For A Great Love

For A Great Love
episode 26 lunh box



POV Kiand


Untuk pertama kalinya aku melihat Pak Pandu menangis. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, tanganku perlahan mendekat kearah Pak Pandu, ingin ku hapus air matanya, bahkan lukanya. Dengan ragu aku mencoba mendekap tubuh Pak Pandu, dan ternyata dia bersandar di dadaku, dia menumpahkan kesedihannya saat itu.


Hatiku ikut terluka melihat bulir air mata Pak Pandu jatuh, apakah ini yang dinamakan cinta? aku bahkan iri pada Bintang, karena telah di cintai Pak Pandu sedalam ini.


Rasanya aku tak ingin membiarkan Pak Pandu lepas dari dekapanku, karena aku tahu aku tak mungkin mampu mendekapnya lagi ketika ia sadar.


Rintik hujan memaksa kita untuk mengakhiri malam ini. Pak Pandu mengantarku pulang ke apartemen, sedang dia kembali pergi entah kemana, aku tak berhak untuk selalu melarangnya, aku hanyalah Kiand, si pacar pura-pura , Pak Pandu hanya mencintai Bintang, dan cintaku? biarlah aku yang merasakan.


Aku berjalan dan memasuki lift yang membawaku ke apartemen, ku pikir Pak Jefry dan Pak Yoga sudah tidur, namun saat aku masuk mereka masih asik menonton, melihatku datang, wajah Pak jefry dan Pak yoga seolah siap mencecar beribu pertanyaan.


"Lohh udah pulang? " tanya Pak Yoga


"Hmmm... " jawabku sambil mengangguk, Jujur ada kekecewaan terlintas di hatiku, kecewa karena Pak Pandu masih memikirkan Bintang


"Lo nggak Papa? Bocah tengil itu nggak marahin lo kan? " tanya Pak Jefry


"Nggak kok! " jawabku tertawa sambil berjalan ke arah mereka.


"Terus pandu nya mana sekarang? " tanya Pak Yoga


Aku hanya mengangkat kedua bahuku, aku benar-benar tidak tahu kemana dia pergi


"Jadi tadi lo pulang sendiri? " tanya Pak Jefry


"Tadi Pak Pandu nganterin saya, tapi langsung pergi" jawabku


"Gimana kondisi dia? dia mabok lagi? " tanya Pak Jefry


"Yah gitu pak, tapi nggak separah waktu itu sih! " jawabku


"Gimana ga? kayanya kita harus turun tangan" ujar Pak Jefry pada Pak yoga


"Maksudnya? " tanyaku yang bingung dengan ucapan Pak Jefry


"Jangan dulu, ini nggak mudah buat Pandu, gue tahu dia terpuruk banget dengan tunangan Bintang dan Kak Candra" jawab Pak yoga


"Maksud kalian apa sih? saya nggak ngerti" tanyaku


"Udah nanti juga lo tahu" jawab Pak jefry


"Udah malem, besok gue banyak kerjaan, gue tidur dulua ya! " ujar Pak Yoga


"Saya juga besok masuk pagi" tambah ku


Kami pun bergegas untuk tidur, di apartemen ini ada 2 kamar, aku membiarkan Pak Jefry dan Pak yoga tidur di kamar utama, sedang aku di kamar satunya bersama Arga.


Jam menunjukan pukul 5 pagi, seperti biasa alrm ponselku akan selalu berbunyi, ku lihat Arga sudah tidak ada di tempat tidurnya, Ku bergegas keluar kamar, ternyata Arga sudah menonton televisi


"Tumben bangun pagi? " tanyaku


"Iya, Arga udah kebanyakan tidur semalem" jawabnya


Aku berjalan ke arah kamar mandi berniat untuk membasuh wajah, tapi ada seseorang di dalam kamar mandi


"Siapa di dalam? " tanyaku


"Pak Yoga! " jawab Arga


Hah Pak Yoga sudah bangun sepagi ini, ku lihat ke kamar utama, Pak Jefry masih tertidur pulas.


