For A Great Love

For A Great Love
episode 66 misteri yang mulai terbuka



Rasanya air mataku mulai menggenang, sulit untukku menerima kebenaran ini, bukan karna siapa yang mendonorkan ginjal itu untukku, tapi karena semua yang ku pikirkan tentang mereka salah.


Momy , papi, bagaimana aku mereasa mereka tak adil padaku, aku berpikir mereka jahat, bahkan aku sempat meragukan apakah mereka adalah orang tuaku? Lalu Bintang, selama ini bukan hanya aku yang mungkin menganggap bintang adalah pengkhianat, tapi semua orang yang mengerti perjalanan hubungan kita.


Ku benankan wajah di tangan , ku usap keningku yang terasa dingin, otakku seperti langsung terhenti saat ini juga


"Mari kita bicarakan ini baik-baik" ujar papi


Pria tua itu kini seperti memelas, tak setegar biasanya, wajahnya yang selalu ku anggap menakutkan, kini berubah mengiba


aku hanya mampu duduk bersandar di sebuah sofa, tubuhku seperti tidak bertulang.


"Sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi pi! " ujarku lemas , mami berjalan menghampiriku


"Pandu, momy awalnya belum siap menceritakan ini sama kamu, tapi ternyata kamu harus tahu lebih dulu, maafkan momy nak! momy menggengam tanganku, wajah cantiknya kini basah dengan air mata, seorang ibu yang ku anggap gagal menjadi ibu, karena terlalu memihak pada kak candra, ternyata dia harus rela menyimpan sakitnya sendiri, apa yang sudah ku lakukan pada mereka?


Aku menatap percakapan kami dengan hati yang amat nyeri


" Sorry, gue terlalu egois! " ujar kak candra, suasana mulai hening, tak ada yang berani mengawali percakapan setelahnya, aku hanya mendengar isak tangis momy dan Reina,


"Pandu mau bicara berdua sama kak candra, bisa kalian tinggalin kita? " pintaku


"Baik nak! tapi momy mohon, jangan ada perkelahian lagi" ujar momy


"Pandu janji itu tidak akan terjadi! "


Momy, papi, dan reina meninggalkan kamar kak candra, tinggalah aku dan kak candra berdua.


Ku hampiri kak candra yang tengah berdiri dengan tubuh bersandar pada sebuah meja panjang persis di bawah jendela.


"Bodoh! " ku pukul bahu kak candra


mungkin ini untuk pertama kalinya aku canggung di hadapan kakak ku sendiri


"Harusnya lo bilang semuanya"


"Untuk apa? " tanya kak candra


"Seenggaknya gue gak bersikap kasar sama lo! "


"heh... jadi lo nyesel udah mukulin gue, cuman karena gue kasih satu ginjal gue buat lo? "


"Kak! "


"Gue benci sama lo dari awal lo lahir, karena perhatian papi momy seratus persen buat lo! jadi gue anggap pukulan ini fare "


"Soal bintang! " aku terdiam


"Lo takut gue nyakitin dia? " tanya kak candra


"Gue tahu lo benci sama gue, tapi gue harap jangan libatkan bintang , gue mohon, lo boleh lakuin apa aja ke gue, tapi jangan bintang! "


"kenapa? masih perduli lo sama bintang? " tanya kak candra, "gue pikir lo udah berpaling sama cewek murahan itu, sampe belain hidup lo buat dia! "


"kak, gue mohon jangan berdebat lagi! kiand bukan cewek murahan, dan gue tahu siapa di balik masalah kiand saat itu" Kak candra terlihat gugup saat aku bicara seperti itu


"maksud lo, lo nuduh gue? "


"gue nggak bilang itu, gue cuman bilang gue tahu siapa di balik masalah kiand! "


Kak candra diam tak membalas perkataanku, terlihat sekali ada yang ia sembunyikan, tapi aku tak akan memaksanya untuk jujur kali ini.


"Gue minta maaf, atas apa yang lo alamin selama berpuluh-puluh tahun ini, tapi seandainya saat itu gue bisa milih, gue lebih milih mati dari pada gue harus ngancurin hidup kakak gue sendiri! "


Aku berjalan mendekat ke arah kak candra, ku jatuhkan tanganku tepat di bahunya


"Thanks buat pengorbanan lo! " ku ucapkan kata itu dengan hati yang perih, aku langsung pergi meninggalkan kamar kak candra.


...****************...


Pagi ini aku tidak begitu bersemangat, setelah tahu jika ternyata aku hidup dengan ginjal pemberian kak candra, aku merasa semua kerja kerasku untuk merebut kursi presdir sudah tidak berarti.


mobil melaju memasuki area gedung, tepat di depan lobby, aku melihat kiand turun dari sebuah mobil sedan hitam, dan ternyata dia di antar pria yang waktu itu juga mengantarnya, dengan cepat ku hentikan mobilku, dan menyuruh valley memarkirkannya


"Kiand! " panggilku saat kiand hendak masuk ke lobby, aku lihat pria itu membuka jendela mobilnya, dan kami sempat menatap dalam beberapa detik, tapi dari situ aku bisa menyimpulkan jika dia tidak suka padaku.


"pagi pak! " beberapa karyawan menyapaku,


"pagi...! " balasku, aku kehilangan kiand, dia tiba-tiba menghilang masuk ke dalam kerumunan para karyawan yang hendak memasuki lift.


Aku memilih untuk ke ruang kerjaku terlebih dahulu, toh kita akan bertemu di jam meeting nanti.


