For A Great Love

For A Great Love
episode 56 kebernian



Masih terlihat dua body guard itu menjaga kamar Pak Pandu, akan sulit untuk kita bisa masuk ke dalam.


"Kalian tunggu disini! " titah Pak Yoga padaku dan Kak Nanda, ia berjalan mendekat menuju kamar rawat Pak Pandu sedang aku dan Kak Nanda menunggu di sebuah kursi panjang yang tak jauh dari meja perawat


Aku hanya melihat Pak Yoga dan Pak jefry tengah berdebat dengan kedua bodyguard itu, entah apa yang mereka sedang bicarakan tapi melihat dari raut wajah mereka sepertinya akan sulit untuk kita bisa masuk ke ruang rawat Pak Pandu.


Saat kita tengah menunggu ponselku berdering, ternyata Pak Pandu menghubungi dari tadi, tapi aku tidak mendengarnya


"Siapa? " tanya Kak Nanda yang duduk di sebelahku.


"Pak Pandu.. " jawabku dan langsung menjawab panggilannya


"Kiand" sapa pak pandu dari balik sambungan telpon


"Iya pak, saya udah ada di depan kamar rawat Pak Pandu, tapi sepertinya dua bodyguard itu nggak ngebiarin kita masuk" jelas ku


"Iya saya sudah dengar dari sini, Reina juga nggak ada saya pun nggak bisa apa-apa, mereka sangat keras kepala dan menyebalkan" ujar Pak pandu dengan nada menyesal


"Nggak Papa pak, kita bis tunggu Pak Pandu di luar" aku mencoba menenangkan


"Ya udah, sebentar lagi papi dan mommy akan datang, kamu langsung hubungi saya kalau mereka melakukan sesuatu sama kamu! "


"Iya pak! " Jawabanku mengakhiri percakapan kami melalui sambungan telpon.


Aku melihat Pak Yoga dan Pak jefry berjalan kearah kami, yah..mereka gagal merayu dua bodyguard itu, dan alhasil kami hanya bisa menunggu di kursi tunggu.


Kondisi rumah sakit, di lorong VIP tidak begitu ramai, hanya ada tiga perawat yang berjaga di meja, mereka menatap kami seolah penuh tanya, apa yang membuat kami hanya menunggu disini dan tidak di perbolehkan masuk.


Aku , Kak Nanda, Pak Yoga dan Pak jefry hanya bisa duduk dan menunggu, cukup lama sampai akhirnya kami melihat keluarga Pak Pandu keluar dari lift.


Aku tahi ini bukan ide yang bagus, bertemu mereka sama saja aku menyerahkan diriku untuk menerima cacian dan makian, tapi demi pak pandu apapun akan aku hadapi.


Langkah mereka terhenti tepat di depan kami, Bu Bintang yang dulu terlihat ramah, kini berubah matanya penuh kebencian saat kami saling melempar pandangan. Hanya Reina yang memberi senyuman padaku.


"Kak Kian udah lama? " sapa Reina


"Reina... kamu masuk duluan! " titah Ibunda Pak Pandu saat Reina hendak menghampiriku


"Momy...! " protes Reina


"Momy bilang kamu masuk duluan! "


"Om Tante, kami hanya ingin melihat keadaan Pandu.. " Ujar Pak yoga


"Pandu baik-baik saja, dan dia sudah di perbolehkan pulang, jadi kalian sudah bisa pergi dari sini! " ucapnya begitu tegas dan tanpa senyum


"Kalian paham kan dengan kata, hanya keluarga yang boleh menjenguk pandu! " tambah Pak Candra tak kalah tegas


"Om, Tante... tapi pandu yang menghubungi kami untuk menjemputnya" sahut Pak Jefry, Aku hanya berdiri menunduk, sambil terus memegang tangan kak nanda


"Pandu kan bukan saya! " sahut Pak Bagaskara


"Sudah kami tidak ada waktu untuk berdebat dengan kalian, jadi sebaiknya kalian silahkan pergi! "


"Papi.... " teriak pak Pandu dari kamar rawatnya, ia hendak berlari ke arah kami, tapi segera di hadang oleh kedua body guard "Lepas... apa-apaan sih ini! " Pak Pandu terus berontak, aku tak tega melihatnya,


"Pandu masuk! " teriak Pak Bagaskara


"pandu nggak mau masuk, pandu yang menyuruh mereka dateng kesini! " teriaknya membuat lobby VIP terdengar ricuh


Melihat keadaan seperti ini, aku merasa tak bisa diam saja " Pak, Bu, mohon maaf jika saya lancang, saya kesini hanya ingin melihat kondisi pak pandu, Dan memastikan pak pandu baik-baik saja, saya akan merawat pak pandu hingga pulih, semua yang terjadi karena saya"


"Sadar kamu sama ucapan kamu? " sahut Pak Candra


Aku menoleh kearah pak pandu uang masih berdiri di depan pintu, kedua tangannya di tahan oleh para bodyguard.


