For A Great Love

For A Great Love
episode 57 hati yang berbunga



Sekeras apapun Reina berdebat ingin tetap tinggal, namun Pak Bagaskara tidak mengijinkan. Pak Pandu mencoba memberi pengertian pada Reina, dan akhirnya dia mengerti.


Perdebatan kemarin membawaku harus menjaga Pak Pandu di apartemennya, tapi sebelum itu aku lebih dulu pergi ke rumah noval untuk meminta Izin, biar bagaimanapun saat ini aku dalam pengawasan mereka, mereka begitu baik menerimaku di rumahnya, dan akan tidak enak jika aku pergi begitu saja.


"lo yakin dengan keputusan lo? " tanya noval saat kami tengah duduk di tangga teras dekat taman


"Yah, gue yang harus bertanggung jawab ngerawat dia, pak pandu udah nyelametin hidup gue, untuk kesekian kalinya" jawabku


"Jadi apa alasan lo? karna hutang budi? atau cinta? " Aku yang saat itu duduk di samping noval refleks menoleh kearahnya


"Sepertinya dua-duanya! " jawabku tersenyum


"Dia mungkin bisa jagain lo, tapi dia juga bisa nyakitin lo! " noval beranjak dan melangkah menuruni satu anak tangga, kedua tangannya ia masukan ke dalam kantung celana, pandangannya fokus pada langit yang mulai memerah, terdengar jelas hembusan nafasnya, seolah melepaskan semua beban


"Val, gue tahu resiko yang bakal gue hadapi saat gue mutusin untuk jadi kekasihnya, dan yah kita bakal hadapi semua ini bareng-bareng, gue percaya kita bakal terus berjalan beriringan, meski harus melewati ribuan duri sekalipun" Noval berbalik ke arahku, membungkukkan tubuhnya, hingga wajah kami saling berhadapan.


"oke! tapi gue cuman minta satu dari lo, disaat hanya air mata yang lo dapet, pergi jangan pernah bertahan" Noval mengangkat tubuhnya dan berlalu pergi meninggalkanku yang masih mencerna ucapannya


Aku masih duduk di sini, menatap langit yang mulai gelap, sambil menunggu Arga pulang. Benar saja tak lama aku memikirkannya, dia sudah terlihat berjalan dari gerbang.


Aku memberi tahunya, jika untuk sementara waktu kita akan tinggal di apartemen pak pandu, sampai pak pandu benar-benar pulih, tapi Arga menolak, dia lebih nyaman tinggal disini, kebetulan Bunda noval juga meminta Arga tetap disini, itu akan jauh lebib aman.


Aku tidak bisa memaksa Arga, dan untuk pertama kalinya kami terpisah.


"Tante... maaf saya masih merepotkan, harusnya arga ikut dengan saya" ujar ku


"Nggak papa Kiand, kamu jangan pikirkan Arga, dia akan aman disini, tante akan menjaganya seperti tante menjaga noval" ucap Bunda Noval


"Makasih banyak ya tante!" ucapku membungkuk


" Sama-sama sayang, kamu baik-baik disana, jika tugasmu sudah selesai, tolong kembali, dan jangan berpikir untuk mencari kos " pesan bunda noval


Aku sudah menyiapkan beberapa pakaian, tapi tidak banyak dan kebetulan pakainku juga hanya itu-itu saja. Aku berpamitan pada keluarga noval dan arga, Noval mengantarku hingga apartemen, disana Pak Pandu, Pak Yoga dan Pam jefry sudah lebih dulu sampai.


"Thanks ya lo udah anter gue! " ucapku sebelum aku masuk ke dalam apartemen


" Iya sama-sama" ujarnya tersenyum namun senyuman itu tak secerah dulu


"Gue titip arga, gue percaya dia aman sama lo" Ku lambaikan tanganku sebelum aku benar-benar masuk lobby.


...****************...


Malam ini aku menginap di apartemen pak pandu, dia tampak lebih sehat, hanya saja aku masih harus mengobati luka bekas operasinya, dan luka lebam di wajahnya yang mulai menghilang. Sebelum pulang, suster memberitahuku cara mengganti perban, dan mengobati beberapa luka di tubuhnya.


"Maaf ya, mungkin ini sedikit sakit! " ujarku saat hendak memberikan obat oles, pada luka bekas jahitan. Benar saja Pak Pandu tampak meringis kesakitan "Pasti sakit? " tanyaku


"Sedikit..! " jawabnya tersenyum


"Aku masih nggak habis pikir, bagaimana Pak Pandu membiarkan mereka mukulin pak pandu sampai babak belur seperti ini! " aku mengerucutkan bibirku, ada rasa bersalah dan penyesalan di hatiku


"Saya rela babak belur seperti ini, jika akhirnya kamu yang harus merawat saya" ujarnya


"Huh...! " Aku sedikit menekan luka pak pandu saat mengoleskan obatnya


"Au.. au... apa nggak bisa lebih pelan sedikit" ujarnya meringis


"Habisnya...!keluhku " Pak Pandu tahu gimana khawatirnya saya saat itu, apa lagi saat perawat bilang jika tekanan darah pak pandu menurun, saya takut banget, saya nggak bisa bayangin kalau saat itu pak pandu benar-benar tidak bangun lagi" tiba-tiba air mataku mengalir saat mengingat lagi kejadian malam itu.


