnya setelah dia lirik jam dinding di kamarnya telah menunjuk ke angka satu dini hari. Aksa kemudian merebahkan diri di atas ranjangnya dan memejamkan mata.


Lela diam-diam terus berusaha membalas sakit hati dan kecemburuannya ke Binar dengan cara kotor. Lela menjual informasi internal perusahaannya Binar ke rivalnya Binar tanpa Binar ketahui. Boy berhasil mencegah langkah pertamanya Lela dan hal itu membuat Boy benar-benar kecewa pada Lela. Seketika itu pula rasa cintanya untuk Lela luntur. Setelah rencana pertamanya digagalkan oleh Boy, Lela tidak putus akal, dia tetap mencari cara untuk menyakiti Binar karena, Binar telah merampas laki-laki yang dia cintai dan Binar telah merusak impiannya.


"Aaahhh!" Binar berteriak kencang saat sebuah lampu sorot untuk keperluan shooting, jatuh mengarah kepadanya. Theo segera berlari dan mendekap Binar sehingga lampu sorot itu mengenai punggungnya Theo.


Semua kru segera menolong Theo. Mematikan aliran listrik agar Theo tidak kena setrum dan mengambil lampu sorot dari atas punggungnya Theo.


Frida menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal karena, rencananya untuk menyakiti Binar telah gagal dan justru Theo yang terluka.


Punggungnya Theo memar terkena tiang penyangga yang terbuat dari besi, dan berdarah terkena pecahan bohlam LED lampu sorot itu.


Binar langsung memeluk Theo dan menangkup wajah tampan suaminya itu, "kamu kenapa bodoh sekali? kenapa pasang badan untukku?"


Theo tersenyum sambil mengelus pipinya Binar dan sempat berkata, "aku lega, kamu baik-baik saja" kemudian jatuh pingsan di dalam pelukannya Binar. Binar menangis panik dan langsung meminta tolong para kru membopong Theo masuk ke dalam mobil dan Binar segera melarikan Theo ke rumah sakit terdekat sambil terus menangis.


Andik segera mengikuti mobil yang dikendarai oleh Binar.


Semoga anda baik-baim saja, Bos. Batin Andik penuh kekhawatiran.