
POV Pandu
Aku sedang rapat bersama Kak Candra, Bintang dan Pimpinan Rich Hotel mengenai pengajuan proposal Rich Hotel yang akan ikut andil dalam pembangunan yayasan yang akan kami dirikan.
Saat itu Hujan mengguyur kota jakarta, kami sengaja meeting di jam makan siang, karena ini pembicaraan santai. Mataku mengarah pada seorang wanita yang berlari di halaman gedung
"Kiand" gumam ku,
"Permisi sebentar, saya ada urusan" Aku memotong pembicaraan Kak Candra dan Pak michel lalu bergegas menghampiri Kiand.
Aku berlari kearahnya, dengan membuka jas yang ku kenakan agar bisa melindungi kepalanya, entah kenapa hanya itu yang ada di otakku, ku tatap Kiand dengan senyuman, tapi dia hanya terdiam menatapku, kami saling melempar pandangan, Jantungku sempat berdetak tak karuan saat wajh kami begitu berdekatan, namun ada wajah Bintang tersirat di mata Kiand.
"Kalau kita tetap disini, kita akan basah" ujar ku, Ku ajak Kiand menuju coffeeshop dimana aku dan Kak Candra meeting, bukan untuk memperlihatkan pada Bintang atau Kak Candra, tapi aku merasa tenang jika Kiand ada bersamaku.
Setelah memastikan Kiand aman dan hangat, aku memesan secangkir kopi untuknya, dan kembali ke meja yang tak jauh dari meja Kiand, karena aku masih harus menyelesaikan pembicaraanku dengan pak michel
"Luar biasa pak Pandu, saya bangga melihat sikap anda memperlakukan wanita" puji Pak michel saat aku baru saja tiba
Ada yang aneh dari tatapan Bintang, aku bisa melihat tatapan kecemburuan dari matanya
"Aku cuman nggak mau dia sakit pak" jawabku
"ehem...! " Kak candra berdehem "kita kembali ke topik awal ya"
Perbincangan mulai sedikit canggung antara aku, Kak Candra dan Bintang, namun Pak michel tak menyadari itu, hingga meeting kami selesai.
setelah Pak Michel pamit, dan aku hendak menemui Kiand, Kak Candra menarik tanganku
"Bisa kita bicara? " tanyanya
"Maaf kak, kiand udah lama nunggu gue, kasian dia" mendengar penolakan Kak Candra melepaskan tanganku dan membiarkanku pergi.
"Maaf lama" ujar ku saat menghampiri Kiand, dia tampak tersenyum, amarah ya g kulihat malam itu sama sekali tak tersisa di wajahnya
"Ke ruangan saya sebentar mau? " tanyaku
"Maaf pak, kerjaan saya belum selesai" tolaknya
"Sebentar aja, saya mau bicara "
"Ya udah, tapi saya harus menghubungi kak Nanda dulu " Aku mengangguk dan memberi ruang untuknya menghubungi Nanda salah satu sahabatnya
...****************...
Setelah menatapnya tadi, rasanya benar-benar aneh. sangat aneh.
Selagi berjalan ke ruangan, kami begitu kikuk, tak ada satu katapun terucap dari mulut Kiand, yang biasanya tak berhenti bicara seperti burung beo, dia hanya menunduk dan sesekali tersenyum kearah ku.
Yah setidaknya dia sudah tak se marah tadi malam, semalaman aku tak bisa tidur memikirkan hal itu.
Setelah sampai di ruangan kami berdua hanya saling melempar keheningan, Dia duduk di sofa dan aku di kursi kerjaku. Ada hal yang berbeda saat aku menghadapi Kiand dengan sikap diamnya, aku lebih suka dengan Kiand yang cerewet, dan sikapnya yang terkadang konyol, setidaknya aku tahu apa yang sedang dia rasakan saat itu, karena dia akan menceritakan semua yang di lalui.
"Ki... "
"Pak" Suara kami terdengar bersamaan
"Ehh Pak Pandu dulu deh" ucapnya kikuk
"Nggak papa kamu dulu Kiand" ujar ku tak kalah kikuk, aku seperti bukan aku saat ini, ada sisi lain yang keluar dari diriku.
"Ehmmm" Kiand mengeluarkan suara dari tenggorokannya, "Sa-Saya ingin mengakhiri drama ini pak! " kalimat itu bergema di telingaku, itu artinya Kiand tak ingin menjadi pacar pura-pura ku lagi
"Maksud kamu? " tanyaku
"Iya..... "
belum sempat ia melanjutkan pembicaraannya, terdengar suara dering telpon dari ponsel Kiand
"Sebentar ya pak, saya angkat telpon dulu" Akupun harus bersabar mendengar pernyataan Kiand berikutnya
"Kamu dimana sekarang?" Suara Kiand terdengar panik "Arga, tapi kamu nggak papakan? " mendengar nama Arga, aku segera menghampiri Kiand
"Ada apa? " tanyaku pelan, namun Kiand masih fokus pada ponselnya
"Kakak bakal kesana sekarang, bilang sama orang-orang itu, kakak akan bertanggung jawab" ujarnya "Oke, kakak kesana sekarang" Kiand menutup ponselnya
"Pak Pandu, maaf saya harus pergi! " Kiand mengambil tasnya dan pergi begitu saja
"Kiand... Kiand" panggilku sambil berlari mengejarnya. Aku menarik tangannya, agar dia berhenti
"Ada apa? kenapa Arga? " tanyaku
"Orang yang waktu itu membawa saya dan Arga, datang ke sekolah Arga, sekarang Arga lagi sama mereka, saya takut arga kenapa-napa " jelasnya panik
"Oke, saya antar kamu ya! "
"Nggak usah pak, ini urusan saya, saya nggak mau bapak terlibat dalam masalah hidup saya" tolaknya dan bergegas pergi
"Kiand!! " aku kembali mengejarnya
"Kiand, kamu perempuan, kamu nggak mungkin menghadapi mereka sendiri, percaya sama saya, setelah ini kamu boleh pergi dari saya, tapi untuk kali ini biarkan saya bantu kamu" Akhirnya Kiandpun menerima tawaranku untuk pergi bersama-sama.
