For A Great Love

For A Great Love
episode 118 hati yang galau



Semalaman aku tidak bisa tidur, beberapa kali ponselku berdering, tapi aku enggan menjawabnya, aku masih malu dengan kejadian di mobil tadi, bisa-bisanya aku bersikap bodoh mencium noval. p


"aghhhhh lo kenapa sih ki! " aku mengacak rambutku sendiri menyesali apa yang terjadi sebelumnya


Aku berjalan menuju tempat tidur, ponselku masih berdering, dan saat ku lihat benar saja noval terus memanggilku hingga 15 panggilan tak terjawab


"sekarang gue harus gimana? " aku bertanya pada diriku sendiri


Tok.. tok.. tok...


di tengah kegalauanku, seseorang mengetuk pintu kamar


"Siapa? " teriakku


"Ini bibi ki, kamu di panggil ayah! "


"ohh iya bi, nanti kiand keluar sebentar lagi" jawabku


Aku kembali menaruh ponsel diatas tempat tidur, dan bergegas menuju ruang keluarga. Ayah terlihat tengah duduk sambil menyesap segelas teh buatan Bi Nur, dengan mata yang tertuju pada televisi


"Ayah panggil kiand? " tanyaku. semenjak kesehatan ayah berangsur pulih, kami jadi sering berbincang, ayah selalu menanyakan pak pandu, tapi tidak terfokus pada pak pandunya, hanya pada perasaanku.


"duduk nak! " titah ayah


suasana mendadak hening, aku masih menunggu ayah berbicara, tapi dia hanya terdiam sambil sesekali menyesap tehnya


"Ayah! " aku mencoba mengawali pembicaraan


"hmmm... " dia hanya berdehem


"ayah panggil kiand mau apa? " tanyaku


"ayah cuman mau dengar ceritamu hari ini, tapi ayah tak ingin bertanya" jawabnya


Aku terdiam sesaat, mencerna jawaban ayah barusan, tidak biasanya ayah bersikap seperti ini


"hari ini semua baik-baik aja kok yah! kerjaan kiand lancar, alhamdulillah"


Ayah hanya tersenyum, dia seperti menyimpan sesuatu yang aku tak tahu


"kiand, ayah tidak akan mencampuri kehidupanmu, ayah hanya bisa memberi saran, soal hubunganmu dengan pandu" ayah terdiam, dia menatapku sesaat "Bagaimana dengan pandu nak? Apa kamu masih akan menunggu? " entah kenapa hari ini semua pertanyaan itu seakan terngiang jelas di telingaku, membuat dadaku sesak dan memaksaku untuk segera mengambil keputusan


"Sampai saat ini, kiand belum dapet kabar tentang pak pandu yah, dan soal menunggu, kiand akan berusaha semampu kiand! "


"nak! Ayah bukan ingin menekanmu, tapi lihatlah dirimu? usiamu, usia ayah! ayah ini sudah tua! ayah hanya ingin melihatmu menikah! "ucapan ayah sontak membuatku syok! pernikahan? aku saja belum memikirkan hal itu " sampai kapan kamu akan terus sendiri? menjadi tulang punggung keluarga! sudah saatnya kamu mencari pendamping, untuk meringankan beban kamu! "


"Ayah tenang aja! sampai saat ini kiand tidak merasa terbebani! " jawabku


"Ayah tahu, sekali lagi ayah tidak akan memaksa! ayah hanya ingin kamu bahagia nak! "


"Ayah....! kiand bahagia kok, ada ayah, ada arga, ada Bi Nur! kalian sudah lebih dari cukup untuk membuat kiand bahagia! " aku memeluk tubuh ayah yang masih duduk di kursi


Ayah menepuk lenganku yang melingkar di tubuh rentanya " Ayah bangga sama kamu kiand! "


hal yang mebuatku bersyukur sampai detik ini adalah ketika aku masih memiliki kesempatan untuk berada di samping ayah, dan melihat ayah sembuh, penderitaan ayah cukup panjang dari semenjak kematian ibu.


"Tok.. Tok.. Tok... " suara ketukan dari pintu rumah


siapa yang bertamu semalam ini? gumamku


Aku dan ayah menengok ke arah pintu bersamaan!


"siapa malam-malam begini? " tanya Ayah, aku hanya mengangkat bahuku sebagai bentuk ketidak tahuanku


"Kiand bukain dulu ya! " ujarku


Tak lama saat aku hendak menuju pintu, Bi Nur sudah berjalan terlebih dahulu kearah sana


"sudah bibi aja yang bukain! " sahutnya


Aku kembali duduk dan bersenda gurau bersama ayah, Arga kebetulan sedang tidak ada di rumah, dia sudah pamit akan mengerjakan tugas kuliah di rumah temannya


Tak lama bibi kembali, dia terlihat mesem-mesem tidak jelas


"ndok...! " ujar Bi Nur tapi dengan ekspresi malu-malu


"kenapa bi? siapa yang dateng! " tanyaku


"siapa sih bi? " tanyaku lagi


"mending kamu lihat sendiri siapa yang datang! " melihat tingkah bi nur, pikiranku melayang pada Pak Pandu, apa mungkin Pak Pandu yang datang, tanpa bertanya lagi aku segera berlari dengan sejuta harapan di benakku


"Pak pa.... " Aku tersadar saat ku buka pintu yang ku lihat bukanlah sosok pak pandu, melainkan noval.


