
Binar menoleh ke Mimi dengan sorot mata tajam, "kamu mengenal Theo?"
"Siapa Theo?" Mimi balik bertanya.
"Lho gimana to kok malah balik nanya, cowok yang barusan melarikan diri dari kamu, pfffttt, kamu kenal dengannya?" Binar memegang perutnya menahan tawa.
Mimi merengut, "jangan bilang kalau dia melarikan diri dari ai dong non, hiks hiks, ai jadi sedih nih, hiks hiks, hiks"
Binar langsung tertawa sepuas-puasnya mendengar celotehannya Mimi dengan ekspresi wajah jenakanya Mimi.
"Mimi jatuh cinta pada pandangan pertama non sama cowok tadi. Dia selalu lewat di depan rumah saat Mimi menyirami tanaman. Cowok itu selalu mengemudikan mobilnya dengan kaca mobil terbuka lebar jadi ai, bisa lihat wajah tampannya" ucap Mimi dengan sorot mata bersinar terang.
"Ooooo, begitu, hahahahaha" Binar kembali tergelak geli. sambil mulai menyendok sarapannya.
"Non, kenapa dia tadi ke sini? apa cari ai? aaahh, kembang kempis nih hati ai kalau mas tampan tadi beneran nyari ai, hihihihi" Mimi duduk di sebelahnya Binar dengan penuh semangat.
"Dia tadi mau sarapan di sini tapi sepertinya dia tidak akan kemari lagi" kata Binar sembari berdiri setelah menyelesaikan sarapannya.
Mimi menarik lengannya Binar, "kenapa mas tampan nggak akan kemari lagi?"
"Dia takut sama kamu, ppfffttt" Binar langsung naik ke lantai atas dan meninggalkan Mimi yang langsung mengerucutkan bibirnya selancip mungkin karena, kesal dan kecewa. Ternyata mas tampan pujaan hatinya, takut sama dia.
Aksa sampai di kantor paling awal dan langsung masuk ke dalam ruang kerjanya Binar. Dia menaruh kotak cokelat berbentuk hati di atas meja kerjanya Binar lalu melangkah keluar sambil tersenyum bahagia saat membayangkan Binar membuka cokelat itu lalu merona malu.
Aksa duduk di tempatnya dan mulai membuka laptopnya. Tidak begitu lama Lela pun tiba dan menyapa Aksa. Lela masuk ke dalam ruang kerjanya Binar untuk menaruh berkas-berkas yang semalam dia bawa pulang untuk dia kerjakan di rumah karena, Lela malas lembur di kantor sendirian.
Lela melangkah keluar dari ruangannya Binar dan menatap Aksa, "Sa, kamu tahu siapa yang taruh cokelat di mejanya kak Binar?" tanya Lela kemudian.
Aksa meringis dan terpaksa berbohong dengan cara menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah kalau gitu" Lela kemudian melangkah ke tempatnya.
Tidak begitu lama datanglah Boy diikuti kolega-koleganya. Suasana kantor yang semula sunyi senyap menjadi riuh dan terasa hidup.
Aksa melirik jam tangannya. Kurang lima menit lagi jam kantor dimulai tapi Binar kok belum datang? tanya Aksa di dalam hatinya.
Aksa mulai merasa khawatir dan bangkit hendak menuju ke lantai bawah tempat parkir kendaraan bermotor tapi dalam hitungan detik, Aksa kembali duduk di atas kursinya dan mengulas senyum penuh arti ketika bersitatap dengan dua bola mata hitam nan cantik milik kekasih hatinya. Binar pun tersenyum penuh arti ke Aksa.
Boy menyenggol bahunya Aksa, "eh! kamu lihat tadi? bos cantik kita tumben tersenyum di pagi hari. Dia tersenyum kepadaku? kamu lihat tadi?" tanya Boy penuh semangat.
Boy duduk bersebelahan dengan Aksa jadi Aksa pun memaklumi saat Boy mengira kalau Binar tersenyum kepada Boy. Aksa lalu me oleh ke Boy dan berkata, "selamat ya, dapat senyuman cantik dari kak Bina, heeeee"
"Nggak ngefek buatku. Andai yang senyum tadi Lela, wuiihhh! aku bisa langsung pingsan heeeeee" sahut Boy.
Aksa langsung terkekeh geli dan berkata di dalam hatinya, syukurlah kalau senyumannya Binar nggak ngefek buat kamu kalau sampai ngefek udah aku jadikan perkedel kau.
