
POV PANDU
Bagaimana mungkin aku bisa melihat Mas Candra dan Bintang bertunangan hari ini? Kiand juga masih di rumah sakit,rasanya aku ingin menfhilang untuk sesaat.
"Mas Pandu.... " teriak Reina dari balik pintu, pasti mamih menyuruhku untuk turun.
"Masuk.. " jawabku meminta Reina masuk
"Mas Pandu nggak siap-siap? " tanya Reina terkejut saat melihatku masih mengenakan piyama dan berbaring santai di atas kasur
"Nanti mas nyusul, bilang mamih mas lagi siap-siap" jawabku sambil menarik guling dan memeluknya
"Mas....! ayo bangun, yang lain udah siap ke hotel loh! " Reina menarik gulingku.
"Reina yang manis, denger nggak tadi mas ngomong apa? nanti mas nyusul" kataku sambil mengelus kepala Reina yang sudah duduk di ujung tempat tidur
"Lagian di bawah ada Mas jeje sama mas Yoga tuh! "
"Jeje? kok dia disini? " tanyaku terkejut "Bukannya dia suruh jaga Kiand di Rumah sakit? " gumamku
"Kiand? siapa Kiand? pacar baru Mas Pandu? " tanya Reina mulai kepo.
"Bukan..., ya udah mas siap-siap dulu! " aku segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Reina tunggu di bawah ya mas! "
"Iya.... "
Selesai bersiap aku turun ke ruang makan, semua orang terlihat begitu ceria, terkecuali aku, meraka terlihat sedang berbincang sambil menyunggingkan senyum selebar-lebarnya tapi aku tak bisa, ini hari dimana hatiku akan benar-benar hancur.
"Hai bro...! " Sapa Yoga saat melihatku berjalan kearah meja makan
"Kok nggak ngomong lo udah disini? " tanyaku "Lo lagi, kok disini? bukannya lo harus jaga Kiand di Rumah sakit? " tanyaku pada Jefry
"Eitss... inikan hari bahagia kakak lo, itu artinya hari bahagia kita juga, yah pastinya kita dateng" jawab Yoga dengan senyum terselebung , dia tahu ini bukan hari bahagia untukku.
"Ada Arga yang jagain Kiand" jawab Jefry, Aku merasa tak tenang saat mendengar hanya Arga yang menjaga Kiand, harusnya kemarin aku tidak meninggalkan dia.
"Ya udah gue ke rumah sakit sekarang...! "
"Mau kemana kamu Pandu" Mamih menarik tanganku saat aku hendak pergi
"Ada urusan mih" jawabku terpaksa menghentikan langkah
"Ngga bisa, kita semua harus segera ke hotel, ini acara pertunangan kakakmu, bagaimana mungkin kamu akan pergi? " hadang Mamih
"Acara Mas Candra malem mih, aku cuman sebentar kok! " pintaku
"Mamih nggak percaya, sebentar kamu tuh bisa sampai besok" Aku memang tidak bisa membantah keinginan mamih, dengan terpaksa aku harus tetap disni, sambil memikirkan bagaimana kondisi Kiand di rumah sakit.
"Lo tenang aja bro, nanti gue ke rumah sakit" bisik Jefry
Setelah semua siap, kami semua bergegas menuju Sania Hotel, aku , jefry, dan Yoga menggunakan mobil Jefry, aku sengaja tak ingin bawa mobil karena pikiranku sedang sangat kacau saat ini.
"Gue tuh bingung sama lo, sebenernya lo cinta gak sih sama kiand? " tanya Jefry saat di perjalanan
"Yah nggaklah je, hati gue tuh cuman buat Bintang! " jawabku tegas
"Mau sampai kapan Du..! " sahut Yoga
"Gue nggak tahu, mungkin sampai gue bisa nemuin kembaran Bintang" jawabku
"kayanya kiand udah mulai jatuh cinta sama lo deh Du, " ujar Jefry, Aku memang sudah merasakan hal itu saat Kiand memelukku, dan entah kenapa aku sendiri merasakan getaran aneh saat itu, sama seperti pertama kali aku memeluk Bintang saat aku mulai menyukainya, tapi aku terus menapik perasaan ini, aku nggak mau menggantikan Bintang dengan siapapun termasuk Kiand.
"Itu jadi urusan dia, gue sih nggak perduli! " jawabku.
Selama perjalanan pikiranku bercabang, antara pertunangan Mas Candra dan kondisi kiand di rumah sakit.
...****************...
Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam, tamu undangan mulai berdatangan, aku sendiri belum melihat Bintang dari tadi siang, karena aku sengaja tak menemuinya.