Dia berdiri di hadapanku dengan sebuah buket bunga di tangannya


"ehh lo val... gue pikir... " aku menghentikan perkataanku, takut noval merasa tersinggung, tapi aku masih mencari keberadaan pak pandu, aku tengok di sekitar, namun tak ada tanda-tanda orang lain ada disini. Aku masih berharap pak pandu datang bersama noval, tapi dia sembunyi seperti di film-film yang pernah ku tonton


"lo cari pandu? " tanya noval dengan raut wajah kecewa


"ehmm eng.. enggak kok! " jawabku kikuk, sudah jelas noval menyadari hal itu, tapi aku masih berusaha mengelak


Noval tersenyum tak ingin memperlihatkan kekecewaannya, dia langsung menyodorkan sebuah buket bunga mawar merah yang tertata indah dalam balutan kertas celopen


"buat gue? " tanyaku


Suasana mendadak kaku, teringat apa yang ku lakukan siang itu, entah kenapa aku justru menjadi risih sendiri, entahlah perasaan yang aneh


"sorry gue dateng malem-malem, abis lo nggak bisa gue hubungin! " ujar noval


"Kiand, ajak tamunya masuk! " teriak bi nur dari dalam


"iya bi! " jawabku "Masuk dulu yuk! nggak enak kelamaan di luar! " ajakku


Aku dan noval berjalan menuju ruang tamu, sebelumnya aku menaruh buket itu di atas meja dengan hati-hati


"Duduk! gue ambilin minum dulu! " ujarku


"Udah bibi siapin minumnya, kamu duduk temenin noval? " bak hantu Bi Nur sudah berada di hadapanku dengan membawa nampan berisi segelas teh hangat


"Bi Nur! kiand kaget.... " ujarku tersentak


Bi nur begitu antusias setiap noval datang, yah dia orang pertama yang menyuruhku memberi kesempatan pada noval, dan memintaku berhenti menunggu pak pandu


"Ayo noval minum dulu! " titah bi nur pada noval


" iya bi makasi.... " noval mengambil gelas yang berisu teh lalu menyesapnya, sedang aku masih berdiri mencerna lagi keadaan saat ini, aku masih di buat kikuk dengan ini


"hush! temenin sana! " bi nur menepuk bahuku


Aku berjalan mendekat kearah noval, berusaha tetap tenang dan bersikap normal, tapi nyatanya tatapan noval membuatku kembali salah tingkah


"hmm gue mau ke dapur dulu! " aku kembali bangun dan hendak pergi, tapi tangan noval segera menyambar tanganku, dia menahanku, membuat jantungku berdegup tak karuan, bukan karena cinta tapi karena malu.


"masih mau menghindar? " tanya noval


aku bahkan tak berani membalikan tubuhku saat itu, aku takut saat aku harus menatap noval, bayangan siang itu akan terlintas lekat di hadapanku


"hmm i... itu.. gue mau...! " aku mencarai alasan untuk aku pergi dari sini setidaknya memberi ruangku bernapas


"ki! please, jangan menghindar lagi! " kali ini noval bangun dan membalikan tubuhku menjadi berhadapan dengannya. Rasanya aku kehabisan oksigen hingga dadaku begitu sesak


"val! gue minta maaf, tapi siang itu gue sama sekali nggak bermaksud... " belum selesai aku bicara noval sudah memintaku diam, dia menaruh telunjuknya di bibirku dengan seutas senyum


"lo nggak perlu minta maaf, gue tahu, semua itu nggak ada maksud yang berarti buat lo! meski gue berharap saat itu lo tulus ! " jawabnya


"val, gue cuman bingung, semua orang minta gue buat lupain pak pandu, kasih kesempatan buat lo, dan gue udah berusaha, nyatanya gue nggak bisa! "


"di luar yuk! " ajak noval " nggak enak kalau ngobrol disini" ternyata noval menyadari jika bi nur menguping di balik tembok


"hmmm oke! " aku dan noval pindah lokasi menuju teras


"lo nggak perlu dengerin kata-kata orang, pakai hati lo, gue nggak akan maksa lo, lo tau itukan ? " noval selalu saja mengatakan dia akan menungguku, dan itu membuatku semakin merasa bersalah


"val, gue minta maaf! "


"jangan pernah bilang minta maaf, gue nggak suka, semua bukan salah lo kiand! "


"gue akan coba buat buka hati gue! tapi lo harus tau hati gue udah hancur saat pak pandu pergi gitu aja, seandainya lo terima gue seperti ini, gue akan berusaha keras untuk memperbaiki hati gue, meski gue tahu itu nggak akan pernah kembali sempurna"


"yah! gue terima lo dengan semua masa lalu lo yang belum usai"


terkadang aku bertanya, apa mungkin ada laki-laki setulus noval? tapi nyatanya pria itu ada, dan kini dia di hadapanku, pria yang selalu ada dalam kondisi terpurukku, pria yang selalu menyadarkanku jika akan ada pelangi setelah hujan, pria yang mengenalkanku akan indahnya kehidupan sekeras apapun itu lalu apa mungkin aku akan menyakiti pria ini?