
"Aku muram. Kenapa aku muram? aku pun merasa hampa. Apa karena aku tidak memiliki apa yang selama ini aku inginkan?" gumam Aksa.
"Dulu aku jatuh cinta padamu secara tiba-tiba dan kau telah membuatku gila. Kenapa kita dulu harus dipertemukan? aku sungguh-sungguh merindukanmu bahkan semua lagu cinta yang pernah aku senandungkan tidak bisa membunuh kerinduanku padamu" Aksa berkata di depan cermin, "kenapa aku bisa begini menyedihkan hanya karena........cinta?"
'"Aku melindungi rasa cinta ini namun, rasa cinta ini tidak tahu berterima kasih, rasa cinta ini........" Aksa mencengkeram dadanya, "justru terus menggeram dan menyakitiku"
"Kalau gitu, lepaskanlah dan mulailah melindungi rasa cinta yang lainnya!"
Aksa secara otomatis berputar badan dan langsung mendelik, "mana sopan santun kamu selama ini? masuk kamar laki-laki tanpa mengetuk pintu dulu, hah?!"
"Aku sudah mengetuknya berkali-kali tapi nggak ada sahutan. Lalu aku dobrak pintunya"
"Hah?! kau dobrak.........shit! lalu aku tidur tanpa pintu dong entar malam"
Monica menggaruk kepalanya dan meringis lalu ia berucap dengan mimik wajah tanpa dosa, "itu salah kamu sendiri, kenapa nggak kamu jawab panggilanku tadi? kau juga mengabaikan suara ketukan pintu, aku khawatir jadi aku dob........"
"Kenapa kau khawatir?"
"Hah?!" Monica menarik rahang bawahnya.
"Aku bukan siapa-siapa kan bagi kamu? kenapa kau khawatirkan?" Aksa tersenyum getir, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, lalu kembali berucap, "aku tidak layak untuk kau khawatirkan karena aku......."
"Aku mencintaimu" pekik Monica. Ia mencurahkan semua rasa yang ia pendam selama ini, di nada tertinggi suaranya itu.
Aksa menengadahkan wajah tampannya ke langit-langit kamarnya lalu memejamkan kedua matanya sambil menghela napas panjang.
Monica segera berlari dan memeluk tubuh jangkungnya Aksa yang mematung.
Monica kembali berucap, "aku sungguh-sungguh mencintaimu"
Aksa menundukkan kepalanya untuk melihat belahan rambutnya Monica lalu mendesahkan kata, "sejak kapan?"
Monica semakin erat mendekap Aksa, "sejak aku lulus sekolah"
Aksa langsung mencekal kedua bahunya Monica dan mendorong tubuhnya Monica. Aksa mendekatkan wajahnya ke wajah manisnya Monica, mereka beradu pandang dan Aksa menyipitkan matanya, "bukankan kau tidak percaya adanya cinta?"
"Iya benar. Tapi aku juga tidak kuasa menolak ketika cinta itu melesak masuk ke hatiku" mata Monica memancarkan kesyaduhannya menembus rasa bersalah di sanubarinya Aksa.
Aksa lalu melepaskan kedua bahunya Monica, menegakkan tubuh jangkungnya kembali dan ia melangkah mundur sembari terus menatap Monica yang tampak kebingungan melihat mimik ambigu di wajah tampannya Aksa.
"Maafkan aku kalau pengakuan cintaku ini membebani kamu tapi aku tidak kuasa lagi menahannya" ketulusan terdengar di nada bicaranya Monica.
Aksa meraup wajahnya dan terus menatap Monica.
"Katakan sesuatu, caci maki aku atau apalah! jangan diam saja, Sa!" Monica melengkingkan suaranya.
"Aku nggak tahu mesti ngomong apa? aku merasa malu sama kamu karena, selama ini aku dengan seenaknya selalu memanfaatkan kamu. Aku merasa diriku ini seorang pribadi yang sangat buruk, egois, dan bodoh" Aksa lalu merapatkan bibirnya dan masih terus menatap Monica.
"Manfaatkan aku terus! manfaatkan Sa! sampai aku kehabisan daya pun aku nggak masalah dan aku tidak pernah menyalahkan kamu karena, aku tulus menolongmu dan aku tidak merasa telah kau manfaatkan"
"Tapi ini sudah waktunya untuk makan malam, kau tidak lapar?"
Aksa menggelengkan kepalanya.
"Sa, kumohon makanlah! lupakan pengakuan cintaku kalau itu mau kamu. Aku juga nggak butuh balasan darimu kok. Aku hanya ingin mencintaimu, titik"
Aksa semakin merasa bersalah lalu ia melangkah keluar dari dalam kamarnya dan meninggalkan Monica begitu saja.
Monica diam terpaku dua detik lamanya lalu ia berjongkok dan menangis terisak, "maafkan aku, Sa! harusnya aku tidak menyatakan cintaku ke kamu"
Di saat Aksa hendak membuka pintu mobilnya, Ada seorang laki-laki tampan berwajah ramah menyapanya, "selamat petang, apa anda pak Aksa?"
Aksa menghadap ke laki-laki tersebut dan berucap, "benar, saya Aksa. Anda siapa?"
"Saya asisten pribadinya Bos Theo Revano. Nama saya Andik"
"Oh! silakan masuk kalau gitu" sahut Aksa.
"Nggak usah Pak. Saya cuma mau menyerahkan surat ini. Emm, surat dari Bos saya, tuan Theo Revano dan saya permisi" Andik segera pergi saat surat dari Theo Revano sudah jatuh di tangannya Aksa.