"Pagi pak! " sapa karin


"Pagi, karin apa saja jadwal saya hari ini? " tanyaku pada karin


"jam 10 , pak pandu ada meeting dengan para direksi, membahas masalah yang kemarin, lalu di jam 3 pak pandu harus bertemu drngan utusan pt jaya wijaya, untuk tanda tangan perjanjian kerja sama hotel yang ada di bandung" jelas Karin


"tunggu, tunggu...!!! " sanggahku " meeting dengan utusan pt jaya wijaya? setau saya, saya tidak pernah membuat janji ? "


"Iya pak, jadwal itu di berikan oleh pak bagaskara! "


Aku terdiam sejenak, papi tidak berkata apa-apa tadi malam gumamku


"kapan papi kasih jadwal itu sama kamu? "


"kemarin siang pak, setelah meeting"


"ohh ya sudah, antarkan beberapa berkas yang harus saya cek ke meja"


"pagi ini pak? "


"iya, saya akan banyak sekali kerjaan"


"baik pak! "


"baik pak! "


Aku memasuki ruangan yang menjadi saksi bagaimana aku bekerja keras seharian, ku taruh tubuhku di atas kursi sambil menyandarkan bahuku yang terasa lelah, semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan masalahku,


Yoga dan jefry belum juga datang, padahal ini sudah jam masuk kantor,


"Kreakkkk!!! " seseorang terdengar menarik gagang pintu


"Pagi, pak bos!!!, " sapa kedua sahabat tengilku,


"Jam berapa ini? " tanyaku


"yah bos telat dikit! jakarta macet" sahut jefry


"Sejak kapan jakarta nggak macet? udah tahu tinggal di jakarta bukan bangun pagi! " gerutuku


Yoga terlihat santai, dia lebih memilih mengacuhkan perkataan ku, dan duduk di sofa panjang.


"Gue punya berita bagus, lo mau denger! " ujar yoga


"Berita apa? " tanyaku


jefry berjalan mendekat dan duduk di sandaran tangan kursi


"ini tentang kakak lo! " bisiknya


"kenapa kakak gue? "


"lo tahu kejadian yang lo di pukulin sampe hampir mati? " tanya jefry


"hampir mati? siapa? gue nggak hampir mati, perkataan lo itu harus di ralat, gue cuman pingsan "


"yahhh apalah itu, yang jelas lo nggak sadar! "


"terus? " tanyaku


"ceritain yoga! " titah jefry


"Semalam gue sama jefry ke club momy jasmin, gue penasaran siapa om om yang udah booking kiand waktu itu" Yoga mulai menjelaskan apa saja fakta yang dia temui tentang keterlibatan kak candra, momy jasmin dan om om itu


"Jadi bener dugaan gue! "


"Nah mereka ngenalin pt bagaskara, karena kakak lo di balik semua ini"


"aghhhh!!! " rasanya masalah ini membuatku sesak, ku tarik dasiku untuk sedikit melonggarkan kerah kemeja


"lo kenapa? " tanya jefry


"Ada satu hal yang buat gue berpikir dua kali, untuk ngejatuhin kak candra"


"apa tuh? " tanya yoga


"Gue tahu alasan, kenapa dari smp nyokap gak boleh gue ikut ekskul yang berat, nggak pernah ikut lari pas jam olah raga" jelasku


"emang lo kenapa? lo punya kelainan jantung? " tanya jefry asal


"bukan! "


"ternyata gue cuman punya satu ginjal! "


"hah! lo serius du? " jefry tampak terkejut


"menurut lo, kapan gue pernah bercanda? "


"ohhh tuhan..... rahasia apa lagi yang akan kau hadirkan pada hidup sahabat saya ini" ucap jefry dengan laga lawaknya


"dan lo tahu siapa yang jadi pendonor ginjal gue? "


yoga dan jefry tampak serius memperhatikanku


Tok Tok Tok " seseorang mengetuk pintu ruang kerjaku


"aghh elah, ganggu aj" gerutu jefry


"masuk...! " sahutku


Seorang ob terlihat membuka pintu, di tangannya terdapat sebuah nampan berisi secangkir kopi yang kupesan , pria itu menaruhnya di meja


"makasi" ucapku


Ob itupun segera meninggalkan ruang kerja, Yoga yang penasaran mendengar kelanjutan ceritaku memilih untuk berpindah tempat duduk tepat di sebrang meja kerja


"Siapa yang donorin ginjal buat lo? " tanya Yoga


" Kak candra! " jawabku


Brakkkk!!!!! jeffry memukul meja hingga membuatku terkejut


"Sial, kaget gue! " sahut yoga


"Gue lebih kaget denger berita ini! " ujar jefry


"Yah dan yang bikin gue kesel, gue salah menilai orang-orqng yang justru berkorban buat gue"


"termasuk bintang? " tanya yoga


Aku hanya mengangguk " oh ya...! " ku lihat jam di tanganku, waktu masih menunjukan pukul 8 "gue harus ketemu bintang, sebelum meeting, gue minta tolong sama kalian, selidikin seberapa jauh keterlibatan kak candra di rumah itu, gue k


minta besok gue udah tahu jawabannya"


"Gila kali lo ya, yah kali secepet itu... " sahut jefry


"Gue nggak mau tahu, ya udah gue cabut dulu, inget besok kasih info ke gue! " aku segera pergi menigagalkan ruang kerjaku, banyak yang ingin aku tanyakan pada bintang, dan ini harus segera clear semuanya .