
Binar kemudian menarik diri dari pelukannya Aksa lalu menatap Aksa dan bertanya dengan lugas, "lalu kita ngapain setelah ini?"
Aksa terkekeh dan mengusap kepalanya Binar, "kamu mau ngapain aja, aku akan menurutinya. Apa impian kamu tentang berpacaran, aku akan mewujudkannya"
"Emm.......ada banyak sih, heeeee. Aku memimpikan banyak hal karena, aku belum pernah berpacaran. Dan.......Aku pengen semua impian yang aku miliki itu, bisa aku rasakan secara nyata saat aku punya pacar nanti" Binar tersipu malu di depannya Aksa.
Aksa tersenyum penuh rasa sayang ke Binar, "sekarang kamu sudah punya pacar. Katakan apa saja impianmu itu"
"Aku pengen nonton film di bioskop, setelah itu makan malam berdua, setelah makan malam berdua, aku pengen berjalan bergandengan tangan di sebuah taman, heeeee. Itu saja dulu, apa kita bisa melakukan itu semua sekarang ini?"
Aksa mengusap kembali kepalanya Binar sembari tersenyum dan memasangkan sabuk pengamannya Binar lalu dia memasang sendiri sabuk pengamannya, melajukan mobil itu dan berkata, "pangeran Aksa siap mengantarkan tuan putri ke bioskop"
Binar menoleh ke Aksa dan tertawa bahagia.
Aku jalani aja berpacaran dengan dia. Kalau harus putus ya putus. Batin Binar.
Aksa melirik Binar dan berkata, "mulai detik ini aku akan menjadi yang pertama untukmu, di dalam segala hal"
Binar menoleh ke Aksa, "terima kasih"
Aksa meraih tangannya Binar, dia taruh di atas pangkuannya untuk dia genggam hingga mereka sampai di depan sebuah Mall yang mewah beberapa jam kemudian. Tanpa Binar ketahui, Mall itu milik Julian Grup, CEO-nya adalah papanya Aksa. Aksa berulangkali diminta oleh papanya untuk mengurusi bisnis papanya, untuk ambil S2 jurusan manajemen bisnis di luar negeri namun Aksa menolaknya. Aksa ingin menjalani hidup sesuai dengan bakat dan minatnya dan menolak didikte oleh papanya.
Beberapa karyawan Mall tersebut yang mengenali Aksa sebagai putra dari bos mereka, bapak Kenzo Julian, langsung menundukkan kepala mereka ke Aksa ketika Aksa dan Binar melangkah memasuki Mall tersebut menuju ke lantai atas ke Bioskop Cinema XX untuk menonton film. Karyawan Mall itu menghormati Aksa Putra Julian.
Namun Binar menjadi salah paham. Bos cantik pacar barunya Aksa bahkan tidak mencurigai kalau Aksa adalah putra pemilik dari Mall besar itu. Binar yang melangkah bergandengan tangan dengan Aksa menjadi malu dan langsung menarik tangannya dari genggaman tangannya Aksa. Dia merasa kalau beberapa orang yang tersenyum dan menunduk ke Aksa itu karena, mereka nggak suka melihat ada seorang wanita tua bergandengan tangan dengan seorang pemuda yang masih sangat muda dan tampan.
Aksa menghentikan langkahnya dan melirik Binar saat Binar menarik tangan dari dalam genggaman tangannya, "ada apa?"
"Mereka semua melihat ke kita dan langsung menundukkan wajah mereka. Aku merasa kalau mereka pasti menggunjingkan kita di dalam hatinya mereka. Mereka pasti melihat kita dengan pandangan aneh. Dan di dalam hati, mereka pasti berucap, hei! lihat tuh wanita nggak tahu malu bergandengan tangan dengan cowok yang jauh lebih muda darinya" Binar langsung menundukkan wajah cantiknya.
Aksa terkekeh, "belum tentu mereka berpikiran seperti itu"
"Mereka pasti berpikiran begitu, aku yakin" Binar kemudian menaikkan wajah cantiknya dan mulai mengedarkan pandangan ke segala penjuru dari mall itu sebelum dia melangkahkan kaki memasuki Bioskop Cinema XX yang berada di lantai tiga dari Mall tersebut.
Aksa menautkan alisnya melihat tingkahnya Binar, "sekarang apa lagi? kamu mencari siapa?"
"Aku takut kalau salah satu dari kolega atau klien kita memergoki kita" Binar masih terus celingukkan dan Aksa langsung memeluk bahunya Binar dan mengajak Binar masuk ke dalam Bioskop Cinema XX itu sambil berucap, "kita pergi begitu jauh dari pusat kota ke Mall ini karena, aku yakin kalau kita tidak akan bertemu dengan kolega atau klien kita, di sini. Jadi berhentilah bersikap paranoid!"
