
Aku terkejut saat suara alarm ponselku berbunyi, ketika aku sadar, Pak Pandu masih tertidur memelukku, dia tampak tampan ketika menutup matanya.
Ku singkirkan tangan Pak Pandu perlahan, agar aku tidak membangunkannya, setelah itu aku turun dari tempat tidur dan berjalan meninggalkan kamar Pak Pandu, untuk menyiapkan sarapan.
Sabtu ini akhirnya aku bisa libur, setelah beberapa hari berkutat dengan masalah yang panjang, yah hanya sedikit menyelesaikan beberapa draft untuk hari senin saja. Tadinya aku berniat memotong rambutku ke salon bersama kak nanda, tapi karena kejadian malam itu dan membuat Pak Pandu terluka,aku harus mengurungkan niatku, dan berencana memotong sendiri rambutku.
Setelah keramas, aku duduk di depan meja kaca yang terdapat di dalam kamar tamu , aku mulai mengira-ngira akan memotong rambutku sampai mana. Saat sedang memotong bagian depan, ku lihat pak pandu sedang berdiri di ambang pintu dari pantulan cermin.
"Pantas saja aku tidak menemukanmu, ketika bangun" katanya tersenyum kearahku, tubuhnya bersandar pada kusen pintu dengan kedua tangan yang ia lipat dan menaruhnya di dada.
"Harusnya kita nggak tidur satu ranjang! " sesalku
"Hmm kenapa? kamu keberatan? " tanyanya masih dengan posisi yang sama
"Ahh sudah lah! saya mau potong rambut! " ujarku mengalihkan pembicaraan
"Kamu potong rambut sendiri? "
"uhmm... tadinya saya mau ke salon sama kak nanda, tapi sikonnya tidak memungkinakan"
"Kamu bisa ke salon jefry kalau kamu mau! "
"Nggak ahh, pasti mahal, sayang uangnya"
"hemm" senyum pak pandu mendengar jawabanku
"Dia pasti kasih gratis sama kamu" ujaranya
"Yahh nggak enaklah pak! saya nggak mau kalau gitu, lagian saya biasa potong rambut di salon kecil, itu loh yang kapsternya banci... " ujarku membuat Pak Pandu semakin tak bisa menahan tawanya
"Hehehh.... yasudah sini saya yang potong rambut kamu! " tawar Pak Pandu sambil berjalan ke arahku
"Nggak deh, yang ada nanti rambut saya makin acak-acakan"
Pak Pandu tersenyum "aku banyak belajar dari jefry, bagaimana caranya memotong rambut"
"Pak Pandu yakin? " tanyaku dengan tatapan ragu
"Hmm! mau di coba? " tanyanya
"Masa rambut saya buat percobaan? "
"Udah sini, memangnya kamu bisa potong bagian belakangnya! " Pak Pandu menarik kursi kecil yang ada di sudut ruangan dan duduk di belakangku
Pak Pandu mulai memotong rambutku sedikit demi sedikit, sesekali dia menatapku dengan senyuman, aku bisa melihatnya dari pantulan cermin
"Kenapa pak pandu senyum-senyum? " tanyaku
"Cuman kamu loh, wanita pertama yang saya potong rambutnya" ujarnya
"Hmm yah, karena wanita lain nggak percaya sama pak pandu! "
"bukan! "
"terus kenapa? "
"Karena kamu spesial" Ucapannya sukses membuat pipiku memerah seperti kepiting rebus
Aku hanya terdiam sambil tersipu malu, Sedang Pak Pandu masih fokus memotong rambutku sedikit demi sedikit, pria itu begitu teliti memotong setiap helai rambutku, gerakannya sangat lembut, rasanya begitu damai dan menyenangkan.
