For A Great Love

For A Great Love
episode 41 mabuk



Aku memutuskan untuk membawa Kiand ke kamarku.


"Nanda Kiand biar saya yang jagain, kamu nggak papa tidur sendiri? " tanyaku pada Nanda


"Nggak papa pak, ya sudah saya ke kamar dulu" jawab Kiand


"Awas lo macem-macem, Kiand lagi mabuk" sahut Jefry sebelum ia kembali ke kamarnya


" Lo pikur gue lo.... ! " jawabku


"Ya udah gue langsung ke kamar" pamit Yoga.


Kiand sedang terbaring di kasur, meski matanya terpejam, ia masih tidak berhenti bicara. Ku hampiri Kiand dan duduk di sampingnya, tiba-tiba dia membuka matanya, mengangkat tubuhnya dan menyandarkan punggungnya pada sebuah dipan sambil menatapku seperti orang asing


"Kamu siapa? " tanyanya, menunjukan jarinya ke arahku, belum sempat aku menjawab dia sudah bertanya lagi


"Kamu tahu Pandu? " tanyanya.... " syuuuut, ini antara aku sama kamu" ujarnya berbisik


Aku masih diam sambil memperhatikan dia berbicara, ternyata kiand kalau mabuk benar-benar lebih cerewet dari pada ia sadar


"Aku sayang sama dia... " dia tertawa sambil menutup mulutnya persis seperti orang sedang jatuh cinta, tapi setelah itu raut wajahnya berubah


"Tapi dia masih cinta sama Bintang.... " ucapnya "Kamu tahu? " dia bertanya lagi "Aku tuh iri sama Bintang, Pak Pandu bisa mencintai Bintang sedalam itu, sedang aku..... " Ia membaringkan tubuhnya di kasur. Aku hendak bangun untuk mengambilkannya segelas air, khawatir tenggorokannya kering karena terus berbicara, tapi Kiand menarik tanganku, hingga tubuhku terjatuh di atasnya. Kami saling melempar tatapan cukup lama. "Apa arti ciuman saat itu? " tanya Kiand. Aku mulai kikuk dan tak tahu harus menjawab apa?


"Maaf Kiand, kamu lagi mabuk" Aku menjauhkan tubuhku dari wajah Kiand, tapi Kiand menarik kerah kemejaku.


"Apa ciuman itu tidak berarti apa-apa? " tanya Kiand, Apa Pak Pandu menganggap ciuman itu biasa saja? " tanyanya lagi


"Kiand... kamu istirahat ya...! " dengan perlahan aku melepaskan cengkraman tangan kiand


"Kenapa harus ada cinta yang lain di hatinya? " kata terakhir yang di ucapkan Kiand, sebelum dia benar-benar tertidur pulas.


Ku belai rambutnya, ada rasa bersalah kenapa aku masih belum bisa move on dari Bintang, sedangkan ada Kiand yang begitu mencintaiku,


Aku kembali merapikan rambut Kiand, dan mengatur posisi kepalanya agar nyaman, ku tatap wajahnya sejenak " Maaf Kiand, saat ini aku sedang berusaha, tetap sabar dan tetap mencintaiku " gumam ku dalam hati. setelah itu ku tarik selimut untuk menutupi tubuhnya. aku kadang bertanya pada diriku sendiri, apa sebuah getaran yang terjadi pada hatiku kala melihat Kiand itu adalah sebuah cinta? atau hanya karrna kami sering bertemu ! entahlah yang jelas saat ini aku takut dia terluka. Ku kecup Kening Kiand, dan kembali ke meja kerjaku, menyeleseaikan beberapa pekerjaan yang belum selesai.


