
Setelah kedua orang tua Pak Pandu pergi aku sangat merasa bosan, aku nekat keluar ruang rawat, niatnya aku ingin melihat kondisi pak candra, aku berjalan sambil melihat-lihat keadaan rumah sakit yang memiliki fasilitas nomer satu, semua perawat begitu ramah, mereka tersenyum dan menyapa saat kami berpapasan, beda sekali dengan perawat di kelas bawah, aku masih ingat saat aku mengantar ayah berobat, saat itu aku masih SMA, bisa bayangkan dong seorang anak SMA mengantar ayahnya ke rumah sakit, jelas aku tidak mengerti apa-apa, dan saat aku bertanya ke resepsionis, mereka menjawab dengan jawaban alakadarnya, dan buat aku itu sama sekali tidak membantu.
Aku berdiri di depan lift, hendak pergi ke ruang ICU yang berada 1 lantai kebawah dari ruanganku, tapi saat lift terbuka, Pak Pandu sudah berdiri tegap sambil melipatkan kedua tangannya, ia mengenakan kaos putih, dengan balutan jaket hitam dan celana panjang santai, sungguh terlihat begitu tampan, hingga aku sempat tercengang sesaat
"kok kamu disini? kenapa nggak di kamar? " tanyanya
Aku hanya diam memandangnya, aku selalu suka dengan tampilan dia seperti ini, di banding saat dia mengenakan kemeja atau stelan kantor, lebih mirip om om
" kiand! " panggilnya, dia langsung menarik tanganku
"aduh duh...! " keluhku "bisa pelan gak, sakit tau"
"yah kamu, saya panggil malah bengong, kamu fikir saya hantu, sampai kamu tatap kaya gitu? "
"heheh... maaf! " ujar ku malu malu " abis ganteng " tambahku dengan nada pelan
"apa? kamu ngomong apa? " untunglah pak pandu tidak mendegarnya, kalau denger bisa terbang melayang tuh hidung
"enggak! itu a.. aku! Ahhh udah deh aku bosan di kamar mulu! "
"tapi kamu harus istirahat kiand! "
"pak pandu yang terhormat, mohon maaf! pak pandu bisa tanyakan pada perawat atau bahkan dokter ahli, kalau orang habis donor darah, tidak harus di rawat di rumah sakit, cukup kasih makanan bergizi enak dan mengenyangkan, maka kondisinya akan normal, jadi nggak perlu tuh bayar mahal-mahal buat buka kamar untuk aku istirahat, lagian ya! rasa bosan itu bisa mempengaruhi imunitas dan kondisi tubuh, apa lagi kalau saya sampai stress! yang ada saya bisa di rawat beneran, tapi nggak disini! " ujarku panjang lebar
"dimana? " tanyanya
"di rumah sakit jiwa! " jawabku asal.
" Kamu nggak usah khawatir, aku akan temani kamu meski harus di rumah sakit jiwa" ujarnya sambil berjalan santai menuju ruang perawatan
"bekas suntikan nya masih sakit? " tanya pak pandu
ku jawab dengan menggelengkan kepala, kami berdua duduk di sofa rumah sakit, sambil menghadap ke arah jendela
"perjalanan kita sangat melelahkan bukan? "
"sedikit...! "
"aku bersyukur bisa bertemu kamu, yah meski kesan awal pertemuan kita tidak terlalu baik" ujarnya.
