For A Great Love

For A Great Love
eisode 35 rasa ini



Semua dewan direksi telah berkumpul di ruang rapat, begitupun papi, aku dan kak candra, sebelum memasuki ruang rapat, aku memang bertemu kak candra di ruangan papi, tentunya dia nggak sebdiri, Bintang begitu setia menemaninya, aku hanya teringat saat aku masih bersamanya, dia selalu menenangakan ku saat ada masalah - maaalah genting seperti saat ini.


Papi memulai meeting hari ini, dengan menjelaskan beberapa proyek yang sedang kita kerjakan, dan perkembangan beberapa investasi, ada beberapa investasi kita yang di nilai gagal, hingga merugikan perusahaan, sebagai perusahaan besar investasi adalah hal yang sering di lakukan, untuk mempererat hubungan bisnis dengan perusahaan lain, yang akan memberikan keuntungan dalam hal penjualan, atau kerja sama.


Sebelum papi menjelaskan sudah sampai mana perjalanan proyek kita, papi terlebih dulu mengumumkan hal yang tidak pernah aku duga.


"Sebelumnya saya mohon maaf, karna ada hal penting yang akan saya sampaikan dalam rapat ini, mengenai masalah berita yang sudah beredar keluar, tentang pertengkaran kedua anak saya, saya minta maaf, dan oleh karena itu mulai saat ini, kedudukan Presiden direktur kembali saya ambil alih " tegas papi


ruangan mulai riuh , mereka tidak menyangka papi akan mengambil keputusan secepat ini


"Dan untuk wakil presdir, saya memilih Bapak Wicaksono selaku direktur operasional yang menggantikannya"


riuh kembali terdengar di dalam ruangan, beberapa orang terlihat memandangi kami bergantian.


aku hanya diam mendengar keputusan papi, mau tidak mau kami harus menerimanya, berbeda denganku kak candra terlihat sedikit kesal.


"Untuk Durektur operasional, di gantikan oleh pandu anak saya" ujar papi


"Dan Candra akan menempati jabatan yangsudah di tinggalkan mr Anto, yaitu direktur pemasaran" tambahnya


"Kalian berdua memang anak saya, tapi sebagai pemilik perusahaan saya harus tegas jika kalian melakukan kesalahan" ujar papi


"Kalian tahu akibat perseteruan kalian kemarin? " tanya papi "Beberapa saham kita turun, public khawatir, jika perusahaan ini tidak akan maju jika intern nya saja saling berseteru," jawab papi


" Dengan ini kalian harus bertanggung jawab, untuk mengembalikan nama baik perusahaan mengerti! " ujar Papi di hadapan semua para dewan direksi, mereka hanya menggelengkan kepala sambil menatapku dan Kak Candra


Selain itu papi juga menjelaskan jika perusahaan ini akan melakukan investasi kembali, aku dan kak candra di bantu beberapa para direksi untuk menelaah proposal yang masuk, ada kurang lebih 100 data perusahaan yang mengajukan investasinya pada perusahaan kita dan kita harus menelaah perusahaan mana yang kira-kira mampu bersaing dan memiliki peluang bagus yang menghasilkan profit besar.


Rapat kali ini kembali di tutup oleh persaingan sengit antara aku dan Kak Candra, Papi memberi tantangan untukku dan kak Candra, mencari perusahaan yang tepat.


kami harus memilih masing-masing 5 perusahaan yang akan di ajukan pada dewan direksi nantinya, dewan direksi akan memilih satu daru 10 proposal , proposal yang terpilih dialah yang akan menduduki jabatan sebagai presiden direktur. menurut papi itu lebih adil, awalnya kak candra menolak, tapi papi mengancamnya untuk menyerah dan dengan keikhlasan hati memberikan jabatan presdir itu untukku.


jujur kondisi ini bukanlah keinginanku, bersaing dengan kakakku sendiri bukanlah aku, tapi sikap kak candra memang keterlaluan. Aku hanya ingin menunjukan padanya, jika aku adalah adiknya bukan tandingannya.


Sebelum aku kembali ke ruangan, aku meminta yoga dan Jefry sebagai team ku dan Papi setuju, semua cara Papi serahkan padaku, aku juga meminta Pak Darma sebagai partnerku ini jelas agar aku bisa berhubungan dengan Kiand, aku akan sibuk kedepannya, begitu pun Jefry, hanya dengan cara memasukan Kiand dalam team ku aku bisa menjaganya, dan melihatnya setiap hari.