Aku duduk bersama Arga sambil menikmati acara televisi, menunggu Pak Yoga yang masih di dalam kamar mandi. Tak lama Pak Yoga keluar, dia tampak sudah rapih meski memakai kaos yang sama yang ia gunakan kemarin


"Pak Yoga mau pergi sepagi ini? " tanyaku


"Iya, Tadi Pandu telpon gue" jawabnya sambil mengusap rambut menggunakan handuk


"Pak Pandu dimana? " mendengar kata Pandu rasanya semangat ku menjadi berlebih


"Pandu tidur di kantor, dia minta bawain baju kerja di apartemennya " jawab Pak Yoga


"Pak Yoga mau jalan jam berapa? " tanyaku


"jam 6 mungkin" jawabnya


"Aku akan buatkan sarapan untuk Pak Pandu, tunggu ya! " Aku bergegas ke apartemen Pak Pandu yang tak jauh dari apartemenku, aku mencari sesuatu yang bisa ku masak dengan cepat, Pak Pandu pasti belum sarapan, mulai sekarang aku akan mengisi kekosongan yang di tinggalkan Bu Bintang.


Setelah selesai masak mie goreng aku menaruhnya dalam tempat makan, dan membawanya ke apartemenku


"Nih...! " ku berikan lunch box itu pada Pak Yoga


"Apa ini? " tanya Pak Yoga


"saya titip sarapan buat Pak Pandu! " jawabku


"Buat Pandu doang? " celetuk Pak jefry yang ternyata sudah duduk di depan tv


"Iya, kalian beli aja! " jawabku


"Lo aja yang kasih buat dia! lo masukan hari ini? " tanya Pak Yoga


"Yah pak, jangan saya, bapak aja" pintaku


"Udah lo aja, percaya sama gue! " jawab Pak Yoga.


Akhirnya lunch box itu aku masukan ke dalam tas ku, setelah bersiap aku dan Arga berangkat bersama Pak Jefry, sedang Pak Yoga sudah lebih dulu berangkat, karena harus mengantarkan Baju Pak pandu


teringat kejadian tadi malam, masih terasa tubuh Pak pandu yang ku dekap, terasa begitu dekat, aku bahkan bisa mencium aroma tubuhnya saat itu, dia selalu wangi dan aku merindukan aroma itu


"Hey....! " Ku lihat pak jefry sudah melambaikan tangan di depan mataku "Senyum sendiri, masih waraskan? " tanya Pak jefry, yang duduk di kursi kemudi dan aku di sampingnya


"Ng-ngga-nggak kok! " jawabku mengelak


"jelas - jelas tadi lo senyum senyum sendiri" cecar Pak Jefry


"Nggak... " aku masih mengelak sambil tertunduk malu


"mikirin Pandu ya.... " Pak jefry mulai menggoda ku


"Nggak pak, dihh ngapain saya mikirin cowok nyebelin kaya gitu! " aku masih berusaha mengelak menutupi malu ku


"Kalau iya juga nggak papa kok! " ujar Pak Jefry "Lagian kalian cocok"


cocok? cocok dari mana, kasta kita aja berbeda, gumamku


"Ahhh Pak jefry kadang suka ngarang, aku sama Pak Pandu tuh bagaikan air sama minyak, ngga akan pernah menyatu " ujarku


"Cinta itu ajaib kiand, kadang kita berpikir tidak mungkin, tapi cinta mengatakan lain, lo liat Bintang dan Pandu, dari kecil mereka bareng-bereng, udah kaya perangko, di mana ada Bintang di situ ada Pandu, begitu pun sebaliknya, nah siapa yang menyangka, jika akhirnya Bintang lebih memilih Candra" jelas Pak Jefry


Kalau di pikir benar juga, tapi aghhh kenapa aku jadi berpikir terlalu jauh, cukup dekat dengan Pak Pandu saja udah membuatku tersenyum sepanjang hari


"Kak, berhenti di depan... " sahut Arga yang duduk di kursi belakang


"Kok disini! " Arga meminta berhenti di pintu belakang sekolah, bukan di depan sekolah,


"Arga takut kalau lewat depan" jawabnya


Kasihan anak ini mungkin masih trauma dengan kejadian kemarin


"Ya udah, kamu hati-hati ya"


Arga keluar mobil, dan berlari menuju gerbang belakang sekolah , ada kesedihan yang menyelimuti hati ku kala aku menatap punggung Arga.


"Dia nggak papa kok, gue jamin dia aman" ujar Pak Jefry yang seolah tau ke khawatiran ku


Aku hanya mengangguk dan tersenyum. mobil melaju menuju PT Cahaya bagaskara Group. Pak jefry menurunkan ku di lobby sebelum ia pafrkirkan mobilnya.


Ku lihat jam di tangan, masih ada waktu untukku mengantarkan sarapan ke ruangan Pak Pandu


Aku berjalan dengan penuh semangat, membayangkan pak Pandu akan senang dengan sarapan yang ku bawa untuknya, walau itu hanya sebuah mie goreng.