"Pak Pandu yang buat kesan seperti itu! " sahutku
"sampai kapan, kamu manggil aku dengan sebutan pak? aku pacaran sama kamu, tapi seperti aku ini ayah kamu, orang akan berpikir aku setua itu, jadi tolong berhenti panggil aku pak! "
"heheh maaf! habis sudah terbiasa! rasanya aneh kalau aku panggil pacar atau apalah gitu! "
"lalu, apa kamu juga merasa aneh dengan hubungan kita? "
"sedikit....! "
Pak Pandu terdiam dan hanya menatapku, tatapannya semakin mendekat hingga aku tak bisa berkutik
(Apa dia akan mencoba mencium ku lagi? )
"au... auuu.... " perutku terasa sakit, seperti kram perut
Pak pandu sedikit terperanjat, wajah pak pandu yang awalnya mendekat, sekejap menjauh karena terkejut
"kenapa? " tanyanya panik
"perutku sakit! " jawabku
"perlu panggil dokter? "
"nggak usah pak, ini cuman siklus alam kok! " tolak ku. Dari kemarin aku memang merasakan nyeri di bagian perut, mungkin karena ini sudah masuk waktu siklus bulanan ku
"siklus alam? maksudnya? " pak pandu terlihat bingung dengan jawabanku
"ohh itu pak, siklus yang biasa terjadi pada wanita" rasanya terlalu intim jika aku perjelas
"memang ada siklus wanita? " dia semakin tidak paham dengan ucapanku, dan aku bingung bagaimana aku menjelaskannya
"ehh... sepertinya saya harus beli sesuatu" aku mulai merasakan kedatangan siklus bulananku, biasanya aku tak pernah melupakan hal itu, mungkin karena terlalu banyak masalah yang terjadi aku sampai melupakannya
"beli apa? biar aku yang beliin, kamu istirahat aja! " ujar pak pandu
(Bagaimana aku bisa minta tolong pak pandu membelikan pembalut, itu terlalu memalukan)
"nggak usah pak, biar saya yang beli! " tolakku malu-malu
"sudahlah nurut, biar aku saja yang belikan! " dia tetap mekasa, padahal dia belum tahu apa sebenarnya yang ingin aku beli
"hmmm pak pandu yakin mau belikan itu...... " aku saja tak sanggup mengatakan apa yang mau ku beli
"iya, bilang aja kamu butuh apa, biar aku yang belikan "
"sesuatu yang lembut seperti kapas... " ujarku memberikan sedikit gambaran
"ohh kamu butuh kapas, bilang saja... "
"bukan.. bukan... " sanggahku langsung " cuman mirip seperti kapas, tapi bukan kapas....! " jelasku lagi
"sesuatu seperti kapass....! " dia agak berpikir
"hmmm itu pak, yang sering di pakai wanita....! " aku kembali memberi clue
"ohhh iya aku tahu, ya sudah kamu tunggu disini, aku akan telpon jefry untuk membelikannya " dia mengangkat tubuhnya dan hendak beranjak, tapi dengan cepat aku menarik tangannya
"jangan jangan......! "
"kenapa? bukannya kamu butuh permen kapas? " aku cuman bisa tepuk jidat, aku pikir dia mengerti apa yang ku maksud "nggak perlu malu, kamu memang masih seperti anak kecil"
"bukan permen kapas pak pandu.....! " aku mulai kesal berbicara dengannya, kenapa dia bisa nggak paham apa yang aku maksud
"ohh salah? abis kamu nggak jelas, tadi katanya kapas, tapi bukan kapas! "
"permen kapas juga gak di pake wanita kali pak! " geramku
"lalu apa? " perkara beli pembalut aja, kita harus berdebat
"pem.. ba.. lut... " bisikku
"ohhhhhh......! bilang dong dari tadi! "
duhh dia nggak paham apa, kalau wanita itu tabu untuk mengatakan barang intim seperti itu
"ya sudah aku akan belikan, kamu tunggu disini! "
"pak pandu yakin? mau belikan barang itu ! "
(ohh tuhan dia kembali buat jantungku berdetak tak karuan..)
Aku tak henti-hentinya tersenyum, sampai aku tak menyadari jika noval dan Bu Bintang sudah masuk ke ruangan
"apa yang buat kamu tersenyum seperti ini kiand? " suara bu bintang berhasil membuatku terkejut
"kapan kalian masuk? " tanyaku bingung
"lo ampe nggak denger suara pintu sama langkah kaki kita? " tanya noval, yang sudah berdiri di samping sofa
"heheh maaf, gue terlalu happy " jawabku
"gimana kondisi kamu? " tanya bu bintang, dia langsung duduk di sampingku setelah menaruh tas kecilnya di atas meja
"baik bu, sebenarnya saya nggak papa, pak pandunya aja yang lebay " jawabku
"heheh pandu memang lebay, itu adalah bentuk sayangnya sama kamu! "
"tapi nggak lucu aja bu, cuman karena tranfusi darah, saya harus nginep di rumah sakit, saya khawatir sama ayah dan bi nur di rumah" ujarku
