For A Great Love

For A Great Love
episode 113 semua akan indah pada waktunya



Malam ini aku pulang ke rumah Papi, atas permintaan Mami, ternyata Papi sudah mendengar apa yang terjadi di kantor, dan membuat kondisinya menurun.


Saat aku masuk, Reina terlihat tengah duduk sambil menonton tv, semenjak Yoga selalu mendampinginya, kondisi mental Reina perlahan membaik, setidaknya ia tidak terlalu khawatir pada anak dalam kandungannya kelak, Yoga meyakinkan Reina jika dia yang akan bertanggung jawab


"Kak Pandu...! " Reina berlari dan memelukku, hal yang ia lupakan beberapaa minggu ini


"Papi mami dimana? " tanyaku


"Papi di kamar, tadi dokter Rangga datang, kondisi papi menurun kak! "jawab Reina


"Kamu sendiri gimana kondisinya? " tanyaku, di usia reina yang masih belia, mengandung seorang bayi bukanlah hal yang mudah aku tahu itu


Wajah reina tersenyum, namun bukan kebahagiaan, aku melihat sebuah beban dan dia berusaha untuk menutupinya " nggak mudah, tapi reina baik-baik aja"


Aku mengelus kepala reina " kakak temuin papi dulu, kaka percaya Yoga orang baik, dan bisa ngejaga kamu, jadi kamu jangan khawatir"


"Oke kak! "


Aku berjalan meninggalkan Reina,menuju kamar utama


Kreakk!!! ku buka perlahan pintu kamar yang sedikit terbuka, mami terlihat sedang mengelus tangan papi yang tengah terbaring di kasur tidak sadarkan diri dengan beberapa alat medis yang terpasang di tubuhnya


"Malam mi! " sapaku pelan


Wajah mami sembab, entah sudah berapa lama ia menangis


"Pandu...! " Dia berdiri dan menghampiriku, sebuah pelukan mendarat, tubuh tuanya seakan melepaskan beban di pundakku, wanita yang menjadi cinta pertamaku, yang selalu ku anggap wanita kuat, yang selalu ku anggap wanita tegar seakan tengah menyerah. "Kondisi papi .... " suaranya tertahan hingga sulit untuk melanjutkan perkataannya


"Iya mi, mami sabar ya, papi pasti kuat! " mami melepaskan pelukannya,


kedua tangan lembutnya menyentuh pipiku


"sekarang semua ada di tangan kamu nak! "


"Pandu akan berusaha mengembalikan semua yang sudah di rintis oleh papi" ujarku


Mami masih menangis, dan menggelengkan kepala "sulit! pak wijaya bukan orang sembarangan pandu, kesalahan terbesar kami karena terlalu mempercayainya" ujar mami lemas,


"Udah mami tenang dulu...! " ku ajak mami ke sebuah sofa yang berada tak jauh dari tempat tidur


"Pandu, papi mu harus kita bawa ke malaysia! " perkataan mami sontak mengejutkanku


"maksud mami? "


"Papi akan operasi pemasangan ring di malaysia, seperti kakekmu dulu, disana kita juga ada rumah, dan usaha papi yang bisa kalian lanjutkan" ujar mami


"tapi untuk apa? kita bisa lakukan operasi disini, dokter di indonesia tak kalah bagus dari malaysia mi! "


"mami tahu, tapi dengan kondisi perusahaan yang seperti ini, papi mu nggak akan tenang! "


"oke kalau itu yang terbaik menurut mami! " ujarku


benar juga, setidaknya papi akan fokus pada pengobatannya di sana "kapan papi akan berangkat? biar pandu yang urus semua! "


"mungkin minggu depan! dan mami harap kalian harus ikut! " ujar mami


" untuk apa mi? "tanyaku " bagaimana dengan perusahaan ? "


Mami nampak terdiam, seperti ingin mengatakan sesuatu, namun terlalu sulit untuk menjelaskannya


"mi! ada apa? " aku duduk di bawah dengan menghadap ke mami, ku pandang wajahnya yang masih basah karena air mata


"Pandu!!! "


"iya mi, ada masalah ? "


"Pandu, Kemarin pak wijaya menghubungi papimu,itu alasan kenapa papimu down " jelas mami, mendengar hal itu aku merasa geram, ingin rasanya aku membunuh si brengsek itu.