...****************...


POV KIAND


siang ini ada yang beda, semua karyawan begitu ramai membicarakan masalah Pak Pandu dan Pak Candra, tapi aku tidak begitu yakin, karena mereka akan diam ketika aku lewat, tatapan mata merekapun seperti tatapan setan saat melihatku, kadang itu membuatku jengah.


Aku masih fokus dengan layar laptopku, sampai tiba-tiba Dian datang dengan tergesa-gesa


"Ki.. ki... " ujarnya dengan napas yang tersenggal -senggal,


"Kenapa Di? " tanyaku heran


"i.. itu... hu.. ha..., bentar bentar gue atur napas dulu" Dian memulai menarik napas dan mengeluarkannya, dia lakukan berulang-ulang, hingga terlihat lebih tenang


" Lo udah hubungin Pak Pandu? " tanya Dian


"Yahh belom lah.. " jawabku tegas, dengan mata yang masih fokus pada laptop


Dian menarik kepalaku, hingga berhadapan dengan wajahnya tangannya masih berada di kedua pipiku


"Pak Bagas bikin rapat darurat tadi! " ujarnya


Aku segera melepaskan tangannya, dan menarik kepala ku "Ahh elah, gue pikir apa! terus apa hubungannya sama gue? " tanyaku


"ihhh, santai dong nggak pake ngegas! " sahut Dian


"Lagian lo, udah tahu Kiand lagi galau karena Pak Pandu, lo omongin lagi " sahut Kak Nanda dari mejanya yang berada persis di belakangku


"Kak, lo nggak tahu gosip yang berdar juga? " tanya Dian si mr kepo seantero jagat,


"Gue sama Kiand kan nggak keluar makan tadi istirahat, kita lagi sibuk, mana sempet dengerin gosip" sahut Kak Nanda


Dian memukul jidatnya sendiri saat mendengar penjelasan Kak Nanda, kali ini ia berpindah posisi,


Aku memang tertarik dengan gosip yang ingin dian sampaikan, tapi entahlah, aku masih gengsi untuk mengakuinya, jadi aku memilih diam seakan aku tidak perduli


"Pak Pandu udah di pecat jadi wakil presdir" Bisik Dian, spontan aku mengalihkan pandanganku ke arah Dian yang berada antara sisi meja kerjaku dan Kak Nanda


"Kok Bisa? " tanyaku dengan suara lantang, hingga beberapa karyawan menatapku


"Syuuuut..... " ujarnya , aku segera menutup mulutku


"Kenapa? " kali ini dengan suara berbisik


"Pak Candra juga di pecat, ehh bukan bukan, lebih tepatnya, jabatan mereka di turunkan, sekarang pak Bagaskara yang menjandi Presdir" jelas Dian


"Kok bisa? " tanyaku lagi


"Bisa lah Ki, pertengkaran mereka di coffeshop kan udah tersebar luas, dan itu di jadikan senjata, untuk perusahaan pesaing, sebagi gosip pada para investor, agar mencabut investasinya, dan memindahkannya pada mereka" jelas Kak Nanda, segitu parahnya dunia Bisnis


"terus, mereka di turunkan jadi apa? " tanyaku


"Yah masih direktur sih! " jawab Dian,


"ohh syukurlah! " sahutku sambil mengelus dada


"Lo masih perduli kan sama Pak Pandu? " pertanyaan dengan nada meledek


Dengan raut wajah kikuk aku menyangkalnya " yah nggak gitu juga, kan waktu itu mereka berantem gara-gara gue" jawabku penuh oenyesalan


"Iyah sih! kalau gue jadi lo, gue samperin tuh Pak Pandu, yah minimal minta maaf gitu" kata-kata yang berarti sindiran keluar dari mulut Dian


Tapi aku berpikir omongan Dian benar juga, aku perlu meminta maaf , apa sekarang aja ya, aku bisa beli cake di bawah dan memberikannya pada Pak Pandu tapi...