"tenang, noval udah kasih tahu mereka, dan arga juga sudah di sana temani mereka"
"mereka baik-baik ajakan val di apartemen? " tanyaku
"lo nggak usah khawatir, mereka aman ! "
Aku sedikit lega mendengarnya, karena aku khawatir dengan kesehatan ayah, jika dia tahu kalau aku di rawat padahal aku baik-baik saja
"ohh ya, ada kabar baik, tapi ada kabar buruk juga! " kata bu bintang, dari mimik wajahnya kabar buruk ini sedikit serius
"kabar baiknya apa? kabar buruknya apa? " tanyaku
"pak wijaya, dan monic sudah di amankan polisi! " ujar bu bintang
"lalu Dian?" aku teringat, dian pun ada di balik masalah ini
"Nah itu, dian berhasil kabur, polisi lagi berusaha cari keberadaan dian, tapi belum terlacak" jawab bu bintang
"dari awal gue nggak suka tuh ngeliat dia" sahut noval
Selama ini aku merasa sifat noval lebih dingin, dia hanya bicara seperlunya padaku, padahal dulu hubungan kita hangat, aku menatap wajah noval sesaat, tatapanku pun di sadari oleh bu bintang
"ada apa dengan kalian? " tanya bu bintang
"hah... siapa? saya? " tanyaku berlagak bego, padahal jelas bu bintang menanyakan aku dan noval
"yah... kalian! kalian terlihat seperti orang asing! " jawab bu bintang "sepertinya aku harus memberi waktu untuk kalian bicara"
"nggak perlu bu, kita baik-baik aja kok! " jawabku, tapi noval hanya diam
"kamu yakin? tapi sepertinya pria angkuh itu tidak baik-baik saja" ujar bu bintang, sambil menatap ke arah noval yang hanya berdiri di sampingku sambil sesekali melihat ke arah jendela
"lo ada masalah val? " tanyaku
"udah, kalian bicara aja dulu, saya tinggal ya! "
Bu bintang meninggalkan ruang rawat, memberi waktu untukku bicara berdua dengan noval.
suasana terasa canggung, entah kenapa ada rasa bersalah yang terus menyelimuti perasaanku, apa mungkin karena aku tahu noval masih mencintaiku ?
"lo nggak papa? " tanya noval. aku merasa dia sedang mengatasi rasa canggungnya sama seperti aku
"baik! gue nggak papa kok! " jawabku "lo mau berdiri aja? "
"kalau gue duduk nanti ada yang marah" jawabnya
"apa sih lo! udah duduk! " aku menarik tangan noval hingga dia terjatuh di sofa, persis di sampingku
"thanks ya, lo masih selalu ada buat gue" ucapku
"yah, sama-sama, " jawabnya dengan sedikit senyum
"keluar dari rumah sakit, gue mau main ke rumah lo, gue kangen sama nyokap lo" ujarku berusaha tetap biasa biasa aja
"yah boleh, asal dapet ijin aja dari bodyguard lo" jawabnya
"maksud lo pandu? "
"menurut lo ada yang lain? "
"ahh lo val, jangan gitu, gue makin nggak enak ma lo"
"kenapa harus nggak enak, dari awal perasaan lo bukan buat gue kan? gue cuman sahabat lo, dan nggak akan lebih! "
"val...! " aku merasa semakin menyakiti hati noval kali ini
"udahlah ki, gue emang belum bisa terima itu bukan karena lo lebih milih pandu, tapi karena lo selalu berujung bahaya gara-gara dia! "
"gue aman kok val! "
"menurut lo, tapi nyatanya? " noval tampak kesal
"nyatanya apa? " tanya pak pandu tiba-tiba
"pak pandu? " lagi-lagi aku di buat terkejut, sepertinya harus ada bel di depan pintu kamar vip, biar aku sadar kalau ada seseorang yang masuk
"nyatanya apa? " tanyanya lagi. Dia berjalan mendekat dengan membawa sebuah plastik putih
"eng... i... itu! "
"nyatanya kiand selalu dalam bahaya kalo sama lo! " jawab noval
(Aduhhhh sepertinya akan ada perdebatan lagi, antara pak pandu sama noval )
"maksud lo apa? " pak pandu berjalan mendekati noval, sedang noval sudah dalam posiai berdiri
"aduh aduh... udah deh, ini rumah sakit jangan ada perdebatan! " lerai ku
"dianya duluan, apa maksud omongannya, kalau lo cemburu dan nggak suka bilang aja, nggak usah nyudutin gue! "
"loh, bukan memang seperti itu, berapa kali kiand menderita karena lo? "
"val, please kayanya itu nggak baik buat kita bahas, semua terjadi bukan karena siapa-siapa? " aku berusaha menenangkan noval
"oke, kali ini pemikiran gue salah! sorry....!" noval berjalan meninggalkan ruangan, lagi-lagi aku menyakiti hatinya padahal maksud ku bukan seperti itu