
Minggu ini kantor libur, tapi aku berencana untuk menemui Kiand! aku sengaja bangun pagi-pagi sekali, dan pergi ke kontrakan kiand mengenakan motor.
Aku berhenti di sebuah gang kecil, dimana saat itu kiand berjalan masuk melewatinya, tapi aku tak tahu dimana rumah kiand. Tak ada orang yang melintas, atau berada di luar rumah, sehingga aku sedikit sulit untuk menanyakan keberadaan Kiand. Aku masih menyusuri gang itu, sambil menerka-nerka dimana tempat tinggal Kiand.
Terlihat seorang wanita paruh baya, tengah menyapu halaman rumahnya, aku segera memarkirkan motorku dan turun untuk menghampirinya
"Permisi! " sapaku pada wanita itu
"Ohh iya mas, ada apa ya? " tanya wanita itu
"Maaf, apa ibu pernah melihat wanita ini sebelumnya? " Aku menunjukan foto kiand dari ponselku
"Sebentar, kayanya nggak asing deh! " jawab Wanita itu, ia tampak mengerutkan alisnya saat melihat foto kiand "Ohh.....! ini mah keponakannya Bi Nur! rumahnya di belakng mas, dari sini mas lurus aja, nah di depan ada belokan, nggak jauh dari situ ada kontrakan 3 pintu, rumah Bi nur yang di tengah, yang cat Biru" jelasnya
"Ohh baik terima kasih ya bu! " ucapku. Aku segera melajukan motorku menuju tempat yang wanita tadi tunjukan. dan benar saja aku menemukan tempat tinggal Kiand.
Tok.. Tok.. Tok...!!! "permisi ...!! " aku mencoba mengetuk pintu
"Tunggu....!!! " terdengar seorang wanita dari dalam, tapi aku yakin itu bukan Kiand
Tak lama seseorang membuakakan pintu untukku, aku melihat wanita paruh baya berdiri di hadapanku. dia nampak terkejut melihatku.
"kkkaamuuu!!!! " ucapnya heran
"maaf apa ini benar rumah kiand? " tanyaku
"iii.. ya...!! tapi dari mana kamu tahu kiand tinggal disini!? " tanyanya
"Maaf Bu, saya mencari tahu keberadaan kiand, karena saya perlu bicara dengannya" jawabku
"harus sepagi ini? " tanya Wanita yang membukakan pintu untukku
"Hmmm yah...! " jawabku "jadi apa boleh saya masuk? "
"Kiand belum bangun! " jawabnya
"wahhh... pas banget tuh! " sahutku sampai membuat wanita di depanku terkejut
"masya Allah, mbok ya pelankan suarumu to...! Bi Nur hampir aja jantungan"
"hehehhe maaf Bu..! saya terlalu bersemangat! "
"Ya sudah ayo masuk! " ajak wanita yang belakangan ku tahu bernama Bi Nur
Aku berjalan mengikutinya dari belakang, kontrakan kiand tidak terlalu besar, hanya memiliki dua kamar, kurang lebih ukuran 3x4m, dan ruang tamu yang menyambung ke dapur.
"Duduk dulu, Bi Nur bangunkan Kiand" titahnya
"nggak usah Bi, nggak usah...! " tolakku
"nggak usah? lah sebenarnya kamu tuh mau ketemu siapa? " tanya Bi Nur bingung
"Hmm saya mau buat kejutan buat kiand! bolehkan? "
"kejutan apa? " tanyanya
"Bi nur sudah masak? " tanyaku
"belum, baru saja mau masak, memangnya kamu mau masak? "
aku mengangguk dengan bersemangat
"bisa? " raut wajahnya seakan tak percaya, dia memperhatikanku dari ujung kaki hingga ujung rambut
"hehhehe... enggak bi! " jawabku
"terus...! "
"Saya bantuin Bi Nur aja? " jawabku
"dasar anak orang kaya! ya sudah ayo ikut bibi ke dapur" ajaknya
saat aku jalan ke dapur, aku melewati sebuah kamar, yang pintunya sedikit terbuka, disana aku melihat seseorang tengah terbaring, aku yakin dia adalah ayahnya Kiand
"Bi Nur mau masak nasi goreng, kamu yakin mau bantu Bi Nur! " ujarnya sambil berjalan di depanku,
saat itu aku hanya mendengar perkataan Bi Nur samar-samar, karena fokusku teralihkan oleh seseorang yang ku yakin adalah ayah Kiand.
"heyyy...! " Panggil Bi Nur
"ehh iya Bi! " aku yang saat itu sempat menghentikan langkahku, berlari menghampiri Bi Nur yang sudah berada di dapur
"Kenapa? itu kamar ayahnya Kiand! dia baru bisa tidur, semalaman dia gelisah, mungkin ada yang ingin dia sampaikan, tapi tak bisa! " jelas Bi Nur tanpa aku bertanya
" maaf saya sudah lancang! " ucapku tak enak hati
Pagi ini aku berniat membuat kejutan untuk Kiand, aku akan memperjuangkannya, tak perduli meski dia mau menyerah, aku akan buktikan pada kiand, jika perasaan yang tumbuh di antara kita tidak salah.
Bi nur banyak bercerita tentang Kiand, ternyata Bi Nur adalah adik sepupu ayah Kiand, mereka tumbuh bersama karena di asuh oleh sang nenek, karena kebersamaannya yang terjalin sejak kecil, wajar jika Bi Nur begitu tulus membantu ayah kiand.
