
POV Kiand
Suara alarm terdengar begitu nyaring, memaksaku bangun dari tidur yang nyenyak
ini pasti kerjaan Arga nih gumamku kesal, dengan mata yang masih mengantuk aku mencari keberadaan ponselku untuk melihat jam berapa sekarang. Jam masih menunjukan pukul 4 dini hari, pantas saja mataku masih terasa lengket.
"Arga... arga bangun!! " aku menggoyangkan tubuh arga yang berbaring di sampingku, di apartemen ini memang ada dua kamar, tapi entah kenapa arga selalu memilih tidur bersamaku.
"Hmmmm... " dia hanya menggeliat dan kemudian kembali tidur
"Hey, kamu nyalain alarm buat apa jam segini? " tanyaku
"Emang jam berapa? " tanya arga dengan nada yang masih mengantuk
"Jam 4 " jawabku, aku masih duduk di atas kasur, dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhku, sambil mengucak mata.
Prank!!!!! terdengar suara pecahan gelas dari kamar Pak Pandu. Arga yang setengah tersadar langsung terbangun dan menrubah posisi terbaring menjadi duduk, kami saling berpandangan
"Itu kamar Pak Pandu kak! " ujar Arga
Aku mengangguk, dan melempar selimutku, lalu berlari keluar,
Ku ketuk pintu kamar Pak Pandu sambil memanggilnya, tapi Pak Pandu masih belum juga keluar, aku semakin khawatir, apa sebenarnya yang terjadi di dalam. Aku kembali mengetuk pintu dan memanggil namanya, kali ini ketukan ku semakin keras, dan tak lama akhirnya Pak Pandu membuka pintu, aku melihat wajah Pak Pandu yang begitu pucat
"Saya mendengar suara pecahan... " belum selesai aku bicara, tubuh Pak Pandu jatuh mengenai bahuku , dengan cepat ku tahan tubuhnya.
"Pak.. Pak Pandu, Pak Pandu kenapa? tolong... Arga, siapa saja tolong" Aku berusaha menahan tubuh Pak Pandu, sampai Arga datang menghampiriku, dan beberapa penghuni apartemen keluar setelah mendengar teriakanku
"Arga, tolong bantu kakak bawa masuk Pak Pandu" pintaku
"Mbak langsung bawa ke klinik bawah aja! " ujar salah satu penghuni apartemen yang ikut membantu
"Ya sudah, tapi kita perlu kursi roda" jawabku Tubuh Pak Pandu masih berada diatas pangkuanku, kenignya terasa begitu panas,
"Pak, Bangun Pak... " aku masih berusaha menyadarkannya
"Kak ini kursi rodanya" Arga berlari ke arahku setelah mengambil kursi roda yang memang di siapkan oleh pihak apartemen di setiap lantai
Beberapa orang membantu mengangkat Pak Pandu dan memindahkannya ke kursi roda, Aku , Arga dan dua orang lainnya, membawa Pak Pandu ke klinik yang berada di lantai bawah, ke khawatiran ku semakin dalam, saat Pak Pandu masih tidak sadarkan diri, bahkan aku sampai menangis sambil terus menyebut namanya, entah kenapa saat itu aku takut kehilangannya.
Sesampainya di Klinik seorang perawat membawa Pak Pandu ke ruang pemeriksaan, sedang Aku dan Arga hanya di perbolehkan menunggu di luar
"Mbak saya balik ke apartemen ya! " ujar salah satu penghuni apartemen yang membantuku tadi
"Baik mas, terima kasih ya! " ucapku sambil menundukan kepala
Aku duduk di sebuah kursi dengan cemas, Arga terus menenangkanku dengan mengelus bahuku
"Dia nggak papa kok kak! " ujar Arga
Aku berharap seperti itu, tapi tadi itu wajah Pak Pandu sangat pucat, apa sebenarnya yang dia kerjakan hingga membuat tubuhnya lemah.
pintu ruang perawatan pun terbuka, seorang pria mengenakan seragam dokter keluar dari ruang perawatan, dengan cepat aku menghampirinya
"Dok! bagaimana kondisinya? " tanyaku gelisah
Dokter itu hanya tersenyum " Tenang, pandu baik-baik saja, dia hanya kelelahan dan sepertinya dia melupakan mengisi perutnya sehingga asam lambungnya kumat" ujar dokter yang merawat Pak Pandu.
"Ohh syukurlah... " aku mengelus dada, akhirnya aku bisa bernapas lega, setelah beberapa menit napasku terasa sulit karena begitu mengkhawatirkan Pak Pandu "Boleh saya melihat Pak Pandu? " tanyaku
"Boleh, tapi saat ini dia belum siuman" ujar Dokter tersebut
"Baik terima kasih dok! " Dokter yang ku tahu bernama Parsaetya itu berjalan meninggalkanku dan Arga
Arga pamit lebih dulu karena ingin mengerjakan tugasnya, sedang aku tetap berada di ruang perwatan, menjaga Pak Pandu. Aku sama sekali tidak ingin beranjak dari sampinganya, ku genggam erat tangan Pak Pandu yang masih terasa hangat, sebelumnya dokter memintaku untuk mengompres keningnya agar demamnya cepat turun.
Saat aku hendak menaruh handuk kecil di kening Pak Pandu, Pak Pandu terbangun seperti terkejut hingga kepalanya beradu dengan keningku.
Dengan cepat Pak Pandu bangkit dan membalikan badannya ke samping dimana aku duduk " Maaf Kiand, kamu nggak papa? " ujar Pak Pandu, dia terlihat begitu menyesal.