Binar melepaskan diri dari pelukannya Aksa dan melangkah cepat setengah berlari untuk mengantre memesan tiket.
Aksa melangkah lebar menyusul Binar dan kembali memeluk bahunya Binar.
Binar hendak menarik diri lagi tetapi Aksa semakin merangkul bahunya Binar dengan erat dan berbisik di telinganya Binar, "aku akan mencium kamu jika kamu menolak aku rangkul seperti ini"
Binar langsung mematung dan Aksa langsung terkekeh, "oke! kita mengantre di........film horor?"
"Hu um. Aku nggak suka drama, heeeee" sahut Binar.
Aksa mencubit pucuk hidungnya Binar sembari berucap, "pacarku ini memang spesial. Kamu ini cantik, imut, cengeng, namun ternyata menyukai film horor"
"Bisa nggak, tidak ucapkan kata cengeng lagi?" Binar menghela napas panjang.
Aksa langsung tertawa lirih dan mengelus bahunya Binar, "aku nggak akan ucapkan kata cengeng lagi asal kamu tidak menangis lagi di depan cowok lain. Kamu hanya boleh menangis di depanku"
Binar langsung merasa hangat hatinya dan secara spontan dia berjinjit dan mencium pipinya Aksa. Aksa membeliak karena kaget sekaligus senang. Aksa kemudian mencium pucuk kepalanya Binar dan berucap, "aku rasa saat ini kadar rasa suka aku ke kamu sudah meningkat lima puluh persen dan sebentar lagi akan berubah ke cin......."
Binar langsung berjinjit dan menutup mulutnya Aksa, "jangan terburu-buru mengucapkan kata cinta! kita jalani saja secara pelan dan biarkan mengalir alami hubungan kita ini"
Aksa menarik tangannya Binar. Dia menunduk dan bersitatap dengan Binar, "namun aku akan katakan cinta ke kamu di saat rasa itu sudah mendarat di hatiku"
Blush
Binar langsung mengalihkan pandangan karena tersipu malu.
Mereka akhirnya sampai di depan loket tiket dan mereka berebut membayar tiket itu. Aksa kemudian menghela napas panjang dan berbisik, "aku pacarmu jadi biarkan aku membayar tiketnya"
Binar kemudian menganggukkan kepalanya dan hendak melangkah pergi namun Aksa dengan cepat mencekal lengannya Binar, "kamu mau ke mana?"
"Membeli popcorn dan minuman. Kamu mau minum apa?"
Aksa membayar tiket dan memasukan tiket itu ke dalam saku kemejanya lalu berucap, "biarkan aku juga yang membelikan popcorn dan minuman, Itu merupakan tugas cowok"
Binar kemudian bersedekap, "lalu tugasku apa?"
Aksa kembali merangkul Binar, "tugas kamu........tentu saja menemaniku"
Setelah mendapatkan tiket, sebuah popcorn jumbo, dan dua cup kopi, mereka masuk ke ruang 8. Ruang tempat film horror pilihannya Binar akan diputar. Karena, mereka datang agak terlambat maka mereka tidak bisa mendapatkan bangku paling belakang, mereka terpaksa duduk di bangku tengah.
Binar menaruh cup popcorn di tengah lalu memegang cup kopinya di saat film horror pilihannya mulai diputar dan lampu di dalam ruangan itu sudah meredup.
Aksa melihat banyak pasangan di depan dia, di samping dia bahkan di belakang dia, pihak wanita menempel manja ke suami atau pacar mereka dan berteriak manja sambil sesekali membenamkan wajah mereka di dada suami atau pacar mereka, saat melihat film horror tersebut. Namun Binar, pacarnya, dengan santainya menonton film horror itu sambil menikmati popcorn. Tanpa berteriak dan tanpa menempel kepadanya. Padahal Aksa sangat berharap Binar berteriak manja dan dia dengan gagah akan memeluk Binar, lalu Binar langsung membenamkan wajah di dadanya dan.........dia bisa memiliki kesempatan untuk mengangkat wajah Binar untuk kemudian berciuman dengan Binar.
Aksa melirik Binar dan Binar terus memakan popcorn dengan santai dan tidak nampak takut sedikitpun melihat film horror itu.
Aksa kemudian menempelkan bahunya ke bahu Binar dan berbisik ke telinganya Binar, "kalau kamu takut, bersandarlah di bahuku"
Namun Binar tidak memahami kode yang diberikan oleh Aksa. Justru dia menoleh ke Aksa dan berbisik, "film ini sama sekali tidak menakutkan. Ada yang lebih menakutkan dari film ini"
Aksa menghela napas panjang lalu menggaruk nggaruk kepalanya. Bayangan dia mengenai Binar yang bersandar di bahunya, berteriak dengan manja lalu mereka berciuman, buyar sudah.
