For A Great Love

For A Great Love
episode 85 kehidupan yang berbeda



"Ki, bi Nur boleh minta tolong? " Bo Nur tampak menghampiri Kiand yang sedang menyuapi sang ayah


"Ohh iya Bi ada apa? "


"Beberapa stok makanan habis dan obat ayahmu juga sudah mau habis nak! bisa tolong kamu belikan? " titah Bi Nur pada Kiand, ini menjadi kesempatan untukku agar aku dan Kiand bisa saling bicara.


"Bisa Bi! " sahutku dengan lantang


Kiand hanya melirikku, dan Bi Nur tersenyum seakan mengerti apa yang ku inginkan


"Pak Pandu pulang aja, saya bisa sendiri kok, ini sudah jadi kebiasaan saya setiap minggu" Kiand masih saja memasang wajah masam, terlihat jelas jika dia ingin menjauh dariku


"Nggak papa kok, sekalian saya biar tahu pasar disini, kan saya juga akan tinggal disini untuk beberapa minggu ke depan " ujarku memberi alasan


"Udah sana pergi, lagian lebih cepatkan kalau naik motor, dari pada kamu naik angkot! " Kali ini Bi Nur adalah partner terbaikku, aku melirik Bi nur sambil mengedipkan mata, dan Bi Nur mengacungkan jempolnya saat Kiand menghadap ayahnya.


"Ya sudah, Kiand ambil tas dulu... " Kiandpun beranjak pergi ke kamarnya


"Tahu om! anakmu itu sedikit keras kepala" ledekku pada ayah Kiand, dia hanya mengedipkan mata seakan ingin tersenyum


"Sudah dari dulu! " celetuk Bi Nur sambil mengambil piring kotor yang terletak di atas meja


"Apanya yang dari dulu? " sahut Kiand setelah kembali dari kamarnya


"Ehh udah! yuk jalan nanti keburu siang! " Ku tarik tangan Kiand menju ke luar rumah, tanpa sadar aku menggenggam tangannya kembali, setelah sampai halaman, kian menarik tanganku hingga langkah kami terhenti, dia menatap tanganku yang menggenggam pada tangannya.


"Maaf pak! bisa lepasin tangan saya? " aku melihat kiand yang berbeda, dulu dia selalu bahagia saat ku genggam tangannya.


"Ohh.. maaf ki! " aku merasa sekarang aku bukanlah orang yang ada di hatinya, melainkan orang asing baginya "kita naik motor nggak papa? "


"Nggak papa kok! lagian lebih cepat! " jawabnya


Motor kami melaju menyusuri jalan kota surabaya, dan berhenti di sebuah pasar tradisional yang jaraknya kurang lebih 3 km. Suasana pasar begitu ramai, hingga aku sulit untuk berjalan. Aku yang tak pernah menginjakkan kaki di pasar tradisional merasa tak nyaman, selain penuh sesak orang, bau tak sedap pun sangat mengangguku.


"ehemmm...! " berulang kali aku berdehem, tapi sepertinya Kiand tak menghiraukan, dia terlihat serius memilah beberapa kebutuhan rumah seperti sayur mayur dan bumbu dapur.


"Ki...! " panggilku saat dia tengah memilih aayuran segar


"kenapa? nggak nyaman disini? " ujar kiand langsung menebak gerak gerikku


"hmmm bukan begitu, tapi bukannya kita lebih enak ke supermarket" ujarku berusaha merayu


Dia berbalik menatapku "Pak Pandu, harga sayur mayur di pasar dan di supermarket itu berbeda, dan kalau kita belanja di pasar, sama saja kita membantu pedagang kecil" mendengar ucapan Kiand, aku hanya terdiam mematung, beberapa pengunjung pasar yang sedang memilih bumbu dapur, menatapku sinis.


"Oke.. oke..! " yah aku hanya bisa mengalah, yang penting saat ini aku bisa bersama Kiand


"Lain kali kalau nggak sanggup jangan maksain! " celetuknya sambil membayar belanjaan yang sudah ia beli.


Kiand kembali berjalan ke sebuah penjual ayam. potong, sebelumnya aku hanya melihat ayam yang sudah di potong tertata rapi dalam sebuah kemasan , tapi kali ini aku melihatnya tertumpuk di sebuah meja keramik, dengan beberapa lalat yang berterbangan


"Ki... ini nggak higenis loh! " bisikku


Kiand kembali berbalik menatapku dengan tatapan kesal, tak ingin dia menceramahiku lagi, aku segara mengangkat kedua tanganku "Ok, find ! aku akan tetap berdiri disini"


setelah kurang lebih satu jam kami mengitari pasar akhirnya aku bisa pulang juga, rasanya aku bisa menghirup udara yang jauh lebih segar, tanpa ada aroma sayuran busuk, atau aroma ayam. potongyang menyengat.