"Terus Ki, mereka juga katanya lagi bersaing! " tambah Dian


"Siapa? Pak Candra sama Pak Pandu? " Dian menganggukan kepalanya " bersaing apa lagi? " tanyaku


"kalau nggak salah, Pak Bagas meminta mereka berdua memilih perusahaan terbaik untuk investasi" jelas Dian, anak ini memang cepat sekali kalau urusan gosip, gosip sepenting ini saja dia tahu


" tadi di kantin rame pada ngomongin itu! katanya kalau salah satu gagal, mereka akan di kirim ke belanda untuk mengurus rumah sakit anak perusahaan ini" lanjut Dian


Tanpa pikir panjang aku segera bergegas menemui Pak Pandu, aku harus bicara


"Ki mau kemana? " tanya Dian saat aku hendak meniggalkan meja kerjaku


"Ada urusan penting, kalau Pak Darma nanya, bilang aku ke toilet " bisikku, aku segera berlari menuju lantai 18, untung lift sedang berjalan ke lantai atas, jadi aku tidak perlu berlama-lama menunggunya, aku pikir sekarang aku hanya ingin mengatakan maaf dulu, untuk hadiahnya aku akan berikan belakangan, jantungku terus berdegup cepat, kakiku mulai terasa dingin, untuk berada di hadapan Pak Pandu lagi aku seperti grogi.


Ting! pintu luft terbuka, aku segera masuk hanya ada dua orang karyawan yang berada di dalam lift bersamaku,


"Emang yang mana sih pacar nya pak Pandu? " tanya karyawan yang berdiri di sampingku


"Gue juga nggak tau, katanya orang fit out" jawab karyawan lain yang berdiri di depanku


"Kalau Pak Pandu di kirim ke belanda gue patah hati! " sahutnya aku masih berdiri mematung sambil mendengarkan karyawan yang sedang menggosipkan Pak Pandu, Hampir semua wanita mengagumi sosok pak Pandu, selian tampan dan berkharisma, dia tidak sedikit ramah di bandingkan Pak Bagas maupun Pak Candra


"Gue juga! mudah-mudahan Pak Pandu menang ya, biar Pak Candra aja yang ke belanda "


Aku masih menguping pembicaraan mereka tanpa mereka sadari, jika akulah yang mereka bicarakan


"Lagian tuh cewek berani juga deketin Pak Pandu? "


"Iya, kasian Pak Pandu, jadi ketimpa masalah! "


"Kalau menurut gue, dia sih cuman di jadiin lampiasan aja, karena pak pandu patah hati dari Bu Bintang"


perkataan mereka sungguh membuat kupingku panas, hingga naik 3 lantai aja berasa naik 10 lantai, untunglah akhirnya sampai juga, setelah lift terbuka aku segera kekuar , begitu pun mereka,


"Permisi pak! " sapaku pada security yang bertugas


"Ehh Bu Kiand, masuk Bu... Pak Pandu ada di dalam" Security ini langsung mengenaliku, dan dua orang yang bergosip di lift tampak terncengang melihatku, mungkin dalam pikiran mereka, siapa aku ? kenapa dengan mudahnya aku masuk ruang direksi? aku sempat menengok ke belakang untuk melihat ekspresi mereka, benar saja mereka saling menatap bingung, aku melanjutkan langkahku sambil sedikit tertawa.


"Permisi! " sapaku pada dua orang resepsionis yang bertugas


"Ohh bu Kiand, silahkan masuk" mereka semua mengenalku, aku seperti tamu istimewa disini, padahal sudah beberapa hari aku tidak ke ruangan ini


aku memasuki ruangan besar yang memiliki 5 ruangan kecil di dalamnya, ku lihat ruang di depanku yang bertuliskan Presdir tampak sedikit terbuka, aku terus melangkahkan kakiku menuju ruangan di sampingnya, terlihat Karin sedang sibuk, entah apa yang dia kerjakan


"Permisi mbk karin ! " sapaku, anehnya raut wajah Mbak karin tampak terkejut saat melihatku


"Bu Kiand! " sahutnya, seperti melihat hantu


"Iya, Pak Pandu ada? " tanyaku, akupun memasang wajah bingung melihat ekspresi Karin


"I.. itu... Pak Pandu sedang.... " Karin seperti menutupi sesuatu dari ku, dia begitu lama menjawab pertanyaanku


"Sedang meeting? " tanyaku


"Hmm eng-nggak tu, tapi sednag ada tamu" jawabnya, kata tamu terlontar dengan suara yang begitu pelan


"Tamu penting? " tanyaku lagi


"Hmmm gimana ya bilangnya... Bu Kiand jangan masuk dulu deh! " Aku semakin penasaran siapa tamu yang karin masuk


"Yahh, ya udah deh aku balik lagi! " jawabku


" ehh jangan bu, tunggu sini aja, paling bentar lagi selesai... " cegah karin "atau kalau ibu mau masuk juga nggak papa sih, tapi.... " karin kembali terdiam


