For A Great Love

For A Great Love
episode 60 perasaan yang meluap luap



Keberhasilanku mungkin akan menjadi tamparan keras buat kak candra. Aku tersenyum kearahnya dengan penuh kemenangan, ada kepuasan tersendiri saat melihat raut wajahnya yang kesal.


Direksi mempersilahkan Kak Candra untuk mempresentasikan hasil proposalnya, ia terlihat tampak kaku, tidak seperti saat awal ia masuk ruang meeting, tapi aku bisa merasakan sebuah ambisi dari tatapannya. Dari kecil Kak Candra selalu memiliki rasa yang menggebu atas apa yang ingin ia miliki, aku masih ingat saat pertama kali papi membelikan kami Sebuah mobil remote, tanpa sengaja Kak Candra merusakan mobil miliknya, dan ia melakukan berbagai macam cara untuk memiliki mobil remoteku.


Sosok itu kini berdiri di hadapanku, kembali melakukan hal yang sama yang ia lakukan saat kami kecil, merebut apa yang jadi milikku, dan sampai sekarang aku merasa terbiasa saat harus melepaskan sesuatu yang ku miliki untuknya.


Bintang salah satunya. Selama Kak Candra melakukan persentasi, kami menyimak dengan seksama, yah ide dan gagasan kak candra tidak kalah menarik denganku, arsitektur yang kak candra berikan juga tidak main-main, lebih menonjolkan bangunan mewah dengan fasilitas nomer satu.


Aku memang tidak bisa menganggap remeh Kak Candra dan teamnya.


Para direksi meminta waktu untuk mengumumkan proposal mana yang akan mereka ACC setelah jam makan siang.


Semua para direksi meninggalkan ruangan, tidak terkecuali papi dan momy, tapi tidak dengan kak candra. Aku yang saat itu masih kesal dengan perlakuannya, segera menghampiri dia yang tengah berdiskusi dengan Bintang.


"Maksud lo apa kak? " tanyaku sambil berdiri di samping kursi yang ia duduki


"Masud apa? " tanyanya berlagak bego, seperti sedang menantang, ia pun beranjak dari kursi dan kami saling berhadapan saat ini


Aku yang tak ingin mendengar apapun dari mulutnya segera menarik kerah kemejanya dan melayangkan satu pukulan hingga dia tersungkur, Bintang yang bersamanya begitu terkejut, ia segera membantu kak Candra bangun


"Pandu, apa apaan ini? " tanya Bintang


Kiand tampak lari ke arahku, tapi aku tidak perduli, tanganku masih ingin menghajarnya


"Pak Pandu jangan lakuin itu" Kiand mencoba menahanku


"Du, jangan du.. ! " begitupun yang lainnya


"Bangun lo! " teriakku pada kak Candra yang masih berusaha untuk bangun.


Kak Candra begitu geram, ia bangkit dan berusaha memberi pukulan yang berakhir dengan sebuah tangkisan dari ku. tak terhindar satu bogem mentah kembali ku layangkan ke mukanya, hingga hjdungnya berdarah


"Udah pandu udah cukup! " teriak Bintang, aku bahkan tidak perduli lagi dengan air matanya,


Ku tendang beberapa kursi yang menghadangku, untuk bisa mencapai kak candra, aku kembali menarik kerahnya, mencoba membangunkannya.


"Lo kan yang ganti folder itu? " tanyaku pada Kak Candra yang cukup babak belur


" Kalau gue kenapa? lo mau kesel? marah? " Jawabannya semakin membuat emosiku meluap, aku kembali memberikan satu pukulan kearahnya.


"Pak Pandu! tolong kendalikan emosimu! " bentak kiand. tapi diriku saat itu benar-benar sedang di kuasai oleh amarah,


Bintang yampak berusaha melepaskan cengkramanku dari kerah kemeja kak candra


"Du, please uadah ...! " ujar Yoga Sambil menarik tanganku


"Gue bakal bongkar semua kecurangan lo! ngerti! " bentakku tepat di depan wajahnya


"heh...! silahkan, tapi inget gue bisa hancurin semua orang yang lo sayang" jawabnya sambil meludahkan darah yang berada di bibirnya


"Pandu, Candra apa -apaan ini! " terdengar suara papi berteriak, membuatku terpaksa melepaskan cengkramanku


Bintang langsung memeluk kak candra yang terlihat lemah tak berdaya akibat beberapa pukulan dariku.


Suasana menegang, kala papi berjalan ke arahku


PLAKkkkk!!!!!! papi menampar pipiku, tanpa bertanya apa yang membuatku seperti itu


"Dia nyerang candra pi! " Kak candra segera membela diri


"Kamu merasa kamu jagoan? " tanya papi "Mau jadi pahlawan di depan wanita itu! " papi melirik ke arah Kiand


Momy yang baru masuk ruangan, segera berlari kearah Kak Candra, dia begitu sedih melihat kak candra yang sudah babak belur


"Pandu, momy tidak mengajarkan kekerasan sama kamu! apa sebenarnya yang ada di kepalamu" ujar momy dengan air mata seorang ibu, itu sungguh membuatku sakit, mereka menyalahkanku, padahal jelas, kejadian tadi itu ulah Kak Candra nggak ada yang menanyakan apapun padaku.


