
Aksa berdeham namun tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Kedua netranya masih menangkap sosoknya Binar dengan penuh kebencian.
Binar menghela napas panjang, masih terpaku menatap Aksa dan secara refleks, dia mengusap perutnya yang sudah mulai nampak membuncit.
Aksa menatap tajam ke Binar dan menyeringai, "hidup kamu baik-baik saja ternyata. Kamu nampak bahagia dan tanpa beban. Jadi memang benar kalau kamu hanya menganggapku mainan kamu selama ini dan di saat kamu sudah mulai merasa bosan, maka dengan mudahnya mainan kamu ini, kau lepas, kau buang begitu saja..............Bahkan langsung kau lupakan, cih!"
Binar mendesah sambil terus mengusap perutnya dia menatap Aksa dalam kebekuan. Seluruh indra-nya Binar melemah. Bahkan Binar tidak memiliki daya untuk sekadar membuka laci meja untuk, mengambil surat rekomendasi magangnya Aksa yang ada di dalam laci mejanya itu.
"Kau tega Binar. Kau wanita paling kejam di dunia ini. Kau tega menyembunyikan soal papa kamu dan almarhum mamaku dan kau tidak memberikan penjelasan......Kau justru meminta putus" Aksa kemudian mengatupkan gerahamnya dengan keras dan menghunus tatapan tajamnya ke Binar Adelard. Rasa cinta yang sebenarnya masih ada tersudut dengan kebencian dan hal itu menimbulkan nyeri di sanubarinya yang terdalam.
Binar memejamkan kedua matanya sebentar sambil menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan, kemudian membuka kembali matanya untuk berucap, "aku sudah katakan aku tidak tahu soal papaku dan almarhum mama kamu, kan"
"Bohong!" Aksa berteriak kencang.
"Kamu memang tipe orang yang butuh bukti bukan sekadar ucapan dan kamu lebih percaya dengan papa kamu, jadi percuma juga aku beri penjelasan ke kamu" ucap Binar dengan suara sedikit bergetar menahan kesedihan.
"Cih! kau memang egois dan kejam Binar Adelard!" Aksa kembali berteriak kencang di dalam ruangan kedap suara itu dan menggebrak meja kerjanya Binar dengan sorot mata penuh kebencian.
Binar tersontak kaget dan secara refleks dia bangkit dan mendorong kursinya ke arah belakang.
Aksa bisa dengan leluasa memandang ke arah perutnya Binar, "kau....a.....apakah kau sedang ha.....mil?"
Perut Binar sudah terlihat membuncit kecil dan mendengar pertanyaannya Aksa, Binar dengan cepat menarik maju kursinya dan duduk kembali di kursi kerjanya itu, lalu menganggukkan kepalanya dengan lemah ke arah Aksa sambil mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Kau memang brengsek! dasar menjijikkan! kau putus denganku lalu dengan tidak sabar menikahi Theo, apa kau bergegas menikahi Theo itu karena, kau hamil di luar nikah dengan Theo? apa kau juga diam-diam menjalin hubungan dengan Theo saat masih berpacaran denganku?" Aksa dengan segera bangkit lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Binar dengan penuh amarah.
Binar pun dengan segera bangkit untuk menampar Aksa dengan sangat keras, kemudian berkata dengan sorot mata tajam, "kamu boleh menghinaku sesuka hati kamu. Kamu boleh berpikiran negatif tentang aku sesuka hatimu tapi, jangan hina suamiku!"
Aksa mengusap bekas.tamparan Binar di pipi kanannya lalu terduduk lemas, "kau mencintai Theo Revano? sejak kapan? apa sudah sedari dulu, sejak kita masih bersama?"
Binar segera membuka laci mejanya, mengambil selembar kertas dari sana, lalu menyerahkan surat rekomendasi magangnya Aksa itu sambil berkata, "pergilah! aku doakan kamu sukses dengan studi kamu dan hidup bahagia"
Aksa meraih surat rekomendasi magang itu dan menatap Binar tajam, "jawab dulu pertanyaanku! kamu mencintai Theo Revano?"
"Iya! aku mencintai suamiku. Sungguh-sungguh mencintainya, puas kamu!" pekik Binar kesal,
"Sejak kapan, Binar Adelard mencintai Theo Revano? jawab!" Pekik Aksa.
"Itu bukan urusanmu. Kita nggak ada hubungan apapun jadi aku merasa kalau aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu itu. Sekarang keluarlah dari ruanganku!"
Aksa bangkit lalu menyeringai penuh kebencian ke Binar, "aku akan buat kamu melihat aku sukses dan bisa hidup bahagia tanpa kamu. Aku juga bisa seperti kamu, melupakan masa lalu kita dan mencintai orang lain"
"Bagus! lakukan itu dan hiduplah bahagia" keseriusan dan ketulusan terdengar di nada bicaranya Binar.
"Selamat untuk kehamilan kamu dan sampaikan ucapan selamatku ke Theo Revano yang sudah berhasil memiliki kamu sepenuhnya dan akan menjadi seorang papa" ucap Aksa dengan senyum sarkastik. Aksa kemudian bangkit dan mendorong kursinya dengan sangat kasar lalu memutar badan dan keluar dari ruangannya Binar. Tanpa Aksa sadari, dia membanting pintu ruangannya Binar itu.
Boy bergegas menghampiri Aksa yang masih berdiri di depan pintu ruangannya Binar, "kenapa kau banting pintunya? apa kak Binar membuatmu kesal?"
Aksa segera mengulas senyum lebar di wajah tampannya untuk menyembunyikan kekesalan di hatinya lalu berkata, "oh! tanganku berkeringat dan licin jadi tanpa sengaja aku menarik pintunya terlalu keras.