Binar masuk ke dalam ruangannya dan duduk dengan raut muka bingung ketika dia menatap kotak berbentuk hati. Binar membuka kotak itu dan menemuka. secarik kertas kecil bertulisakan "aku memimpikan ciuman berasa cokelat, semalam. I Love U dari kekasihmu"
Binar tersenyum lebar dan langsung mencium kertas kecil itu bertepatan dengan masuknya Lela ke dalam ruangannya, "kak? kok merona? dan kakak kenapa cium kertas itu? wow! pasti dari cowok ya?" Lela berucap sembari mendaratkan pantatnya di atas kursi yang menghadap ke Binar.
Binar langsung menarik kertas mungil itu dari bibirnya dan memasukan kertas itu ke dalam saku blazernya dengan gugup.
"Rahasia" Binar berucap sembari menaruh kotak cokelat berbentuk hati itu ke dalam laci mejanya, "apa acaraku hari ini?"
Lela langsung mengerucutkan bibirnya, "bagi kek cokelatnya, malah disembunyikan. Pasti dari someone yang sangat spesial tuh, heeeee"
"Apa jadwalku hari ini?" Binar menatap tajam ke Lela alih-alih menanggapi rasa penasarannya Lela akan sekotak cokelat tadi.
Lela menghela napas panjang untuk melepaskan rasa kecewanya karena tidak berhasil mendapatkan bocoran dari Binar, siapa pengirim cokelat itu, lalu cewek cantik kepercayaannya Binar itu, berucap, "kakak, ada meeting dengan para pemegang saham jam 10. Lalu makan siang dengan pak Danu jam satu"
"Oke persiapkan semuanya!" ucap Binar serius.
Lela kemudian bangkit dan pergi meninggalkan Binar untuk mempersiapkan semuanya.
Ting......Satu pesan masuk di ponselnya Binar dan Binar langsung membuka pesan itu, "aku merindukanmu, Binar. Selamat bekerja😘"
Binar kembali memerah wajahnya membaca pesan dari Aksa. Bos cantiknya Aksa itu kemudian mengetik di atas ponselnya, "Met kerja, I Miss you too😘" sembari mengulas senyum dia kirimkan pesan itu ke nomor ponselnya Aksa.
Ting...... Pesan dari Binar masuk ke ponselnya Aksa.
Aksa membuka dan membaca pesan itu dengan senyum cerah penuh cinta.
Boy menoleh dan kembali menyenggol bahunya Aksa, "kalau ekspresi kamu seperti itu, aku yakin pesannya dari pacar kamu"
Aksa menaruh kembali ponselnya ke dalam saku kemejanya dan menoleh ke Boy, "iya kamu benar"
"Waaahhh! aku iri sama kamu. Kamu udah punya pacar dan aku belum hiks hiks hiks" ucap Boy.
"Pepet terus kak Lela, jangan patah semangat!" kata Aksa sembari mengayunkan kepalan tangannya di depan Boy dan Boy langsung tersenyum lebar dan berkata ke Aksa, "thank you brother untuk supportnya"
Tepat jam setengah sepuluh, Binar keluar dari ruangannya dan menuju ke ruang rapat besar. Binar mencuri pandang ke Aksa saat melintas di mejanya Aksa dan di saat Boy tidak memperhatikan mereka, Aksa mengucapkan kata semangat ke Binar tanpa bersuara dan Binar tersenyum senang mendapatkan kata itu dari Aksa.
Binar masuk ke ruang rapat dan duduk di ujung meja panjang sambil menunggu para pemegang saham hadir. Tidak begitu lama Lela menyusul dan duduk di sebelah kanannya Binar sambil menaruh notebook di atas meja.
Semua para pemegang saham telah hadir dan mereka masih menunggu satu orang lagi yang belum hadir. Tepat ketika jarum jam menunjuk ke angka sepuluh sesosok pria muda, tampan, dan gagah memasuki ruangan rapat itu dan tersenyum lebar ke semuanya tetapi sebenarnya secara khusus untuk Binar senyumnya itu.
"Theo? kamu kok.......
"Kak Theo............ucapannya Lela memotong ucapannya Binar.
Binar menoleh ke Lela, "kamu mengenalnya?"
Theo duduk di sebelah kirinya Binar berhadapan dengan Lela. Dia tersenyum ke Lela dan melambaikan tangannya, "hai! lama ya kita tidak berjumpa, emm, nama kamu........."
"Lela, kak" Lela berucap dengan gugup. Lela tidak menyangka bisa berjumpa kembali dengan Theo Revano, seniornya sewaktu dia masih kuliah dulu. Seniornya yang sudah membuat hati Lela kembang kempis selama ini.
"Kalian?" Binar menoleh bergantian ke Lela dan ke Theo.
"Kami satu kampus, kak. Kak Theo senior saya" sahut Lela.
"Oh. Oke kita mulai rapatnya" ucap Binar.