For A Great Love

For A Great Love
epiaode 43 makan siang



Kami kembali ke meja, Pak Yoga dan Pak Jefry tampak sumringah melihat perlakuan Pak Pandu pada Pak Candra, ada senyum kebanggaan yang tersirat dari mereka


Kami kembali duduk di meja, Pak Pandu mengambil sebuah sapu tangan dari kantung jas nya, dia mengusapkan ke arah wajah dan rambutku kemudian membersihkan bajuku yang basah terkena siraman orange jus, aku menatap ketiga kurcaci yang terus tersenyum menggodaku.


"Gue berasa lagi nonton drakor" sahut Pak Jefry


"Diem lo! " bentak pak Pandu, "Nggak ada yang bisa apa jagain Kiand, sampe masalah kaya gini harus gue juga yang turun tangan " ujarnya


"Yah sorry Du, menurut lo emang kita berani sama Kaka lo! " sahut Pak Jefry


"Gue nggak berpikir dia se jahat itu sih Du" tambah Pak Yoga


"Yah sekarang kalian udah tahu gimana Kak Candra, jadi kalian harus waspada" ujar Pak Pandu "Sekarang kalian langsung ke lokasi pembangunan, hotel sudah menyiapkan mobil untuk kalian, nanti saya tunggu kiand ganti baju baru nyusul" jelasnya


"Oke...! Ayo nan...! " ajak Pak jefry sambil merangkul Kak Nanda


Kami masih disini, saling menatap dengan kaku, aku sempat melihat Bu Bintang dan Pak Candra meninggalkan restoran dengan tampang yang kesal


"Kenapa kamu diam aja tadi? " ujar Pak Pandu


"Saya harus apa pak? " tanyaku


"Yah kamu bales dong! " jawabnya seenak perut


"Mana mungkin saya bales! "


"Memang kenapa? kamu takut? "


"Yah jelas pak, kalau Pak Candra pecat saya gimana? " jawabku kesal


"Kak Candra nggak bisa pecat kamu selama aku masih ada di perusahaan"


"Tetep aja pak, nggak mungkin saya bales perlakuan Pak candra ke saya! biar bagaimana juga Pak Candra tuh Kakaknya pak pandu"


"Tapi dia sudah kelewatan Ki, saya mau apapun yang dia lakukan kamu jangan diem aja, kamu harus berani, kalau saya lagi sama kamu saya bisa lindungin kamu, tapi kalau saya lagi nggak sama kamu, kamu sendiri yang harus bisa jaga diri kamu" tegasnya


"Iya, lain kali saya akan lebih berani" sahutku tak ingin berdebat lebih panjang


"Pokoknya apapun yang terjadi kamu harus bilang sama saya, jangan ada yang di sembunyikan, bukannya saya pacar kamu? " Dia tampak melepaskan jas yang ia kenakan, lalu berdiri dan berjalan ke arahku, dia membalut kan jas di tubuhku


"Baju kamu basah, cepat ganti, saya tunggu kamu di lobby " ujarnya


Aku merasa tertegun dengan sikap Pak Candra, hatiku langsung meleleh bak es yang di hangatkan, bibirku terus tersenyum, rasanya di kepalaku di penuhi bunga-bunga yang membawaku melayang


"Makasi pak! " ucapku dengan memberikan senyum


"Iya, tapi kamu harus janji, lain kali jangan menyembunyikan apapun dari saya, saya tidak akan maafkan kamu! " ujar Pak Pandu dengan nada ancaman


"Pacar... " panggilku manja, sambil malu-malu, dia masih berdiri di sampingku


Aku memberi isyarat jika aku ingin di berikan kecupan dengan menyodorkan keningku


"Kenapa kamu? " tanya Pak Pandu pura-pura tak mengerti


"Katanya pacar.... " sahutku kecewa "Kasih satu kecupan aja" rengekku manja


"Nggak mau...! " tolaknya "sudah sana, sudah siang yang lain pasti menunggu" Dia malah mengusirku,


terpaksa aku harus bangkit dari kursi dengan wajah yang ku tekuk karena kecewa, tapi walaupun nggak dapet kecupan aku merasa senang, ahhhh beginikah rasanya jatuh cinta pantas saja orang bilang cinta itu gila.


