My Pretty Boss

My Pretty Boss
Berita Mengejutkan



Theo kemudian bangun lalu mengambil bantal dan selimut. Binar menoleh, "kamu mau ke mana? ronda?"


Theo tertawa kecil, "jadwalku ronda tiap malam Minggu. Emm, aku mau tidur di sofa"


Binar kemudian bangun dan duduk di tepi ranjang mengangkat wajah cantiknya untuk memandang Theo yang memiliki tinggi badan seratus delapan puluh lima centimeter itu.


"Duduklah! kepalaku pegal menengadah terus nih!" ucap Binar kemudian.


Theo tersenyum, mendekap bantal dan selimutnya, lalu duduk di sebelahnya Binar.


"Kamu tidurlah di ranjang. Aku yang akan tidur di sofa. Kamu kan tuan rumah dan aku tamu" ucap Binar.


"Nggak boleh! kamu kan lagi hamil dan......"


"Kalau gitu kita tidur bareng di ranjang* ucap Binar.


"Hah!?" Theo menarik dagunya ke bawah.


"Kenapa? kita kan suami istri. Tenang aja! aku nggak akan menerkam kamu" ucap Binar sambil menepuk pelan punggungnya Theo.


"Hahahaha" Theo langsung menggelegarkan tawanya, "Bin, yang ada tuh cewek yang harus waspada saat dia tidur dengan cowok. Kamu sering lupa ya kalau kamu itu cewek?"


"Hehehehe" Binar meringis ke Theo, "pokoknya nggak ada yang tidur di sofa, titik"


Binar kemudian bangkit dan menuju ke kamar mandi untuk berganti baju dan membersihkan diri. Saat dia keluar dari kamar mandi, Theo telah tertidur dengan pulas. Binar tersenyum lalu menyelimuti Theo. "Terima kasih sudah banyak berkorban untuk aku. Aku akan jadi istri yang baik dan setia sebagai balas budiku ke kamu"


Binar kemudian keluar dari kamar dan turun ke lantai satu. Binar merasa lapar dan dia mencari Miko.


Dari ruang keluarga, Binar mendengar Miko tertawa. Binar kemudian menuju ke ruang keluarga. Tampaklah Miko tengah tertawa lepas menonton acara komedi di televisi. Binar duduk di sebelahnya Miko, "Ko, bikinkan makanan dong!"


Miko menoleh ke bosnya, "tumben? biasanya setelah jam lima sore, Bos nggak makan lagi kan, karena, takut gemuk"


"Tapi sekarang aku lapar dan pengen banget telur dadar dikasih irisan cabe, bawang merah, dan daun bawang" ucap Binar.


"Oke siap! Miko bikinkan. Sebentar ya?!" ucap Miko sambil bangkit.


"Hmm" sahut Binar.


Selang sepuluh menit Miko membawakan nasi dan telur dadar dengan irisan cabai, bawang merah, dan daun bawang.


"Waaahhh! baunya sedap sekali, Ko. Makasih ya" Binar langsung meraih piring yang dibawakan Miko dan dengan lahap dia memakan nasi dan telur dadar itu tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Bos! lapar apa kerasukan sih? lahap betul makannya" ucap Miko sambil menatap heran ke bos cantiknya itu.


Binar cuma tersenyum dan melanjutkan makannya.


"Ini Miko bawakan air putih dingin kesukaannya Bos, Apa mau dibikinkan es teh manis?" tanya Miko.


Binar menggelengkan kepalanya lalu meminum sampai tandas, segelas air putih dingin yang dibawakan oleh Miko.


"Nasinya tadi Miko ambilkan banyak banget lho dan telurnya Miko kasih dua butir, kok habis?" Miko bangkit sambil membawa piring dan gelas yang telah kosong ke dapur.


Binar hanya tersenyum menatap Miko. Lalu Binar mengelus perutnya, "kesukaan kamu mirip dengan papa kamu ya sayang. Kamu suka steak dan kentang goreng, terus susu kocok rasa cokelat, dan telur dadar dengan irisan bawang merah, cabai, dan daun bawang"


Kemudian Binar bangkit dan berpapasan dengan Miko, "kamu mau begadang nonton TV?"


"Nggak Bos. Cuma sampai acara komedi ini selesai, Miko langsung tidur" ucap Miko.


"Ingat besok pagi, jangan pakai daster!"


"Siap Bos!" ucap Miko sambil duduk kembali menghadap ke televisi.


Binar terkekeh geli melihat tingkahnya Miko lalu dia kembali ke kamar utama.


Binar meminum vitamin dan obat penguat kandungan kemudian merebahkan diri di sebelahnya Theo. Binar memiringkan badannya untuk melihat Theo. Binar tersenyum melihat Theo belum merubah posisi tidurnya sedari tadi. Tidur terlentang dan melipat tangan.


"Kamu benar-benar cowok yang sopan dan baik ternyata. aku kira kamu cowok brengsek karena, kamu suka bercanda dan bersikap tengil"


Binar kemudian memejamkan mata dan tertidur.


