
Binar, Theo, Aulia, Hendra, dan David berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama.
"Dek, selamat ya. Ini hadiah dari kakak" kata Binar sambil menyerahkan dua amplop panjang berwarna putih.
"Apa ini, kak?" tanya Aulia.
"Bukalah!" Binar tersenyum dan Theo langsung merangkul bahunya Binar.
Hendra memandang tangannya Theo yang mendarat manis di bahunya Binar dengan sorot mata tidak rela. Dia masih merasa cemburu.
Aulia membuka satu per satu amplop putih pemberiannya Binar itu. Amplop yang pertama dia buka, berisi dua tiket pesawat VIP ke Maldive-Lampung dan amplop yang kedua berisi paket bulan madu selama satu Minggu.
Aulia memekik bahagia dan secara spontan mengangkat wajah cantik ke Binar dan berkata, "terima kasih banyak kak! kok kakak tahu, aku pengen ke Maldive?"
Theo juga menoleh ke Binar dengan senyum tapi wajahnya mengandung tanya.
"Papa yang kasih tahu" sahut David.
Semua menoleh ke David Revano yang masih mengulas senyum tampannya. David kemudian berkata ke Aulia, "kakak ipar kamu ini, sungguh menyayangi kamu. Kak Binar kamu ini, tanya ke papa apa aja kesukaanmu, apa yang nggak kamu suka, dan apa impianmu. Papa bilang kalau salah satu dari impianmu adalah, menghabiskan waktu di pulau Maldive"
Aulia menoleh ke Binar dan berucap, "terima kasih, Kak" Aulia memandangi terus wajah cantik kakak iparnya itu, seolah masih belum percaya kalau kakak iparnya itu sungguh-sungguh peduli padanya.
Hendra terpaksa mengulas senyum dan berkata, "terima kasih"
Hendra merasa malas untuk pergi berbulan madu ke pulau Maldive dengan Aulia. Hendra membayangkan bahwa dia akan menjadi pengasuhnya Aulia sepanjang hari, selama seminggu.
Aku membayangkan bulan madu yang sungguh kelam. Batin Hendra kesal.
"Sama-sama" sahut Binar dan Theo segera mendaratkan ciumannya di pipi mulusnya Binar. Binar menoleh ke Theo dan tersenyum.
Binar kemudian berdiri dan mengangkat piringnya, Theo segera mencekal bahunya Binar, "mau ke mana?"
"Mencuci piring" kata Binar.
"Memangnya kamu bisa cuci piring? entar yang ada tuh piring kamu anggap sebuah bola dan kamu lempar sesuka hati kamu lagi" ucap Theo sembari bangkit dan terkekeh geli.
Binar tertawa dan menepuk bahunya Theo.
"Tinggal aja Nak! biar Sumi, yang membereskannya" sahut David sambil tersenyum lebar.
"Saya bisa kok Pa. Kasihan mbak Sumi kalau harus membereskan semuanya sendirian" Binar tersenyum ke papa mertuanya lalu memutar badan sambil mengangkat piring-piring kotor untuk dia bawa ke wastafel.
"Aku akan membantumu" Theo mengambil alih piring-piring kotor dari tangannya Binar kemudian berjalan mengiringi langkah Binar menuju ke dapur.
"Bantu kakak kamu!" perintah David ke Aulia.
Aulia segera bangkit dan menyusul kakak laki-laki dan kakak iparnya.
Binar mencuci piringnya sedangkan Aulia dan Theo mengelap dan menaruhnya di tempat pengeringan.
Tiba-tiba ponselnya Aulia berbunyi, "maaf, Aulia terima telpon dulu, Kak"
Binar dan Theo menganggukkan kepalanya dan selang tiga menit kemudian, giliran ponselnya Theo yang berbunyi, "aku terima telpon dulu, ya"
Binar menganggukkan kepalanya.
Melihat Theo dan Aulia pergi meninggalkan Binar sendirian di dapur, Hendra menoleh ke papa mertuanya yang nampak asyik mengurus bisnisnya dengan laptopnya. Hendra tersenyum dan segera berdiri. Hendra ingin mendekati Binar dan berduaan dengan Binar. Hendra sungguh merindukan masa-masa SMA-nya di mana dia bisa dengan leluasa dan santai, mengobrol berdua saja dengan Binar, bercanda ria sambil makan di kantin sekolah mereka.
"Aku bantu, ya?"
Suara Hendra membuat Binar terlonjak kaget namun kemudian wanita cantik istrinya Theo itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke Hendra.
Hendra kemudian membantu mengelap perabot dengan helaan napas pendek. Hendra menatap Binar dari arah samping dan tidak bisa dia pungkiri kalau dia masih sangat mencintai dan merindukan Binar. Kemudian dia berkata, "aku masih sangat mencintaimu dan apa kau tahu kalau rasa ini sungguh menyesakkan dadaku, Bin?" dia berkata seperti itu, atas dorongan rasa yang terus menggelitik dan menyiksanya.