Aku kembali setelah membersihkan wajah, dan mengganti pakaian, dengan membawa jas yang tadi pak pandu pinjamkan untukku


"Nih... makasi ya! " Ku sodorkan jas ke arahnya


"Oke, " dia langsung mengenakan jasnya, dan lagi-lagi dia menggandengku menuju mobil, dia juga selalu membukakan pintu mobil dan memastikan aku masuk dengan aman . hal kecil tapi begitu bermakna untukku


Entah kenapa aku masih ingin tersenyum, aku sungguh tak percaya dengan hari ini, seperti ada pelangi setelah hujan. Pak Pandu sudah berada di kursi kemudi, dan aku di sampingnya , dia menatapku aneh karena dari tadi aku seperti salah tingkah


"Ada apa kamu kiand? " tanyanya


Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, Pak Pandu mendekat kearahku, sangat dekat, hampir tidak ada jarak, membuatku gugup .


"Pak.. Pak Pandu mau apa? " tanyaku


"Mau pasangin seat belt " jawabnya sambil menarik seat belt dan memasangkannya untukku,


"memang kamu pikir saya mau apa? " tanyanya, kemudian Pak Pandu terdiam, kami saling melempar tatapan sampai akhirnya sebuah kecupan melayang di keningku


"Kenapa kamu senyum senyum? " tanya Pak nP du setelah mengecupku


"Nggak papa, seneng aja" jawabku masih dengan tersenyum


"Bagus deh! " sahutnya dan mulai memacu kendaraannya.


"Kamu bener nggak papa tadi? " tanyanya dalam perjalanan


"Nggak kok, saya nggak papa" jawabku meyakinkan


Pak Pandu melemparkan senyumnya, dia terus menggenggam tangannku dengan tangan kirinya sedang tangan kanan fokus pada stir.


...****************...


Lokasi pembangunan hotel begitu becek karena hujan yang mengguyur kota ini semalam, tempatnya memang starategis, berada di pinggir pantai yang memiliki view indah, tidak terlalu jauh juga dari pintu masuk , beberapa hotel memang sudah berdiri disini tapi tidak semewah hotel yang akan kami buat nanti.


Aku dan Kak Nanda mulai berdiskusi bangunan seperti apa yang cocok di tempat ini, jemariku mulai menggambar garis demi garis, membuat sebuah bentuk yang artistik.


Selain bangunan utama, kami juga akan membuat bangunan kecil seperti seperti rumah kurcaci do tepi kolam renang yang menyatu dengan pantai, dan akan menjadi dan privat pantai, jadi pengunjung bisa menikmati keindahan pantai di malam hari.


Hotel ini juga akan bertemakan ala perancis, dengan menonjolkan unsur klasik yang elegan dan tentunya Instagramable, akan banyak fasilitas bintang 5 disini, dari mulai kolam renang, restoran, play ground dan bar , Restoran juga akan kami bikin beberapa konsep tentunya seperti ala mediterania dan itali.


Selesai melihat lokasi pembangunan, kami mengisi perut di sebuah restoran mewah pinggir pantai, disini kami bisa memilih berbagai macam seafood dalam kondisi hidup.


"Ki... " panggil Kak Nanda dan menunjukan sebuah kepiting dengan bentuk yang besar, Kepiting memang makanan favoriteku dulu saat ibu masih ada.


"Wahhh kepitingnya gede banget... " ujarku terkagum kagum "Berapa kak? " tanyaku pada Kak Nanda


"Tuh...! " Kak Nanda menunjukan list harga yang tertera di sebuah kertas.


"Yahhh mahalll....! " sahutku kecewa, ini alasan kenapa aku sudah lama tidak makan kepiting ataupun seafood lainnya.


