
POV Pandu
Tengah malam kami baru pulang ke apartemen. Kiand terlihat begitu lelah di sampingku, ia bahkan masih tertidur saat mobil sudah berada di parkiran.
Ku pandang wajahnya yang begitu teduh, namun entah kenapa sedari tadi aku melihat ada yang berbeda dengan kiand, dia lebih banyak diam, tidak seperti biasanya. Ku singkirkan rambut Kiand yang menutupi matanya, ku dekatkan wajahku ke wajahnya hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya, ku layangkan kecupan di keningnya, aku begitu mencintai wanita ini, rasa cinta yang dulu sempat pergi dari hatiku, kini kembali tumbuh dan berkembang.
Dan tiba-tiba saja, Kiand membuka matanya, ia menatap sayu-sayu diriku untuk beberapa detik, dan saat ia menyadari jika jarak antara wajahku dan dia begitu dekat, refleks dia menegakan kepalanya
"Saya ketiduran ya pak! " ujarnya, aku bisa melihat wajahnya yang memerah
"Yah....! kamu pulas sampe ngorok" sahutku
"masa sih? " tanyanya tak percaya, tapi sebenarnya dia tidak mendengkur, aku hanya suka melihatnya saat ia merasa malu
"Iya, sampe saya putar lagu keras-keras, suara dengkuran kamu tetap kedengaran" godaku sambil mematikan mesin mobil "Udah ayo turun, udah sampe"
Kami turun dari mobil dan segera bergegas ke kamar Apartemen. Kiand yang tadi sempat tertidur di mobil, langsung ambruk di sofa depan tv.
Aku sendiri memilih untuk langsung ke kamar mandi membersihkan diri, rasanya badanku lengket. Setelah mengganti pakaian aku kembali menemui kiand, ternyata dia melanjutkan tidurnya di sofa, dia terlihat begitu lelah, sepertinya tugas yang aku berikan untuknya begitu berat.
Ku gendong kiand, dan memindahkannya ke kamarku, setelah menutupi tubuhnya dengan selimut, ku kecup keningnya, dan ku biarkan kiand istirahat.
Aku bergegas menuju ruang kerja, kembali membuka laptop, dan mulai mengecek pekerjaan yang belum sempat terselesaikan, apa lagi besok aku akan ijin tidak kekantor.
Jam menunjukan pukul 1 dini hari, mataku masih enggan untuk terpejam, tak lama aku mendengar seseorang membuka pintu dan orang itu adalah kiand, dia sudah berdiri di ambang pintu ruang kerjaku, dengan mengenakan kemeja ku yang kebesaran di tubuhnya.
"Pak, saya pinjam bajunya ya! " ujarnya
Aku hanya tersenyum saat melihat tubuh mungilnya, terbalut oleh kemeja putih milikku, aku bangun dari tempat dudukku dan berjalan menghampirinya.
"Cantik... " pujiku
"Ini pujian atau gombalan" ujarnya, tapi dia benar-benar terlihat cantik dengan baju yang kebesaran seperti Itu.
"Anggap aja itu sebuah gombalan" sahutku sambil memeluk tubuhnya, aku benar-benar di buat terpesona untuk kesekian kali olehnya "kenapa kamu bangun? "
"Hmmm sebenarnya saat pak pandu___"
"Pacar... " koreksiku
"ohh iya, saat pacar pindahin saya ke kamar, saya nggak tidur lagi"
"terus... "
"Saya temenin pacar aja! " jawabnya cengengesan
"Tapj saya sudah mau selesai"
"yah....! gimana kalau kita nonton"
"Pasti kamu nonton drakor, saya nggak suka! "
"Pacar, drakor itu seru... bukan hanya percintaan yang romantis, tapi banyak pelajaran yang kita ambil dari film tersebut" jelasnya bersemangat
"Ya.. ya.. ya... " aku hanya mengangguk, "Baiklah... kamu bisa menonton apapun,... " Dia tampak tersenyum lebar "tapi ada syaratnya" raut wajahnya seketika berubah
"Apa syaratnya...? "
"saya laper... "
"Ohh siap pacar, " jawabnya sambil memberikan posisi hormat, persis seperti seorang pasukan paskibra berdiri di depan tiang bendera.
Kiand segera berlari menuju dapur, satu hal yang membuatku jatuh cinta padanya, keceriaan di wajahnya yang tak pernah hilang, meski sebenarnya beban hidupnya begitu berat, dia bahkan selalu mentransfer kebahagiaan dan keceriaannya untuk orang sekitar.
Ku hampiri kiand yang sibuk di dapur "Jadi kamu mau masakin saya apa? " tanyaku
"perlu bantuan? "
"Nggak usah, Pacar duduk aja ! " jawabnya sambil mencuci beberapa sayuran lalu menaruhnya di atas tatakan, dan mulai memotong, Dia begitu lihai mengolah semua bahan, sangat berbeda dengan bintang yang lebih senang untuk membeli makanan di luar ketimbang harus sibuk di dapur.
