
Mika menggenggam tangan suaminya, "mas, tolong mas maafkan papanya mas. Papa memang berselingkuh lalu meninggalkan ibu, mas dan Deo adik mas yang kala itu masih kecil. Tapi, papa sudah bertobat dan kembali ke mas dam Deo. Bagaimanapun papa adalah papanya mas"
Abimana mendesah panjang lalu berucap, "aku masih belum bisa memaafkannya. Aku kala itu masih berumur lima belas tahun harus sekolah dan bekerja serabutan untuk membantu ibu mencukupi kebutuhan keluarga. Ibu membuat kue dan aku memberikan les privat anak SD untuk tetap bisa bertahan hidup. Deo yang waktu itu masih berumur sepuluh tahun bahkan mau membantu ibu menjajakan kue di sore hari. Papa hidup bahagia dengan selingkuhannya. Katakan! bagaimana aku bisa memaafkannya?"
Mika memandang wajah tampan suaminya, "mas, itu sudah berlalu. Papa sudah kembali dan tinggal dengan keluarganya Deo. Deo sudah memaafkan papa jadi apa salahnya kalau mas juga........"
Abimana langsung bangkit, "maaf aku belum bisa memaafkan papaku"
"Baiklah! tapi apa boleh kalau Arga aku ajak berkunjung ke rumahnya Deo untuk bertemu dengan kakeknya?" tanya Mika dengan hati-hati.
"Kita bahas lagi nanti sepulangku dari Belanda ya. Doakan bisnisku lancar dan aku cepat pulang. Aku nggak bisa terlalu lama berpisah dengan kamu dan Arga, sayang" Abimana mendaratkan ciuman di bibirnya Mika dan berlanjut ke pergulatan panas percintaan mereka yang selalu membara bak pengantin baru. Abimana meminta jatahnya sebelum keberangkatannya ke Belanda untuk menggarap proyek barunya di sana. Desainnya Abimana dilirik pemilik hotel di Belanda.
Mika dan Arga mengantarkan Abimana sampai ke bandara. Abimana mendaratkan ciuman di pucuk kepalanya Arga dan Mika, "sampai bertemu Minggu depan dan Arga jaga mama jangan nakal!"
"Siap pa" ucap Arga sambil tersenyum lebar ke papanya.
Mika dan Arga pulang setelah pesawat yang ditumpangi oleh Abimana telah lepas landas menuju ke Belanda.
Di dalam pesawat, Abimana duduk bersebelahan dengan seorang wanita yang masih muda, cantik dan menarik bagi setiap pasang mata yang memandangnya namun, Abimana yang sangat setia dan mencintai istrinya tidak menoleh sedikitpun ke wanita itu.
Abimana menaruh kopernya di bagasi yang berada di atas tempat duduknya kalau dia duduk dan memejamkan matanya.
Wanita cantik yang duduk di sebelahnya Abimana terus memperhatikan Abimana.
"Tampan, menarik, terlihat cerdas dan matang tapi sayangnya sombong" gumam wanita cantik itu. Wanita cantik itu pun kemudian bersedekap dan memandang ke jendela untuk menatap awan yang seolah berjalan mengiringinya.
Tiba-tiba seorang pramugari menghampirinya dan berkata lirih saat pramugari tersebut melihat Abimana masih lelap tertidur, "mbak, mau minum apa?"
"Kopi ada?" balas wanita itu secara lirih.
"Ada" pramugari tersebut menyerahkan secangkir kopi panas ke wanita itu. Wanita itu menerimanya dan tersenyum sambil mengucapkan, "terima kasih"
Sang pramugari tersenyum, menganggukkan kepala dan meninggalkan wanita cantik itu. Di saat wanita cantik itu mencoba untuk berhati-hati membawa cangkirnya namun, kemudian..........terciptalah satu tragedi kecil yang tidak dia inginkan, cangkirnya oleng dan kopinya tertumpah di atas kemejanya Abimana.
Abimana langsung terbangun karena, merasakan ada cairan panas merembes sampai ke perutnya. Abimana mengusap kemejanya sambil menoleh ke wanita cantik yang berada di sebelahnya yang nampak bingung dan ketakutan.
