For A Great Love

For A Great Love
episode 48 menjauh lebih baik



Aku masih tidak percaya dengan apa yang ku lihat pagi ini! dia bahkan mencium kening kiand di depanku, dan kiand tidak mempermasalahkan hal itu.


"Arggghhhhh " ku tendang meja, dan ku lemparkan beberapa berkas yang ada di atas meja kerja, Ku hembuskan napas kasar setelahnya. Dari awal aku tak ingin Kiand pergi dari apartemen entah apa sebab dan alasannya, aku pun tak mengerti, dan sekarang dia justru tinggal di rumah pria itu, pria yang pernah ku temui saat ia mengantar kiand.


Ku jatuhkan tubuhku di atas sofa, tak ada semangat pagi ini, rasanya semua neuron di otakku berhenti bekerja , aku bahkan tak bisa memikirkan apapun selain kiand.


"Wahhh ada gempa dari mana ini? " tanya Jefry saat dia masuk ke dalam ruang kerjaku di ikuti yoga di belakangnya


"Du, ada apa nih? " tanya yoga sambil memperhatikan beberapa kertas yang berserakan di lantai


"Sepertinya ada suasana hatinya lagi nggak bagus nih! " celoteh jefry, ia terlihat berjalan menghampiriku begitupun yoga mereka langsung duduk di samping kanan dan kiriku .


"Bro... baik-baik ajakan lo? " tanya Yoga sambil menepuk bahuku


"Gue lagi bad mood hari ini" aku bangkit meninggalkan yoga dan jefry, beralih ke kursi kerjaku


"Kerjaan kita masih banyak loh! " Yoga mengingatkan


Aku seolah tak mendengarkan omongan mereka, di otakku hanya ada kiand dan kejadian yang menyebalkan tadi


"Argggg.... " teriakku lagi-lagi dengan menghancurkan semua barang yang ada di atas meja kerja


"Lo kenapa sih? " tanya jefry bingung


"Jef, lo harus cari tau siapa cowok itu! " gumamku


"cowok mana? " tanya jefry


"cowok yang sama kiand! " bentakku


jefry terlihat tertawa, sedang yoga hanya tersenyum kecil " ya ampun Pandu, jadi ini ceritanya cemburu? "


"siapa yang cemburu? " tanyaku berlagak bego


"Tukang parkir! " sahutnya asal, " ya lo lah pandu"


"terserah deh lo bilang apa, yang jelas gue pengen tahu siapa cowok itu, dan apa hubungannya sama kiand, masalahnya kiand kemarin keluar dari apartemen, dan gue curiga dia justru tinggal di rumah cowok ini" jelasku pada jefry


"Jadi apa nih maksudnya? " tanya jefry


"Yah gue minta tolong , lo cari tahu! " jelasku kesal


"kenapa jadi gue? kenapa nggak lo aja? " ujar jefry


"makanya punya hati tuh yang tegas, udah bener-benar lo sama kiand, pake belok lagi ke bintang, sebenernya lo tuh cinta nggak sih sama kiand? " aku pun bingung dengan perasaanku, menghilangkan bintak di otakku sangatlah tidak mudah, dia orang yang memberi banyak kenangan di hidupku, meski yah dia sudah sangat menyakitiku, sedang kiand, aku menaruhnya di sisi hati yang lain, aku membutuhkannya, aku tak rela dia di bersama pria lain.


"Udah ceramahnya, kasian dia...! " sahut yoga "bantuin lah jef! "


Jefry menatapku dan Yoga bergantian, "kenapa jadi gue? " tanyanya


"Karena lo yang deket sama Kiand! " jawabku tegas


"tolol sih lo jadi cowok. ..! lo yang minta kiand jadi pacar lo, lo juga yang khianatin, lo pikir hati kiand mainan plastik! " Jefry masih terus menceramahiku yah kali ini aku terima semua ucapannya, ini memang salahku, harusnya waktu itu aku memikirkan perasaan kiand


"Ya udah sekarang lo mau bantuin gue nggak? " tanyaku tak ingin terus mendengar ocehan jefry


"Iya gue babtuin...! " sahutnya terdengar tidak ikhlas


Setidaknya Aku bisa mengandalkan hefry untuk hal ini.


...****************...


kami mengadakan meeting untuk mendiskusikan sketsa bangunan yang di buat oleh nanda dan kiand


suasana ruang meeting tak sehangat dulu, aku dan kiand terlihat begitu kaku, beberapa kali aku mencoba menatapnya, tapi dia selalu memalingkan pandangannya.


"Oke tolong di save dengan aman ya! " ujar Yoga pada Nanda.


