For A Great Love

For A Great Love
episode 31 keputusan



Aku hanya mampu memandangi Kiand pergi, rasa bersalah ini mengganggu pikiranku, tak seharusnya aku membawa gadis sebaik kiand masuk dalam pelarian ku, harusnya saat itu aku bisa terima kenyataan bukan malah jadi pecundang.


Bintang dan Kiand adalah dua gadis berbeda, aku tak bisa menggantikan Bintang dengan Kiand, itu tak mungkin. teringat kembali sebuah janjiku pada Bintang " Aku akan mencintaimu seperti Bintang, meski ia tak terlihat tapi ia selalu ada.... " dan saat itu aku melihat senyum Bintang yang berseri, dia begitu bahagia dan memelukku dengan erat, siapa sangka kini dia menyimpan perasaan untuk orang lain.


Tak mudah melenyapkan semua kenangan bersama Bintang, semua hari ku lalui dengannya, sampai akhirnya dia memilih untuk lepas dari hidupku. Lalu Kiand?


Mendengar Kiand akan pindah dari apartemen jujur itu membuatku gelisah, aku tak bisa menjaganya jika dia terlalu jauh dari pandanganku, tapi tak ada hak untukku melarangnya pergi.


Segera ku hubungi jefri, hanya dia yang bisa membantu ke gelisahanku saat ini.


"Hallo Jef! "


"Hmm, napa lo telpon gue" sahutnya,


"Gue butuh bantuan lo" jawabku


"Ada apa Tuan Pandu....? " ledeknya


"Kiand mau pindah dari apartemen,"


"Terus, gue harus apa kalau dia mau pindah ?" jawabnya tengil


"Lo inget momny Jasmin? dia nggak mungkin lepasin Kiand dan adiknya, selama mereka belum kasih uang itu " jelas ku


"Terus, lo mau kasih uang ke mommy Jasmin? " tanya Jefry


"Kiand bakal marah kalau gue lakuin itu! "


"emangnya kenapa dia mau pindah? Lo ribut? " tanya jefry


"Panjang ceritanya, tapi yang jelas lo harus jagain Kiand sama adeknya, cariin kontrakan yang nyaman, bilang sama yang punya rumahnya, biar kiand bayar setengah aja, setengahnya gue yang handle, kiand nggak akan mau terima bantuan apapun dari gue, usahakan dia gak tau, seolah gue nggak ikut campur apapun tentang hidupnya"


"Ada apa sama lo Du? Lo udah jatuh cinta sama Kiand? " tanya jefry, aku memang tidak pernah memperlakukan hal seperti ini pada wanita, tapi pada Kiand, aku tak mau dia terluka, mungkin ini adalah rasa bersalahku padanya


"Udah nggak usah banyak tanya, lo tolongin gue aja! "


"okeyyy siap tuan muda "


telpon di akhiri.


Aku kembali ke ruang kerjaku, lukaku juga sudah di obati, ada rasa nyaman saat aku berada di dekat Kiand, tapi ada perasaan lain yang mengganggu hatiku.


"Siang Pak! " sapa Karin saat hendak memasuki ruangan


"Siang Karin! " balasku


"Maaf Pak! tapi tadi Ibu menghubungi saya, meminta Pak Pandu untuk segera pulang " Jelas Kiand, maksud Ibu itu adalah Mami, jika mami sudah menghubungiku ke kantor maka ada sesuatu yang terjadi


"Ohh Oke, sebentar lagi saya akan pulang! " jawab ku sambil melempar senyum


"Baik Pak! "


Melalui hari yang cukup melelahkan, ku jatuhkan tubuhku di atas sofa, aku butuh istirahat sejenak, yah setidaknya mengisi tenaga untuk mendengar ocehan mami papi setelah ini.


Jam menunjukan pukul 4 Sore, Ku putuskan pulang ke rumah mami, mereka pasti sudah mendengar pertengkaran ku dan Kak Candra.


Lift menuruni lantai hingga ke lobby, aku meminta seorang supir menjemputku, otakku sedang tidak bekerja kali ini. Saat pintu lift terbuka ku lihat Kiand dan kedua temannya tengah berjalan keluar lift lebih dulu, kali ini aku memilih untuk tak mengganggunya, dia sudah cukup syok mendengar perkataan Kak Candra tadi aku tak ingin memberinya masalah lagi.


Kiand berdiri di lobby, tapi aku memilih mengacuhkannya, dan langsung masuk ke dalam mobil, jujur hatiku seakan berat melakukan hal ini, aku sempat melihat dia menatap mobilku, saat mobil melaju.


