
Theo dan Binar berdiri di depan semua keluarganya.
"Selamat sore semuanya. Saya dan Binar mau membagikan kebahagiaan kami" Theo mencium pelipisnya Binar dan merangkul Binar.
Damian Adelard tersenyum lebar sambil menatap perutnya Binar, "sepertinya aku tahu kebahagiaan apa itu?"
Binar tersenyum lebar ke papanya dan berucap, "papa benar. Aku hamil tepat tiga bulan"
"Waaaahhhh! kepergian kalian ke Jepang selama dua bulan lebih lalu ke Bali selama seminggu langsung membuahkan hasil. Selamat untuk kalian berdua. Damian!" David menoleh ke Damian yang duduk di sebelahnya.
Damian menoleh ke David sambil tersenyum lebar, "iya Vid?"
David menepuk keras punggungnya Damian, "kita akan jadi opa! waaahhh! aku sangat bahagia ni" pekik David dengan tertawa lebar.
Damian memeluk David dan mereka tertawa lepas secara bersamaan.
Mika dan Abimana bersitatap dengan penuh senyum dan Arga langsung bangkit, berlari, memeluk Binar lalu berucap dalam kepolosannya sebagai seorang anak berumur lima tahun, "Tante, aku pesan adik cowok ya, jangan cewek! kalau cewek nanti aku diajak mainan masak-masakkan, aku nggak mau"
Semua tertawa renyah mendengar ucapan polosnya Arga.
Theo segera meraih Arga lalu dia gendong. Theo mencium kedua pipi gembulnya Arga kemudian berkata, "partnerku main bola, kita doa bareng ya semoga dedek bayi yang ada di kandungannya Tante Binar cowok kalau cewek diajak main bola bisa kok. Tante kamu ini cewek tapi pintar main bola, kan"
Arga mencium Theo lalu meronta turun kemudian berkata, "oke deh kalau cewek nggak apa-apa. Tapi........"
"Tapi apa?" tanya Mika.
"Tapi harus cantik biar nanti kalau Arga ajak jalan-jalan nggak malu-maluin"
Semua kembali tertawa terbahak-bahak mendengar celotehannya Arga.
Arga tersenyum lebar ke Theo kemudian kembali lagi ke kursinya.
Theo dan Binar duduk sambil menyisakan tawa lebar di kedua wajah mereka.
Hendra dan Aulia berkata secara bersamaan sambil tersenyum, "selamat ya"
Hendra kemudian bangkit dan berkata dengan senyum tampannya, "saya juga ingin menyampaikan ke semuanya kalau, Aulia saat ini juga hamil satu bulan"
David kembali memeluk Damian dan memekik riang, "dua cucu, wow! aku bahagia banget nih"
Aulia tersenyum bahagia ke semuanya.
Semua mengucapkan selamat ke Aulia dan Hendra secara bersamaan.
"Aku juga bahagia bakalan punya dua adik, yeeeaaayyyy!" pekik Arga sambil bertepuk tangan girang.
Binar mengusap penuh kasih sayang rambutnya Arga lalu berucap, "kenapa nggak minta adik ke mama kamu?"
Mika dan Abimana tertawa lebar lalu Abimana menyahut, "sebenarnya udah rem blong gas pol tapi belum ada hasil juga"
"Kebanyakkan tuh rem blong dan gas pol-nya" sahut Binar.
Abimana merona malu dan Mika melotot ke Binar dan semuanya langsung tertawa lebar.
Aksa sampai di rumah papanya dengan muka kusut. Dia menyalami mama tiri dan Embun adik kesayangannya lalu langsung pamit masuk ke kamarnya.
Aksa melompat ke atas tempat tempat tidur lalu menopang kepala dengan tangannya dan menatap langit-langit kamarnya.
"Aku salah ambil keputusan datang langsung untuk mengambil surat magangku" gumam Aksa kemudian dia menutup kedua matanya dengan lengannya dan jatuh ke alam mimpi.
Langit menjingga menyapa kedatangannya Kenzo Julian. Pak Joko segera memberikan laporan kalau tuan muda Aksa Putra Julian telah sampai di rumah dengan selamat, tadi siang. Kenzo langsung mengucapkan terima kasih ke pak Joko supir yang paling dia percayai.
Kenzo disambut Dara dengan senyum cantiknya. Kenzo mengecup bibirnya Data kemudian bertanya, "mana Aksa?"
"Di dalam kamarnya. Kamu mandi dulu terus turun ya, aku udah masak makanan kesukaan kamu dan kesukaannya Aksa"
Kenzo mengecup kembali bibirnya Dara lalu menganggukkan kepalanya dan melangkah lebar menuju ke kamarnya dengan didampingi asisten pribadinya.
Setelah menyerahkan tas kerjanya Kenzo, asisten pribadinya Kenzo segera turun lalu berpamitan sama Dara, nyonya besarnya untuk pulang.
Aksa keluar dari dalam kamarnya dalam keadaan segar dan wangi karena, setelah bangun tidur dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengguyur kepalanya yang masih terasa panas setiap kali dia mengingat tentang Binar Adelard.
Aksa duduk di meja makan di sebelahnya Embun. Dia melepas kerinduannya dengan Embun dan bercanda ria dengan Embun.
"Kak, kapan kita ketemu dengan kak Binar? Embun kangen banget sama kak Binar" sahut Embun dengan keluguannya.
Dara langsung menatap Aksa yang nampak tertegun dan kebingungan untuk menjawab pertanyannya Embun.