"Gimana? baguskan hasilnya? " tanya Pak Pandu setelah selesai memotong rambutku, Aku begitu terkejut, aku pikir dia hanya bisa marah-marah saja kerjaannya, ternyata dia juga jago memotong rambut
Aku menjawab dengan anggukan, ku dekatkan kepalaku kearah cermin agar aku bisa dengan jelas melihat bagian rambutlu
"Rapih pak! Pak Pandu ternyata hebat! " pujiku
"makanya jangan menyepelekan saya" sahutnya "Tunggu belum selesai, rambutmu basah! "
Pak Pandu beranjak dari kursinya dan bergegas keluar, entah apa lagi yang akan ia lakukan pada rambutku, tak lama Pak Pandu datang dengan membawa sebuah hairdryer
"Rambutmu basah, sini biar aku keringkan"
Pak Pandu mulai mengarahkan hairdryer itu ke rambutku sambil mnyisir rambutku dengan jemarinya, rasanya begitu nyaman, hingga aku tak ingin ini cepat berlalu
"Makasi ya pak! maaf jadi merepotkan"
Pak Pandu menaruh hairdryernya, ia memelukku dari belakang menjadikan bahuku sandaran kepalanya, jantungku tiba-tiba berdetak tak karuan,
"Sudah menjadi tugas seorang pria membantu pacarnya " bisik pak Pandu santai namun mampu membuatku ingin meloncat kegirangan
Aku tak bisa berkata apa-apa, aku sungguh sudah di buat terkesima oleh sikapnya, bagaimana mungkin Bu Bintang menyia-nyiakan pria selembut ini pikirku
"Cantik " Pak Pandu tiba-tiba berucap membuatku semakin membeku, dadaku seperti kepakan sayap burung yang siap terbang
"Apa? " tanyaku memastikan
"Cantik... " jawabnya dengan penuh penegasan
"Saya memang selalu cantik! " sahutku menutupi rasa grogi ku
"Maksud saya hasil karya saya cantik! " Pak Pandu mengoreksi
Aku langsung melapaskan pelukannya dan berbalik kearahnya "Jadi saya nggak cantik?" tanyaku merajuk
"Menurut kamu? " pak pandu malah balik bertanya
"ya udah, dasar nyebelin " Pak Pandu terlihat tersenyum
"Kamu lebih cantik saat menekuk wajahmu" ia beranjak dari kursi dan berjalan meninggalkan kamar
Tak Lama Pak Pandu kembali ke kamar, dia melihatku masih bercermin dengan sebuah senyum
"Sampai kapan kamu mau menatap wajahmu di cermin? " ujarnya "Ayo kita sarapan perut saya sudah berbunyi"
...****************...
Jam menunjukan pukul satu siang, Pak Pandu sedang menyelesaikan pekerjaannya di kamar, dan aku memilih menonton televisi, untunglah draft yang tertunda sudah ku selesaikan.
Aku menonton drama korea kesukaan ku, semua adegan percintaan di film itu selalu membuatku seolah menjadi pemeran wanitanya.
"ahhh cakep banget....!!! " pujiku pada aktor favoriteku, dia mengenakan kemeja putih, sedikit membentuk tubuhnya dengan celana salur berwarna hitam
"Siapa yang cakep? " aku terkejut saat mendnegar suara Pak Pandu yang sudah berdiri di belakang sofa
"ehh ada pacar... " gumamku malu
Dia langsung duduk di sampingku, dengan menampakkan raut wajah yang tak suka
"Siapa yang cakep? " tanyanya lagi
"Itu loh... dia aktor korea favoritku" jawabku sambil menunjuk kearah layar televisi
"Apa seleramu serendah itu? masa segitu aja di bilang cakep"
Aku langsung menoleh menatapnya, tak rela pujaan hatiku di bilang biasa saja
"seleraku memang selalu rendah, buktinya aku bisa menyukai pria yang ada di sampingku" sahutku kesal
Dia langsung mengambil remot tv dan mematikannya
"Pak Panduuuu.... " panggilku kesal
"Bilang aku atau dia yang paling cakep? " aku tertawa saat dia menanyakan hal itu,
"Yah... yah.. dialah...! " tegasku
"Ohh oke! aku tidak akan memberikan remotnya kalau gitu"
"Pak Pandu sini dong, ayolah! " rayuku, tapi dia tetap saja memegang remotenya
"Ambil sendiri kalau bisa! "
"Oke! " dengan sekuat tenaga aku mencoba mengambil remote dari tangan pak pandu, tapi ternyata tak semudah itu, dia begitu lihai memindahkan remot dari tangan satu ke tangan lainnya, hingga aku benar-benar kesulitan.
