For A Great Love

For A Great Love
episode 33 ke khawatiran kiand



Tadi itu benar-benar membuat perasaan ku tak karuan, sedikit senang, tapi sedikit kesal.


"Aghhhh" teriakku kesal saat aku sampai di ruangan, beberapa orang melihatku seperti orang aneh


"Syuuut....! berisik ! " ujar Kak Nanda "lo kenapa? masih waraskan? " tanyanya sambil memegang keningku


Ku angkat kepalaku, air mata seakan sudah ingin tumpah ruah di mataku.


"Kakak.. gue pengen nangis" ucapku sambil mengibaskan tangan ke arah wajah


"Kenapa? " tanya Kak Nanda, kali ini aku sukses menjadi pusat perhatian para karyawan lain


"Pantry yuk? " ajakku


Aku dan Kak Nanda berjalan menuju Pantry. Sesampainya di Pantry aku menangis di pelukkan Kak Nanda


"Kakak... " ucapku


"Lo kenapa sih? " Kak Nanda yang tidak mengerti dengan masalahku semakin bingung


"Gue sebel, sebel, gue nggak tahu harus gimana? " ujarku masih menangis dalam pelukan kak Nanda. Kak Nanda melepaskan pelukannya dan menatapku.


"Sekarang lo tenang dulu! tarik napas.... buang! " titahnya. Aku mengikuti perintah Kak Nanda, dan itu mbuatku sedikit tenang.


"Duduk.... " Kak Nanda memintaku duduk di kursi, karena ruangan pantry juga tidak luas, jadi hanya ada satu kursi, yang biasa di gunakan para ob jika sedang istirahat "Ada apa? " tanya nya


"Gue tadi ketemu Pak Pandu...! " ucapku, dan kembali membuatku ingin menangis


"Ya ampun Kiand, gue pikir lo kenapa? cuman ketemu Pak Pandu lo sesedih ini? "


"Tapi kak, tadi itu Pak Pandu nyamperin gue! " aku masih terisak


"terus? " tanya Kak Nanda yang berdiri di hadapanku, dengan kedua tangan terlipat dan menaruhnya di dada


"Gue udah berusaha jutek sama dia, tapi pas gue liat tatapannya, rasanya gue pengen peluk dia" tangisku kembali pecah


"Aduhhh Kiand.....! ceritanya jangan sambil nangis, nanti Pak Darma denger... " Kata Kak Nanda


"Abis Gue nggak kuat kak! dia ganteng banget.... " ujarku


Kak Nanda hanya melihatku sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya


"Baru sadar kalau Pak Pandu ganteng! " ledeknya


"Uhmmm huum" jawabku


"Lagian ngapain sok jual mahal sih, kalian baikan aja! " ujar Kak Nanda


"Nggak! kakak nggak inget kemarin gue cerita, gimana Pak Candra caci maki gue di depan orang banyak, bayangkan dimana harga diri gue, kalau gue masih bersikap baik sama Pak Pandu, lagian gue juga malu, gue udah bilang kalau gue cinta sama dia" jelasku


lagi-lagi respon Kak Nanda hanya tertawa " ya udah sekarang lo harus tahan harga diri lo, jangan terpengaruh sama wajah gantengnya Pak Pandu, kalau perlu pas lo liat Pak Pandu, bayangin aja kalau Pak Pandu badut"


"Kakak.....! " aku mengusap air mataku, dan kembali merapikan baju


"udah nangisnya? " tanya Kak Nanda


"Udah.... " jawabku


"Ya ampuunnn kalian disini ternyata" Aku terkejut saat akan keluar Pantry tiba-tiba wajah Dian sudah berada di hadapan kami


"Astagfirullah dian! main nongol aja kaya demit" sahut Kak Nanda


"Abis gue cari-cari nggak ada, Lo sama kiand di panggil Pak Darma ke ruangannya" jelas Dian


Aku dan Kak Nanda saling menatap, perasaan kerjaan aku udah seleaai, begitupun Kak Nanda


"Ngapain Pak Darma? " tanya Kak Nanda


"Mana gue tahu... " Jawab Dian sambil berlalu pergi


Aku dan Kak Nanda, langsung menuju ruangan pak darma


tok tok tok ku ketuk pintu ruangan Pak Darma


"Masuk" suara Pak Darma dari dalam


aku dan Kak Nanda masuk perlahan, Pqk Darma sudah memasang wajah Kesal


"Permisi pak! " kata ku dan Kak Nanda


"Duduk! " titahnya


Dia terlihat sedang membaca proposal kerja yang ku ajukan kemarin, dari raut wajahnya terlihat sekali dia sangat kecewa,