Aku mengurungkan niat buat memesan kepiting yang menggiurkan itu, dan mencari makanan lebih murah, rasanya sayang jika harus mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk satu porsi kepiting


"Mau pesan apa? " tiba-tiba Pak Pandu sudah berada di sampingku dan itu membuatku terkejut


"Hmmm... lagi liat-liat pak! " jawabku


"Kiand mau ini pak! " sahut Kak Nanda menunjukan kepiting jumbo yang ku mau


"Ehh engg.. engggak enggak pak! " tolakku, aku menoleh ke arah kak nanda dan melemparkan tatapan kesal


"Mau apa? " tanya Pak Pandu


Saat Pak Pandu hendak melihat apa yang Kak Nanda tunjuk, aku segera menarik tangannya " enggak. enggak pak, aku masih liat-liat yang lain"


"Bohong pak, tadi kiand bilang mau ini, tapi mahal... " jawab Kak nanda dengan polosnya dan itu membuatku malu hingga pipiku memerah


Pak Pandu terlihat menahan tawa sambil menatapku, dia berjalan ke tempat dimana Kak nanda menunjukan kepiting yang harganya saja bisa untukku makan satu hari bahkan lebih


"Pak...! ini satu ya, saya minta yang paling besar... " pinta pak pandu pada pelayang yang berjaga


Aku yang melihat Pak Pandu seperti itu hanya memasang wajah tidak enak, kak Nanda memang lemes, kan aku jadi nggak enak jadinya, kepiting itu terlalu mahal... gerutuku dalamhati


"Kamu mau pesen apa Nan...? " Tanya Pak Pandu pada Kak Nanda


"Saya gampang pak, masih lihat yang lain" jawabnya


Setelah memesankan aku kepiting Pak Pandu kembali bergabung dengan Pak Yoga dan Pak jefry di tempat ikan yang jaraknya agak jauh dari sini. Restoran ini cukup mewah viewnya langsung ke pantai, dan itu sangat menyegarkan mata.


Kami sudah memesan menu yang kami inginkan, dan kami tinggal menunggu di sebuah meja yang sudah kami pesan, bentuknya seperti saung, dengan posisi lesehan yang membuat kami semakin nyaman .


Deburan ombak terdengar bak melodi alam, begitu indah di dengar, beberapa orang terlihat berlarian begitupun Pak Yoga dan Pak jefry yang memilih bermain bola pasir saat menuggu makanan matang, sedang Pak Pandu, dia hanya berdiri memandang kedua temannya yang sedang asik, sesekali menendang bola, saat bola itu menghampirinya, dia terlihat begitu tampan, mengenakan kemeja biru, dengan bagian tangan yang di lipat selengan, jas yang ia kenakan sudah ia lepas di mobil. aku dan Kak Nanda hanya duduk di saung sambil memperhatikan mereka.


Beberapa pelayan datang mengantarkan pesanan kami semua makanan begitu menggugah selera, dari mulai ikan laut yang memiliki porsi jumbo, udang, lobster kepiting semua seafood yang menjadi makanan favoritku terbentang di atas meja


"Makanan udah siap! " teriak Kak Nanda pada Pak Jefry, Pak Yoga dan Pak Pandu. Mereka segera berlari ke arah saung, tapi tidak dengan Pak Pandu, dia selalu berjalan santai, dengan wajahnya yang serius namun tetap manis.


Kami menikmati semua makanan yang memiliki citra rasa luar biasa, kepiting yang ku pesan tadi ku minta di masak saos padang dan itu sangat enak, karena kepitingnya yang besar jadi memiliki daging yang cukup banyak. Pak Pandu yang duduk di sampingku beberapa kali melihatku memecahkan cangkang kepiting , ia tersenyum ketika aku begitu excited menikmati kepiting yang awalnya aku tolak.


"hati-hati makannya, tangan kamu bisa luka kalau begitu" ucapnya. Dia mengambil alat pemecah cangkang kepiting, dan mempraktekannya.


"Makasih pak! " ucapku. Pak Yoga, Pak Jefry, dan kak Nanda tersenyum menggoda melihat perhatian Pak Pandu padaku.


Makan siang ini terasa sangat spesial, aku benar-benar bahagia berada di antara mereka, setelah makan siang, Pak Jefry mengajak kami menaiki beberapa wahana air