
Nenek mengajak Binar masuk ke kamarnya lalu menyalakan obat nyamuk bakar sambil melihat Binar neneknya Aksa bertanya, "alergi asap obat nyamuk bakar nggak? kalau iya biar nenek matikan"
Binar menarik selimutnya dan berkata, "nggak kok nek, aman, makasih"
Neneknya Aksa kemudian melangkah lalu membaringkan tubuh renta-nya di samping Binar.
Binar memiringkan tubuh rampingnya ke arah neneknya Aksa lalu bertanya, "mamanya Aksa putri tunggalnya nenek dan kakek ya?"
"Sebenarnya mamanya Aksa punya adik laki-laki tapi meninggal karena, kecelakaan motor saat masih kuliah" ucap neneknya Aksa sambil mendesah panjang.
"Maaf nek kalau Binar membuka luka lamanya nenek" ucap Binar.
"Nggak apa-apa. Semua sudah digariskan sama Tuhan dan kita hanya bisa menjalaninya" ucap neneknya Aksa.
"Binar salut sama nenek. Nenek kuat, sabar, dan baik hati. Aksa mirip sama nenek"
"Di awal nenek kehilangan putra nenek lalu putri nenek, hati nenek juga hancur tapi ada Aksa yang membuat nenek bangkit dan memiliki pengharapan untuk hidup, untuk kuat, demi Aksa"
"Papanya Aksa tidak pernah mengambil Aksa setelah mamanya Aksa meninggal?" tanya Binar.
"Kenzo selalu ke sini dan terus membujuk Aksa untuk ikut dengannya tapi Aksa tidak mau. Nenek nggak pernah memaksa Aksa untuk tinggal di sini. Kalau Aksa mau ikut papanya, nenek pun akan mengijinkannya karena, bagaimanapun juga mereka anak dan bapak tapi, Aksa nggak mau"
"Nenek dan kakek usaha tambak udang dan bandeng udah lama?"
"Sudah sedari anak-anak nenek masih SD. Tambak ini juga yang berhasil menghidupi kami, menyekolahkan anak-anak nenek, dan bisa membeli rumah ini"
Binar menjadi trenyuh mendengar cerita neneknya Aksa.
"Nek, kalau Binar ajak nenek dan kakek tinggal di kota menemani Binar mau? Nanti Binar kasih kegiatan apa aja yang kakek dan nenek inginkan. Binar akan penuhi apapun permintaannya nenek dan kakek"
Neneknya Aksa mengelus pipi mulus dan putihnya Binar, "nggak usah nak, nenek nggak mau pergi dari sini karena, di sini nenek dan kakek dekat dengan makam kedua anak kami dan kami juga lahir dan besar di sini"
"Tapi nenek dan kakek semakin bertambah usia dan di rumah sebesar ini berdua saja, Binar jadi khawatir nih"
"Hahahaha, doakan aja nenek dan kakek selalu sehat" ucap neneknya Aksa sambil mengelus rambutnya Binar.
"Amin" sahut Binar lalu Binar bertanya lagi, "nek, kenapa nenek ijinkan Aksa berpacaran dengan saya? saya ini jauh lebih tua dari Aksa dan saya nggak pintar memasak, nggak terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga. Pfffttt, seperti tadi Binar kikuk memegang sapu saat Binar hendak membantu nenek menyapu tadi, heeee, kalau ingat, Binar malu dan soal menggoreng tahu aja, Binar juga kikuk"
Neneknya Aksa meraih tangannya Binar lalu memegang tangan itu, "yang penting kalian saling cinta dan cewek yang Aksa pilih pasti baik hatinya karena, nenek percaya dengan pilihannya Aksa"
"Emm, kalau dibandingkan dengan pacarnya Aksa yang dulu, pasti Binar nggak ada apa-apanya ya nek?"
"Pacarnya Aksa yang dulu?" neneknya Aksa langsung menautkan keningnya yang sudah berkeriput.
