My Pretty Boss

My Pretty Boss
Aksa dan Damian



Damian sesekali menoleh untuk mengawasi wajah Aksa dan kembali bergumam, "kenapa kamu bisa mirip sekali dengan Mada? apa karena aku dan papa kamu bermusuhan jadi gen dari keluarga kamu terlempar ke keluargaku? apa itu mungkin?"


Aksa melirik Damian dan ia hanya bisa diam. Aksa bisa mendengar gumaman lirih dari papanya Binar itu tapi ia memilih untuk tidak memberikan respons apapun.


Damian lalu menatap ke depan dan menggelengkan kepalanya dan kembali bergumam, "wah! dendam itu ternyata sungguh berbahaya. Bahkan wajah keturunan kita pun bisa serupa dengan wajah keturunan orang yang memusuhi kita"


Aksa mengulum bibir menahan tawa. Sekarang aku mengerti darimana Binar mendapatkan kekonyolan dalam berpikir. Itu ia dapatkan dari papanya. Batin Aksa.


Damian lalu menoleh kembali ke Aksa, "kamu nanti antar Om balik lagi ke rumah sakit nggak apa-apa kan? kalau kamu repot Om akan telpon supir Om untuk.........."


"Bisa Om. Saya belum mulai membuka galeri saya di sini" sahut Aksa sambil terus menyetir.


"Galeri? kamu tidak bekerja di perusahaannya papa kamu? apa kamu pelukis?" tanya Damian.


"Saya bukan pelukis tapi saya pengrajin aksesoris, baik gelang, kalung, cincin, maupun jam tangan. Kalau jam tangan sesuai permintaan jadi tidak saya pajang di galeri saya. Saya mendesainnya sendiri" jawab Aksa.


"Apa nama galeri kamu?" tanya Damian.


"Twinkle co and jewelry" jawab Aksa.


"What? jangan bercanda kamu" Damian tersenyum dengan wajah setengah tidak percaya.


"Kenapa saya bercanda?" tanya Aksa.


"Kau pemilik Twinkle co and jewelry yang terkenal di Eropa itu? beneran kamu yang punya?" tanya Damian.


"Iya benar" sahut Aksa.


"Waaahhh! hebat bener kamu. Kenzo beruntung memiliki putra seperti kamu dan Dona pasti bangga melihatmu sukses seperti ini" kata Damian sambil menepuk pundaknya Aksa.


"Terima kasih Om atas pujiannya"


"Emm, Om pernah pesan satu via online, nih jam tangan ini, Om pesan via online di Twinkle kamu itu dan kau tahu, David merengut karena, ia tidak punya jam tangan model begini, di seluruh dunia hanya aku yang punya, hahahahaha. Dan ini kamu yang mendesainnya?" Damian membuka jam tangannya lalu menunjukkan bagian belakang jam tangan itu, ada tanda resmi Twinkle co


Aksa melihat sekilas jam tangan itu, "Iya Om, itu karya perdana saya untuk jam tangan. Saya iseng memajangnya dan hanya bikin lima buah, salah satunya yang Om pakai itu. Semua laku terjual dalam satu Minggu saja"


"Oh! jadi bukan hanya aku yang punya? aku kira hanya aku yang punya jam tangan model begini di seluruh dunia karena, David kehabisan pas mau beli dan ia merengut sepanjang Minggu, hahahaha"


"Ada empat orang lagi yang memakai jam tangan yang sama dengan Om. Tapi, di Asia hanya Om yang punya"


"Waaahhh! keren kan aku" Damian berucap sambil memakai kembali jam tangannya.


"Mada juga mau jam tangan, kalau mau pesan harganya berapa Om? Mada ada tabungan sebanyak Satu juta rupiah dan ada celengan berbentuk Semar di rumah tapi nggak tahu berapa isinya?"


"Kalau untuk Mada Om kasih gratis deh. Entar Om buatkan jam tangan khusus dan unik untuk Mada. Kamu pandai menabung ya?" sahut Aksa.


"Ayah yang mengajari Mada menabung. Makasih ya Om udah mau membuatkan Mada jam tangan" sahut Mada.


"Sama-sama" sahut Aksa.


"Ayahnya Mada itu memang unik. Dia kaya raya tapi mendisiplinkan Mada untuk menabung. Aku sungguh bangga sama menantuku itu. Dia tampan, baik hati, ramah, dan tidak sombong, dia juga setia dan sangat mencintai keluarganya. aku bersyukur Binar bisa berjodoh dengan anaknya David" sahut Damian.