Pak Pandu yang semula berbaring, kini merubah posisinya, ia menyandarkan tubuhnya pada sebuah divan, dan aku duduk di sampingnya


"Hey... saya nggak akan mati semudah itu, " Dia mengangkat daguku, menyikap rambut yang menghalangi wajahku "Saya janji tidak akan membuat kamu khawatir lagi! " Tangannya menarik ku dan menjatuhkan tubuhku dalam pelukan, ia membelai lembut rambutku


"Jangan pernah menangis untuk saya, karena itu lebih menyakitkan di banding semua luka ini"


Aku merasakan indahnya sebuah cinta. aku bahagia saat berada di sisinya, dan resah saat jauh darinya.


"Lukanya sudah saya obatin, setelah ini Kita makan , saya sudah buatkan nasi goreng, maaf cuman itu yang bisa saya buat, karena tidak ada bahan makanan di kulkas"


"Oke, saya akan menikmatinya malam ini! " ujarnya


"menikmati? apa yang akan pak pandu nikmati? " tanyaku, kata-kata itu membuatku berpikir jauh ke arah hal yang kotor


"Menikmati nasi goreng buatan mu!" jawabnya


"Oh... saya pikir! "


"Apa yang sedang kamu pikirkan? jangan bilang kamu berpikiran yang lain? "


"Ihh nggak, saya nggak berpikiran lain. udah ahhh saya mau nyiapin makan malam" aku sedikit merajuk karena malu, disini kami hanya berdua tudak ada siapapun lagi wajar saja jika aku lebih waspada.


"Hey kiand, kamu nggak mau bantu saya bangun? " teriak pak Pandu saat aku sudah berlalu meninggalkannya


"Kiand! " aku masih mendengarnya memanggilku, tapi tak aku hiraukan


Aku mulai menyiapkan dua porsi nasi goreng buatan ku, dan dua buah gelas berisi air mineral di sebuah meja makan


Dia tampak berjalan kearahku, meski harus berpegangan pada barang-barang yang besar


"Bukannya kamu sudah berjanji merawat saya, kenapa kamu justru meninggalkan saya? " gerutunya


"Saya sudah mengganti perbannya, mengolesi salep di lukanya, berarti saya sudah merawat pak pandu kan? "


"Tapi harusnya kamu membantu saya berjalan "


"memangnya cukup sulit untuk berjalan dari kamar ke ruang makan? " tanyaku sambil mengambil sendok di dapur


"Sangat sulit! " keluhnya


aku hanya tersenyum mendengarnya menggerutu sepanjang makan malam, ternyata pak pandu yang ku kenal begitu tegas dan pendiam, dia tidak kalah cerewet dari ibu kontrakan


"Ternyata kamu bukan hanya jago berdebat, nasi goreng buatanmu jauh lebih enak dari nasi goreng yang pernah ku makan" puji nya, ada yang aneh dari kata-kata Pak Pandu, biasanya dia akan memanggil dirinya sendiri dengan kata "Saya" tapi kali ini di memakai kata "aku"


"Ku? " tanyaku menggoda


"kenapa? ada yang salah dengan kata-kata ku? "


"Rasanya masih terdengar asing saat Pak Pandu mengatakan itu"


"ahhh, aku lebih risih saat kamu memanggilku dengan panggilan pak " gumamnya "Sepertinya aku lebih terbiasa dengan panggilan pacar dari pada pak"


"Pacar? " tanyaku, dulu dia selalu risih dengan panggilan itu


"Yah...! " jawabnya


"hmm oke, mulai sekarang di luar kantor saya akan memanggil pak Pandu pacar" ujarku menyondongkan kepala hingga kami saling berhadapan, Pak Pandu pun mencondongkan kepalanya hingga aku bisa merasakan napasnya.


Aku semakin grogi di buatnya, dia menatapku dengan senyumnya yang mempesona, bibir kami hampir saja saling menyentuh


"Kenapa pak pandu liatin saya begitu? " Tanyaku menjauhkan wajahku darinya "Jangan bilang Pak Pandu mau mencium saya? "


Pak Pandu terlihat mengerutkan keningnya, "saya tidak berniat seperti itu, tapi ide bagus juga... " godanya


"Enak aja, udah saya ngantuk mau tidur! " aku segera bangkit dari meja makan, sebelum pak Pandu benar-benar akan mencium ku.


Malam ini kami tidur satu ranjang, lengan pak pandu menjadi bantalan kepalaku, tangannya melingkar di perutku, kami menikmati malam ini, untuk pertama kalinya aku merasa nyaman dan tenang, dia mampu membuat malam ku lebih bercahaya.