Maaf Kiand..... Batinku perih


Sesampainya di rumah, ku lihat mobil Kak Candra lebih dulu terparkir, itu artinya dia sudah ada di rumah, dia pasti sudah mengatakan semuanya pada Papi dan Mami dengan persinya sendiri.


"Pandu pulang.... " ujar ku


Mami, Papi, dan Kak Candra sudah duduk di sofa


yang berada di ruang keluarga. Mami terlihat cemas, sedang Papi sudah memasang wajah murka.


"Berhenti....! " titah Papi saat aku hendak menaiki anak tangga


"Pandu, bisa kita bicara sebentar? " tanya mami lembut


Tanpa berkata apa-apa aku berjalan ke ruang keluarga, bergabung dengan mereka


"Duduk...!!! " titah papi


Ku turuti perintah Papi untuk duduk di samping Kak Candra.


"Pandu, Candra... Kalian pikir kantor itu ring tinju? kalian bisa bertengkar seenaknya saja" ujar Papi dengan nada tinggi


"Pi, bicarakan baik-baik tidak usah terlalu kasar menegurnya" ujar Mami


"Nggak habis pikir, Kalian tuh pewaris perusahaan besar, Papi membangun perusahaan ini dari kecil, gagal bangun lagi, gagal bangun lagi sampai akhirnya kalian bisa menikmati semua kekayaan ini! " Papi terlihat begitu emosi


"Lalu apa yang kalian lakukan? bertengkar di depan umum! Apa yang akan di beritakan di luar sana nantinya? jika itu terjadi, ini bisa di manfaatkan oleh pesaing kita! mengerti! "


"Maaf pi, mi Pandu bukan bermaksud seperti itu, tapi Kak Candra yang mulai duluan" Bukan bermaksud membela diri, itu adalah kejujuran


"Candra cuman ingin melindungi Pandu dari cewek murahan pi! " alasan yang tidak masuk akal


"Namanya Kiand, dan dia bukan cewek murahan " sahut ku


"Wanita yang mana? " tanya Mami


"Dia pernah datang saat pertunanganku Mi" jawab Candra


"Dia cantik! bukannya dia juga anak yang berpendidikan kan? " seru mami


"Semua yang di katakn dia bohong mi, pi, dia hanya karyawan biasa, bekerja sebagai fit out officer di kantor kita! "


"Kenapa lo seneng banget ikut campur urusan gue sih? " Aku berdiri hendak memberi pelajaran pada Kak Candra


"Pandu, bisa bersikap sopan sama kakakmu? " bentak papi "Dia hanya ingin melindungimu" ujar Papi


Menlindungi? dalam hal apa? gumamku dalam hati


"gue udah gede, nggak perlu di lindungi! " gerutu ku


"Pandu, nggak bisa kamu hargai niat baik kakakmu itu?" lagi- lagi papi membentakku


"mengharhai? selama ini aku di minta untuk menghargai, tapi di sini ada yang menghargai perasaan pandu? apa kalian mengerti gimana perasaan Pandu pada Bintang? apa kak Candra bisa menghargai perasaanku sedang dia tahu aku sangat mencintai Bintang! tolong jelaskan sama Pandu bagaimana cara menghargai itu pi" Ku luapkan emosiku, hingga tanpa sadar aku mengungkapkan semua isi hatiku. Mami begitu terkejut setelah mengetahui jika aku mencintai Bintang, tunangan Kakaku sendiri


"Pandu... " Mami menghampiriku, dia merendahkan tubuhnya, tangannya begitu lembut mengusap kedua pipiku, tanpa sadar air mataku mengalir


Semua terdiam, Papi yang tadi begitu emosi kini mereda, tatapan amarah berubah menjadi tatapan iba


"Sayang, bilang itu semua nggak benar! " ujar mami, tatapan penuh harap tersorot dari mata mami, sebenarnya aku tak ingin hal ini terjadi, tapi tadi itu aku tak tahan lagi memendamnya


"Maaf mi! Aku dan Bintang memang sudah lama berhubungan, dan aku sangat mencintai Bintang... aku pikir tak apa aku melepas Bintang, toh Bintang berada dalam dekapan orang yang tepat, kakak ku sendiri, tapi nyatanya Kak Candra justru menjadikan Bintang alat untukku" ucapan ini mungkin akan mebuat mami bingung, tapi ini waktu yang tepat


"Maksud lo apa? gue bener-bener sayang sama Bintang" Kak Candra mencoba membantah ucapanku


