For A Great Love

For A Great Love
episode 83 Hati yang hancur



"Apa sekarang saya adalah masalah untuk kamu ki? " tanya Pak Pandu, ia hanya menatap ke depan tanpa menoleh kearah ku


"Bu.. bukan begitu pak! "


"Lalu? " tanyanya " Kamu tahu, selama satu bulan ini, aku hidup tapi seperti mati, di otakku hanya ada kamu kiand! aku bahkan tak mengenali diriku yang sekarang! "


Sakit mendengar ucapan Pak Pandu, karena akupun merasakan hal yang sama, ku biarkan hidupku mengalir dengan kehampaan, bahkan air mataku saja sudah kering untuk mengungkapkan kesedihan dalam hatiku


"menurut pak pandu, apa saya tidak merasakan hal yang sama? setiap hari saya berusaha melupakan bayang-bayang pak pandu, saya berusaha membenci pak pandu, tapi saya nggak bisa! pak pandu selalu hadir di pikiran saya, event saya mencoba membuang semuanya! Pak Pandu tau, keadaan ini sangat menyiksaku, kadang saya penat, saya lelah dengan rasa cinta yang terus bersemi di hati saya, semakin saya mencoba membuangnya, rasa itu semakin lekat, dan rasanya sakit" lagi-lagi aku harus meneteskan air mataku yang sudah tak sanggup lagi ku redam


"Sampai kapan kita akan menyakiti hati kita ki? kenapa kamu pergi? kenapa kita harus menghindari perasaan ini?"


Aku hanya bisa menangis tanpa sanggup menjawab pertanyaan Pak Pandu, Keadaanlah yang membuat kita harus menghindar, seandainyapun kita bersama, akan ada yang kita korbankan, yaitu keluarga, dan aku tak mampu untuk melakukan hal itu


"Pak, maaf! tapi aku mau kita tutup lembaran lama, luka lama, hiduplah tanpa kita saling mengenal, aku mohon...! karena hanya itu jalan keluar untuk permasalahan kita"


Kali ini Pak Pandu menoleh kearahku, butiran air mata tertahan di kelopak matanya, melihat hal itu hatiku semakin sakit, aku sangat mencintai Pak Pandu, tapi alam menolak hubungan kita.


"Apa kamu bisa melakukan hal itu? " tanyanya


"Saya akan berusaha, meski itu perih! " jawabku


"Oke, lakukan apa yang mau kamu lakukan, tapi jangan paksa aku melakukan hal yang sama seperti kamu! " ujarnya " saya akan mengantarmu pulang!"


Pak Pandu mulai menyalakan mesin mobil, dan melajukan kendaraannya kearah yang sudah ku tunjukan. Suasana hening, hanya sesekali Pak Pandu menanyakan arah, sampai mobil alphard putih itu berhenti di sebuah gang yang berada di belakang rumah sakit.


"Makasi Pak" ucapku sebelum aku turun dari mobil


"Hati-hati! " entah kenapa rasanya dadaku sesak saat mendengar Pak Pandu mengucapkan hal itu,


"Pak Pandu juga! "


Dia terlihat mengangguk sambil tersenyum, senyum yang selalu ingin ku lihat sepanjang hari, setiap waktu dalam hidupku.


Aku masih berdiri di samping mobil pak Pandu, menunggu Pak Pandu meninggalkan tempat ini, tapi mobil Pak Pandu sama sekali tak bergerak, akhirnya aku memilih meninggalkan mobil Pak Pandu yang masih terparkir.


Aku menyusuri jalan dengan air mata yang terjatuh, untunglah tak ada orang yang lalu lalang saat itu, sehingga aku bisa berhenti sejenak untuk meluapkan kesedihanku. Ku sandarkan tubuhku pada sebuah tembok pembatas yang tak jauh dari rumahku, aku hanya bisa menangis, rasanya begitu perih, seandainya aku bisa mengulang waktu, aku memilih untuk tidak bertemu dengan Pak Pandu, bukan karena aku, tapi aku tak sanggup melihat Pak Pandu seperti ini, sakit yang ku rasakan, tentu di rasakan juga oleh Pak Pandu dan itu semakin membuatku perih.


Setelah puas meluapkan tangisku, ku coba untuk menenangkan perasaanku, ku hapus air mataku, ku tarik napas beberapa kali, agar aku bisa mengontrol kesedihan ini.


...****************...