Suara MC sudah mulai terdengar tanda acara akan di mulai, aku dan Yoga duduk di meja VIP bersama Papih mamih dan Reina. Jefry sengaja ku suruh melihat Kiand di rumah sakit. Ketegangan terlihat jelas di wajah Mas Candra. Aku tetap berusaha tegar mengikuti acara demi acara, sampai saatnya seorang MC menyebut nama Bintang. Aku melihat Bintang berjalan dengan gaun pink yang begitu mewah, kecantikan terpancar dari wajahnya, senyumnya yang selalu berseri tak lepas dari bibirnya, dia adalah wanita yang aku puja, namun tak bisa ku miliki. Semua orang berdiri saat Bintang berjalan mendekat kearah Mas Candra.Tak bisa ku jelaskan lagi bagaimana sakitnya hati ini, jika aku bisa berteriak mungkin aku akan berteriak, Yoga yang berdiri di sampingku mencoba memberi kekuatan dengan menepuk pundakku beberapa kali, sekuat apapun aku mencoba untuk tidak menangis, tapi air mata ini seakan tak terbendung. Aku hanya menunduk menyembunyikan kesedihanku, disaat suara tepuk tangan riuh terdengar hingga penjuru gedung hotel.
Raut kebahagiaan benar terpancar di wajah Mas Candra dan Bintang, saat MC mulai meminta mereka untuk saling berhadapan, Mamih terlihat berjalan membawa kotak kaca yang berisi cincin pertunangan. Seandainya ada Kiand disini,mungkin akan ada tempat untukku menyandarkan kesedihanku.
Prosesi tukar cincin akan segera di mulai, Mas Candra terlihat sudah mengambil cincin yang akan di sematkan di jari Bintang, jika di ibaratkan hatiku kini bagaikan serpihan kaca yang hancur lebur berserakan , tak mungkin bisa di satukan kembali. Saat aku benar-benar merasa lemah melihat senyum Bintang dan Mas Candra, seseorang menggenggam jemariku, refleks aku menoleh kesamping dan ternyata Kiand sudah berdiri di sampingku sambil mengembangkan senyumnya, ia tampak cantik dengan dress biru dan rambut yang terurai.
"Kok kamu bisa disini? " tanyaku heran
"Udah bapak diem aja, saya pasti ada kok buat bapak" jawabnya santai
Aku tersenyum dan membalas genggaman Kiand, saat ku menoleh ke belakang Jefry terlihat mengangkat jempolnya, aku yakin ini pasti rencana Jefry.
Acara pertukaran Cincin sudah selesai, semua orang sedang menikmati hidangan yang sudah di siapkan. Mas Candra dan Bintang berjalan ke arahku yang tengah duduk bersama Kiand, di ikuti mami dan papi di belakang
"Selamat ya mas" Aku mengulurkan tangan meski dengan berat hati
Mas Candra membalas uluran tanganku, lalu memelukku erat "Terima kasih" bisiknya
Aku masih tetap tersenyum dalam kesakitanku, apa lagi saat aku harus mengucapkan kata selamat pada Bintang, bibirku seolah berat tapi harus aku lakukan.
"Gimana kabarmu Ki? " tanya Bintang pada Kiand
"jangan panggil ibu dong, panggil aku Bintang aja" ujar Bintang
"Pandu kamu nggak mau ngenalin wanita cantik itu sama mamih? " tanya mamih yang berdiri di samping Mas Candra
"Ohh i-iya mih, ini Kiand, " Kiand berdiri dan mengulurkan tangannya
"Kiand.. " sapanya Ramah
"Saya mamihnya Pandu" jawab mamih, di ikuti papih yang berada di sampingnya
"Reina kemana ya? " tanya Mas Candra
"Dari tadi gue nggak liat tuh anak" Mataku mengitari semua ruangan mencari Reina, yang ternyata sedang asik bersama jefry dan yoga di meja lainnya
"Tuh Reina" tunjukku.
"Ya sudah enjoy ya disini, mami dan papi mau nyambut tamu yang lain" ucap mamih pada Kiand
"Baik mih" jawabnya sambil tersenyum
Penampilan grup musik jazz ternama menjadi pusat perhatian aku dan Kiand, begitupun dengan Mas Candra dan Bintang yang masih berada di mejaku, terlihat tangan mereka saling menggenggam, tampak jelas cincin melingkar di jari mereka masing-masing, dan itu membuatku tak sanggup berlama-lama dekat dengan mereka, meski aku sudah berusaha merelakan Bintang tapi nyatanya sampai detik ini aku belum sanggup, aku masih mencintai Bintang, sangat mencintai Bintang, dan Kiand? perasaan Kiand, hanya hadir lalu pergi, tidak menetap seperti perasaanku pada Bintang.