"Ya udah aku masuk ya...! " jawabku. Karin hanya mengangguk ragu. dengan cepat ku buka handle pintu ruangan Pak Pandu. perlahan ku buka khawatir menganggu, tapi saat pintu terbuka lebar, pandangan mataku terhenti, kaki ku terasa kaku, dan aku hanya diam mematung, pemandanga yang anehnya menyakitkan saat ku lihat, aku tak mengerti, aku sudah berusaha untuk biasa saja, tapi rasanya sulit


"Kiand! " suara Pak Pandu memanggilku, dengan cepat ia melepaskan pelukannya dari Bu Bintang dan berlari ke arahku yang masih mematung di depan pintu


"Ada perlu apa? " tanya Pak Pqndu, entah kenapa bibirku seakan membisu, dan air mata ini mengalir begitu saja tanpa bisa ku tahan, aku langsung berbalik dan berlari meninggalkan ruangan Pak Pandu,


"Ki.. Kiand! " Pak Pandu mengejarku, tapi aku tak perduli, aku pun bingung kenapa aku harus pergi? kenapa aku harus marah? itu kan hak pak pandu mau peluk siapapun?


Aku memilih untuk ke toilet sebelum aku kembali ke ruangan, ku pandangi wajahku dari pantulan cermin, aku mulai menghapus air mataku


"Bodoh! Bodoh! harusnya tadi gue nggak pergi! kenapa gue lari? kenapa gue nangis? " aku terus berkata pada diriku sendiri


Ku basuh wajahku dengan air beberapa kali, dan setelah kurasa cukup tenang aku kembali ke ruang kerjaku, saat hendak keluar toilet, tiba-teba seseorang mengaggetkanku dengan berdiri di samping pintu toilet


"Astaga....! " aku terkejut ketika Pak Pandu tengah berdiri dan menarik tanganku, untunglah lorong toilet sepi, jadi tak ada yang melihat kami


Dengan cepat Pak Pandu membawaku ke janitor yang berada di samping toilet, ruangan yang sempit memksa kami berdiri begitu berdekatan, saking dekatnya aku bahkan bisa merasakan detakan jantung Pak Pandu


"Pak Pandu mau apa? " tanyaku sedikit gugup


Tangannya melingkar di pinggangku, dan menariknya sehingga tak ada jarak lagi antara aku dan Pak Pandu, dia menatapku cukup lama, seakan terhipnotis oleh tatapannya aku hanya terdiam menikmati


"Bilang kalau kamu cemburu ? " tanyanya


"Nggak, siapa yang cemburu" jawabku sambil berusaha melepaskan diri


"Kenapa kamu pergi? "


"Saya cuman nggak mau ganggu ! "


"Tapi kamu nangis?"


aduh kiand, lagian kenapa sih nggak bisa tahan tangis gumamku


"sa.. sa.. saya, kelilipan" alsanku


Pak Pandu melepaskan tangannya, dan hampir membuatku terjatuh, namun dengan cepat Pak Pandu memegang tanganku


"Ada apa kamu ke ruangan saya? " kali ini dia mengalihkan pembahasan tentang cemburu, untunglah


"Hmmm... i.. tu... " aku bingung harus jawab apa, awalnya aku ingin minta maaf, tapi setelah melihat Bu Bintang dan Pak Pandu pelukan, ku urungkan niatku "itu, aku cuman mau bilang kalau lusa aku mau pindah" aku asal bicara, padahal kontrakan saja belum dapat


"Ohh oke, urus sendiri barang kamu saya nggak bisa bantu saya sibuk! " jawabnya berlalu pergi meninggalkanku di ruang janitor sendiri, setelah membuat jantungku hampir copot karena tatapannya.


Aku pikir dia akan melarangku, dasar manusia aneh, aku heran kenapa ada manusia model kaya dia di bumi ini. aku keluar janitor sambil merapikan rambut dan pakain, aku sempat terkejut ketika seorang OB sudah ada di hadapanku, dia hendak menaruh alat kebersihan ke janitor, dia menatapku dengan tatapan aneh, mungakin dia bingung apa yang aku lakukan di dalam sini. Aku perhatikan OB itu masih melihatku meski aku sudah berjalan menjauhi janitor, semua ini karena Pak Pandu, mungkin OB itu berpikir aku sudah melakukan hal intim di dalam