Brakkkkk Pak Darma melempar proposal di tangannnya persis depan ku dan Kak Nanda


"Proposal apaan itu? " teriak Pak Darma


Nyaliku menciut, aku dan Kak Nanda hanya tertunduk


"Saya sudah bilang, buatkan denah dan bentuk sedetail mungkin! " tambahnya


"Maaf Pak ini saya sudah buat sedetail mungkin! " aku memberanikan diri menunjukan gambar yang sudah ku buat


"Detail mana? ini ukurannya berapa? dan ini, estimaai biayanya juga nggak maauk akal, kamu mau aku di tuduh gelapain uang perusahaan! " lanjut Pak Darma


Perasaan aku sudah buat sesuai dengan survei kemarin, dan itu pun tidak aku lebihkan pikirku


"Maaf pak, untuk estimasi biaya, itu sudah kami survei... " jelas Kak Nanda


"Model kaya gini kamu bilang sudah survei? lihat estimasi biaya yang kalian tulis, hampir masuk ke angka 800juta satu proyek, sedangkan saya menghitung cukup dengan 500-550 juta "


Aku dan Kak Nanda saling bertatapan, bukannya kita menulis estimasi juga di harga segitu


"Maaf pak! saya sudah tulis estimasi biaya sesuai yang bapak hitung" jawabku


Pak Darma mengambil lagi proposal yang dia lempar, "Ini lihat, apa mungkin saya salah melihat angka ini" Dia menunjuk sebuah angka 800 juta di kertas proposal


Siapa yang merubah proposal ku gumamku


"Pak ini bukan proposal kita! " ujar Kak Nanda


"Gimana mungkin bukan proposal kalian,? " Pak Darma membuka cover depan jelas tertulis namaku dan Kak Nanda di sana "Ini nama siapa? " tanya Pak Darma


Ini pasti ada yang nggak beres, ada yang mencoba mengganti proposal yang aku Dan Kak Nanda buat, tapi apa maksudnya? pertanyaan itu muncul di kepalaku


Saya minta segera revisi, besok pagi sudah ada di meja saya' pinta Pak Darma "Sekali lagi kamu mengulang kesalahan yang sama, maaf tidak ada kesempatan untuk kalian"


"Ki, lo nggak papa? " tanya Kak Nanda saat kita berjalan keluar


"Ada yang nggak beres kak, kemarin jelas gue masukin anggaran nggak sebesar itu! " ujarku


"Iya, gue ngerasa itu bukan proposal kita" sahut Kak Nanda


Kami berjalan lemas menuju meja kerja, apa mungkin ini ada hubungannya dengan Pak Pandu, tapi untuk apa?


"Sabar ki, tinggal revisi, kita kerjain hari ini" ujar Kak Nanda


"Iya kak, maaf ya kak, gara-gara gue lo jadi ikutan kena"


"Itukan kerjaan berdua, jadi resiko kita tanggung berdua" jawabnya


Beruntung sekali aku memiliki partner seperti Kak Nanda, mungkin karna umurnya juga yang sudah dewasa, dia lebih bijak dalam melakukan sesuatu.


Sesuai permintaan Kak Nanda, kita mengerjakan proposal di apatmenku, Dian yang mendengar kak Nanda akan menginap, tak ingin ketinggalan.


"Gue ikut! " ujarnya cepat


"Ya udah, kita lembur hari ini" semangat Kak Nanda menggebu.


Kami pulang ke apartemen, sebelum pulang, Kak Nanda berinisiatif untuk membeli beberapa bahan makanan yang bisa kami olah di apartemen, maklum kita akan kerja keras malam ini, butuh asupan makanan yang mencukupi.


Sesampainya di apartemen, kami di sambut oleh Arga, anak itu sudah lebih dulu sampai.