"Langsung pulang? " tanyaku


Kami kembali ke rumah untuk menaruh belanjaan yang sudah di pesan Bi Nur, setelah itu Kiand harus ke sebuah Apotik unyuk menebus obat sang ayah.


di perjalanan Kiand hanya diam, dia bahkan tidak merangkulku saat kami di atas motor, lagi-lagi aku teringat moment saat bersamanya.


"Di depan ada belokan, nanti belok kanan Apotiknya nggak jauh kok posisinya di sebalah kiri" jelas Kiand


"Oke baik mbak! " ledekku berlagak seperti tukang ojek. Dari kaca spion aku melihat senyum yang tertahan dari bibir Kiand.


"Sudah sampai! " aku berhenti di sebuah apotik yang lumayan besar, ternyata banyak juga pengunjungnya, hingga terjadi antrian di kasir "Jangan lupa kasih Bintang lima ya! " ujarku saat kiand turun dari motor , dia tidak berkata apa-apa dia hanya tersenyum sebelum kakinya melangkah masuk ke dalam sebuah apotik. Melihat senyum Kiand, seakan menjadi obat penawar rinduku selama ini, ruang hampa yang ada di hatiku seketika ramai, kini aku seakan memiliki penopang untuk hatiku yang rapuh, itu hanya sebuah senyuman yang kiand berikan padaku.


Aku menunggu Kiand di atas motor yang terparkir, bukan tidak ingin menemaninya, tapi itu permintaan Kiand, sudah 15 menit kiand belum juga selesai, aku lihat dia masih mengantri, tal tega melihatnya berdiri dalam antrian, aku memilih masuk menemuinya


"Biar aku yang antri kamu duduk gih" ujarku


"Nggak usah, sedikit lagi kok! " tolak Kiand, tak habis pikir dengan kata "sedikit" yang keluar dari mulut kiand, di depan masih ada kurang lebih 7 orang yang mengantri, tapi dia bilang sedikit.


"Bisa ngga ngebantah nggak? sekali aja! " tegasku. "sini kertasnya, kamu duduk disana goh! " Dia hanya diam sambip menatapku, tapi tatapan ini berarti penolakan


"nggak usah pak makasih! " Kali ini aku benar-benar kesal, ku rebut kertas yang kiand pegang, ku foto dan ku kirim resep itu pada Candra, dia adalah asistenku selama aku di surabaya


"Pak kok di foto, pak pandu mau apa? " tanyanya


Aku tak menjawab pertanyaan Kiand, langsung ku hubungi candra saat itu juga.


"hallo... " terdengar suara seorang pria di balik sambungan telpon


"Hallo, can bisa minta tolong tebus obat ya! resepnya udah ku kirim via ponsel .


" ohh baik pak! "


"oke.. nanti kalau sudah di tebus, antar ke alamat teman saya ya... alamatnya saya kirim ya ! "


Pandangan Kiand semakin kesal, dia seolah tidak terima dengan sikapku,


" Pak Pak Pandu ngapain sih! " ucap kiand dengan mata yang kecewa


"Kamu nggak harus ngantri seperti itu, saya bisa pesankan obat-obat ini! "


Kiand hanya menatapku, lalu dia berjalan keluar antrian dan meninggalkanku begitu saja, aku hanya bisa menghela napas panjang, dan segera menghampiri kiand


"Ki, tunggu! " kuraih tangan kiand "Apa saya salah lagi? "


"Pak Pandu harusnya tidak usah temui saya lagi, saya tahu pak pandu bisa dengan mudah melakukan apapun, karena Pak Pandu punya segalanya! Pak Pandu sadar?, semakin Pak Pandu bersikap seperti itu, semakin menyadarkan saya jika kehidupan kita berbeda! " Air mata nampak tertahan di kelopak mata kiand saat itu


"Ki, bukan maksud saya seperti itu, saya hanya nggak tega liat kamu berdiri kaya tadi! "


"Kenapa harus nggak tega, satu bulan terakhir saya sudah terbiasa melakukan hal ini, dan ini bukan masalah besar untuk saya!"


"Maaf kalau semua yang saya lakukan untuk kamu justru membuat kamu kesal! "


"Sudahlah, mungkin sayanya juga yang terlalu lebay, saya hanya ingin menolak keadaan, tapi saya nggak mampu, " Kiand nampak menghapus air matanya, dan jujur aku merasa bersalah! kata-kata kiand tadi menjadi tamparan keras untukku, "kehidupan kita berbeda" kata-kata itu terngiang jelas di telingaku


"Saya mohon untuk kali ini, biarkan saya bantu kamu ki, obatnya akan di kirim ke rumah hari ini juga, nanti tolong kasih tahu alamat kamu ya! "


Kiand hanya menjawab dengan anggukan, meski dia menerima bantuanku, tapi tak menghilangkan kesedihan pada wajahnya.