"Kiand! "


Aku tidak berani mendongak saat Bi Nur memanggilku, aku takut Bi Nur menyadari wajahku yang sembab karena menangis. Jadi, ku putuskan untuk menghindar


"Maaf Bi aku capek, aku istirahat dulu ya! " ujarku saat hendak masuk ke kamar, namun, langkah Bi Nur kemudian memblok tubuhku. Ia menyentuh daguku dan mengangkatnya perlahan


"Kamu nangis? " tanyanya cemas sambil mengusap bulir air mata yang berjatuhan


Aku hanya diam menatap wajah Bi Nur yang menunggu jawabanku, air mata yang tadi berhenti kini kembali jatuh, aku tak bisa menahan kesedihan ini di depan Bi Nur


"Kiand! kenapa? siapa yang buat kamu nangis ndok? "


Bi Nur memanjangkan leher, mencari tahu dengan siapa aku pulang. untunglah tadi aku meminta Pak Pandu menurunkan di ujung gang, jadi Bi Nur tidak tahu siapa yang mengantarku pulang.


"bilang sama Bi nur, kamu kenapa? jangan diam aja! " Bi Nur bertanya lagi, raut cemas semakin mewarnai wajahnya. lagi-lagi aku hanya bisa diam, mulutku rasanya terkunci, aku hanya ingin menangis dan menangis tanpa mengatakan hal apapun.


Bi Nur menjatuhkan tubuhku dalam pelukannya, dan saat itu tangisku kembali pecah, hingga aku tersedu-sedu.


"Ayo Bi Nur bantu ke kamar! " dengan lembut Bi Nur memapahku ke kamar. meski dia bukanlah ibuku, tapi nalurinya seakan tahu jika saat ini aku tak sanggup mengatakan hal apapun.


"Bi Nur ambilkan minum ya! " ujarnya setelah membantuku duduk di atas kasur


"makasi ya Bi! " ucapku.


Untunglah, tadi ayah tidak melihatku, mungkin ia sedang tudur di kamar, kebetulan rumah yang ku kontrak ini memiliki dua kamar, aku dan Bi Nur tidur di kamar depan, sedang ayah di kamar sebelahnya.


Tak lama Bi Nur datang membawakan segelas air mineral


"Minum dulu ndok! "


Aku segera meraih gelas yang di sodorkan Bi Nur, dan meminumnya dengan perlahan, sedikit demi sedikit perasaanku lebih tenang , tapi air mataku seakan tidak ingin berhenti, dia terus menetes meski aku ingin menghentikannya.


"Ada apa sama kamu? kenapa kamu nangis seperti ini? ada masalah di kantor? " Bi nur duduk di sebelahku sambil mengelus pundak ku


"nggak Bi! " jawabku sambil menggelengkan kepala


"lalu? " Bi Nur menatapku, tapi aku melihat tatapannya seakan tahu hal apa yang menyebabkan ku menangis "Pria yang kamu tinggalkan waktu itu? " tanya Bi Nur


Aku tidak mengiyakan ataupun mengelak, aku hanya diam, dan Bi Nur menganggap diam ku adalah jawaban "ya"


"Kiand, mau sampai kapan kamu menyiksa diri kamu sendiri! Kita tidak pernah bisa memilih pada siapa kita mencintai, semua terjadi begitu saja, kalau kamu sangat mencintainya, dan dia merasakan hal yang sama, kejar dia! jangan menyerah...! Bi Nur lihat pria itu juga sungguh-sungguh denganmu "


" nggak Bi! Pak Bagaskara tidak akan tinggal diam, jika tahu kiand kembali sama Pak Pandu "


"Jika cinta kalian kuat, maka restu bukanlah sebuah penghalang, buktikan pada mereka, jika kasta tidak menghalangi cinta" Bi Nur menepuk pundak ku, "Ya sudah Bi Nur mau lihat ayahmu dulu.


Aku hanya tersenyum dan mengangguk ke arah Bi Nur yang hendak meninggalkan kamarku.


Sepanjang malam aku tidak bisa tidur, meski tangis ku sudah mengering, masih terngiang di telingaku perkataan Bi Nur tadi, apa mungkin aku bisa memperjuangkan cinta ini? tapi pertanyaan itu segera ku tepis, saat bayangan keluargaku akan hancur oleh pak bagaskara, aku tak bisa egois! bagaimana dengan Arga nantinya, bisa saja Pak Bagaskara menculik arga saat tahu aku kembali pada Pak Pandu. aghhhh rasanya otakku mau pecah! ku gelengkan kepalaku berulang kali, berharap wajah pak pandu hilang dari pikiranku.


Hal yang harus ku lakukan saat ini adalah melupakannya,membuang jauh harapan untuk bisa memilikinya, meski itu akan sulit dan menyiksa batinku.


note: mohon maaf nggak bisa setiap hari update, tapi semoga kalian masih setia membaca karyalu yang masih jauh dari kata sempurna