"Iya siap pak! " jawab nanda.


"Pak Pandu! " ujar kiand saat melihatku berdiri di luar toilet khusus wanita


"akhirnya...! " aku mengelus dada "ikut saya sebentar" saya menarik tangan kiand, dan membawanya ke rooftop.


"Pak mau kemana? kita lagi meeting!" ujar Kiand yang hanya bisa mengikuti langkahku, tanpa bisa menolak


"sebentar aja! " paksaku.


sesampainya di rooftop aku melepaskan tangan kiand


"Ngapain pak pandu bawa saya kesini! " tanyanya


"tinggal dimana kamu sekarang? " tanyaku dengan nada mencecar


"bukan urusan pak pandu! " jawabnya


"ki, tolong jawab saya tinggal dimana kamu? " tegasku mulai kesal


"Kenapa sih pak! kan saya sudah bilang, kita sudah tidak ada hubungan apapun, semuanya sudah berakhir, jadi bukan urusan pak pandu saya mau tinggal dimana" jawabnya tak kalah tegas


"Kamu benar-benar ingin pergi dari saya? secepat itu perasaan kamu berpaling dari saya? " tanyaku


"maksud pak pandu apa? "


"pria itu? pria yang sudah mengantarmu , kamu tinggal sama dia kan? " cecarku


"saya tinggal dimana, dengan siapa, itu bukan urusan pak pandu " aku semakin kesal mendengar jawaban Kiand,


"Ki... " aku meraih tangan kian, namun dengan cepat ia hempaskan


"kita sedang kerja pak, tak seharusnya pak pandu bersikap seperti ini" ujarnya


"ki.. saya nggak bisa begini terus, saya bisa gila dengan sikap kamu yang mengacuhkan saya "


"pak ini terbaik buat saya dan pak pandu, pak pandu fokus pada perasaan pak pandu yang masih tersisa dan saya fokus untuk melupakan pak pandu! " Ucapan kiand menjadi tamparan keras untukku, semarah itu dia hingga dia berusaha melupakan aku.


"apa kamu benci sama saya? " tanyaku


bulir air mata jatuh di pipi kiand meski ia berusaha menahannya


"sayangnya, saya nggak bisa benci sama pak pandu, saya udah coba tapi saya nggak bisa! " tangis kiand pecah ia menutup wajah dengan kedua tangannya, bodohnya aku selalu membuat dia menangis, dwngan ragu ku jatuhkan tubuh kiand dalam oelukanku.


"ki, saya minta maaf selalu membuat kamu nangis kaya gini, saya benar-benar nggak bisa kamu pergi dari saya, saya juga nggak ngerti apa ini perasaan cinta? yang jelas saya takut kehilangan kamu ki! " pelukanku semakin erat, enggan kublepaskan, tapi kiand memintaku untuk melepaskan pelukannya.


Dia menghapus air matanya, mencoba menarik napas dan menatapku. Kiand merapikan dasiku, kemejaku, dan jas yang ku kenakan. ketegaran terlihat dari raut wajahnya.


Kiand menepuk kedua bahuku " selama masih ada Bu Bintang di hati pak pandu, saya hanya jadi pemeran pengganti, perasaan yang pak panfu miliki saat ini, hanya sebuah buturan debu yang menempel, pak pandu bisa buang debu itu kapan saja"


Kiand berlalu pergi meninggalkanku yang masih berdiri, kata-katanya sangat terngiang di telingaku.


betapa sulitnya jadi diriku, di saat memiliki dua perasaan yang bisa jadi bomerang untukku sendiri, saat ini aku seperti berlayar tanpa tujuan, hanya tampak sebuah pelabuhan, namun tak bisa ku tuju.


...****************...


Aku kembali ke ruang meeting, mereka sudah bisa menebak aku pasti menemui kiand, di situ mata kiand masih sembab dan aku merasa bersalah, kami melanjutkan diskusi kami, untunglah semua proposal sudah selesai, tinggal menunggu dua hari kedepan untuk bertemu pak jonathan .


Setelah meeting, kiand dan nanda pamit lebih dulu, sedang aku jefry dan yoga masih berada di ruang meeting.


"Jadi apa rencana lo? " tanya Yoga


"Kayanya gue mau biarin kiand tinggal di rumah cowok itu, kalau emang itu maunya dia" jawabku, dengan tatapan kosong


"bro, saat ini kiand butuh waktu, kejadian kemarin bener-bener membuatnya sakit, jadi untuk sementara ini lo jangan kejar dia" tambah jefry


aku harus bersabar, sampai kiand benar-benar memaafkanku, mungkin ini hukuman karrna aku sudah mempermiankan hati kiand.