
Camelia memblokir jalannya Abimana ketika Abimana bergegas melangkah menuju ke restoran untuk menemu Arga dan mister Herald.
"Tolong jangan menghindariku terus! Aku mencintaimu. Sungguh-sungguh mencintaimu" ucap Camelia sambil mencoba untuk meraih tangannya Abimana.
Abimana melangkah mundur dan berucap tegas, "tapi aku tidak pernah mencintaimu dan selamanya tidak akan pernah mencintaimu. Tolong jangan menggangguku lagi!? masih banyak cowok di luar sana yang masih lajang dan lebih baik dariku. Jadi jangan menggangguku lagi!"
"Tapi aku hanya menginginkanmu, Abimana" Camelia mencoba kembali untuk meraih tangannya Abimana sambil terus melangkah maju karena, Abimana terus melangkah mundur untuk menjauhi Camelia
Abimana menepis tangannya Camelia sambil terus melangkah mundur.
"Jangan menjauhiku terus! dasar brengsek! jangan sok jual mahal kamu! Aku tahu kamu juga tertarik denganku paling nggak dengan tubuhku" Camelia memekik penuh kekesalan karena Abimana terus melangkah mundur menjauhinya.
Namun, cowok tampan papanya Arga itu terus melangkah mundur dan mengabaikan pekik kesalnya Camelia yang terus mendesah kesal sambil terus melangkah maju untuk bisa kembali meraih tangannya Abimana sehingga dia bisa jatuh dengan indahnya ke dalam pelukannya Abimana.
Tiba-tiba Camelia menghentikan langkahnya ketika melihat tangan melingkar di pinggangnya Abimana dari arah belakang tubuhnya Abimana lalu terdengar suara merdu dari seorang wanita, "sayang, kamu keluar kok nggak bangunin aku. Kita jemput Arga yuk! terus kita jalan-jalan"
Camelia terus menatap tangan cantik yang masih melingkar apik di pinggangnya Abimana.
Abimana langsung memutar badan. Dia tersenyum lega dan penuh kebahagiaan saat dia melihat wajah cantik istrinya. Lalu dia mengusap lehernya Mika, "kamu nggak pakai syal? ada banyak tanda cintaku lho ini, di leher cantikmu" Abimana sengaja berucap dengan keras supaya Camelia bisa mendengar ucapannya.
Mika terkekeh, "aku kan pakai jaket nih, tinggal diangkat kerahnya dah ketutup kan tanda cintanya kamu"
Abimana menganggukkan kepalanya dan langsung mencium bibirnya Mika.
"Siapa dia?" Camelia bertanya dengan sorot mata penuh kecemburuan.
Mika langsung menarik diri dari kuncian bibir hangat suaminya dan menatap Camelia lalu menoleh ke Abimana, "sayang, ternyata ada orang? kok kamu main cium aja sih, aku kan malu"
Abimana terkekeh lalu memeluk Mika dan menatap Camelia, "ini istriku. Istri yang sangat aku cintai dan hanya dia wanita di dunia ini yang pantas untuk aku cintai"
Mika tersenyum ramah ke arah Camelia lalu bertanya, "dan anda?"
Camelia menatap Mika selain rasa cemburu dia juga terpercik rasa iri melihat kecantikan, keramahan, dan keanggunannya Mika. Saking terpesonanya akan sosoknya Mika dia menjadi membisu dan mematung.
"Dia putri tunggalnya mister Herald" sahut Abimana sambil menciumi rambutnya Mika. Abimana masih belum puas melepas kerinduannya pada Mika.
Mika kemudian melepaskan diri dari dalam rangkulannya Abimana lalu melangkah mendekati Camelia. Mika mengulurkan tangannya ke Camelia, "kenalkan, saya istrinya Abimana, nama saya Mika" lalu Mika melempar senyum cantiknya ke Camelia.
