
pov pandu
Sebagai anak yang bergantung pada orang tua, aku seperti tidak punya pilihan lain, begitupun dengan Reina. Setelah tahu Reina hamil, Papi langsung memecat kemal, meski saat itu Reina sudah memohon tapi sepertinya air mata Reina tidak membuat hati papi luluh, sedang Mami sebagai istri yang manut hanya bisa mengikuti keinginan Papi.
Papi memang tegas dan lebih ke otoriter pada kami, dengan alasan semua untuk kebaikan kami anak-anaknya.
Malam ini kami sekeluarga bergegas ke salah satu hotel ternama, tentunya tanpa kak candra, setelah pertemuanku di bandara aku tak tahu dimana kak candra. Diapun belum memberi alasan kenapa dia bersama Dian bukan dengan Bintang.
"Ingat Pandu, jangan pernah mengecewakan Papi! " pesan papi sebelum kami masuk mobil
Aku sama sekali tak menghiraukan ucapan papi yang lebih kearah sebuah peringatan.
"Masuk Rei...! " titahku pada Reina
Mata Reina masih sembab, aku mengerti perasaannya saat ini, dan sebagai kakak aku tak akan membiarkan Reina dan kemal berpisah apapun yang terjadi.
Aku dan Reina duduk di kursi penumpang, sedang Papi dan Mami di mobil yang berbeda. Kuraih tangan Reina, wajahnya yang biasa ceria kini sendu , bahkan untuk melemparkan senyum pun terasa berat .
"Kakak Janji, akan bawa kemal kembali! " ucapku pada Reina
Reina menoleh kearahku, matanya menyorot sebuah harapan yang begitu besar
"kaka janji? " tanyanya
"yah kaka janji! " Ku peluk tubuh Reina yang lebih berisi dari biasanya, entah berapa bulan kehamilannya, karena memang kami belum memeriksakan, Papi tak mau Reina di bawa ke rumah sakit, dia lebih memilih memanggil dokter kerumah, apa lagi selain untuk menutupi kehamilan Reina yang menjadi aib untuknya.
"Kakak sendiri gimana? " tanya Reina
"Semua akan kakak selesaikan satu persatu, jadi kamu tenang aja! "
Ku kecup kening Reina memberinya kekuatan, setidaknya untuk malam ini.
Mobil kami berhenti di sebuah lobby, seorang pria berseragam langsung menyambut kami, dan mengarahkan kami ke sebuah ballroom yang berada di lantai dasar.
Suasana pesta sudah terasa dari pintu masuk ballroom, beberapa bunga tertata rapi menhiasi ruangan yang mampu menampung 1000 tamu undangan, namun hanya di isi oleh kurang dari 100 orang malam ini. Yah acara pertunanganku di buat se private mungkin hanya kolega dan orang yang berperan penting untuk perusahaan papi yang hadir.
Monic terlihat begitu anggun dengan gaun yang ia kenakan, tapi sama sekali tak mampu mengalihkan pandanganku dari seorang gadis yang duduk di meja paling ujung, dia menatapku dan melemparkan senyuman gadis itu begitu cantik, siapa lagi kalau bukan kiand. Saat masuk mataku sudah menangkap keberadaan Kiand dan yang lainnya.
Seorang MC mulai membuka acara yang katanya adalah pengumuman penting, tapi tidak sangat penting untukku, saat kami sedang fokus pada seorang pria berjas hitam yang membawakan acara, Bintang terlihat berjalan menghampiri meja kami.
"Malam Tante, om! " sapa Bintang. Seperti biasa dengan nada yang lembut dan ramah ciri khas yang di miliki Bintang
"ehhh Bintang, kok sendiri candra mana? " tanya Mami, sambil celingukan mencari keadaan Kak Candra. Aku sendiri masih tanda tanya, apakah bintang tahu dengan siapa kak candra saat ini
"Ohh Maaf tante, tapi candra nggak sama Bintang kok! bintang dateng sendiri! " jawab Bintang, dia masih terlihat santai dan seakan tak ada masalah apapun
"hah, sejak kapan candra nggak sama kamu? " wajah mami berubah kebingungan, aku masih diam karena kau tahu ada sesuatu yang tak beres antara Bintang dan kak candra "pih! kamu hubungi candra cepet! gimana bisa dia nggak sama Bintang? "
"Iya iya...! " papi langsung menghubungi kak candra tapi sepertinya tidakndi jawab.
Bintang masih berdiri di samping meja dengan santainya
"jangan di hubungi sekarang, om, tante, percuma! " ujar Bintang
"Memang kalian kenapa? kalian bertengkar? " mami begitu khawatir
"Nggak tante! " jawab Bintang "ya sudah bintang kembali ke meja bintang ya!" ucapnya "Selamat ya pandu! " sebelum meninggalkan meja bintamg sempat mrngucapkan kata selamat padaku namun dengan makna yamg berbeda, dan setelah ku perhatikan, Bintang duduk bersama Kiand dan yang lainnya.
...****************...
kali ini giliran Papi yang memberikan sedikit sambutan, dia terlihat tetap tenang dengan tongkat yang ia bawa. Aku tidak membencinya, hanya saja aku kecewa dengan keputusannya, dan cara dia memandang orang lain
Yang pertama, Mulai hari ini saya resmi menyerahkan semua saham dan wewenang perusahaan untuk putra saya yaitu Pandu, oleh karena itu semua keputusan sudah saya serahkan kepada Pandu sebagai president utama Pt Bagaskara group, sesuai dengan hasil rapat yang sudah kita sepakati."
