
Senin pagi yang begitu indah di kota pahlawan. Hari ini awal baru ku di mulai, akhirnya aku di terima kerja di sebuah perusahaan advertising agency di surabaya. kehidupan baruku bukan hanya soal pekerjaanku saja tapi tentang ayah, yah... ayahku kini sudah sadar, meski dalam keadaan lumpuh. Dokter mendiagnosa ada penyumbatan di kepalanya yang di akibatkan oleh serangan jantung yang sempat di alami ayah, sehingga membuat sebagian tubuh ayah tidak bisa di gerakkan atau biasa orang mengatakan stroke.
Di hari pertama aku bekerja, semua terasa begitu asing, teman, atasan, dan lingkungan, aku harus kembali beradaptasi lagi dengan mereka, apa lagi bahasa mereka yang berbeda denganku kadang membuatku gugup dan bingung, untunglah ada rekan kerjaku yang bernama Wulan, dia yang mengajariku banyak hal, dari mulai job deks yang harus aku lakukan, sampai apa saja kebiasaan karyawan di perusahaan ini.
Perusahaan ini sudah 8 tahun berdiri, hanya saja tidak begitu berkembang pesat, managemant yang tidak tepat membuat perusahaan ini banyak mengalami pasang surut dunia persaingan. Saat aku baru masuk saja aku mendengar jika perusahaan ini sedang tidak baik-baik saja.
Siang ini aku di ajak Wulan makan siang di sebuah cafe kecil yang tak jauh dari kantor.
"Dulu bukannya tempat kerjamu enak Ki? " tanya Wulan dengan logat jawanya yang medok
"Iya, tapi terpaksa harus ku lepas karena ayah membutuhkan ku" jawabku malu-malu. Aku masih begitu jaim karena memang kami baru kenal
"Oohhh... " ujarnya sambil melanjutkan makannya
"Sayang yah, kamu malah masuk di perusahaan kecil seperti ini"
"nggak papa yang penting aku bisa dapat pemasukan, untuk melanjutkan hidup" jawabku
"Yup bener, semangat! " ujarnya sambil mengepalkan tangan
Setelah makan siang aku kembali ke kantorku, yang hanya memiliki 3 lantai, karyawan disini juga hanya ada 13 orang termasuk Office boy dan security.
"Lan wulan" panggil daniel, pria yang waktu itu bertemu denganku di puja sera
"apa sih Dan? " tanya Wulan, kami baru saja sampai di kantor
"udah denger atasan baru kita? " tanyanya
"atasan baru lagi? " wulan balik bertanya
"iya.. nanti jam 3 kita ada meeting dengan beliau, denger-denger orangnya tegas, dia nggak mau terima kesalahan apapun" jelas daniel
"memang atasan yang sebelumnya gimana? " tanyaku, jujur aku pun belum begitu paham kondisi disini
"atasan sebelumnya kurang begitu peduli, dia aja jarang dateng ke kantor," jawab daniel
"Pak louis tadi bilang, kita harus siapkan beberapa lay out iklan yang sedang kita garap, untuk di persentasikan di depan atasan baru ini" tambah Daniel
Pak louis adalah kepala tim kreatif, dan kami adalah tim kreatif disini, yang bertugas membuat dan menggambar iklan cetak maupun TV.
"Ohh oke, nanti aku seleseikan lay out itu sama Kiand! " jawab Wulan
"Ya udah, aku cuman kasih tahu aja, ya udah lanjutin kerjaan kalian ingat jam 3 di tunggu di ruang meeting" ujar Daniel
Aku dan Wulan mulai mengerjakan beberapa lay out iklan, lay out iklan merupakan tata letak
perencanaan unsur periklanan, mulai dari tulisan, gambar, dan ilustrasi. Kali ini aku dan Wulan sedang menyelesaikan Lay out iklan suatu perumahan elite yang terletak di pusat jakarta, namun memiliki kantor cabang di surabaya, karena banyaknya peminat dari kalangan elite Surabaya.
Setelah semua di pastikan selesai, aku, wulan daniel, pak louis dan frans menuju ruang meeting yang terletak di lantai 2. Ini adalah kali pertama aku meeting di tempat kerjaku yang baru.