Camelia terpaksa menyambut uluran tangannya Mika, wanita yang di detik itu juga mulai dia benci. Camelia dengan terpaksa menarik kedua sudut bibirnya untuk melukis senyuman ke arah Mika lalu berucap, "saya, Camelia"
"Nama yang cantik secantik orangnya" ucap Mika dengan tulus. Lalu Mika menoleh ke belakang dan berkata ke Abimana, "benar kan, sayang"
Abimana kemudian melangkah maju, memeluk Mika dengan sangat erat lalu berucap, "di mataku kamulah wanita paling cantik di dunia ini karena, kamu ibu dari anakku" Abimana kemudian mencium pelipisnya Mika dengan penuh cinta di depannya Camelia.
Camelia kemudian pamit pergi karena, dia tidak kuat melihat kemesraan yang terus Abimana pamerkan kepadanya. Dan di saat dia memutar badan meninggalkan Mika dan Abimana di saat itu pula dia mengepalkan tangannya dan mengeraskan wajahnya menahan kecemburuan yang begitu besar.
Mika menoleh ke Abimana yang terus merangkulnya sambil jalan menuju ke restoran untuk menjemput Arga lalu Mika bertanya, "sayang, kenapa sepertinya dia kesal sama aku?"
Abimana mencium kembali rambutnya Mika, "aku bertemu dengannya di pesawat dan menjadi akrab selama penerbangan. Tapi aku sungguh tidak menyangka dia memiliki rasa sama aku, huuffttt, aku sudah bilang aku punya istri, punya anak, dan aku terus menghindarinya tapi dia terus menggangguku maka aku minta kamu dan Arga untuk ke sini"
Mika terdiam dan membisu.
"Aku percaya sama kamu. Cuma entah kenapa, perasaanku menjadi resah" ucap Mika.
"Jangan dipikirkan! dia tidak akan berani menggangguku lagi karena, sudah ada kamu dan Arga di sisiku saat ini" ucap Abimana.
"Papa! Mama!" Arga memekik girang sambil melambaikan tangan ke mama cantik dan papa tampannya. Mister Herald menoleh ke Mika dan Abimana sambil tersenyum lebar.
Abimana melepas rangkulannya dan menarik kursi untuk Mika duduk lalu dia menarik kursi di sebelahnya Mika dan duduk di atas kursi itu menghadap ke Arga dan mister Herald..
"Waaahhh! anak papa senyum terus nih, kamu bahagia, nak?"
Arga semakin melebarkan senyumnya dan menganggukkan kepalanya dengan riang.
"Arga sangat pintar dan menyenangkan anaknya. Saya jadi nggak mau berpisah dengan Arga dan ingin menahan kalian untuk tinggal lebih lama lagi di sini, heeeee" Sahut mister Herald.
"Saya juga ingin lebih lama di sini karena tempatnya bersih, sejuk, dan nyaman tapi, pekerjaan kami sebagai seorang dosen tidak memiliki waktu panjang untuk berpiknik ria, heeee" ucap Mika.
"Anda sepertinya sudah siap untuk jalan-jalan?"
"Iya benar mister. Karena, waktu kita nggak lama di sini maka harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk bisa berjalan-jalan, emm, paling nggak untuk menikmati kincir angin yang sudah menjadi ciri khasnya negara Belanda, heeee" ucap Mika dengan senyum cantiknya.
"Emm, kincir angin ya? Amsterdam sebenarnya bukan tempat yang tepat untuk melihat kincir angin. Kota Eindhoven adalah tempat yang tepat Tapi jika hanya sekadar melihat kincir angin dan hanya punya waktu sedikit di sini maka anda bisa ke Molen Van Sloten windmill. Sedikit lebih jauh memang, lokasinya bisa dicapai dengan naik Tram nomer dua hingga stasiun terakhir lalu dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar lima belas menit" ucap mister Herald.
"Terima kasih atas info dan sarannya mister" sahut Mika dengan sangat senang.
