For A Great Love

For A Great Love
episode 52 ketakutan terbesar



"Pasien harus segera di operasi, ada tiga tulang iga di bagian kanan patah dan dua di bagian kiri, begitupun dengan tulang dada pasien, untuk bagian kepala aman, sepertinya dia menahan kepala dengan tangannya, tapi kita akan melakukan ct scan untuk mengetahui apakah ada benturan keras di area kepala, yang jelas, saat ini harus ada tindakan untuk operasi tulang iganya" jelas seorang dokter setelah keluar dari ruang ugd, kaki ku semakin lemas, aku tak bisa membayangkan rasa sakit yang di alami pak pandu saat itu, ku lihat raut kesedihan dari wajah pak yoga dan pak jefry, bahkan arga sampai menangis.


tubuhku seketika lunglai, dan dengan cepat noval menahannya lalu memapahku ke sebuah kursi


"lakukan tindakan operasi secepatnya dok, yang penting teman saya selamat! " ujar pak yoga


"Baik pak, kami akan melakukannya semampu kami, untuk hasilnya kita serahkan semuanya pada tuhan" ujar dokter tersebut seolah harapan itu tipis "disini apa ada keluarga pasien? " tanya dokter tersebut


"Saya sahabatnya dok, kami akan segera memberi tahu keluarganya" jawab pak jefry


"baik kalau gitu, kami akan melakukan tindakan operasi" dokter itu terlihat kembali masuk ke dalam ruangan,selang beberaa menit tubuh pak pandu di dorong keluar menggunakan brangkar. aku segera menghampirinya, ku raih tangannya.


"pak saya mohon buka mata pak pandu, jangan buat saya khawatir seperti ini! " ujarku air mataku terus mengalir seakan tidak dapat terbendung lagi


"Ki, kita beroa yang tebaik buat pandu " pak yoga merangkulku.


"permisi bu, kami harus segera membawa pasien ke ruang operasi " ujar salah satu perawat yang mendorong brangkar pak pandu


rasanya berat harus melepaskan tangan pak pandu. aku masih menangis hingga tubuhku jatuh ke lantai


"ki... pandu kuat dia pasti sembuh! " ujar pak jefry mencoba menguatkanku, tapi semua perkataan mereka tak ada yang bisa aku cerna, ke khawatiranku begitu dalam , aku takut kehilangan pak pandu, aku akan menyesal karena telah menjauhinya beberapa hari ini.


"bodoh... kenapa pak pandu begitu bodoh! " ucapku sambil terus menangis " harusnya dia bisa jaga dirinya sendiri, kenapa dia senekad itu! "


"udah ki, yuk bangun yuk, sekarang kita berdoa buat kesembuhan pandu" ujar pak yoga


Aku di bantu pak yoga dan pak jefry untuk duduk di sebuah kursi panjang. aku merasa duniaku hancur, bayangan akan kehilangan pak pandu menjadi hal paling menakutkan dalam hidupku.


"Om bagaskara...! " sahut pak Yoga. aku yang tadi hanya menunduk langsung mengangkat kepala, terlihat orang tua pak pandu, pak candra, bu bintang dan seorang perempuan muda berlari ke arah kami


"Yoga, jefry gimana konfisi pandu? " tanya pak bagaskara dia begitu khawatir


"masih di ruang operasi om" jawab pak jefry


pak bagaskara mulai menatapku tajam, ia berjalan mendekat dan ......


Plakkkkk!!!!!! sebuah tamparan keras melayang di pipiku, semua mata terkejut dengan cepat noval menghampiriku "ini semua gara-gara kamu! pergi dari sini! " usir pak bagaskara, bukan hanya pak bagaskara yang menatapku dengan tatapan kebencian, istrinya, pak candra dan bu bintang melakukan hal yang sama membuatku tak sanggup menatap mereka


"maaf pak, saya harus tahu kondisi pak pandu! " ucapku sambil memegang pipi yang terasa sakit, ini memang salahku dan aku bisa terima kemarahan mereka


"enggak! sekarang juga pergi dari sini! masih berani kamu lihat wajah anak saya setelah apa yang kamu perbuat sama dia! " sahut pak bagaskara


"om maaf om tenang dulu om ini rumah sakit" pak yoga mencoba menenangkan pak bagaskara.


"saya peringatin ya sama kamu, jangan pernah dekatin anak saya lagi" kali ini sang istri yang menghampiriku.