"Maaf, maafkan saya!" wanita cantik itu kemudian mengambil sapu tangannya untuk mengusap kemejanya Abimana. Abimana langsung menepis tangan wanita itu dan bangkit lalu berjalan menuju ke toilet.
"Shit! kenapa bisa tumpah sih? aku sudah berhati-hati tapi kok malah tumpah" wanita cantik itu berkali-kali memukul kening lebarnya.
Beberapa menit kemudian Abimana telah kembali ke tempat duduknya dan mengenakan kaos. Abimana hendak memejamkan kembali matanya namun, wanita di sebelahnya tidak mengijinkan Abimana untuk kembali tidur. Wanita itu memegang lengannya Abimana dan berucap, "saya benar-benar tidak sengaja. Maafkan saya! emm, perkenalkan nama saya Camelia Herald dan........"
Abimana menarik pelan lengannya dari genggaman wanita itu lalu dia mulai menatap wanita cantik itu, "apa hubungan anda dengan Mister Herald?" tanya Abimana.
"Saya putrinya. Putri tunggalnya. Saya dalam perjalanan pulang dari liburan saya di Indonesia. Saya sudah puas berkeliling Indonesia dan sudah saatnya saya pulang untuk mengurus bisnis papa saya" ucap wanita cantik yang mengaku bernama Camelia Herald.
"Kebetulan yang menyenangkan. Saya berbisnis dengan Mister Herald. Mister Herald menyukai desain saya" ucap Abimana sambil tersenyum lebar ke Camelia.
"Aaaahh, iya kebetulan yang menyenangkan tapi perkenalan yang tidak menyenangkan karena, saya sudah menumpahkan kopi di kemeja anda. Saya akan mengganti kemeja anda sesampainya kita di Amsterdam" kaya Camelia.
Abimana langsung menggemakan tawanya, "iya perkenalan yang panas emm maksud saya, kopinya yang panas"
"Aaahhh, maaf! apa kulit anda terbakar?" tanya Camelia dengan wajah khawatir, dia menatap Abimana.
Abimana tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "untungnya kemeja yang saya pakai cukup tebal dan dari bahan yang berkualitas tinggi jadi lapisan luar perut saya aman tapi lapisan dalamnya tidak aman"
"Maksudnya?" Camelia tanpa sadar langsung mendaratkan telapak tangannya di atas perutnya Abimana.
Abimana mengangkat tangannya Camelia dan berucap, "hahaha, saya lapar. Kita ke kantin?" Abimana kemudian bangkit dan Camelia terkekeh sembari mengikuti langkahnya Abimana.
Abimana kemudian makan bersama di kantin pesawat yang mereka tumpangi.
"Berapa umur anda?" tanya Camelia.
"Tebaklah!" ucap Abimana.
"Emm, dua puluh lima. Seumuran dengan saya jadi saya rasa kita tidak perlu lagi berbahasa formal" ucap Camelia sambil tersenyum lebar ke Abimana.
"Aaahh, aku salah ya? maaf!" ucap Camelia sambil menutup mulutnya yang secara spontan ternganga di depannya Abimana.
"Aku sudah tiga puluh lima tahun dan aku sudah menikah, sudah memiliki seorang anak laki-laki berumur lima tahun yang sangat tampan dan sangat cerdas seperti mamanya. Istriku wanita yang sangat cerdas dan cantik" ucap Abimana.
Camelia langsung mengalihkan pandangan untuk menutupi guratan kekecewaan yang nampak di wajahnya.
Shit! kenapa setiap kali aku menemukan laki-laki yang sesuai dengan kriteriaku, dia pasti sudah berkeluarga, dasar hatiku ini kenapa cepat sekali berdegup untuk pria asing. Camelia menumpahkan protes ke hatinya.
"Kamu sudah menikah?" tanya Abimana.
"Belum, heee. Aku menyukai kebebasan dan belum berpikir untuk mengikat diri di dalam sebuah pernikahan. Pernikahan itu bagiku suatu hal yang sangat berat dan menakutkan heeee" ucap Camelia.
"Kenapa begitu?" tanya Abimana.
"Mungkin karena, masa laluku. Mamaku kabur dengan cowok lain dan tinggal di Indonesia. Sebenarnya aku ke Indonesia untuk mencari mamaku tapi, ternyata mamaku sudah meninggal" ucap Camelia.