"Belum dateng Direktur baru kita? " tanya Pak Louis pada rekan kerjanya di bagian account executif
"belum, seperti biasa, atasan telat bukan masalah, beda kalau bawahan yang telat" sahutnya di ikuti gelak tawa beberapa orang yang berada di ruang meeting
Aku yang saat itu masih menjadi anak bawang, hanya tersenyum tipis dan langaung dusuk di samping wulan, aku fokus pada laptop yang di bawa wulan, entah apa yang aku lihat, aku hanya menatap layar yang di penuhi dengan tulisan dan gambar, sampai seseorang masuk ke ruang meeting dan mengejutkan ku
"Selamat sore, maaf saya telat! " ujar pria itu sambil berjalan ke arah kursi utama yang berada di ujung meja bundar. Aku di buat tak percaya dengan keadaan ini, Orang yang ingin ku jauhi justru kini kembali di hadapanku, tanpa di sengaja, seolah Tuhan ingin mempertemukan ku kembali dengannya.
"Pak Pandu... " gumamku perlahan, saat itu ia belum menyadari keberadaanku
"Siapa ki? " bisik Wulan, sepertinya dia mendengar ucapanku
"hmm bukan.. bukan siapa-siapa! " elakku. Aku menutupi wajahku dengan laptop, berharap pak pandu tidak melihatku
"hmm hmmm... " pak pandu berdehem sambil merapikan jasnya, ia masih sangat tampan seperti biasa, tapi saat ini ia lebih berwibawa.
"Sebelum melanjutkan rapat hari ini, saya ingin memperkenalkan diri, mungkin beberapa diantara kalian sudah mengenal saya, tapi sebagian besar belum, jadi akan lebib akrab jika kita saling mengenal satu sama lain" ujarnya " Nama saya Pandu, mulai sekarang saya akan menggantikan Pak Betran sebagai Direktur Utama di perusahaan ini, Saya mohon bantuannya dari kalian, agar perusahaan kita bisa perkembang pesat, dan mampu bersaing dengan kantor advertising lainnya" ucapnya begitu tegas dan hangat.
Aku masih bersembunyi di balik laptop, dan Pak Pandu sendiri masih sibuk dengan laptopnya , rasanya aku ingin punya jurus menghilang saat ini, aku tak sanggup bertemu dengannya, akan semakin sulit untukku melelupakannya.
"Baik, saya ingin melihat beberapa projek yang sedang kalian kerjakan, saya dengar ada lima iklan properti di bulan ini yang sedang kalian garap, jadi sebelum iklan itu rilis saya ingin kalian memperlihatkannya terlebih dahulu " pinta Pak Pandu
"Ki, yang iklan property kamu yang jelasin ya, kamu bisakan! " titah Wulan
Aku hanya bisa terdiam kikuk, tidak mungkin aku menolak, secara disini aku adalah anak baru, tapi jika aku yang melakukan persentasi ke depan, itu artinya Pak Pandu akan mengenaliku aduhhhh aku harus gimana?
"memangnya kamu kenapa? " tanyaku berbisik
"Aku grogi, abis atasananya keren! " jawab wulan sambil tertawa di telingaku
Ketampanan Pak Pandu memang selalu terpancar, hingga banyak wanita yang sulit mengalihkan pandangannya dari dia.
"Oke baik, saya ingin dengar laporan lay out yang pertama, penanggung jawab Pak louis, " ujarnya aku semakin gemetar, jantungku semakin berdegup kencang, ruangan yang dingin karena AC pun masih ku rasa panas
"Ki...! " bisik wulan, sedang aku masih menyembunyikan kepalaku di balik laptop
"wulan ayo silahkan presentasikan sudah sampai mana lay out kita" titah Pak Louis
"baik pak, kiand yang akan mempresentasikannya" ujar wulan
"ki.. ayo...! " dengan ragu aku mengangkat kepalaku dari balik laptop, dan saat itu untuk pertama kalinya aku dan Pak Pandu kembali saling menatap, Pak Pandu terlihat terkejut saat mata kami saling bertaut, dia terlihat tak bisa berkata apa-apa, langsung terdiam dan mematung, begitupun aku, cukup lama kami saling melempar pandangan sungguh hal yang tak pernah ku sangka, di saat aku sudah mencoba menjauh, alam seakan ingin terus mempersatukan kita.
"a.. ayo silahkan presentasikan hasil layout kalian" ujar Pak Pandu, dengan mata yang masih tertuju padaku
Terpaksa aku pun bangun dan berjalan ke arah samping kursi Pak Pandu, jarak kami begitu dekat, hingga membuat jantungku berdetak tak beraturan , Pak Pandu sempat melempar senyum tipis padaku, dan itu semakin membuatku grogi, perasaanku kali ini benar-benar campur aduk, antara kesal, senang, rindu ahhh entahlah semua rasa seolah tertuang dalam perasaanku kali ini, tapi bukan Kiand namanya kalau tidak bisa mengontrol perasaan, untunglah aku bisa mempresentasikan semua dengan baik, meski aku baru membacanya beberapa jam sebelum meeting.