"Pak Pandu sengaja ya? " tanyaku kesal, aneh sekali perasaan baru tadi dia begitu lemas, dalam hitungan jam dia tampak begitu segar.
"Kamu.. nggak papa? " tanyanya lagi
"Iya aku nggak papa! " jawabku sambil bangun dari kursi
"Maaf... " ujar Pak Pandu.
"Apa sebenarnya yang sedang Pak Pandu kerjakan? kenapa begitu sibuk, sampai Pak Pandu lupa makan" ujarku dengan nada kesal
Pak Pandu hanya tersenyum menatapku dari ranjangnya
"Saya tidak punya pilihan lain Ki, Saya harus bekerja keras agar saya tetap berada disini" ujar Pak Pandu dengan nada memelas
"Tapi tidak dengan melupakan makan dan bekerja seharian kan? " tegas ku
"Besok saya sudah harus bertemu beberapa utusan perusahan yang akan mem persentasi kan proposal nya, jadi hari ini saya sudah harus selesai memilih perusahaan mana yang layak untuk perusahaan bagaskara " jelasnnya
"Tunggu disini, saya akan pergi sebentar... " pintaku, aku berbalik membelakangi Pak Pandu hendak meninggalkannya, namun saat aku akan melangkah tangan Pak Pandu menahan tanganku membuat ku berbalik menatapnya
"Kiand, terima kasih kamu masih perduli sama saya! " ujar Pak Pandu "Untuk kejadian kemarin saya minta maaf, Bintang datang hanya untuk mengatakan jika dia sudah tidak bisa lagi mendukungku, dan pelukan itu, itu tanda pelukan perpisahan, jadi tidak berarti apa-apa kamu jangan salah paham." perkataan Pak Pandu seperti sebuah penjelasan, entah kenapa aku begitu senang mendengarnya dan penjelasan seperti ini yang aku inginkan mungkinkah aku sudah mencintai Pak Pandu? apa mungkin perasaan kesal kemarin itu adalah bentuk kecemburuanku?
"hmm... " ku anggukan kepalaku dengan memberikan senyuman kecil, aku begitu tersanjung saat ini tapi aku tahu diri, Pak Pandu bukanlah Pria yang bisa aku cintai, kasta kita berbeda, dan aku tidak mungkin bisa menggantikan Bu Bintang di hatinya, walau Pak Pandu berusaha untuk itu tapi akan sangat sulit.
"Kiand! " Pak Pandu masih menggenggam tanganku, meski aku berusaha melepaskannya, dia turun dari kasur dan berdiri tepat di hadapanku, dengan tangan yang masih terinfus, "Kiand, saya tahu mungkin ini tidak akan mudah buat kita, akan banyak pertentangan yang terjadi, tapi saya mohon tetaplah berada disisiku...! " ujarnya
"Maksud bapak? " tanyaku
"Saya ingin kamu tidak pergi Ki! " aku baru melihat Pak Pandu selembut ini, matanya seakan menggambarkan sebuah permohonan,
"Maaf Pak, saya tidak bisa! " tolakku
"Kiand, saya tahu kamu sakit hati dengan perkataan Kak Candra, saya mohon jangan dengarkan dia, fokus saja padaku, aku ingin hubungan kita bukan hubungan yang pura-pura... "aku terkejut, Pak Pandu mengatakan hal itu, jika boleh jujur aku merasakan hal yang sama, tapi.... dunia kita berbeda, aku sadar diri aku siapa dan Pak Pandu siapa, akan sulit kami menjalani perbedaan ini
" Maaf Pak, tolong lepaskan tangan saya" pintaku, Pak Pandu pun melepaskan genggamannya, dia masih berdiri menatapku, aku sendiri hanya menunduk tak mampu menatap matanya.
" Kamu mau kemana? " tanya Pak Pandu
"Saya akan ambil beberapa proposal yang sedang Pak Pandu kerjakan, saya akan membantu bapak, berapa sandi kamar Pak Pandu? "
"1319" Pak Pandu menyebutkan 4 angka " Aku mohon jangan terlalu lama, dan cepatlah kembali... " ujarnya
"Siap... wakil presdir" ledekku. ku balikan badanku dan hendak berjalan keluar, aku tidak tahu jika Pak Pandu mengikuti ku, hingga selang infusnya tertarik
"Au.... " teriaknya. aku segera berbalik dan mendekati Pak Pandu yang berdiri di belakangku
"Duduk duduk dulu pak" aku memintanya duduk di ranjang sambil mengelus tangannya yang terpasang infus "Sakit ya? " tanyaku
Dia tidak menjawab, dia hanya tersenyum menatapku.
"Kenapa senyum senyum? " tanyaku kikuk
"Kamu nggak jadi pergi? " tanyanya
"Nanti biar ku suruh arga saja yang ambil proposal nya, saya akan tetap disini menemani Pak Pandu" jawabku
Pak Pandu tersenyum sambil menganggukan kepala, menarik tanganku untuk duduk di sampingnya, dan membiarkan kepalaku bersandar di bahunya
"Hubungan ini mungkin akan sulit Ki, tapi aku berjanji tidak akan membuatmu kembali terluka" ujar Pak Pandu sambil mengelus kepalaku
Aku begitu nyaman berada di samping Pak Pandu, rasanya berharap waktu ini tidak berjalan karena kau tidak tahu, besok atau lusa, kebahagiaan ini bisa saja sirna