Embun menoleh ke mamanya lalu menoleh ke Aksa, "kok nggak sama-sama lagi kenapa? Embun kalau bertengkar dengan temannya Embun nggak lama-lama marahannya, besok juga udah baikan. Lalu kapan, kak Aksa baikan sama kak Binar?"
Aksa berdeham untuk melepas serak di tenggorokannya lalu berucap, "kakak dan kak Binar sudah nggak bisa berteman lagi karena........."
"Karena kak Aksa fokus ke studi-nya dulu jadi untuk sementara waktu nggak bisa sama-sama dengan kak Binar. Besok lusa kan, kak Aksa kamu ini, sudah balik lagi ke Amerika" sahut Dara.
"Oh! kalau gitu, kapan-kapan beneran ya ma, ajak Embun ketemuan dengan kak Binar" ucap Embun sambil menoleh ke mamanya.
Dara tersenyum, mengusap lembut kepalanya Embu lalu berucap, "iya sayang"
Aksa pun menginginkan bertemu lagi dengan Binar namun, keinginan itu dia kubur dalam-dalam di dalam relung hatinya yang berkali-kali terluka karena, dia paksa relung hatinya itu, memendam berbagai macam rasa yang bercampur aduk untuk Binar Adelard.
Kenzo muncul dengan senyum lebar di wajah gantengnya. Dia kemudian duduk di sebelah istrinya dan mulai memakan masakan yang sudah dimasak dan diambilkan oleh istri cantiknya.
Aksa makan dengan tidak bersemangat dan wajahnya terus merengut.
Dara merasa sedih menatap Aksa. Dia tahu bahwa hanya Binar yang mampu menghadirkan kembali senyum di wajah tampan putra tirinya itu
Kenzo berkata panjang lebar ke semuanya dengan diselingi candaan ringan namun, semuanya hanya lewat di Aksa. Aksa tidak memerhatikan semua candaan dan ucapan dari papanya.
"Sa? ada apa?" tanya Kenzo kemudian.
"Hah?!" Aksa mengangkat wajah tampannya untuk menatap wajah ganteng papanya.
"Kamu kenapa? kok diam saja dari tadi?" tanya Kenzo.
"Oh! aku capek, Pa" sahut Aksa dengan asal.
"Tadi papa tanya, kamu pulang bareng Berlian kok nggak kamu jawab?"
Aksa hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Kenzo.
Aksa kembali menggelengkan kepalanya.
Ketika Kenzo hendak bertanya lagi, Dara segera menepuk pahanya Kenzo lalu berbisik, "putra kamu capek, Mas. Nanti aja tanya-tanyanya"
Kenzo akhirnya mengalah dan mendesah panjang.
Setelah menyelesaikan makan bersama keluarganya, Aksa berjalan ke teras depan. Dia duduk di sana sendirian. Embun hendak berjalan menyusul Aksa namun, dicegah oleh Dara dan Dara berkata, "sayang, biarkan kak Aksa sendirian dulu, ya. Kita lihat kartun aja yuk!"
Dara dan Embun kemudian menuju ke ruang keluarga. Kenzo menghampiri Aksa dan duduk di dekatnya Aksa sambil membawakan dua cangkir kopi lalu dia letakkan kedua cangkir kopi itu di atas meja bundar kecil yang ada di pojokan teras depan istananya.
"Studi kamu gimana?" tanya Kenzo.
"Lancar, Pa"
"Gimana Berlian?" tanya Kenzo.
"Baik"
Kenzo mendesah panjang karena, Aksa hanya menjawab singkat setiap pertanyannya.
"Papa ingin tanya ke kamu, emm....kalau misalnya ......Papa atur pertunangan kamu dengan Berlian gimana?"
Aksa menoleh ke papanya dengan menautkan kedua alisnya.
"Berlian anak baik-baik. Dari keluarga terpandang dan papa kenal baik orang tuanya. Lusa kamu pulang ke Amerika, papa, mama dan adik kamu Embun akan ikut. Papa akan gelar acara pertunangan kalian di sana gimana"
Aksa merapatkan bibirnya dan masih menatap papanya dengan kerutan di keningnya.
"Kenapa menatap papa seperti itu? papa bantu kamu cari calon istri yang bibit, bebet, bobotnya baik. Papa terpaksa melakukannya karena, kamu nggak becus mencari calon pasangan hidupmu sendiri"
Aksa masih menatap tajam papanya dalam diam. Lalu berkata, "aku tidak mengenal Berlian dengan baik walaupun aku dan dia tinggal di bawah satu atap selama tiga Bulan ini. Dan perlu papa tahu, aku sama sekali tidak mencintai Berlian"
"Hahahaha, cinta akan tumbuh karena, terbiasa"
Akhirnya Aksa berkata, "terserah papa saja. Lakukan apapun yang papa suka"
Kenzo langsung tertawa lepas saking bahagianya, "oke! papa akan gelar pesta pertunangan kalian secara mewah dan akan papa siarkan secara live. Lalu, setelah kalian selesai kuliah, papa akan nikahkan kalian"
Aksa kembali menatap rumput hijau yang tumbuh rapi di halaman istana papanya dalam diam dan wajah datar. Aksa bahkan tidak berniat untuk berpura-pura menyambut pekik kemenangannya Kenzo atasnya. Kenzo sangat bahagia karena, Aksa yang selama ini selalu berselisih paham dengannya akhirnya mau menuruti apapun yang menjadi keinginannya.
Itulah Kenzo Julian, semua harus berjalan sesuai dengan keinginannya.