"Papi sungguh kecewa sama kamu! " ujarnya. kami hanya sanggup berdiri menunduk, kiand yang berada tepat di sampingku berusaha menguatkan dengan menggenggam tanganku


"Harusnya dari awal papi mendengar perkataan kakakmu untuk mengirimmu ke luar negeri, sikapmu kini benar-benar sudah di luar batas! "


"Ayo Bintang, bantu candra...! " Momy terlihat membantu kak candra diduk di sebuah kursi " Panggilkan dokter klinik, suruh dia mengobati luka candra " titah momy pada bintang


Aku hanya bisa menelan ludah, saat momy hanya memperhatikan luka Kak candta, tanpa melihat lukaku sama sekali.


"Kamu! " Papi menunjuk ke arah kiand "Ini semua karena kamu, kamu yang sudah membuat pabdu jadi seperti ini! puas kamu"


"Pih, ini tidak ada hubungannya dengan kiand! " sanggahku aku langsung menarik tangan kiand, untuk berada di belakangku


Momy tampak berjalan ke arahku " Apa yang kamu lakukqn pada kakak mu itu karena foto ya g terpampang tadi bukan? " tanya momy


"Mih, tapi kak candra sudah keterlaluan! " aku berusaha membela diri, tapi sepertinya papi momy tidak ingin mendengarkan pembelaanku


"Kamu ada bukti jika kakakmu yang melakukan? " tanta papi


Aku terdiam, aku memang tidak memiliki bukti apapun, tapi aku yakin kaka candra yang melakukan hal ini,


"Jawab papi pandu! " teriak papi


"Apa yang aku lajukan ini salah? " teriakku, "coba katakan pi? " emosiku benar meluap saat itu "Kalian tahu betapa kacaunya hidupku karena kalian! " Aku menunjuk ke arah Bintang dan Kak Candra " kalian tahu betapa menyedihkannya hidupku!" teriakku " aku bahkan terlihat bodoh saat aku tahu jika Bintang lebih memilih kak candra dari aku! tapi apa yang aku lakukan? aku tetap membiarkan itu terjadi! Sebisa mungkin aku tidak mengusik kalian! " aku terus berkata dengan penuh emosi, hingga tanpa sadar air mataku mengalir "Dan lihat, apa ada yang perduli padaku? apa ada yang tanya bagaimana perasaanku? apa adaaaa..... " nadaku semakin meninggi


"sekarang di saat aku sudah menemukan belahan jiwaku, kenapa kalian masih sajaengusik hidupku? kenapa? jawabbbbb! "


"Pak....! " Kiand menggenggam tanganku,


"Kiand datang di saat hati pandu benar-bemar rauh pi! disaat semua tidak perduli dengan perasaan pandu! " jelasku


"Pandu...! " momy mencoba menyentuh wajahku , tai dengan cepat ku tepis


"Dimana pelukan seorang ibu, di saat pandu benar-benar terpuruk! dimana mi? kalian selalu memikirkan kebahagiaan kalian tanpa pernah memikirkan bagaimana dengan perasaan pandu! " air mata momy tampak membasahi pipinya, semua membisu saat aky meluapkan apa yang ada di hatuku


"Jadi tolong, jangan usik hidup pandu, apa lagi hidup kiand! karena seberapa kuat kalian memisahkan kami, perasaan kami justru akan jauh lebih kuat!


Tak tahan dengan suasana di ruangan, aku memilih pergi menenangkan diri, hatiku benar-benar sudah mereka hancurkan, hingga terkadang aku lupa bagaimana cara untuk tersenyum, semua yang ku korbankan, sama sekali tak berarti untuk mereka


"Siang Pak! " Sapa karin saat aku hendak masuk keruanganku, tapi aku sama sekali tidak menggubtisnya.


"Aghhhh.... " teriakku sambil membanting pintu


Ku jatuhkan semua yanga da di meja kerjaku, hingga ruanganku hancur berantakan, persisi seperti hatiku saat ini, aku marah, aku kecewa, karena di saat kak candra salah bisa-bisanya mereka masih membela, lalu aku?


Begitu menyedihkannya hidupku, irang tua, belahan hati semua bahkan sudah kak candra ambil dariku, dan saat ini dia masih ingin menghancurkanku dan kiand! manusia seperti apa sebenernya dia?


ku jatuhkan tubuhku di atas sofa, aku hanya ingjn sedikit mengeluh, dengan beban berat yang ku pikul saat ini, sedikit saja, mengeluarkan air mata agar bisa sedikit lebih tenang.