Jam menunjukan pukul 3 dini hari, mataku sudah mulai berat, kubergegas ke kamar mandi untuk membersihkan wajah dan berganti pakaian, setelah ku rasa cukup aku kembali ke kamar, namun saat ku buka pintu kamar mandi aku di kejutkan oleh sosok Kiand yang persis seperti jombie, dengan rambut yang acak-acakan sambil menundukan kepala. kami masih terdiam dalam beberapa detik, Kiand juga belum menyadari keberadaanku yang berdiri di depannya, sampai dia mengangkat kepalanya. Matanya seperti ingin keluar saat ia melihatku di hadapannya, dengan mengenakan piyama


"Pak Pandu.... " teriaknya terkejut "Kenapa Pak Pandu bisa ada disini? kak Nanda mana? "tanyanya sambil mencari keberadaan Nanda yang jelas-jelas tidak ada di kamar ini, setelah memastikan tidak ada Nanda di kamar dia kembali berdiri di hadapanku " Bapak Pasti sengaja kan suruh Nanda pergi! ayo ngaku? " ujarnya sambil terus menunjukan jarinya ke wajahku sampai aku sulit untuk menjawab semua pertanyaan yang ia lontarkan


"Ki... " baru aku ingin menjelaskan , Kiand dengan cepat menarik tanganku


"Keluar..... gimana kalau ada yang lihat Pak Pandu disni" ujarnya sambil terus menarik ku ke arah pintu yang jaraknya tak jauh dari kamar mandi


"Ki, dengerin saya dulu... " aku berusaha menjelaskan tapi Kiand terus memotong


"Nggak ada, pak Pandu harus keluar! " Dia benar-benar mendorongku ke luara kamar ku sendiri dan langsung menutup pintunya


"Ki... Kian buka... " ku ketuk pintu perlahan karna takut menganggu tamu yang lain


"Nggak...! " jawabnya dari dalam kamar. Ku lihat sekitar lorong begitu sepi, wajar saja ini sudah dini hari semua orang masih terlelap


" Kiand, saya bilang buka pintunya" ku naikan sedikit volume suara ku, Bagaimana bisa aku justru di usir dari kamarku sendiri...


"Ki.... " Saat hendak mengetuk pintu Kiand sudah lebih dulu membuka pintu, wajahnya tampak kikuk, mungkin dia baru sadar jika itu adalah kamarku. Ku tatap Kiand dengan tampang kesal sambil melipat kedua tangan dan menaruhnya di dada


"hmmm.... sa... ya pikir... " ujarnya takut


"Kapan kamu pernah berpikir? " sahut ku sambil berjalan masuk begitu saja. Aku segera mengambil alih kasur yang sedari tadi di kuasai kiand, rasa kantuk yang tadi datang pun lenyap seketika.


Kiand berlari kearah ku " ehh pak.. pak... pak Pandu mau ngapain? " tanyanya


"saya mau tidur.. " jawabku sambil membaringkan tubuh di atas kasur


"Ihhh...terus saya tidur dimana? " tanyanya bediri menatapku


"Nih.... " jawabku menepuk space kosong di sampingku


"Hah....satu kasur berdua? " ujarnya terkejut


"hmmmm.... " jawabku dengan menganggukkan kepala meledeknya


"nggak.. nggakkk... aku nggak mau" tolaknya "Ya udah aku mau ke kamar kak Nanda aja.... " Dia berbalik dan hendak pergi, namun dengan cepat kuraih tangannya


"hey... kamu nggak liat ini jam berapa? " tanyaku


"hmmmm.....memang jam berapa? "


Aku bangun dari tempat tidur berjalan ke sebuah meja untuk mengambil jam tangan " jam 03.36 menit..... " jawabku menunjukan jam tangan kearahnya


"Yahh nggak papa, Kak Nanda pasti bangun kok kalau kamarnya aku ketuk" jawabnya keras kepala


"Itu namanya kamu ganggu orang" sahutku " udah sana tidur... " aku memintanya tidur di kasur


"Terus Pak Pandu tidur dimana? " tanyanya lagi, dia memang begitu polos


"apa? " tanyanya sambil menatapku, dengan tatapan penuh awas "jangan karena kita sudah pacaran Pak Pandu bisa macam-macam sama saya" ujarnya dengan nada mengancam


"Kamu pikir saya mau ngapain? " tanyaku


"Yahhh... mana saya tahu! udah pokoknya Pak Pandu tidur di situ! " dia menunjuk ke arah sofa


"Nggak nggak.... saya pegel tidur disitu , lagian ini kamar saya, kenapa jadi saya yang tidur di sofa"


Aku kembali ke kasur dan menjatuhkan tubuhku


" Ya udah saya tidur di sofa! " Ia berjalan ke arah sofa yang hanya muat satu orang saja.


