
Aku dan. Noval terbang ke surabaya, kami langsung menemui kediaman ayah Kiand, untunglah tidak terjadi sesuatu disana, Ayah kiand baik-baik saja, begitupun dengan Bi Nur, mereka tampak bingung kami datang selarut ini.
"Apa ada hal penting tentang kiand? " tanya Bi Nur
"Nggak kok Bi, aku cuman mau ajak Bi Nur dan Ayah ke jakarta besok pagi" jawabku
"Untuk apa? " tanyanya lagi
"kita mau kasih kejutan untuk kiand, dia pasti senang kalau ayah dan Bi Nur ada disana" jawabku
"Ohh baiklah kalau gitu! "
Bi Nur dan Ayah kiand setuju untuk pergi ke jakarta tanpa curiga sedikitpun tentang masalah yang terjadi
Pagi-pagi sekali aku minta Noval membawa ayah kiand dan Bi Nur ke jakarta menggunakan penerbangan pertama, sedang aku singgah sebentar ke kantor, aku juga harus mencari keberadaan Kak Candra disini. karena tadi malam dia sempat menghubungiku, dan dia tahu aku ada disini.
"Lo yakin nggak ikut kita pulang? " tanya Noval
"iya gue yakin, Banyak hal yang harus gue handle disini, lo jaga mereka, pastiin mereka sampai ke apartemen dengan selamat, kalau kiand tanya gue, bilang gue masih ada meeting disini! "
Kami berpisah pagi-pagi sekali, Noval ke bandara dan aku ke kantor, aku yakin suasana kantor kacau sekali, setelah Pak Wijaya menarik sahamnya, dan menarik beberapa orang kepercayaannya, tapi aku tidak akan menyerah, kantor advertising di surabaya, adalah kerja kerasku, dan tidak akan ku biarkan perusahaan kecil itu tumbang.
Aku menghubungi Wulan, memberi tahu mereka, jika aku akan datang, dan melakukan meeting dadakan, aku juga meminta wulan menyiapkan semua data klien yang sedang bekerja sama dengan perusahaan kita.
"Pagi pak! " sapa scurity yang bertugas saat aku turun dari taksi online tepat di lobby
"pagi" sapa ku
Dengan pakaian seadanya aku langsung menuju ruang kerjaku di lantai 3 untunglah aku ingat, jika aku menaruh beberapa kemeja di kantor, setelah membersihkan tubuh dan mengganti pakaian aku bergegas ke ruang meeting , baru ada Wulan disana, yah karena memang belum waktunya masuk jam kantor, Wulan sengaja ku minta datang lebih pagi.
"Bagaimana Wulan, apa semuanya aman? " tanyaku saat wulan menyerahkan beberapa file dalam sebuah map hijau
"Sebagian aman pak, tapi untuk klien - klien besar, mereka memilih mencabut kerja sama nya dengan kita, mereka tidak percaya jika pekerjaan mereka di handle oleh kita, karena mereka merasa pak wijaya lah yang membuat pekerjaan kita sukses, dan ketika mereka tahu pak wijaya sudah menarik semua sahamnya, mereka ragu" jawab Wulan
"Oke, pertahankan projects yang masih ada, saya akan coba melobi beberapa klien besar yang ragu akan kemampuan kita, usahakan buat se - perfect mungkin, jangan sampai mereka kecewa" ujarku
"Baik pak! " jawabnya "Pak, apa kiand, bisa kembali ke kantor ini? kiand punya kemampuan design yang bagus, beberapa klien suka dengan design iklan yang kiand buat " ujar Wulan
Aku berpikir sejenak, apa mungkin aku kembali menarik kiand untuk bekerja lagi disini, tapi bagaimana dengan papi? apa papi akan setuju?
"Baiklah saya coba pikirkan hal itu" jawabku
Tepat jam 8.15 aku melakukan meeting darurat, banyak hal yang harus aku perbaiki untuk bisa bersaing dengan perusahaan advertising lainnya, apalagi setelah pak wijaya tidak lagi ikut andil dalam perusahaan ini, kami seperti kehilangan satu sayap, tapi sebagi owner dan direktur disini, aku tidak akan tinggal diam, aku akan berusaha terbang meski hanya dengan satu sayap.
Setelah mengurus beberapa kerjaan di kantor, aku beristirahat sejenak di sebuah hotel, kak candra kembali mengirimiku pesan, kali ini tidak melalui nomer Yoga, melainkan langsung ke nomerku
"Hebat sekali!!!! Gue nggak nyangka lo bakal bergerak secepat ini! tapi bukan candra namanya kalau gue nggak punya rencana lain! "
Hanya itu pesan yang kak candra kirim untukku, aku masih berusaha melacak keberadaan kak candra, Tapi menurut jefry, kak candra nggak ada di surabaya, dari nomer yang dia gunakan, kak candra justru ada di jakarta.
Aku terus kontak dengan noval, yoga dan jefry, Saat ini noval tidak bisa di hubungi, mungkin pesawatnya sudah take off.