"om tante maaf, bukan kiand yang deketin pandu, tapi pandu sendiri yang selama ini ngejar ngejar kiand" Pak Yoga mencoba membelaku


"saya nggak minta kamu bicara ya yoga! jangan sampai saya melarang pandu untuk berteman dengab kalian! " ujar istri pak bagaskara yang adalah momy pak pandu


tak lama seorang dokter keluar dari ruang operasi, semua perdebatan terhenti, kami segera menghampiri dokter tersebut


"dok bagaimana anak saya? " tanya momy pak pandu


"operasinya berhasil, hanya saja pasien masih dalam keadaan kritis, terlalu banyak hantaman benda tumpul pada tubuhnya, bersyukur tidak ada cedera serius di bagian kepala, itu yang membuat pasien bisa bertahan " penjelasan dokter tidak membuat hatiku lega, pak pandu masih kritis, dia masih terbaring tak berdaya.


"apa saya boleh melihat anak saya? " tanya Pak Bagaskara pada seorang dokter


"saat ini pasien akan kami pindahkan ke ruang icu, untuk sementara biarkan pasien istirahat terlebih dahulu, pihak keluarga boleh melihatnya dari luar "


dalam ketegangan seperti ini, aku memilih menjauh dari mereka, mungki benar akulah penyebab pak pandu seperti ini, aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit, mencari tempat untukku menyendiri, seblumnya aku menyuruh noval mengantar arga pulang karena sudah larut malam. meski awalnya arga menolak, tapi akhirnya dia setuju.


aku duduk di sebuah kursi rumah sakit, jam menunjukan pukul tiga dini hari, suasana rumah sakit sangat sepi, hanya ada beberapa suster yang bertugas, mereka sempat memperhatikanku, mungkin karena pakain ku, dan riasanku yang sudah acak-acakan tak karuan aku bahkan tak berani untuk menatap cermin.


Saat aku duduk seseorang menghampiriku, siapa lagi kalau bukan pak jefry.


"minum dulu biar tenang! " ujarnya sambil menyodorkan sebotol air mineral


"makasi pak! " jawabku tersenyum kearahnya


"boleh gue duduk ? " tanyanya


"silahkan pak! "


"Ucapan om dan tante bagaskara jangan di masukan ke hati! " Ujar pak Jefry


"Iya pak, saya nggak mikirin itu kok, saya cuman mikirin kondisi pak pandu" jawabku


"Dia sayang sama lo! " perkataan Pak Jefry semakin membuat hatiku perih "semua yang dia lakuin cuman buat lo! " tambahnya


Air mata yang sempat tertahan kini kembali tumpah, aku bahkan sudah tak ingin berkata apapun, penyesalan ini semakin dalam.


"Gue yakin, dia pasti sembuh! " ujar pak Jefry merangkulku. aku hanya bisa mengangguk sambil sesekali menghapus air mataku "udah jangan nangis, kalau pandu tahu lo nangis, bisa di hajar gue" ujarnya


...****************...


Hari ini terpaksa aku harus berangkat kerja, sebelumnya aku di antar pulang oleh pak jefry, ke rumah noval, dia bilang akan selalu memberi kabar tentang perkembangan kondisi pak pandu.


Di kantor semua riuh membicarakan pak pandu, akupun tak mengerti mengapa berita tersebar begitu cepat. ada yang menatapku sinis, ada juga yang justru bangga menjadi diriku, karena pengorbanan pak pandu untukku.


Pak jefry mengabari jika pak pandu masih belum sadarkan diri, tapi aku di minta untuk tidak khawatir karena perkembangannya sejauh ini cukup baik.


Di kantor aku tidak begitu bersemangat, terlebih melihat pandangan orang tentangku, setiap aku lewat mereka akan menyindirku.


"kenapa berita itu begitu cepat sampai" ujarku pada kak nanda


Saat itu aku hanya cerita pada Dian dan Kak Nanda, mereka tidak mungkin membocorkan rahasiaku


"Gue juga bingung ki, banyak yang sampe chat ke gue nanyain lo dan pak pandu, terlebih tentang... " kak nanda tidak melanjutkan ucapannya, tapi aku mengerti apa yang ingin ia ucapkan


"orang kaya gue aja bisa bikin heboh satu kantor" sahut ku meringis


"ohh ya, dian kemana? " tanyaku karena tak melihat dian di mejanya


"kemarin dian di pindahin ke bagian accounting" jelas kak nanda


"hebat banget dia, gue pikir dia tuh lemot taunya cerdas juga" gumamku


"yahhh gitu lah! " ada yang aneh dari respon kak nanda, seperti tidak suka


"ada masalah kak? " tanyaku


"nggak ada ki! " jawabnya menggelengkan kepala


Menghabiskan waktu hari ini begitu melelahkan, semua pekerjaan sudah ku coba selesaikan tapi nyatanya otakku seolah tidak berfungsi, seluruh pikiranku sudah habis terkuras oleh pak pandu. di saat seperti ini aku sangat merindukannya, merindukan senyumnya, marahnya, bahkan pesan singkat yang selalu masuk melalui ponselku, aku takut kehilangannya, bagaimana jika itu terjadi? aku bahkan tak sanggup membayangkannya.