"Kamu yakin mau tidur di situ? ledekku


Dia menjatuhkan tubuhnya, mengangkat kakinya ke atas sofa dengan wajah yang di tekuk


"Saya lebih baik tidur disni ! " jawabnya,


"oke! hmmm enaknya... empuk, luas... saya bisa tidur dengan nyenyak" ledekku, sambil merentangkan kedua tangan dan kaki di atas kasur


sebenarnya aku tak tega melihat dia tidur di sofa, tapi ya sudahlah, sekali-kali ngerjain Kiand,


"Ki... " panggilku


"Hmmmm... " jawabnya


"Kenapa semalam kamu minum? " tanyaku


"Nyoba aja! " jawabnya


"Coba aja? " tanyaku terkejut, hingga aku mengangkat tubuhku menatapnya


"Iya coba aja, saya mau coba apa enaknya sih minum? soalnya Pak pandu kalau ada masalah pasti larinya ke club dan minum, jadi yah saya coba.... " jawabnya dengan polos


"Kiand...! kamu tuh ya, bener-bener ceroboh...! " ujar ku kesal " kamu nggak biasa minum, jadi kalau kamu minum sedikit saja kamu pasti mabuk" jawabku


"Kan saya nggak tahu pak! "


"Makanya kalau nggak tahu jangan coba-coba, kalau kamu di manfaatin orang dalam keadaan mabuk kaya semalam gimana? " tanyaku


"Yah kan ada Pak Jefry dan Pak Yoga! " sahutnya


"Kamu percaya sama mereka? " tanyaku " kalau mereka macam-macam, kamu bisa apa? "


"Kan adaq Kak Nanda pak! "


"memang kamu pikir Nanda bisa nyelametin kamu? " tanyaku


"Mungkin? " jawabnya "Tapikan saya nggak papa sekarang! "


"Iya karena yoga telpon saya, kalau yoga nggak telpon saya gimana?"


" Kalau Pak Yoga nggak telpon pak Pandu, saya nggak ada di kamar ini! tidur di sofa sempit, dingin... " jawabnya " lagian kenapa Pak Yoga harus telpon Pak Pandu segala sih"


Ku lempar bantal ke arahnya " Karena saya yang bisa jagain kamu... " jawabku kesal "Udah tidur sana besok pagi masih ada rapat... "


Aku kembali merebahkan tubuhku di atas kasur


Hujan mulai turun , suara petir terdengar ringan, aku berniat menggendong Kiand ke kasur jika ia sudah tidur, tapi tiba-tiba terdengar suara petir yang begitu kencang, hingga jendela kamar bergetar.


"Aghhhhh..... " Kian berlari memelukku, wajahnya begitu ketakutan, "saya takut petir pak... "


"Saya bilang juga apa, cuman saya yang bisa jagain kamu! " jawabku merasa menang


Ku peluk tubuh kiand masih dengan posisi duduk di sampingku, dengan setengah tubuhnya terlungkup di dadaku


"Sudah kamu tidur disini " pintaku


Kali ini Kiand tidak menolak tidur di sampingku


"awas jangan macam-macam... " Kiand memperingati ku dia memberikan jarak antara aku dan dia.


"Saya nggak macam-macam, cuman satu macam aja... " jawabku


"Pak Pandu.... serius " rengeknya


"Yah saya juga serius, satu macam aja! .... tidur... memang apa? " tanyaku


"Ohh.... " Dia langsung membalikan badannya membelakangi ku, sedang aku masih tidur terlentang sambil menatap langit-langit


Sudah tidak ada pergerakan sama sekali dari tubuh kiand, itu artinya dia sudah terlelap, "anak ini cepat sekali tidurnya" gumam ku. ku balut tubuhnya dengan selimut, dan ku pastikan dia nyaman baru setelah itu aku akan tidur.