"makasih ya Bi! " ucapku
"untuk apa? "
"Karena Bi Nur mau menjaga kiand! selama satu bulan ini saya begitu khawatir, pikiran saya kacau, saya masih tak habis pikir, kiand pergi begitu aja"
"Nak Pandu! Kiand sangat mencintai nak pandu.. hanya saja... " Bi Nur tak melanjutkan percakapannya, ia terdiam.
"Papi saya Bi! itu yang jadi alasan Kiand pergi ninggalin saya" jawabku lirih. ingin rasanya aku membenci Papi, tapi tak bisa aku lakukan, biar bagaimanapun aku menyayanginya
"Kiand tidak akan menyerah, seandainya Papi kamu tidak melibatkan ayahnya!"
"Iya Bi, makanya saya merasa bersalah pada ayah kiand! saya minta maaf atas apa yang sudah papi lakukan pada kalian" ucapku
"sudah.. sudah...! yuk, kita bawa nasi gorengnya ke depan, bentar lagi kiand pasti bangun" ajak Bi Nur,
Aku membawa dua piring nasi goreng yang sudah ku buat untuk Kiand, aku harap kiand menyukainya.
Tak lama aku dan Bi Nur menaruh beberapa piring di ruang depan, terdengar suara seseorang menarik gagang pintu dan orang itu adalah Kiand, ia begitu terkejut melihatku
"Pak Pandu? "
"surprise...! " aku berdiri sambil membentangkan kedua tanganku, tapi saat Kiand melihatku wajahnya begitu datar, dia seolah tal nyaman dengan kedatanganku
"Ngapain Pak Pandu kesini? " tanyanya
"hush... kiand! kamu tuh orang Nak Pandu mau bersilaturahmi malah di tanya seperti itu" Bi Nur memberi pembelaan padaku
"nah iya.. bener kata Bi Nur, saya mau silaturahmi"
"Sepagi ini? "
"hey.. ini sudah siang kiand! kamu saja yang bangunnya kesiangan"
Kiand tampak melihat keluar rumah, dan ia baru menyadari ternyata matahari sudah menyorot rumahnya.
"Maaf! saya mandi dulu" Ia bergegas menuju kamar mandi sedang aku menunggunya di ruang depan bersama Bi Nur, saat Kiand di kamar mandi, kami mendengar suara ayah kiand seolah memanggil seseorang.
"hmmmm... hmmmm... " suara itu semakin meninggi
"Ayahnya Kiand sudah bangun" ujar Bi Nur, ia beranjak ke kamar itu, dan tak lama Bi Nur keluar, dia terlihat mendorong sebuah kursi roda yang di tumpangi ayah Kiand. Dengan cepat aku menghampiri mereka dan menggantikan Bi nur
"Dia kekasih kiand! laki-laki yang kiand sayangi" Bi Nur tampak menjelaskan siapa aku pada ayah kiand, Pria paruh baya itu nampak mengangguk.
"Dia mau keluar, Nak Pandu mau menemani ayah kiand? " tanya Bi Nur " Biasanya bangun tidur, dia senang berjemur di halaman"
"Hmm baik Bi, biar saya yang menemani ayah Kiand" jawabku.
Aku mendorong kursi roda ayah kiand ke teras, setelah mengunci roda, aku duduk di sampingnya
"Cuacanya bagus ya om! " ucapku basa basi, dia hanya tersenyum sambil menatap pemandangan di luar rumah. di tempat ini ada beberapa jenis bunga, yang tumbuh subur di sebuah pot.
"Bagaimana kabar om? " tanyaku, lagi-lagi dia hanya mengangguk, dan ku anggap itu adalah jawaban jika dia baik-baik saja
"Saya senang mendengarnya! " ucapku.
Ku usap pundak Pria itu dengan rasa penyesalan, rasa sakit, marah, kecewa semua menyatu saat itu, dia adalah orang yang paling Kiand sayang, dan hanya karena keegoisan Papi, dia harus menderita sepeti ini, Aku bahkan tak mampu menatap wajahnya. Seandainya dia tahu aku adalah putra dari orang yang sudah membuatnya seperti ini, apa mungkin dia masih akan tersenyum ramah padaku? Tanpa sadar alu meneteskan air mata, wajar jika Kiand ingin menjauh dariku.
"Semua bukan salah Pak Pandu maupun Pak Bagaskara" Suara kiand memecahkan pikiranku tentang ayahnya
"Kiand! " dia tampak cantik, yah dia memang selalu cantik meski ia hanya mengenakan kaos putih dan celana pendek, serta rambut yang dia ikat menyerupai buntut kuda
"Ayo kita makan, bukannya Pak pandu sudah masak untuk saya" ajaknya
"Tapi ayah kamu, masih mau menikmati hangatnya matahari pagi kiand! "
"Ini sudah waktunya Ayah sarapan, karena ayah harus minum obat"
"Ohh.. baik kalau gitu! " aku kembali mendorong kursi roda itu masuk kedalam rumah.
Kiand nampak telaten menyuapi sang ayah, sungguh aku sudah menghancurkan satu-satunya kebahagiaan kiand!
Seandainya aku bisa memilih untuk dilahirkan oleh siapa? aku ingin dilahirkan oleh orang tua yang sederhana, tapi memiliki sejuta cinta kepada anaknya, tampak jelas dari mata ayah kiand, dia begitu mencintai dan menyayangi putrinya, segi suapan yang kiand berikan seolah menjadi energi untuknya bisa sembuh.
Aku memang meiliki segalanya, harta, kekayaang, kekuasaan, tapi aku tidak memiliki cinta seirang ayah untukku, meski papi selalu berdalih jika semua yang dia lalukan untuk kebaikanku.
note: terima kasih yang sudah sabar menunggu update tab dari