Setelah Memasuki mobil, Kiand terus berdoa, beberapa kali dia mencoba menghubungi seseorang, tapi sepertinya tidak di angkat
"Jadi kita kemana ? " tanyaku
"Caffe jasmine, tempatnya nggak jauh dari kontrakan saya" jawabnya, kekhawatiran masih tersirat di wajah kiand, ingin rasanya ku genggam tanganya untuk meyakinkan semua akan baik-baik saja, tapi ... ahh entahlah perasaanku sedang tidak menentu
"Jefry... " gumamku
"Kenapa pak? " tanya Kiand menatapku
"Cepet telpon jefry, bilang kita ke cafe jasmine , dia punya banyak kenalan di sana" seketika aku teringat jefry si raja club malam
"Baik pak! " Kiand segera mengambil ponselnya, dan menghubungi Pak Jefry
"Hallo pak jefry! " suara Kiand terdengar berat
"Saya minta tolong bapak segera ke cafe jasmine"
"loadspeaker... " pintaku
"Ada apa ki? " tanya jefry pada sambungan telpon
"Jef... lo bisa ke cafe jasmine? " tanya ku
"kenapa Du? "
"Udah lo ke sana dulu, adek nya Kiand di bawa lagi sama bodyguard yang kemarin" jelasku
"ohh oke, ketemu di sana ya, gue meluncur sama Yoga" ujar Jefry
"oke... " sambungan telpon terputus
Aku masih fokus dengan stirku, jalanan terasa begitu panjang, terlihat beberapa kali kiand menghapus air matanya, sungguh tidak tega aku melihat dia
Akhirnya mobil memasuki kawasan club malam yang terlihat sepi, banyak pria bertubuh besar sedang berjaga. Tangan Kiand dengan cepat membuka pintu mobil tapi aku segera menarinya "Tunggu ki! "
"Pak, saya nggak bisa nunggu lagi, Arga pasti lagi ketakutan sekarang"
"Ki, kita tunggu jefry, kita nggak tau apa yang akan terjadi di dalam" jelas ku
"Kalau bapak takut biar saya aja yang turun" Kiand tetap memaksa untuk turun dari mobil, dan dengan cepat ku ikuti. Saat kami berjalan menuju cafe, terlihat tiga pria bertubuh besar menghampiri kami,
"Mau ketemu siapa? " tanyanya tegas, Aku segera menarik kiand untuk berdiri di belakang tubuhku
"Kita mau ketemu jasmine ! " jawabku tak kalah tegas,
"Ada perlu apa dengan mommy? " tanya salah satu pria itu
"Adik saya di dalam, saya harus bertemu dengan jasmine" jawabku
"Ohh... ikut saya..! " Salah satu pria bertubuh besar membawa kami ke sebuah ruangan di dalam cafe, cafe masih tertata rapih, beberapa meja masih berada di atas meja, karena memang belum beroperasi
"Arga.... " teriak Kiand saat melihat sang adik di sebuah ruangan tengah duduk dengan kedua tangan yang terikat
"Kakak, tolong Arga kak! " teriak Arga, saat kami ingin menghampiri Arga, tubuh kami di hadang oleh pria bertubuh besar lainya
"Lepasin adik saya, kita nggak punya masalah sama kalian! " teriak Kiand
"lepasin mereka... " perintah Wanita yang bernama jasmine
"Arga... " Kiand segera berlari ke arah Arga, namun jasmine menghadangnya
"Eits tunggu, jangan buru-buru" ujarnya berdiri di antara Arga dan Kiand
"Kenapa Arga di tangkap? bukannya perjanjian kita tiga bulan? " tanya Kiand
"Tadinya gue kasih waktu tiga bulan, tapi setelah di pikir-pikir, gue terlalu baik " jawabnya
Apa yang sedang mereka sepakati sebenarnya?
"Ada masalah apa ini? " tanyaku
"Lo siapa? " tanya wanita yang bernama jasmine
"Gue pacarnya Kiand, kakak arga, gue bertanggung jawab atas arga, jadi bilang aja mau lo apa? " tegas ku
"Pak...! " kiand seperti ingin melarang ku, namun segera ku alihkan
"Ohh bagus deh...! kebetulan sekali" ujar Jasmine sambil berjalan kearah ku "di lihat dari tampangnya, kayanya nggak asing" dia mengitari tubuhku, seseorang pria bertubuh besar membisikan sesuatu pada jasmine
"Ohhhh... jadi kamu itu Pandu, putra pemilik pt cahaya bagaskara group" dia berbicara persis di telingaku " baiklah tuan Pandu, mereka punya hutang sama saya sebesar 50 juta" penjelasannya membuatku terkejut, bagaimana bisa kiand berhutang kepada orang seperti jasmine
"Bohong, itu bukan hutang saya" teriak Kiand
"kalau bukan karena adik kamu, saya tidak akan kehilangan uang itu, mengerti! " Jasmine meninggikan nada suaranya