Aksa memasukkan surat itu ke dalam saku jasnya lalu ia masuk ke dalam mobilnya. Ia meluncurkan mobilnya tanpa tujuan.
Tanpa Aksa sadari, ia menghentikan mobilnya di dekat taman tempat ia dan Binar pertama kali berkencan.
Aksa melangkah turun dari mobilnya dengan perasaan yang kacau balau lalu ia duduk di salah satu bangku yang banyak berjejer di pinggir taman itu.
Aksa lalu membuka surat dari Theo Revano sambil mengernyit, "apa dia tahu aku ada di sini? sejak kapan?" dan Aksa pun mulai membaca isi surat itu :
Hai Pulgoso! hehehehe. Aku tahu kamu ada di Indonesia dan aku tahu kamu membeli rumahnya Binar. Aku juga tahu kalau Silver Butterfly adalah kamu. Aku nggak cemburu, kamu membantu Binar sebagai silver Butterfly, justru aku berterima kasih padamu Pulgoso, eh Aksa, hehehehe.
Aku cuma heran kenapa kamu terus menyembunyikan diri kamu dari Binar selama ini bahkan di saat kamu udah begitu dekat dengan Binar sekarang ini pun kamu masih belum berani muncul di depannya Binar. Namun, aku kemudian paham, semua itu kau lakukan karena kau masih sangat mencintai Binar. Aku nggak marah kalau kau masih menyimpan rasa cinta itu karena aku paham, cinta itu memang kejam. Cinta nggak mau mengenal waktu, umur, ataupun pribadi seseorang. Cinta nempel begitu aja tanpa bisa kita tolak, membekas tajam tanpa kita minta dan ia memberi beban ke kita, bukankah itu kejam, hehehehe.
Aksa terkekeh lalu bergumam, "sedari dulu Theo itu emang gila dan santai banget orangnya" lalu Aksa melanjutkan kembali membaca surat dari Theo itu :
Aku sakit Sa. Sakit cukup parah dan hari Rabu di Minggu ini, aku akan menjalani operasi dengan efek samping yang begitu mengerikan. Kalau aku nanti harus koma atau kehilangan ingatan untuk waktu yang tidak bisa ditentukan itu berarti keadilan Tuhan untuk kamu. Aku ijinkan kamu muncul di depannya Binar dan temukan kebenaran-kebenaran yang berhak kamu ketahui nantinya.
Aku ijinkan kita bersaing lagi secara adil namun, jangan memaksa Binar jika ia langsung memasang tembok dan jangan dobrak tembok itu! karena jika kamu melakukannya, maka itu akan berdampak buruk bagimu dan bagi Binar. Jika Binar sudah berkata tidak dan menjauhi kamu, aku mohon berhentilah berjuang! Tapi, jika hal itu berbalik ke aku, jika Binar kemudian memasang tembok untuk aku dan memilih kamu, aku akan mengikhlaskannya asal kamu mau menerima Binar yang sekarang ini dan menyayangi kedua anaknya.
Bukannya aku mau menyerahkan istriku dan sudah tidak mencintainya lagi. Justru karena aku sangat mencintai Binar aku ingin membebaskan Binar dari bias rasa di masa lalu-nya dan sepertinya takdir satu pikiran denganku. Takdir memberikan kesempatan lagi untuk kamu dan Binar menyelesaikan semua urusan kalian di masa lalu. Takdir paham betul kalau aku melihat kalian secara sadar, melihat kalian saling dekat dan kalian berusaha menyelesaikan urusan kalian di depan kesadaranku penuh, maka aku tidak akan mampu bernapas jadi takdir hendak menarik aku menjauh dari kalian. berjuanglah namun, berhentilah jika kau diharuskan untuk berhenti!
Aku rasa ini caraku untuk menebus rasa bersalahku ke kamu. Aku berikan ke kamu kesempatan untuk bertarung kembali secara adil. Dan aku yakin, hasil akhirnya nanti adalah yang terbaik bagi kita semua. Dan aku yakin setelah itu, kita nggak akan terbebani dengan masa lalu kita lagi. Cukup sudah aku memberikan ketidakadilan buat kamu maka, berjuanglah! selagi takdir menarik aku untuk menjauh dari kamu dan Binar.
Aksa menatap tajam secarik kertas di atas tangannya, "dia memang gila tapi sangat cerdas, berhati tulus, dan aku menyukai pribadinya Theo Revano. Baiklah! aku akan ambil kesempatan itu dan aku berjanji aku akan bermain dengan adil tanpa memaksa Binar. Aku hanya akan memberikan Binar pilihan dan mengajari Binar untuk bersikap tegas atas aku dan kamu, Theo Revano"
Aksa lalu teringat dengan Monica, "Aku akan mencoba menyelesaikan urusan di masa laluku yang masih suram, Ca. Namun, bila aku diharuskan berhenti berjuang akan Binar, semoga kamu masih di tempatmu Ca" Aksa memanggil Monica dengan nama panggilan Caca, "dan aku akan membuka hatiku untuk kamu, semoga kau bisa bertahan sampai hari itu tiba namun, jika aku harus bersatu dengan Binar, aku akan pergi jauh dari kamu Ca, supaya kamu tidak tersakiti"
Aksa lalu berjalan masuk ke restoran yang berada tidak jauh dari taman itu untuk makan karena, tantangan sekaligus kesempatan yang Theo Revano berikan, membuatnya kembali bersemangat untuk hidup dan membuatnya kembali merasakan rasa lapar.