"Saya sarankan kalian pergi sekarang mumpung masih sore jadi, pulangnya nanti kalian tidak kemalaman dan saya kasih peta nih karena, bentuk jalan dan kanal di Amsterdam rata-rata mirip, akan membingungkan bagi kalian jika kalian tidak membawa peta ini" ucap mister Herald sambil menyerahkan sebuah peta kepada Mika.
Mika tersenyum, menerima peta tersebut, bangkit, pamit kepada mister Herald dan langsung mengajak suami dan anaknya untuk berjalan-jalan.
Camelia yang memperhatikan kebersamaan papanya dengan keluarga kecilnya Abimana dari kejauhan, terus berdecak kesal. Dia kemudian bergumam, "kenapa papa bisa akrab dengan anak mereka dan papa sepertinya sangat menyayangi si Mika brengsek itu, shit!" dia mengumpat sambil memukul meja di depannya.
Setibanya di Molen Van Sloten windmill mereka bertiga, keluarga kecil yang bahagia itu mengambil foto keluarga di depan kincir angin tersebut dengan memakai tripod yang selalu berada di tas ranselnya Mika. Kincir angin di Molen Van Sloten windmill itu hanya sekadar aksesoris saja. Kincir angin itu tidak beroperasi dan tidak berputar karena, memang tidak ada angin yang cukup kencang di tengah kota Amsterdam.
Setelah berfoto di depan kincir angin, mereka naik Tram kembali dan mengikuti peta menuju ke stasiun Amsterdam Centraal dan menyewa tiga buah sepeda di MacBike Bicycle Rental. Sewa sepeda seharian dikenakan biaya tujuh Euro.
Mereka bertiga kemudian bersepeda dengan riang dan Mika selalu tertawa lepas setiap kali melihat Arga dan Abimana kesulitan untuk mengerem sepeda mereka karena, sepeda itu memang nggak ada rem tangannya dan cara mengeremnya adalah dengan membalik arah genjotan kaki. Arga dan Abimana berulangkali tertawa geli dengan sendirinya ketika mereka salah menggerakkan kaki dan sepedanya justru terus meluncur ke depan di saat mereka sebenarnya ingin mengeremnya
Mereka terus bersepeda berkeliling kota Amsterdam dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Mika tidak lupa mampir ke beberapa toko makanan dan oleh-ileh untuk membelikan pesanan papanya yaitu cokelat dan miniatur kincir angin. Mika memborong miniatur kincir angin untuk dia bagikan ke murid-murid dan kolega-koleganya dan dia membeli banyak cokelat untuk papanya dan Binar yang sangat menyukai cokelat. Mika juga memborong beberapa buku di sebuah toko buku yang menjual dengan sangat murah buku-buku dan Novel.
Alhasil dalam perjalanan mereka pulang untuk mengembalikan sepeda, sepeda itu digelantungi banyak sekali paper bag dan hal itu membuat Abimana hanya bisa mendesah panjang, terkekeh, dan menggeleng-nggelengkan kepalanya.
"Kenapa? cewek itu memang nggak bisa pulang dengan tangan kosong sehabis jalan-jalan" ucap Mika sambil mulai naik dan menggenjot sepeda yang dia sewa.
"Aku juga sama kayak mama. Aku juga nggak suka pulang dengan tangan kosong" sahut Arga.
Abimana berucap, "tangan kalian isi semua dan dompet papa yang kosong" ucap Abimana dan langsung melepas tawa riangnya.
Mika dan Arga ikutan tertawa sambil terus menggenjot sepeda yang mereka naiki. Mereka sampai di hotelnya Mister Herald tepat di jam sepuluh malam dan langsung menuju ke restoran untuk makan malam. Camilan kecil di sepanjang perjalanan mereka tadi, tidak sanggup menahan rasa lapar mereka untuk waktu lama. Setelah makan mereka segera masuk ke dalam kamar. Membersihkan diri, naik ke ranjang dan tidur bertiga sambil berpelukkan dengan lengan penuh kasih sayang