"kenapa dia menghubungi papi, kenapa dia nggak ngomong langsung sama pandu? " tanyaku kesal


"Dia tahu, papi mu saat ini sedang lemah, ada masalah yang sampai saat ini belum terbuka ke public tentang papi" ujar mami, semakin membuatku tak mengerti


"Maksud mami? "


"Waktu itu, pak wijaya dan papimu beberapa kali di panggil polisi, karena ternyata memang bangunanya yang tidak sesuai dengan aturan yang sudah di buat, tapi demi menekan pengeluaran, papimu memang mengurangi sebagian bahan yang harus di gunakan, papi pikir tidak akan terjadi kecelakaan kerja separah itu, pak wijaya sempat marah, namun pada akhirnya dia membantu papi agar terhindar dari hukum, nah masalah itu saat ini kembali mencuat, entah kenapa masih ada satu keluarga yang tetap menutut keadilan, terutama uang jaminan yang di janjikan papimu saat itu" jelas mami panjang lebar


"lalu? " tanyaku


"mami yakin pak wijaya ada di belakang maslah ini, dia memberi pilihan pada papi, menyerahkan semua saham yang papi miliki, atau kasus ini akan terbongkar dan publuc mengetahui jika semua kecelakaan waktu itu papilah penyebabnya, dan kemungkinan papimu akan di adili" jelas mami


mendengar hal itu seketika tubuhku lunglai, entah masalah apa lagi yang sedang ku hadapi saat ini?


"pandu! " mami memegang kedua bahuku " mami tahu papimu salah, tapi mami mohon kamu bantu papi, permintaan pak wijaya hanyalah saham yang kita miliki, atau... " mami terdiam


"atau apa mi? "


"atau, kamu menikahi monic!! "


"itu nggak mungkin mi! aku tidak mencintai monic..! " tolakku


"mami mengerti, karena itu papi memilih menyerahlan saham perusahaan, dia sadar kamu sudah terlalu berkorban untuk kami" aku benar-benar tak bisa berpikir, otakku buntu, apa yang harus aku lakukan


"pandu, terpaksa kita harus ke malaysia, perusahaan papi disana cukup untuk menghidupi keluarga kita, bahkan bisa besar, kamu dan kakakmu yang akan mengurus semuanya"


aku masih terdiam, tak tahu apa yang harus aku katakan, jika aku ke malaysia bagaimana dengan kiand


"Pandu, mami tahu ini sangat berat untukmu, tapi ini yang terbaik untuk keluarga kita, kita harus menjauh dari keluarga wijaya, monic akan melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan kamu nak! "


"pandu ke kamar dulu mi, pandu mau istirahat" aku berbalik meninggalkan kamar mami, yah ini terlalu berat untukku bagai buah simalakam, jalan mana yang harus ku ambil.


...****************...


semalaman aku tak bisa tidur, tapi pagi ini aku harus ke kantor, ku lihat ponselku, kiand tampak menghubungiku beberapa kali, dan mengirimku pesan, aku belum bisa meresponnya kali ini, setidaknya, untuk mengurangi sedikit masalah, aku harus terlihat menjauh dari kiand, aku yakin monic akan terus mencari tahu tentangku dan kiand.


Tanpa sarapan aku bergegas ke kantor, aku harus menemui Yoga, sesampainya di kantor, aku hendak ke ruanganku, namun aku melihat kiand tengah berdiri di meja Reseptionis, hatiku rasanya ingin segera menemui kiand, namun ku urungkan, aku memilih menghindarinya


"Hallo ... " belum selesai seseorang di balik telpon berbicara aku segera memotongnya


"Bu kiand jangan sampai tahu, jika saya yang sedang menghubungimu saat ini, tolong bilang jika aku sedang ada meeting di luar kantor,"


"baik pak, nanti akan saya sampaikan pada beliau" ujar salah satu reseptionist


"oke terima kasih"


Aku menuju kedai kopi, untuk bersembunyi, namun tetap bisa melihat kiand keluar kantor dari sini. Benar Saja, kiand berjalan dengan wajah kecewa, dia masih menghubungiku tapi aku tak sanggup menjawab telpon darinya, saat kiand keluar lobby, aku melihat dia berpapasan dengan Yoga, entah apa yang mereka bicarakan, tapi setelah itu Yoga langsung masuk dan kiand pergienggunakan taxi online .


Aku berlari mengejar Yoga, untuk mengetahui apa yang kiand tanyakan padanya


"Yoga!! " panggilku


"Lo di kantor? " tanyatnya heran


"Iya, gue nggak kemana-mana! " jawabku


"tadi kata kiand? "


"iya gue sengaja nyuruh reseptionis bilang gue meeting di luar, gue lagi ada masalah, dan sepertinya kiand nggak perlu tahu karrna dia akan khawatir" ujarku pada Yoga


"masalah apa? "


Aku mengajak Yoga ke kedai kopi, dan menceritakan apa yang mami ceritakan padaku, Yoga sendiri belum mendengar apapun tentang rencana mami akan membawa kita semua ke malaysia


"Tapi nggak seharusnya lo hindarin kiand! " ujar Yoga


"Gue bisa apa Ga? semua menyangkut keselmatan bokap, dan lo tahu kalau gue masih deket sama kiand, monic bisa aja ngancurin kiand dan keluarganya! "


"Terus sampe kapan lo menghindar? " tanya Yoga


"Entahlah, mungkin setelah urusan gue selesai" jawabku


"apa yang bisa gue bantu buat lo? " tanya Yoga


"Nikahin adek gue, jaga dia, bahagiain dia, udah cukup Ga! " jawabku


Yoga tersenyum "Lo nggak usah minta gue pasti lakuin hal itu" ujarnya membuat hatiku lega