Ucapan papi di sambut oleh riuh tepuk tangan para tamu undangan
"Saya merasa Pandu mampu membawa PT Bagaskara ini kelak menjadi semakin besar, dan mampu merajai pasar dunia dalam bidang property"
tambahnya
"Untuk pengumuman yang kedua, saya ingin berbagi berita kebahagiaan, antara keluarga bagaskara dan keluarga Wijaya. Sebagai rekan bisnis saya bangga bisa menyambung tali silaturahmi yang kedepannya akan semakin erat, Putri bapak Wijaya yang begitu cantik, anggun dan berwibawa malam ini akan melangsungkan pertunangan dengan putra kami Pandu, Sungguh hal yang tak pernah kami duga sebelumnya, jika ternyata hubungan kami akan di satukan, bukan hanya dalam bisnis melainkan dalam keluarga "
Ku lirik monic yang terlihat begitu sumringah, berbeda sekali denganku, lalu aku langsung menoleh ke arah kiand, dia nampak tertunduk lesu, aku sadar ini memang akan menyakitkan untuknya, tapi aku tidak akan membuat itu terjadi, akan ku ikuti alurnya malam ini.
"Wow luar biasa bukan, persatuan atara perusahaan besar, ini akan menjadi berita menarik di dunia bisnis" sahut seorang pembawa acara
"Yah saya harap, pertunangan ini akan menjadi awal yang baik untuk hubungan keluarga bagaskara dan keluarga Wijaya" ucap Papi
"Oke, Tuan Pandu dan Nona Monic, di persilahkan ke depan, kita akan rayakan kebahagiaan malam ini, melihat pasangan yang luar biasa, tampan dan cantik, sungguh pasangan yang ideal" ujar pembawa acara
Aku pun dengan terpaksa membawa monic ke panggung kecil yang sudah di sediakan oleh pihak hotel, lagi-lagi suara tepuk tangan menggema di semua ruangan, dari depan aku bisa melihat kiand,
Tenang ki! semua yang kamu lihat sebentar lagi akan berubah ucapku dalam hati
"Selamat malam Tuan pandu, Nona monic! luar biasa sekali kalian malam hari ini, sangat tampan dan cantik, sungguh Bintang pun kalah bersinar oleh kalian" Ujar pembawa acara
"Boleh berikan sedikit tanggapan, untuk acara malam ini? " tanya Pembawa acara
Pria itu memberikan sebuah mic padaku, dan itu menjadi kesempatan ku untuk berbicara .
"Selamat malam rekan-rekan semua, sebelumnya saya akan memperkenalkan diri nama saya Pandu, saya putra kedua dari Bapak Bagaskara. Malam ini saya akan mengatakan banyak hal tentunya tentang pengangkatan saya secara resmi sebagai Presiden direktur PT bagaskara group, begitu juga tentang pertunangan antara saya dan Monic, putri dari bapak wijaya" aku mencoba menarik napas panjang
"Sebelumnya saya minta maaf, unyuk para keluarga, rekan - rekan bisnis semua dan tamu undangan yang sudah hadir. Cinta itu hal yang tidak pernah kita bisa paksakan, dia akan mengalir dengan sendirinya, membawa hati kita dalam kebahagiaan, bukan seperti itu? " Papi sudah melirik kerahku, dia mungkin mulai merasa aku akan mengacaukan acara ini
"Oleh karena itu, saya harus bicara disini! karena menurut saya hanya itu cara satu-satu untuk menyatakan semua perasaan saya! Yang pertama saya menolak pengangkatan saya menjadi presiden utama Pt bagaskara group! "
"Pandu! " teriak papi, mukanya mulai kesal, tapi tak aku perdulikan.
"Mungkin keputusan ini akan membuat kalian kecewa, termasuk papi saya sendiri! tapi itu adalah pilihan saya! "
"pandu kamu kenapa? " tanya monic yang berdiri di sampingku
"Yang kedua! ini yang sangat berat saya ucapkan, karena memang tak seharusnya saya katakan disini, tapi saya mau semua orang tahu, jika sebenarnya cinta saya bukanlah monic! " Aku bisa melihat kepanikan dari wajah mami, dan keluarga Wijaya,
"pandu! cukup! " teriak papi
"Saya mencintai gadis sederhana, cantik, sabar, dan yang paling saya suka dari gadis ini, dia tulus mencintai saya apa adanya! "
"Pandu! papi bilang cukup! " sergah papi, tapi aku tidak perduli
"Papi! pandu minta maaf, tapi pandu terpaksa mengatakan ini, disini! malam ini! " ucapku "gadis itu adalah... " Aku tak melanjutkan ucapan ku, dan langsung turun berjalan kearah meja kiand, aku bisa lihat dia tampak terkejut saat ku berjalan kearahnya, dia nampak berdiri menatapku.
Tetap disitu kiand! ucapku dalam hati
Di hadapan semua orang, aku membuktikan jika cintaku hanyalah untuk kiand, ku tarik tubuh kiand dan ku cium bibirnya di hadapan semua para tamu undangan. Aku ngin membuktikan pada dunia jika aku mencintai kiand bukan yang lain, aku tahu kiand terkejut dengan sikapku tapi dia seakan terbawa suasana , dia hanya diam dan mengikuti alur uluman bibirku
"Luar biasa.....! " terdengar suara Jefry, dan saat itu pula ku lepaskan bibir kiand.
"Ikut saya! " Ku gandeng tangan kiand naik ke atas panggung