Abimana seketika berubah raut mukanya dan berkata, "kita senasib. Papaku juga pergi meninggalkan ibuku, adikku, dan aku di saat aku masih remaja dan adikku masih berumur sepuluh tahun"
Camelia langsung mengulas senyum cantiknya,
"Sudahlah! kita lupakan saja masa lalu yang menyedihkan itu. Kita ngobrol sesuatu yang menyenangkan saja"
Abimana kembali tersenyum dan langsung meladeni obrolannya Camelia yang ringan, enak untuk ditanggapi dan santai. Abimana merasa nyaman dan cocok mengobrol panjang lebar dengan Camelia saat mereka kembali melanjutkan obrolan mereka di tempat duduk mereka. Penerbangan panjang dan lama tersebut terasa menyenangkan dan tidak membosankan bagi Abimana dan Camelia hingga mereka sampai di kota Amsterdam-Belanda.
Abimana ikut ke dalam mobil yang menjemput Camelia karena, mereka satu tujuan. Mereka langsung menuju ke Hotel Andez-Amsterdam milik papanya Camelia Herald.
Issac Herald papanya Camelia Herald menyambut kedatangan putrinya dan Abimana dengan tangan lebar.
Namun, ada ucapan dari Issac Herald yang mengganggu Abimana, "semoga kamu tidak seperti papa kamu"
Abimana mengerutkan dahi dan bertanya, "anda mengenal papa saya?"
Isaac Herald tersenyum ambigu ke Abimana, "papa kamu rekan bisnisku dulu dan dia berkhianat"
"Saya tidak begitu dekat dengan papa saya dan papa saya memang brengsek! saya pastikan kalau saya tidak akan seperti papa saya. Saya tidak akan pernah mengkhianati anda" keseriusan terdengar di nada bicaranya Abimana.
"Bagus! silakan ke kamar anda. Saya sudah siapkan kamar VVIP untuk anda dan terima kasih sudah mengawal putri saya yang sangat manja ini"
"Pa! jangan bilang aku manja di depan orang lain" Camelia langsung mengerucutkan bibirnya disambut gelak tawa dari Isaac dan Abimana.
Abimana menata isi kopernya ke dalam lemari lalu duduk di tepi ranjang dan melakukan panggilan video call ke istri cantiknya, "hei beb! aku dah sampai di kamar hotel"
"Syukurlah penerbanganmu lancar mas. Jangan telat makan, jangan lupa minum vitamin yang aku bawakan, dan jangan sampai sakit!" ucap Mika.
"Sayang aku jadi pengen meluk kamu nih, aku kangen keceriwisanmu" ucap Abimana terkekeh sambil menatap wajah cantik istrinya di layar ponselnya.
"Aku juga merindukanmu. Mimpikan aku ya karena, aku juga akan memimpikanmu malam ini"
Abimana tersenyum penuh cinta, "iya aku pasti memimpikanmu sayang. Arga sudah bobok?"
"Sudah. Dia tadi menunggu telpon dari kamu tapi karena kecapekkan mengerjakan tugas sekolahnya dia tertidur nih" Mika mengarahkan layar ponselnya ke Arga yang telah pulas tertidur, "Arga akan menemaniku di kamar ini selama kami di Belanda katanya, aku dipesan sama papa untuk menjaga mama jadi tidur pun aku harus berada di sampingnya mama, menggantikan papa, hahaha. Anak kamu memang cerdas dan menggemaskan, ya"
Abimana tertawa lebar, "hahahaha, iya cerdas dan menggemaskan kayak kamu"
Mika membalas ucapannya Abimana dengan senyum.manisnya lalu berucap, "Mas udah dulu ya, aku mau mengerjakan laporan. Aku mencintaimu mmuuaahh" Mika mencium layar ponselnya.
"Muuaahh" Abimana pun mencium layar ponselnya, "aku juga mencintaimu"
Klik.....Abimana memutuskan sambungan VC-nya dengan sang istri lalu dia merebahkan diri di atas ranjang menatap langit-langit kamarnya dan tersenyum lebar membayangkan wajah cantik istrinya.