"Aku punya alasannya dan aku tidak ingin membaginya denganmu"
"Aku sungguh masih berharap akan cintamu, Bin" ucap Hendra dengan desah napas panjang menahan cintanya yang masih menggelora dengan hebatnya untuk Binar.
Aulia mengerem langkahnya di saat dia hendak masuk ke dalam dapur dan secara tidak sengaja menangkap kata yang meluncur bebas dari mulutnya Hendra. Aulia menutup mulutnya dan mematung.
Binar menoleh ke Hendra, "itu obsesi bukan cinta. Kamu sekarang ini sudah memiliki seorang istri jadi, cintailah istri kamu! Berhentilah menggangguku karena, aku tidak mencintaimu"
Hendra diam membisu dan terus menatap wajah cantik pujaan hatinya sedari masa SMA. Kemudian Hendra bertanya, "apa kamu mencintai kak Theo?"
Glek! Binar menelan salivanya dengan terpaksa, kemudian menatap tajam ke Hendra, dan untuk membunuh harapannya Hendra akan dirinya maka Binar berkata, "tentu saja aku mencintai Theo dan aku akan setia hanya pada Theo Revano, suamiku. Jadi berhentilah menggangguku!"
Benar kata kak Theo. Kak Binar tidak menggoda mas Hendra dan kak Binar tidak mencintai mas Hendra. Justru mas Hendra lah yang terus mengejar dan menggoda kak Binar. Batin Aulia.
Aulia menghela napas kemudian memutar badan dan menabrak dada bidangnya Theo. Theo mengerutkan kening dan menunduk, "ada apa? kok nggak jadi ke dapur?"
Aulia mengangkat wajahnya, "emm, aku mau ambil tasku, Dea meneleponku dan aku harus segera datang ke pemotretan" Aulia segera melangkah lebar meninggalkan kakak laki-laki yang sangat dia sayangi itu.
Selang dua menit kemudian, Hendra melangkah keluar dari dapur dan berpapasan dengan Theo, "Aulia mana, Kak?"
"Ke kamar ambil tas" sahut Theo.
"Terima kasih" sahut Hendra tanpa menoleh ke Theo, dia pun melangkah lebar meninggalkan Theo.
Arah pandangnya Theo mengikuti langkah Hendra dan Aulia kemudian menghela napas kemudian melangkah menuju ke Binar.
"Udah selesai?"
Binar memutar badan menghadap ke Theo, "udah. Habis ini Kita mau ke mana? aku nggak ngantor hari ini karena jam sepuluh ada meeting dengan klienku di Apple Resto lalu aku mesti meninjau lokasi setelah itu, pulang"
"Aku ada perlu sebentar di lokasi shooting. Ada masalah teknis nggak penting sih tapi aku harus memastikan semuanya sudah sesuai dengan prosedur apa belum. Kamu ikut aku dulu sebentar, nggak apa-apa? atau kamu mau menunggu di sini, nanti dari lokasi shooting aku jemput kamu ke sini?"
"Aku ikut kamu aja, sekalian ingin melihat lokasi shooting secara nyata, heeeee"
"Baiklah tuan putri cantikku. Kita ke lokasi shooting sebentar, setelah itu aku akan menjadi milik kamu sepenuhnya, hehehehe"
Binar terkekeh lalu berkata, "oke! aku percayakan diriku sepenuhnya ke kamu, pangeranku dan janjimu aku pegang, setelah semua pekerjaanmu kelar, aku akan benar-benar memilikimu sepenuhnya"
Theo tertawa lepas sambil mencubit hidungnya Binar dia berkata, "kamu pandai membuat hatiku bahagia, Bin" kemudian merangkul Binar untuk melangkah ke papanya yang masih asyik bekerja dengan laptopnya.
"Pa, kami ke proyek dulu"
David mendongakkan wajahnya dan bertanya, "lho, Binar ikut kamu?"
"Iya, Pa. Binar ikut Theo dulu setelah itu........"
"Lho, lho, lho........ kok manggilnya masih Theo, Theo aja? nggak manggil sayang atau mas atau bunny, honey, dan kawan-kawannya to?" kata David Revano sambil senyum-senyum ke Binar.
Binar tersenyum canggung dan berkata, "umm, i...itu....anu Pa, emm........."
"Pa, jangan godain Binar dong, kita baru saja menikah dan Binar masih belum terbiasa memanggilku........"
"Mas Theo" sahut Binar.
Theo menoleh seketika ke Binar dan tersenyum sambil menaikkan salah satu alisnya, "aku nggak salah dengar nih?"
"Papa benar, aku akan biasakan diriku memanggilmu mas Theo" Binar tersenyum ke Theo.
David Revano langsung bangkit dan tertawa bahagia lalu menepuk pundak kanannya Theo dan pundak kirinya Binar kemudian berucap, "papa doakan kalian langgeng sampai maut memisahkan kalian berdua"
"Amin" sahut Binar dan Theo secara bersamaan.