Ponsel kembali berdering, aku pikir kak candra akan punya nyali untuk menghubungiku, ternyata itu dari Yoga
"Hallo ga! "
"Du, gimana? lo aman disana? " tanya Yoga
"Aman! "
"Tadi Reina hubungin gue, dia minta gue kesana, dia tahu kemal dimana, dan dia mau gue anter dia! " ujar Yoga
"Ohh ya udah, Kiand sama siapa di apartemen? "
"Jefry sama arga! "
"Iya udah, gue sewa dua body guard di depan kamar, tapi kiand mulai curiga dan bingung, kenapa harus ada penjagaan seketat ini"
"Ya udah nggak papa, nanti gue yang jelasin! "
"Ya udah, gue langsung on the way ke rumah lo ya! "
"oke, gue titip Reina, lo pastiin bisa bawa kemal pulang! "
Sambungan telpon di akhiri
Pikiranku benar-benar di buat kacau, dimana sebenarnya kak candra? kenapa dia nggak mau nemuin aku, setidaknya kita bisa bicarakan apa yang dia mau.
Ternyata aku tidak bisa pulang ke jakarta hari ini, aku harus menemui beberapa klien untuk negosiasi mengenai kerja sama yang mereka batalkan.
Jam menunjukan pukul 11 siang, aku harus bertemu dengan klien di sebuah hotel mewah yang berada di pusat kota surabaya, aku meminta wulan dan pak louis menemaniku untuk meeting hari ini.
"Jadi apa yang membuat anda ragu pada kami? " tanyaku pada pak handoko salah satu utusan perusahaan property yang cukup besar di surabaya
"Sebenarnya tidak ada keraguan, saat kami menyerahkan semua projects iklan ini, tapi kalian paham bagaimana pak wijaya sangat berpengaruh besar dalam perusahaan kami, jadi kami memutuskan yah untuk menunda sementara projects iklan ini, sampai sekarang jujur kami belum menemukan perusahaan advertising sebagus dan se profesional kalian, tapi kami tidak bisa apa-apa" ujar pak handoko berat hati
"Yah saya mengerti dengan hal itu, saya sangat berharap masih bisa bekerja sama dengan perusahaan pak handoko, mungkin di lain kesempatan"
"Saya percaya, Perusahaan advertising ini akan berkembang dengan sokongan pak bagaskara"
"Ini adalah perusahaan pertama yang saya bangun, saya justru ingin perusahaan advertising ini bisa berkembang tanpa embel-embel nama papi saya" ujarku
"ohh ya, maaf jika kata-kata saya kurang berkenan, pak pandu orang hebat, saya akan lihat kesuksesan pak pandu beberapa tahun ke depan" pujinya. Tapi itu terdengar tidak seperti pujian, namun sebuah tantangan, selama ini orang menganggap ku bisa seperti ini karena papi.
"Baik Pak pandu, saya mohon izin pamit, saya harus menghadiri meeting lainnya" Pak Handoko mengulurkan tangan, dan kami saling berjabat tangan
Ini menjadi kegagalan pertamaku, tapi tak apa, aku tak akan menyerah, aku akan tetap berusaha membesarkan perusahaan ini.
ice coffe late menjadi teman penghibur ku siang ini, yah aku memilih melipir ke sebuah kedai coffe sebelum aku kembali ke kantor, Wulan dan Pak louise ku perintahkan lebih dulu kembali ke kantor.
"Jadi kamu disini? " suara seorang wanita mengejutkanku
"Monic? "
"Yah, kenapa kaget aku ada disini? " ujarnya "Kosongkan ? " dia langsung duduk di hadapanku
"Gimana kamu bisa tahu aku disini? " tanyaku
"Selama kamu masih berhubungan dengan klien papiku, aku akan tahu kamu ada dimana! " jawabnya "gimana kecewa bukan dengan sebuah penolakan? "
Ku abaikan pertanyaan monic, aku memilih menikmati ice coffee late yang ku pesan
"Ternyata kamu bukan orang yang mudah menyerah! tapi nggak papa! aku hanya akan melihat sampai sejauh mana kamu bisa bertahan! "
"Apa masih ada yang ingin kamu bicarakan? kalau nggak ada, aku mau kembali ke kantor! " ujar ku
"Pandu! kenapa kamu ini keras kepala? kamu nggak harus seperti ini kalau kamu nggak batalin pertunangan kita! " nadanya meninggi
"Aku nggak perduli apa yang akan aku lalui kedepannya, buatku membatalkan pertunangan kita adalah keputusan terbaik yang ku ambil! "
"keputusan terbaik menurut kamu? apa kamu nggak pikirin perasaan aku? perasaan keluarga besar ku? "
"dari awal aku sudah bilang, aku tidak ingin bertunangan sama kamu monic, kenapa kamu masih terus memaksa ? "
"aku? maksa? bukannya orang tua kamu yang minta pertunangan di lakukan secepatnya? "
"tapi kamu tahu, aku nggak pernah cinta sama kamu ! "
"yah aku tahu! dan asal kamu tahu, saat aku nggak bisa milikin kamu, kiand pun nggak akan pernah bisa! " Monic langsung pergi begitu saja, wanita itu memang gila, bagaimana mungkin papi menjodohkan dengan wanita psikopat seperti dia.