"Cari angin yuk! " Aku menarik tangan Kiand, dia nampak heran melihatku begitupun mas candra dan Bintang
"Kalian mau kemana? " tanya Mas Candra
"Ke balkon cari angin " jawabku sambil berlalu pergi. Malam ini seperti mimpi buruk yang tak pernah berakhir
"Pak.." panggil Kiand yang berusaha menyeimbangkan langkahku
"Apa bapak selemah itu? " tanyanya membuatku menghentikan langkahku dan menoleh kearahnya
"Maksud kamu? "
"Yah apa bapak selemah itu di hadapan Pak Candra dan Bu Bintang? " tanyanya lebih pada menegaskan
Aku tak menjawab pertanyaannya, aku hanya terus berjalan ke arah balkon yang lebih sepi dan nyaman, tanpa ada riuh suara orang memberi selamat pada Mas Candra, tidak ada pandangan yang membuat hatiku semakin sakit.
Aku terdiam memandang cahaya lampu yang menyoroti jalanan Ibu kota, malam pilu, yah malam yang benar-benar memilukan, tak pernah terpikir bagiku akan merasakan sakit sedalam ini, aku tak bisa membendung air mataku.
"Pak" Kiand mengelus punggungku, ingin rasanya aku memeluk Kiand, untuk melepaskan beban hatiku, tapi itu tidak mungkin, banyak mata yang mungkin akan tertuju pada kami
"Saya pikir bapak tak akan selemah ini? saya ada untuk bapak, setidaknya untuk sedikit menguatkan" ujar Kiand " Apa perlu kita pergi, setidaknya agar bapak bisa sedikit lebih tenang"
"saya cuman butuh sendiri Ki, lebih baik kamu gabung dengan jefry dan Yoga" pintaku
"Sampai kapan bapak akan seperti ini? bapak hanya terus mengikuti hati bapak yang sakit, tanpa bisa bapak melawannya, semua ini harus bapak jalani, bukan bapak terus terbuai dengan cinta bapak pada Bu Bintang, " Untuk pertama kalinya aku melihat Kiand berani membahas tentang perasaanku
"Itu bukan urusanmu, hati saya yah milik saya, saya yang mengatur hati saya bukan kamu" tegasku,
"Sekarang itu menjadi tugas saya pak! hati bapak memang milik bapak, saya sama sekali nggak berhak mengatur perasaan bapak, tapi saat ini saya disini sebagai pasangan bapak, setidaknya hargai saya di depan orang tua dan teman bapak, yang berpikir jika saya adalah kekasih bapak, " Aku terdiam mendengar ucapan Kiand
"Saya harus pergi! " Aku berjalan kearah meja jefry, dan Yoga
"Pak...! " teriak Kiand, dia mengikuti di belakang
"Je..! lo pulang pake mobil mas candra ya, gue pinjem mobil lo, " pintaku
"Dihhh masa bisa begitu, ogah ahhh! " tolak jefry
"Udah cepet, mana kunci mobil lo, sebentar doang! " paksaku
"Lo mau kemana? " tanya Yoga "acara belum selesai"
"Bukan urusan lo" sahutku "cepetan Je! " akhirnya jefry mau meminjamkan mobilnya , aku berjalan cepat menuju parkiran, kiand terus memanggilku di belakang, meski sama sekali tak ku perdulikan.
sesampainya di mobil, kiand menarik tanganku
"Bapak mau kemana? " tanya kiand
"Bukan urusan kamu! " jawabku sambil melepaskan tangan Kiand, dia buru-buru berlari menahan pintu mobil jefry
"Bapak nggak bisa pergi sendiri, saya ikut! " sahutnya
"Buat apa? saya lagi butuh sendiri Kiand, "
"Pak! saya bela-belain kesini, dengan kondisi saya yang masih lemah, bapak sama sekali nggak bisa hargain usaha saya? "
"Saya nggak minta kamu kesini! "
"Saya tahu, tapi saya memikirkan kondisi bapak! "
"Ayolah Kiand, saya mau pergi dari sini, "
"saya ikut! "
"Ya sudah cepet naik! " mau tak mau aku harus membawa Kiand.
Aku memacu mobil menuju temoat biasa aku mengobati luka, club malam. Bagiku melepaskan sedikit kesadaranku akan lebih baik, dari pada aku harus terus merasakan luka menyadari Bintang bukanlah menjadi milikku lagi.