"Oh! kau mau langsung pulang?" tanya Boy.
Aksa menganggukkan kepalanya.
"Ke apartemen kamu? kalau iya nanti sore aku main ya?.aku akan kenalkan pacarku ke kamu" ucap Boy dengan senyum cerianya.
"Aku pulang ke rumah papaku" sahut Aksa.
"Oh! kalau gitu, nanti sore kita ketemuan di warung ramen, bisa? aku akan traktir kamu"
"Oke! di warung ramen dekat kantor?" tanya Boy.
"Jangan di warung ramen! Datang saja ke resto Bambu jam enam sore. Aku tunggu di sana" ucap Aksa sambil menepuk pundaknya Boy lalu melangkah pergi meninggalkan Boy sembari melambaikan tangan ke kolega-koleganya yang lain dengan senyum ramahnya.
Boy menatap punggungnya Aksa dan bergumam, "sepertinya benar dugaanku selama ini. Aksa dan kak Binar dulunya adalah sepasang kekasih dan besok aku akan tanya ke Aksa soal ini" Boy kemudian melangkah ke meja kerjanya.
Binar duduk dengan lemas kemudian menelepon Theo, "Mas, apa mas masih di jalan?.masih lama nggak njemputnya?"
"Jangan manja!" sahut Mika kakak perempuannya Binar.
"Lho! semua udah ngumpul di resto ya?"
"Iya sudah. Aku akan menjemputmu" ucap Theo dan Mika langsung meminta ponselnya Theo.
Theo menyerahkan ponselnya ke Mika dengan kerutan di keningnya.
Mika segera berucap, "naik mobil sendiri kenapa? jadi cewek jangan manja! Theo capek kan kalau harus bolak-balik dan....."
Theo segera meminta ponselnya kembali dan Mika mengembalikan ponselnya Theo sambil berkata, "jangan terlalu dimanjakan, nanti kamu repot sendiri!"
Theo meringis lalu pamit ke semuanya untuk menjemput Binar lalu dia berlari kecil menuju ke parkiran mobilnya sambil menempelkan lagi ponselnya di daun telinganya, "sayang, maaf tadi kak Mika meminta ponselku dan....."
"Kak Mika benar, aku naik mobil sendiri aja. Kamu capek nanti bolak-balik. Dari bandara tadi kamu kan belum beristriahat" ucap Binar.
Theo memasang sabuk pengamannya lalu berkata, "aku on the way. Kamu tunggu aku! kamu sedang hamil, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa kalau nyetir mobil sendiri. Pokoknya tunggu aku!" ucap Theo dan klik. Theo memutus sambungan teleponnya lalu mengemudikan mobilnya menuju ke kantornya Binar.
Binar menaruh ponselnya kembali ke dalam tas kerjanya kemudian melangkah keluar dari dalam ruangannya.
Binar pamit ke semua karyawannya untuk turun ke bawah. Menunggu suaminya di lobi kantornya. Binar duduk di sofa lalu mengetikkan pesan text ke Theo, memberitahu Theo kalau dia menunggu di lobi.
Aksa masuk ke dalam mobil yang dikirim papanya untuknya.
Pak Joko bertanya ke Aksa, "tuan muda, bukankah itu pacarnya tuan muda?"
Aksa mengikuti arah pandangnya pak Joko, supir pribadi papanya dan dia melihat kembali wajah cantiknya Binar. Binar duduk di atas sofa sambil menundukkan wajah cantiknya menatap layar ponselnya.
"Nggak diajak bareng, tuan muda? saya bisa mengantarkannya pulang dulu. Saya kan pernah menjemput tuan muda di rumah pacarnya tuan muda itu" kata pak Joko kemudian.
Aksa tanpa sadar berucap, "jangan lajukan dulu mobilnya Pak! saya masih ingin menatapnya"
"Baik tuan muda. Tapi kenapa tidak diajak masuk ke mobil aja?" tanya pak Joko dengan polosnya.
"Saya dan dia udah putus, Pak. Dia jahat, dia hanya ingin mempermainkan saya selama ini. Dia sudah menjadi istri orang lain dan sudah hamil saat ini" kesedihan yang begitu dalam terdengar di nada bicaranya Aksa.
"Oh! maafkan saya tuan muda! saya tidak tahu kalau anda dan cewek itu udah putus. Cewek yang sangat cantik itu memang kebanyakkan kejam" ucap pak Joko
"Nggak apa-apa, Pak dan pak Joko benar, cewek cantik memang semuanya kejam, suka mempermainkan perasaan laki-laki naif seperti saya ini" sahut Aksa dengan suara lirih sembari terus menatap Binar dan Aksa melihat Binar sesekali mengelus perutnya Binar yang nampak buncit namun, terlihat semakin seksi dan menggoda.
Andai anak itu anakku, Bin. Andai kita saat ini adalah sepasang suami istri, kita pasti bahagia banget. Namun, sayangnya kamu jahat, brengsek, dan kejam, cih! Batin Aksa dengan sorot mata penuh penyesalan berbalut dengan kebencian.
Beberapa menit berselang, Theo turun dari dalam mobilnya dan berlari kecil masuk ke dalam kantornya Binar. Binar bangkit dan menghambur masuk ke dalam dekapannya Theo. Theo mencium kening dan pipinya Binar kemudian merangkul Binar dan berjalan ke parkiran mobilnya.
Aksa mengamati kemesraannya Binar dan Theo itu, dengan desahan panjang yang mengandung rasa cemburu dan kebencian yang begitu dalam. Aksa kemudian berucap, "jalan Pak!"
"Baik tuan muda" pak Joko segera melajukan mobil mewahnya Kenzo Julian menuju ke istana megahnya Kenzo Julian.