"Kita buktikan omongan lo! " ujarku


"Udah.. udah.....! " Bentak papi " Papi akan membicarakan hal ini pada keluarga Bintang, Papi nggak mau kalian saling menyakiti satu sama lain, kalian saudara, keluarga.... jangan sampai hanya karena wanita kalian bermusuhan "


"Pih, nggak bisa gitu pi! Candra mencintai Bintang, kita akan menikah, ! " Ujar Kak Candra


"Iya pi! Papi nggak usah membicarakan hal ini pada Bintang, Pandu nggak mau lihat Bintang terluka, Bintang begitu mencintai Kak Candra, Pandu adalah masa lalunya"ini bukan bentuk pembelaanku pada Kak Candra, tapi aku lebih memikirkan perasaan Bintang, Bintang memang selalu tersenyum lepas saat bersamaku, tapi aku melihat ada senyum berbeda saat ia bersama Kak Candra.


" Kamu yakin Pandu? " tanya Papi


"Yakin Pi! tapi untuk saat ini hargai keputusan Pandu, biarkan Pandu tinggal di Apartemen, sampai Pandu biaa memulihkan perasaan Pandu! " pintaku


"Sayang....!!!! " Mami memelukku, tangisnya pecah


"Mami minta maaf nak! mami nggak peka sama perasaan mu" ucap Mami,


"Ini bukan salah Mami, udah ya, aku nggak papa kok! " Ku hapus air mata mami, aku tak ingin melihat orang yang ku sayangi menangis, meski terkadang mereka seolah tidak memperdulikanku, tapi aku percaya mereka menyayangiku.


"Pandu! " panggil papi


"Papi harap, kamu tidak berhubungan lagi dengan wanita itu! Kamu bisa dapatkan seseorang yang seperti Bintang, bahkan bisa lebih" yah ini yang selalu di lakukan keluargaku, melihat seseorang dari kedudukannya, jujur aku tak pernah sependapat tentang hal ini .


"Pandu nggak janji pih" ucapku


"Pandu...! kamu tahu papi? papi akan terus memantau mu! " ucapannya kini seperti sebuah ancaman, aku harus lebih berhati-hati, dampaknya bukan untukku, tapi untuk Kiand.


"Pandu ke atas dulu! pandu capek... " Aku meniggalkan mereka, dan tak lama Kak Candra pun mengikutiku...


"Pandu... " panggilnya saat aku hendak memasuki kamarku di lantai dua


"Apa lagi? bukannya udah nggak ada yang perlu di bahas! " jawabku


"Kenapa lo jujur sama papi dan mami? lo mau pernikahan gue dan Bintang gagal? " Kak Candra tidak terima dengan perkataanku tadi


"lo dengerkan tadi, pernikahan lo nggak akan di batalkan, jadi apa yang lo takutin? " tanyaku dengan senyum sinis


"gue nggak takut, toh yang akan terluka bukan gue, tapi Bintang " mendengar perkataannya aku tak mampu menahan emosiku, tak ada yang boleh menyakiti hati Bintang, meski itu Kak Candra


"Ku cengkram kerah kak candra, kutarik hingga kami saling berhadapan begitu dekat " Inget ya, kalau sampai lo buat bintang nangis, gue yang bakal bunuh lo! " ancamku kemudian melepaskannya


Kak candra segera merapikan kerah kemejanya, "Ngancem? " tanyanya dengan senyum menyebalkan "Lo nggak akan bisa ngancem gue! biar gimanapun gue presdir di perusahaan papi, nasib Kiand ada di tangan gue, gue bisa aja buang kiand besok atau lusa, dan lo nggak akan bisa apa-apa! " kali ini dia memakai Kiand untuk melawanku


"Kalau sampai lo sentuh Kiand, gue hancurin hidup lo! " aku semakin geram


"Kenapa kita nggak taruhan aja!" ajakan bodoh yang sebenarnya malas tuk aku layani


"Apa? " jawabku


"Lo inget proyek papi yang tertunda? kalau lo bisa nyelesein proyek itu, gue kasih jabatan gue sama lo, tapi kalau lo gagal, lo harus mundur dari jabatan wakil presdir" Taruhan macam apa yang dia berikan, jelas-jalas proyek pembangunan apartemen itu bermasalah, hingga para investor menarik semua investasinya.


"kenapa? takut? " tanyanya


"Gue terima! " salah satu keputusan yang terlalu berani yang aku ambil, tapi ini bisa sebagai pembuktianku pada papi, toh selama ini yang papi pandang hanyalah kak Candra, dan aku hanya di lihat sebagai bayang-bayang saja.