Saat menurutku inilah kesempatan untuk mengambil remot tv pak pandu justru mengangkat tangannya, hingga tanpa sengaja aku terjatuh tepat di atas tubuhnya. kami saling melempar pandangan, Hingga akhirnya bibir Pak Pandu menyentuh bibirku.
"Wow... amazing sekali pemandangan siang ini! " aku terkejut saat ternyata Pak Jefry dan Pak Yoga sudah berada di belakang sofa
Aku langsung bangun dan merapikan bajuku, tiba-tiba suasana menjadi kaku, bukan hanya aku tapi pak panfu juga.
Pak Yoga terlihat tersenyum sambil memukul pundak Pak jefry "udah gue bilang ketuk dulu! "
"Ngapain kalian kesini? " tanya Pak Pandu, dia tampak malu dan grogi
"Lo lupa, tadi lo yang nyuruh kita kesini buat anterin berkas ini! " jawab Pak jefry sambil menunjukan sebuah map yang ada di tangannya
"Lain kali kalau mau ke apartrmen gue, telpon gue dulu" ujarnya, dia beranjak dari sofa dan berjalan ke arah kamar, sedang aku masih terdiam kaku di atas sofa,
"Makanya lain kali inget, kalo kedua sahabat lo punya kunci cadangan" balas Pak jefry
ahh kiand, apa harus adegan itu di pergokin mereka? gumamku dalam hati
Pak jefry terlihat mendekat kearahku, tapi aku berusaha memalingkan wajah
"Tadi itu hebat! " godanya berbisik di telingaku
Aku langsung bangkit meninggalkan Pak jefry, bergegas ke dapur membuatkan dua cangkir kopi untuk mereka
ahhh bodoh sekali kiand! sesalku sambil mengacak-acak rambutku
"Kita bicarakan ini di meja makan" terdengar suara pak pandu dari arah kamarnya
benar saja Pak Pandu, pak jefry, dan Pak yoga berjalan ke arah meja makan, sedang aku masih berdiri di meja dapur rasanya enggan untuk menampakn wajahku di depan mereka
"Ki, kopi dong! " pinta pak jefry
"Enak aja, ambil sediri! " ujar Pak Pandu
"Saya sudah buatkan! " sahutku
terpaksa aku membawakan dua cangkir kopi ke meja makan, pak jefry masih saja tersenyum menatapku, begitupun pak yoga aku jadi semakin malu.
"mau kemana kamu? duduk! " titah pak pandu saat aku hendak meninggalkan meja makan
"Tapi pak...! "
"Kamu ikut andil juga dalam proposal ini! " ujarnya
mau tidak mau aku harus bergabung dengan mereka padahal, saat ini aku sangat ingin menghindar dari mereka.
Pak jefry mulai menjelaskan beberapa anggaran yang akan perusahaan keluarkan untuk membangun "pondok emak" serta sebuah aplikasi asisten yang menjadi kelebihan dari proposal kita, denah yang sudah aku dan nanda buat juga cukup menarik, hingga kita begitu yakin jika proposal kitalah yang akan terpilih
"Besok kita bahas ini di kantor, Kiand tolong kasih tahu nanda " ujar Pak Pandu
"Baik pak! " jawabku
Selesai meeting kami menikmati sebuah pizza yang Pak Pandu pesan, sambil mengobrol ringan dengan Pak Yoga dan Pak jefry.