"Saya sudah melakukan kesalahan dengan meninggalkan Pak Pandu, Saya tidak akan melakukannya lagi, apapun yang terjadi meski kalian mengusir saya, saya akan tetap disini, di samping Pak Pandu! " ucapku lantang bahkan mampu membuat semua tercengang


"Dasar perempuan tidak tau diri... " Ucap Ibunda Pak Pandu di ikuti sebuah tamparan keras yang mendarat di pipi kiri ku, Aku melihat pak pandu sekuat tenaga melepaskan cengkraman kedua body guard itu dan berlari kearah ku


"Ki.. kamu nggak papa? " Dia begitu khawatir saat Ibunya menamparku, "Mi, apa yang momy lakukan? "


"Dia terlalu lancang pandu!" ujar sang ibu "itu hanya sebuah peringatan, jika dia tidak pantas untuk kamu...! "perempuan berambut ikal, dengan gaya pakaian yang elegan itu menatapku dengan kebencian


Kak nanda menggenggam tanganku erat, sedang Pak Pandu merangkul ku, mereka berusaha menguatkan ku " Saya sadar, mungkin saya bukan terlahir sebagai orang kaya atau yang sederajat dengan keluarga anda, dan jika itu alasan saya tidak pantas untuk pak pandu saya tidak akan pernah menyerah untuk tetap disisinya, Saya percaya, saya bisa membuat Pak Pandu bahagia dan melupakan rasa sakit dari masa lalunya, yang justru kalian abaikan" Sindir ku, kedua Mataku menatap Bu Bintang


"Jaga ucapan kamu, dasar wanita murahan! " Sahut Pak Candra kesal,


"Kak! yang seharusnya jaga ucapan itu kakak" Balas pak Pandu,


"Sudah.. sudah...! ini rumah sakit, kalian hanya akan mengganggu pasien yang lain, lebih baik kita bicarakan di dalam" Pak Bagaskara berjalan menuju kamar rawat di ikuti sang istri, anak dan mantunya.


Aku masih berdiri mematung, butuh keberanian saat aku menatap mata mereka, terlebih saat harus membalas ucapan wanita sihir itu.


"Kamu nggak papa? " Pak Pandu menyentuh kedua pipiku, "Maaf, kamu harus merasakan tamparan itu lagi! " ucapnya Ku lemparkan senyum, agar pak pandu mengerti jika aku baik-baik saja, aku tak ingin dia terlalu mengkhawatirkan ku


"Ayo, Pak Bagaskara pasti sudah menunggu kita! " Ajakku pada Pak Pandu dan yang lainnya.


Pak Pandu tidak melepaskan genggamannya, dia tetap menjagaku dan selalu memastikan aku aman di belakangnya, Pak Yoga, Pak Jefry dan Kak Nanda memilih untuk tetap di luar.


Saat kami masuk suasana kembali menegang, mereka menatapku persisi seperti kelompok singa yang siap menerkam, Pak Candra tengah duduk di sebuah sofa, di temani Bu Bintang di sampingnya. Bu Bagaskara dan Reina dudu di sofa lainnya, sedang Pak Bagaskara, berdiri menghadap pintu masuk.


"Jadi apa keputusanmu? " tanya Pak Bagaskara, matanya begitu lekat memandang kami, kedua tangannya ia lipat dan menaruhnya di dada


"Pandu akan pulang ke apartemen! " jawab Pak Pandu,


"Hanya karena wanita ini kamu mengacuhkan kami keluargamu? " ujar Sang ibu


"Maaf mi, tapi Pandu lebih nyaman bersama dengan Kiand, dari pada Pandu harus pulang ke rumah


" Saya akan menjaga Pak Pandu dengan baik, kalian tidak perlu khawatir" ujar ku. aku masih berdiri di belakang pak Pandu, dia masih menggenggam tanganku, dia melindungi ku dari amukan para serigala di hadapanku


"Justru kami khawatir karena kamu yang menjaga pandu! " ujar Bu Bintang,


" Yang kalian khawatirkan bukan keadaan Pak Pandu, tapi perasaan Pak Pandu" seru ku.


"Anak ini begitu menyebalkan membuatku sakit kepala" gumam Ibunda Pak Pandu sambil mengelus kepalanya


"Mi, pi, tolong pandu minta untuk kali ini saja, biarkan pandu bahagia, selama ini pandu sudah menyerahkan kebahagiaan pandu, dan untuk kali ini pandu tidak akan melakukan hal itu lagi, kiand begitu berarti untuk pandu, dan dialah kebahagiaan pandu saat ini. "


"Pandu! masih banyak wanita yang lebih baik dari dia, kenapa harus dia!? " tanya sang ibu


"Jika kian bisa membuat pandu bahagia, apa perlu pandu cari wanita lain? " pak Pandu balas bertanya


"Jika itu keputusanmu, silahkan lakukan yang menurutmu baik, tapi satu hal yang kamu harus ingat, sampai papi mati, papi tidak akan pernah merestui hubungan kalian" Ucapan itu bak gemuruh petir di siang bolong, terdengar menggelegar, dan menghancurkan hatiku hingga berkeping-keping , perkataan seorang ayah untuk putranya, dan jika kami tetap bertahan apa mungkin kita akan bahagia?


"Ayo kita pulang, percuma kita jemput dia! " Pak Candra bangkit dari sofa dan mengajak yang lainnya pergi, tapi tidak dengan Reina


"Reina tetap disini! " ujarnya membuat yang lainnya tercengang


"Reina, apa maksud kamu? " tanya Pak Candra


"Reina akan tetap menjaga Kak Pandu! " jawabnya


"Tidak! kamu harus ikut pulang" Pak candra berjalan ke arah Reina, dan memaksanya