"Udah makan Ga? " tanyalu


"Belum kak, arga lagi ngerjain tugas" jawabnya dan kembali ke kamar


"Ki, ini bener apartemen lo? " tanya Dian saat melihat interior kamarku yang serba mewah


"Bukan! mana sanggup gue bayar nih apartemen! " jawabku


"Jadi bener apartrmen ini punya pak pandu? " tanya kak Nanda


"Yah sperti itu, lebih tepatnya Pak Pandu menyewa apatmen ini buat gue" jelasku


"Terus kenapa lo harus pindah, kalau gue jadi lo, gue bakal tetep tinggal disini" sahut Dian sambil berjalan ke arah sofa


"Pak Pandu nyewa apartemen ini cuman buat nutupi indentitas gue, yang kenyataannya adalah orang miskin" Sebenarnya aku sudah tak ingin memikirkan Pak Pandu, tapi rasa itu seperti sudah tertanam dan sulit untuk ku buang.


"Kiand.... Kak Nanda dan Dian merangkulku bersamaan


" Sabar ya! " tambah Kak Nanda


Tak ingin berlarut dalam kesedihanku, aku, dian dan kak nanda, membuat beberapa camilan yang bisa kami makan saat kami bekerja, saat kami tengah asik memasak terdengar ketukan pintu


"Siapa Ki? " tanya Kak Nanda,


Aku menaikan bahuku, tapi entah kenapa yang terlintas di kepalaku adalah Pak Pandu. Aku segera membuka pintu dan ternyata Pak Jefry, saat melihat sosok nya berdiri di hadapanku jujur aku sedikit kecewa.


"Ehh Pak! ada apa ya? " tanyaku


"Lo nggak suruh gue masuk dulu? " tanya Pak Jefry


"Ohh iya, masuk masuk.... " titahku


"Eits lagi rame kayanya! " sahutnya saat melihat Kak Nanda dan Dian di dapur


"Iya Pak, saya lagi lembur" jawabku


"Ohhh, ganggu dong nih! " ujar Pak Jefry yang langsung duduk di sofa


"Nggak kok pak, bentar saya buatin minum dulu! "


"Nggak usah Ki, gue sebentar kok! " tolak Pak Jefry


"Ohhh...! " aku kembali duduk menemani Pak Jefry, sedang Kak Nanda dan Dian melanjutkan masakannya


"Gue denger lo mau pindah? " tanya Pak Jefry


"Pasti dari Pak Pandu! " tebak ku


"Emang ada lagi selain Pandu yang ngomongin lo? " sahutnya sukses membuatku senyum senyum sendiri


"Iya pak! saya mau pindah, ini kan apartemrn yang sewa Pak Pandu, buat nutupin identitas saya di depan Pak Candra, sekarang Pak Candra udah tahu, jado saya nggak punya hak tinggal disini" jawabku


"Mang rencana lo mau pindah kemana? " tanya Pak Jefry


"Masih nyari pak, belum tahu" jawabku


"Nggak usah pindah kali Ki, disini aja! mang lo nggak takut mommy jasmine nyariin lo lagi? "


"Yah takut Pak, tapi saya lebih takut kalau Pak Candra tahu saya tinggal disini" jawabku


Pak jefry hanya tertawa kecil mendengar jawabanku


"Pandu lagi taruhan sama Candra " aku sedikit terkejut mendengarnya,


"Taruhan apa? " tanyaku


"Candra nantang Pandu buat nyelesein proyek yang di surabaya, yang sekarang mangrak karena banyak kasus m" jawab Pak Jefry


"Terus? emang Pak Pandu bisa? " tanyaku


"belum tahu, dia aja bingung" jawabnya sambil tertawa


"Kalau pak pandu nggak bisa gimana? " tanyaku penasaran


"Dia keluar dari perusahaan! " nggak tahu kenapa, aku merasa aku khawatir pada Pak Pandu, rasa nggak rela aja,


"Sekarang dia dimana? " tanyaku


"ada di kamar, lagi sama yoga! " jawab Pak jefri


Niatnya aku ingin menemui Pak Pandu tapi sudah ada Pak Yoga disana, jadi ku urungkan saja, toh aku juga nggak mau seolah aku perhatian lagi sama Pak Pandu


"Ohh ya, gue ada temen yang punya kontrakan, kalau lo belum dapet nanti gue tanyain sama fia, "


"Ohh iya pak siap, makasi ya..! maaf ngerepotin"


"Ya udah, gue balik ke kamar Pandu lagi ya, gue cuman mau tanya itu aja" ujar Pak Jefry sambil beranjak dari kursinya .


Tak bisa ku tutupi lagi, aku memang mengkhawatirkan Pak Pandu, tapi apa yang harus ku lajukan?