Theo mengusap keningnya Binar yang berkeringat lalu menepuk pelan pipinya Binar, "Bin, bangun! kamu ngigau"


Binar kemudian terbangun dan memandang Theo lalu berucap, "bolehkah aku pegang tangan kamu? aku nggak akan ngapa-ngapain kamu, aku cuma ingin memegang tangan seseorang dan di sini hanya ada kamu"


Theo merebahkan diri dengan posisi miring menghadap ke Binar lalu menyerahkan tangan kanannya. Binar meraih tangan itu dan langsung menggenggamnya. Berkat tangan Theo, Binar bisa tidur nyenyak sampai pagi tapi tidak demikian dengan Theo. Theo justru kesulitan untuk tidur dengan nyenyak karena, tangannya terus digenggam oleh Binar tanpa dilepaskan sedetik pun.


Binar bangun dan mendapati Theo sudah tidak berada di sampingnya. Binar kemudian berjalan menuju ke kamar mandi dan memakai baju dinasnya. Dia berencana untuk masuk kerja.


Ketika sampai di lantai bawah, Binar mendapati Theo tengah duduk di meja makan.


"Lho? kok belum mulai makan?" tanya Binar sambil duduk di sebelahnya Theo.


"Aku menunggu kamu. Setelah sarapan aku akan antarkan kamu ke kantor"


"Nggak usah! aku akan ke kantor sendiri"


Theo kemudian berbisik di telinganya Binar, "kamu lagi hamil. Aku nggak mau kalau sampai kamu dan calon anak kamu kenapa-kenapa"


"Wuiiidiihhhh! pagi-pagi udah bisik-bisik mesra nih" sahur Miko saat dia menaruh masakan ketiganya di atas meja makan.


Theo langsung menegakkan wajah tampannya dan Binar melotot ke Miko. Miko terkekeh geli dan pergi meninggalkan Binar dan Theo.


Selang satu jam kemudian, Theo mengantarkan Binar sampai ke dalam kantornya dan memberikan pengumuman ke semua karyawannya Binar sambil merangkul Binar, "Selamat pagi semuanya. Saya nitip istri saya ya, jaga dia baik-baik"


Boy langsung menoleh ke arah Lela.


Lela langsung menjatuhkan tumpukkan map yang dia pegang karena kaget. Lelaki idamannya, yang dia cintai sejak kuliah, mengatakan kalau bos cantiknya adalah istrinya.


"Istri?" tanya Lela.


"Hmm. Kami sudah menikah kemarin" sahut Theo dan Binar hanya bisa tersenyum canggung ke semua karyawannya yang tengah menatap dia dengan sorot mata penuh tanda tanya.


"Kok nggak ada pesta? serius nikah? maaf Kak, mana buktinya?" tanya Boy.


"Ini buku nikah kami" ucap Theo dan menyerahkannya ke Boy. Boy membuka kedua buku nikah itu dan ternganga seolah tidak percaya. Binar dan Theo benar-benar sepasang suami istri.


Lela menutup mulutnya menahan rasa marah, kecewa, sedih, dan cemburu.


Theo mengambil kembali buku nikahnya dan mencium keningnya Binar kemudian berbisik, "maaf jika aku mencium kening kamu. Aku hanya ingin meyakinkan mereka kalau kita sepasang suami istri yang penuh cinta"


Setelah berbisik, Theo menegakkan kembali wajahnya dan berucap, "aku pergi dulu ya sayang"


Binar tersenyum dan melambaikan tangannya ke Theo.


Theo melambaikan tangan ke Binar sambil berucap ke semuanya, " tolong jaga istriku ya!"


Dasar konyol. Batin Binar geli melihat tingkahnya Theo.


Boy segera membantu Lela memungut berkas-berkas yang berserakkan di atas lantai.


Lela menitikkan air mata dan segera mengusapnya.


Boy berdiri dan berucap, "sudah saatnya kamu melupakan kak Theo"


Lela meraih berkas yang ada di tangannya Boy dan bergegas berbalik badan meninggalkan Boy begitu saja.


Boy kemudian duduk dan mengirim pesan text ke Aksa, "kamu sudah sampai di Amerika?"


Aksa langsung menjawab, "sudah"


"Ada kabar mengejutkan di sini. Kak Binar dan kak Theo Revano telah menikah"


Sedetik, dua detik bahkan sampai sepuluh menit, Aksa tidak menjawab pesan text dari Boy. Boy meletakkan ponselnya di atas meja kerja dengan desahan panjang dia mulai bekerja.


Lela menaruh berkas di atas meja bos cantiknya tanpa berkomentar apapun Kareena, dia masih terkejut dengan berita pernikahan bos cantiknya dengan laki-laki idamannya. Dan dengan segera, Lela berbalik badan pergi meninggalkan Binar yang tengah menatap layar laptopnya. Hati Lela masih terasa perih dan tidak tahu harus bagaimana untuk mengobati perih di hatinya itu.