"au... " rintihnya
Aku segera mendekat kearahnya, telunjuk kiand tergores hingga mengeluarkan darah segar, dengan cepat aku mengisap darah yang keluar dari telunjuk kiand "Kamu harus lebih hati-hati" ucapku. Kiand hanya menatapku, tapi aku justru melihat butiran air mata tertahan di kelopak matanya
"saya nggak papa, ini hanya luka kecil" ucapnya sambil menarik tangannya, dia kemudian memalingkan wajah dan bergegas mencuci darah yang mengalir dari telunjuknya
"Ki! " aku tetap berdiri di sampingnya, tapi dia justru membelakangi ku, seperti ada yang dia sembunyikan, tangannya terlihat mengusap wajah, yah dia menangis.
"ki.. " ku dekap kedua bahunya
"saya nggak papa" lagi-lagi kiand menyingkirkan tanganku, dia kembali mengolah bahan makanan yang sudah dia siapkan sebelumnya
"Sudah tidak usah di lanjutkan, saya nggak laper" ujarku
Kiand terdiam, kali ini tangisnya pecah, tangannya hanya sedikit tergores, tapi ia menangis seperti tangannya terpotong
"ki.. kamu baik - baik aja? " tanyaku, aku bingung apa yang membuatnya menangis hingga tersedu-sedu
"Harusnya saya tidak mencintai pak pandu sedalam ini" ujarnya
"maksud kamu? " tanyaku, ku remas kedua bahunya, dan ku balikan tubuh kiand hingga kami saling berhadapan, tapi kiand sama sekali tidak mau menatapku,
"Yah.. mencintai pak pandu adalah sebuah kesalahan, meski aku tidak pernah menyesalinya"
"kenapa kamu bicara seperti itu? tidak ada yang salah dengan sebuah cinta kiand! "
"Cinta memang tidak pernah salah pak, tapi aku yang salah karna tidak pernah bisa mengendalikan perasaanku untuk pak pandu! " dia mengangkat kepalanya, kali ini air mata mengalir deras membasahi pipinya
"Kamu tidak perlu mengendalikan perasaanmu untuk tidak mencintaiku kiand, karena aku pun merasakan hal yang sama" ku harus air mata kiand
"Apa yang membuatmu menangis seperti ini? " tanyaku, Dia hanya diam aku tahu ada yang kiand sembunyikan, yang sebenarnya ingin dia utarakan padaku
"Saya cuman nggak tahu mau sampai kapan kita menjalani hubungan seperti ini, kadang saya takut, saat tiba-tiba harus menyerah, karrna kita akan saling tersakiti"
"kiand! " ku genggam tangannya " percaya, saya akan memperjuangkan kamu, dan masa-masa ini akan terlewati "
"Pak, saat saya memutuskan untuk, ya saya akan berjuang, itu seperti saya memberikan sebilah pisau pada pak pandu, pisau itu bisa pak pandu gunakan untuk melindungi ku, tapi aku sadar suatu saat pisau itu juga yang bisa melukai pak pandu ataupun saya"
Rasanya perih sat mendengar kiand mengatakan itu, aku bisa saja melukainya karena terlalu egois mementingkan perasaanku
"saya dan pak pandu hanya akan merasakan kebahagiaan sementara seperti bagai hujan yang mencumbui bumi, yang kemudian akan menghilang saat matahari menyinarinya"
Ku jatuhkan tubuh kiand dalam pelukanku, ku dekap tubuhnya erat, dan ku kecup kepala Kiand "Air hujan itu hanya menghilang, tapi tidak pergi, dia akan turun dan kembali membasahi bumi, airnya meresap lalu memberi kehidupan"
Ku biarkan dia menangis dalam dekapan ku hingga membuat bajuku basah karena air matanya
"jangan pernah berpikir untuk menyerah dan pergi, karena saya bisa gila kalau itu terjadi" ujar ku
Ku papah kiand menuju sofa, kami duduk di atas sofa, dan membiarkan kepala kiand bersandar di dadaku,dengan wajah kami yang saling berhadapan, ku belai lembut kepalanya, dan sesekali mengusap pipinya
"maaf " ucap kian yang ku balas dengan senyuman
"Kenapa kamu harus minta maaf? " tanyaku
" yah minta maaf aja! " jawabnya
"I love you... " ucapku dengan sedikit berbisik, aku tak pernah mengatakan hal itu sebelumnya, " itu lebih tepat ketimbang maaf"
Kami menghabiskan malam sambil menonton film favotite kiand hingga ia tertidur dalam dekapanku. melihatnya menangis seperti itu, aku merasa apa yang di simpan terlalu berat, namun ia tidak ingin membaginya untukku.