"Iya. Apa Aksa nggak pernah mengajak pacarnya yang dulu, ke sini?" ucap Binar sambil memijat tangan renta neneknya Aksa.
"Berarti pacarnya Aksa dulu nggak dicintai Aksa. Aksa pernah bilang sama nenek sewaktu masih remaja, katanya, nek, besok kalau Aksa sudah mencintai seorang gadis dan gadis itu calon istrinya Aksa maka Aksa akan kenalkan ke nenek dan kakek terlebih dahulu. Kalau kakek, nenek, dan gadis pilihannya Aksa saling cocok maka, Aksa akan menikahinya"
"Ak......Aksa bilang begitu, nek?"
"Iya. Dan ini pertama kalinya dia bawa seorang gadis ke sini. Dikenalkan ke nenek dan kakeknya dan kita cocok berarti......"
Binar langsung merona malu dan menyusupkan wajahnya di dada neneknya Aksa. Dia kemudian memeluk tubuh renta neneknya Aksa dan berucap, "terima kasih nek, udah bersedia menerima Binar apa adanya. Binar sangat menyayangi nenek"
Neneknya Aksa tertawa bahagia, "nenek juga sangat menyayangimu. Nenek doakan kalian berjodoh untuk selama-lamanya" lalu tangan renta-nya mengelus punggungnya Binar.
"Amin" sahut Binar di dalam dekapan neneknya Aksa.
"Sekarang tidurlah! Besok kita harus bangun pagi, memasak, beli bunga, lalu ke makamnya Dona, mama mertua kamu, heeeee"
Binar terkekeh lalu mencium pipi neneknya Aksa dan dia kemudian tertidur dengan sangat nyenyaknya di dalam dekapan neneknya Aksa.
Aksa dan kakeknya masih mengecek tambak. Tiba-tiba datang seorang gadis muda dengan ceria dia menyapa Aksa sambil menenteng rantang makanan bersusun tiga.
"Aksa!" teriaknya sambil melambaikan tangan.
"Hai" Aksa membalas lambaian tangan gadis muda itu.
Kakeknya Aksa bergumam, "seorang gadis kok masih di luar rumah di jam sepuluh malam"
Aksa tersenyum ke kakeknya lalu berjalan menghampiri gadis muda itu.
"Jojo, apa kabar?" sapa Aksa ke Jojo teman SMP dan SMA-nya Aksa dulu yang juga putri dari kepala desa yang rumahnya tidak jauh dari rumah kakeknya Aksa.
"Baik"
"Kapan sampai?" tanya Jojo.
"Tadi sore"
"Oh. Emm, ini mamaku menyuruhku untuk mengantarkan soto Kudus komplit, masakannya mama. Besok kan peringatan meninggalnya mama kamu, soto Kudus adalah makanan kesukaan mama kamu jadi mama memasaknya tadi karena, besok mama ada acara jadi nggak bisa masak besok, heeee"
Aksa menerima rantang itu dan berucap, "terima kasih ya. Sampaikan ke mama kamu juga, terima kasih. Besok sehabis dari makam aku akan singgah ke rumah kamu untuk kasih oleh-oleh"
"Baiklah. Kalau gitu aku permisi dulu ya"
"Emm, iya. Ati-ati"
Jojo mematung alih-alih memutar badan dan pergi meninggalkan Aksa.
"Ada apa? ada yang aneh di wajahku?" tanya Aksa.
"Emm, nggak ada yang aneh di wajahmu. Kamu masih tampan, bahkan semakin tampan"
"Terima kasih untuk pujiannya. Tapi kenapa kamu mematung? apa kamu takut pulang sendirian?"
Jojo mengangguk pelan dan tersenyum ke Aksa.
"Hahahaha, oke, ayok aku antar"
Aksa membawa rantang itu lalu berjalan mengantar Jojo pulang ke rumahnya.