"Uhuk uhuk" Aksa langsung tersedak salivanya sendiri karena, ada rasa cemburu yang hinggap di hatinya, mendengar Damian begitu menyayangi Theo.


Damian menepuk pundaknya Aksa dan berkata, "Om pengen gelang khusus untuk laki-laki, kalau Om pesan ke kamu apa kamu juga akan kasih gratis ke Om, sama kayak Mada?"


Damian langsung menepuk keras pundaknya Aksa, "Waaahhhh! thank you ya thank you! David pasti akan cemberut lagi kalau aku pakai gelang dari Twinkle co and jewelry. David itu suka banget beli perhiasan dari Twinkle co and jewelry. Kata dia desainnya Twinkle co and jewelry itu elegan, bagus, unik"


Aksa tertawa ringan, "makasih kalau karya saya disukai"


"Nah udah sampai, ayok kita turun Mada" ucap Damian sambil membuka pintu mobil lalu melangkah turun.


Mada tersenyum ke Opanya, "nggak usah diantar sampai dalam Opa, Mada bisa kok masuk sendiri"


Aksa segera berjongkok lalu mencium kedua pipinya Mada, "kalau ada yang gangguin Mada, bilang sama Om ya"


"Makasih Om udah antar Mada. Tapi kata Ayah, sebagai seorang laki-laki, kalau ada masalah harus belajar menyelesaikannya sendiri nggak boleh dikit-dikit ngadu. Kalau ada yang membully hajar aja. Mereka akan membully kita terus kalau kita lemah"


Aksa tertegun menatap Mada. Betapa hebatnya Theo sudah mendidik anaknya. Aksa sungguh berterima kasih pada Theo karena sudah menjaga, menyayangi, dan mendidik Mada dengan sangat luar biasa. Aksa lalu berdiri, mengusap kepalanya Mada dan berkata, "semangat belajar"


Mada tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya lalu ia melambaikan tangan ke Opa dan Om Aksa-nya sambil berputar badan dan mulai melangkah masuk ke halaman sekolahnya.


"Ini sekolah elite kan Om?" tanya Aksa sambil melangkah masuk kembali ke dalam mobil mewahnya.


"Iya benar. Hanya sekolahan ini yang mau menerima Mada masuk SD di umur Mada yang masih lima tahun. Yuk! kita ke galeri kamu!"


"Untuk apa Om? katanya Om mau balik ke rumah sakit?" Aksa langsung menatap Damian sambil menautkan kedua alis hitamnya.


"Om pengen lihat galerinya Twinkle, hehehehe, seperti apa karya-karya hebatnya Twinkle dibikin. Ayuk!" Damian kembali menepuk pundaknya Aksa.


Aksa hanya bisa mendesah panjang sambil tersenyum dan mengiyakan permintaan dari papanya Binar.


Om Damian bukan saja mewariskan bentuk wajahnya ke Binar tapi juga mewariskan sikap santai, ramah, konyol, dan terbukanya. Batin Aksa.


Damian melihat-lihat galerinya Aksa lalu ia menuju ke garasinya Aksa, istilah untuk ruangan yang dipakai mengeksekusi desainnya Aksa. Aksa telah mempekerjakan lima puluh perajin di garasinya. Lalu Aksa mengajak Damian ke ruang desainnya. Ruangan paling atas dengan dikelilingi kaca transparan itu didominasi meja khusus untuk membuat desain.


Damian terus berdecak kagum lalu ponselnya berbunyi, "halo kamu di mana? lama banget nggak balik-balik" protes David dari seberang sana.


"Kalau aku bilang kamu pasti nggak percaya jadi nggak usah bilang aja ya, hahahahaha"


"Dasar gila. Cepat balik! Binar mencari kamu, tadi ia nelpon kamu katanya nggak bisa trs ia nelpon aku"


"Oke, aku balik. Apa Theo udah sadar? Aries baik-baik aja kan?" tanya Damian.


"Balik aja dulu. Entar aku kasih tahu. Aries baik-baik aja, ini ada Aulia dan James di sini"


"Oke" Klik, Damian mematikan ponselnya lalu ia melihat Aksa, "bisa antar Om?"


Aksa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Sesampainya di rumah sakit, Aksa tidak ikut turun karena, ia harus menjemput Mada.


Damian hendak turun dan Aksa segera berucap, "Om, tolong hubungi saya perkembangannya kak Theo ya, Om!?"


"Oke, kita udah bertukar nomer ponsel kan tadi. Om akan kasih kabar ke kamu perkembangannya Theo. Om nitip Mada ya"


"Siap Om" sahut Aksa.


Damian turun dan Aksa langsung meluncurkan mobilnya ke sekolahannya Mada.