Aksa menjumput popcorn dan mendaratkan ke mulutnya dengan terkekeh dan terus tersenyum lebar saat melihat Binar nampak kesal mendengar jeritan wanita di sekitarnya karena ketakutan melihat film horror itu. Binar menoleh ke kanan lalu ke belakang dan berkata, "ihhh! lebay banget sih? film biasa gini kok teriakannya sampai parah habis. Terus ngapain peluk-peluk pasangan mereka kayak gitu? kasihan kan pasangan mereka, jadi nggak bisa menikmati filmnya karena sibuk menenangkan mereka, ihhh! lebay"
Aksa hanya bisa menghela napas dan tertawa lirih melihat tingkah polosnya Binar.
Beberapa jam kemudian mereka bergandengan tangan keluar dari ruang 8 Cinema XX itu.
Aksa masih terkekeh geli dan Binar langsung menoleh, "apa yang lucu? dari tadi kamu terus terkekeh"
"Kamu yang lucu" Aksa mencubit pucuk hidungnya Binar.
"Aku?" Binar mengerutkan dahinya.
"Iya kamu. Tadi aku lihat di sekelilingku, semua wanita berteriak manja, lalu memeluk lengan suami atau pacar mereka. Aku juga berharap kamu seperti itu dan......."
Binar tertawa lirih, "lain kali kita lihat drama aja atau film action. Siapa tahu saat melihat film drama atau action aku akan ketakutan dan langsung memeluk kamu, heeeeee"
Aksa langsung menggemakan tawanya, "pacarku memang unik. Aku makin suka"
Binar kembali tersipu malu. Beberapa jam kemudian mereka sampai di sebuah restoran cukup mewah. Binar menatap Aksa ketika dia melepaskan sabuk pengamannya, "kali ini biarkan aku yang bayar!"
Aksa melepaskan sabuk pengamannya dan membalas tatapannya Binar, "kencan itu tanggung jawab dari seorang cowok jadi di setiap kencan, biarkan cowok yang membayar untuk semuanya"
"Tapi kamu masih magang dan belum terima gaji. Kamu akan pakai uang saku dari orang tuan kamu ya? aku nggak mau itu! aku nggak mau kamu menghabiskan uang orang tua kamu demi aku" ucap Binar.
Aksa mengusap kepalanya Binar, "jangan khawatir Binar, aku punya kerjaan sampingan. Bayarannya lumayan. Untuk mentraktir kamu makan di resto ini, aku mampu kok"
"Kamu panggil aku Binar? tanpa embel-embel kakak?"
"Iya. Kita berpacaran kan, maka akan terdengar lucu kalau aku panggil kamu kakak. Aku akan memanggil nama kamu jika kita hanya berduaan saja, boleh kan?" tanya Aksa.
Binar tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan desiran aneh di hatinya.
Kenapa dia so sweet gini sih. Batin Binar merekah senang.
"Gimana? kita turun atau kita akan pulang?" tanya Aksa.
"Kita turun" ucap Binar sembari melangkah turun.
Aksa mengikuti langkahnya Binar lalu merangkul Binar saat melangkah masuk ke resto tersebut, "ijinkan aku yang mentraktirmu! aku bersumpah, aku pakai uang hasil jerih payahku sendiri"
Binar tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "baiklah"
Setelah menikmati makan malam cukup romantis, Aksa mengajak Binar ke sebuah taman yang berada tidak jauh dari resto tersebut lalu mereka turun dan berjalan di sepanjang taman itu sambil terus bergandengan tangan.
Mereka kemudian duduk di sebuah bangku kayu yang berada di tengah taman cantik itu dan Aksa masih terus menggenggam tangannya Binar.
"Lalu apa setelah ini?" tanya Binar sambil menoleh ke Aksa dengan senyum cantiknya.
Oh! betapa ingin ku mencium kamu saat ini, Binar. Namun biarkan semuanya berjalan dengan pelan mengikuti arus. Batin Aksa.
Aksa mencium tangannya Binar, "aku akan mengantarkanmu pulang"
"Tapi motormu masih di kantor. Kita ke kantor dulu ambil motor kamu"
"Itu namanya aku nggak bertanggung jawab. Setelah berkencan, cowok harus mengantarkan pacarnya pulang. Maka aku akan antarkan kamu pulang dan aku bisa naik bus ke kantor. Ini masih belum terlalu malam. Aku masih bisa mengejar jadwal bus yang terakhir jika kita pulang sekarang" ucap Aksa.
"Oke! kita pulang sekarang" Binar bangkit dan Aksa mengikutinya.