Kakeknya Aksa mendengus kesal, melihat kepergiannya Aksa mengantar Jojo, "dasar gadis manja" lalu kakeknya Aksa melangkah menuju ke rumahnya setelah urusan tambaknya selesai.
Jojo seumuran dengan Aksa. Nama lengkapnya Jocelyn Jaya putri tunggalnya Broto Jaya, kepala desa di sana. Jojo cantik dan dia bunga desa di sana namun, sikap dan karakternya yang manja, materialistis, introvert dan pilih-pilih teman membuat Jojo tidak memiliki banyak teman.
"Aku senang kamu pulang. Aku terus menunggu kepulanganmu"
"Aku pulang demi almarhum mama" ucap Aksa.
"Besok, aku boleh ikut ke makam mama kamu?" tanya Jojo.
"Emm, besok aku berangkat pagi-pagi sekali karena, mengejar waktu, lusa aku harus balik kerja lagi. Aku udah magang saat ini dan empat bulan lagi udah wisuda"
"Waahhh! kamu memang dari dulu berotak encer. Aku aja masih semester tujuh, heeee. Kamu tahu kan semester tujuh adalah masa tua mahasiswa, masa-masa menakutkan. Mama dan papa bahkan ikutan stress menghadapi kuliahku, heeeee"
"Memangnya kamu ambil jurusan apa kok nggak kelar-kelar?" tanya Aksa.
"Ekonomi manajemen, heeeee. Kamu tahu kan sedari dulu aku nggak begitu suka belajar. Aku sukanya......."
"Bersolek dan main" sahut Aksa.
"Naaahhh betul itu! hahahaha. Aku ingin ambil kursus salon tapi papa nggak ijinkan. Pokoknya aku harus kuliah ya udah aku asal aja ambil jurusan ekonomi manajemen"
"Papa kamu benar. Kuliah itu penting dan jurusanmu itu bisa membantu kamu untuk mengelola salon jika nanti kamu buka salon" ucap Aksa.
"Anda kamu masih lama di sini, aku akan minta bimbingan skripsi ke kamu, tapi lusa kamu udah pulang"
"Aku bisa menolongmu via email. Judul yang kamu mau apa nanti aku bantu menyusunnya dan bisa aku kirim via email" ucap Aksa sambil menghentikan langkahnya karena, mereka sudah sampai di depan gerbang rumah besarnya Jojo.
"Baiklah nanti aku kirim judul yang aku pilih dan aku kirim ke kamu via email. Terima kasih sebelumnya dan terima kasih sudah mengantarku sampai rumah"
"Sama-sama. Terima kasih juga untuk soto Kudusnya" Aksa kemudian berbalik badan dengan dan pergi meninggalkan Jojo begitu saja.
Jojo terus berdiri di depan gerbang rumahnya sambil terus menatap punggungnya Aksa dia bergumam, "apa besok aku nyatakan aja perasaanku ke Aksa, sebelum dia balik Jakarta"
Jojo kemudian masuk ke dalam rumahnya setelah sosoknya Aksa sudah tidak nampak lagi di dalam penglihatannya.
Aksa masuk ke dalam rumah, mengunci semua pintu dan jendela lalu berjalan ke dapur untuk memanasi soto Kudus pemberian dari mamanya Jojo. Setelah mendidih dia tutup panci tersebut kemudian dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti baju.
Dia membuka pelan pintu kamar neneknya lalu melangkah tanpa mengeluarkan suara. Dia kemudian mencium pipinya Binar lalu mencium pipi renta neneknya dan membetulkan letak selimut mereka setelah itu dia tersenyum dan meninggalkan kamar neneknya.
Di saat cowok tampan itu merebahkan diri di atas ranjang, jam di dinding kamar itu menunjukan pukul setengah dua belas. Aksa memasang alarm jam lima pagi kemudian dia memejamkan mata dan tertidur lelap.