For A Great Love

For A Great Love
episode 114 mabuk



Sudah tiga hari aku hanya memperhatikan kiand dari jauh, ingin aku memeluknya namun rasanya tak mampu,


Hari ini menjadi hari terakhir aku menempati kantor ini. sesuai keputusan para direksi Moniclah yang menggantjkan aku, aku sengaja tidak memberi tahu kiand tentang masalah ini, dan menyuruh yang lainnya untuk tetap tutup mulut.


Kreak !!! suara pintu kantor terbuka


"Hai sayang!!!! " monic datang dan langsung merangkulku


"lepas monic, ini kantor!!! " tolakku


"lagian ini di ruangan, siapa yang mau liat? " ujarnya


"tapi itu gak pantas! "


"Pandu....!!!! jadi gimana ? mau terima tawaranku? " tanyanya,


Monic memberi sebuah tawaran, aku tetap bertahan di perusahaan ini dengan syarat aku harus menerima monic kembali, jelas aku menolaknya


"Maaf monic, sampai kapanpun aku nggak akan mau bertunangan dengan kamu, meski aku harus kehilangan semua hartaku, jadi tolong menyerahlah, aku tidak ada perasaan sedikitpun sama kamu"


"kenapa sih, kamu tuh keras kepala, hidup kamu akan lebih indah dengan apa yang aku miliki saat ini? "


"apa yang kamu miliki? " tanyaku kesal "semua yang kamu miliki saat ini adalah hasil kelicikan kamu dan pak wijaya! " Aku mengambil beberapa barangku lalu pergi


"pandu!! " teriak monic "pandu!!! jangan pergi! " teriaknya lagi tapi aku tak memperdulikannya, aku begitu membenci wanita iblis itu


"Siang pak pandu! " sapa para karyawan, mereka masih menghormatiku meski saat ini aku bukanlah siapa-siapa.


Beberapa karyawan masih menatapku iba, namun aku balas dengan senyuman, yahh mungkin aku harus memulainya dari awal kembali, its oke bukan masalah


"Pandu!!! " teriak jefry dan Nanda dengan nafas tersenggal-senggal


"kenapa lo? " tanyaku kami berpapasan di lift,


"kiand di bawah! " ujar Nanda


"Hah!!!!! " aku panik saat itu, aku nggak mau kiand melihat keadaanku yang seperti ini


"Meja reseptionist! " ujar jefry


aku bersembunyi di bawah meja resepsionis, aku memang terlalu pengecut bahkan menghadapi kiand pun aku tak mampu.


Setelah menunggu beberapa saat, aku mendengar suara itu, suara yang selalu aku rindukan


"Kak nanda! " panggil kiand


"kiand? lo kok disni? " tanya Nanda


"Pak pandu terlalu sibuk akhir-akhir ini, WA Sama telpon gue gak di bales, gue gak tau harus cari dia kemana? setiap gue ke kantor dia nggak ada, "


"oummm...! itu apa? " tanya Nanda


"Gue bawain sarapan buat dia, gue nggak mau maag dia kambuh lagi, karena lupa makan" Aku sungguh merasa bersalah karena telah menjauhinya, dia masih begitu perduli padaku, apa yang harus aku lakukan sekarang?


"Wahh mantap, tapi pandu belum sampe kantor, ! " jawab jefry


"yah!!! ini bubur, kalau nggak langsung di makan pasti nggak enak" ujar Kiand


"Ya udah buat gue aja, kebetulan gue belum sarapan, pandu mah gampang dia bisa beli kok... salah siapa telat ke kantor" Jefry seperti sengaja menggodaku, awas aja kalau sampai bubur dari kiand dia makan gumamku kesal


"Hmmm.. yaudah nih! nanti tolong bilangin gue nyariin dia gitu ya! "


Setelah kiand pergi aku segera keluar , rasanya pegal bersembunyi di kolong meja, bahkan resepsionis yang bertugas terus-terusan menahan tawa


"Sini!!! " aku segera merebut bubur yang di berikan kiand pada jefry, nanda tersenyum melihat tingkahku


"Yeee ini buat gue! lo gak denger tadi kiand bilang ini bubur buat gue! " jefry menarik plastik yang ku rebut


"Lo mau berantem sama gue? lepasin nggak? " paksaku


"makanya, hadapi jangan sembunyi! pengecut lo! " cela jefry, aku sendiripun ingin mencela diriku rasanya tak punya kekuatan untuk menghadapi masalah ini


"berisik lo! " aku tarik plastik yang berisi makanan dari tangan jefry dan segera pergi


"Du... Pandu! " jefry mengikutiku dari belakang


"mau kemana lo sekarang? " tanya Jefry


"makan! " jawabku


"ya udah kita ke tempat biasa aja! " ajak Jefry


"gue mau makan di mobil! " jawabku


"udah makan di tempat biasa, ngapain sih harus makan di mobil? " tanya jefry


ya udah iya ayo! "


Kami ke tempat makan yang biasa kami kunjungi hampir setiap pagi , jefry dan Nanda memesan makanan sedang aku memakan bubur pemberian kiand


"nggak, lo makan makanan lo sendiri! " tolakku


"Udah sih pak, gangguin pak pandu mulu " seru Nanda


"Hahahha.... pandu pandu, emang kenapa kalau lo ngomong sama kiand? dari pada sekarang lo kaya gini nyiksa hidup lo, nyiksa hidup kiand! " ujar Jefry


"gue gak mau kiand lihat keadaan terpuruk gue" jawabku


"Sob.. sob... namanya hubungan itu susah senang sama-sama" Jefry menepuk pundakku


"Tapi nggak buat gue, gue mau kiand bahagia, dan jangan menanggung kesedihan gue" jawabku


Mungkin suatu saat kiand akan menganggpku pecundang, tapi itu lebih baik, dari pada kiand harus terbebani dengan hidupku yang sekarang


...****************...


Merenung di malam hari mendadak jadi hobby baruku, selain melihat kondisi papi yang masih terbaring lemah.


kemarin kak candra sudah lebih dulu pergi ke malaysia untuk menyiapkan rumah dan mencari rumah sakit untuk papi, jadi akulah yang harus menjaga papi, mami dan reina saat ini.


Aku melihat ponselku menyala, ku pikir itu kiand, karena dari tadi kiang menghubungiku, hanya tak aku angkat, tapi kali ini ternyata berbeda, Nandalah yang menghubungiku


"Hallo Nanda...! "


" Pak Pandu.... kiand pak!! " suara Nanda panik


"Kenapa kiand? " tanyaku


"Kiand pergi ke club, " jawab nanda


"ngapain? sama siapa? " tanyaku


"tadi dia minta aku temenin dia, katanya cuman ini cara dia ketemu pak pandu!!! "


"dia mau ngapain? "


"aku takut dia mabuk! dan aghhhh pak pandu cepet susulin kiand"


"oke oke, tapi dia ke club mana? "


"mami jasmin! " jawab nanda " cuman itu tempat yang kiand tahu! "


"oke. oke.. aku kesana"


Tanpa pikir panjang aku segera tancap gas menuju club malam milik mami jasmin, kiand sama sekali tak bisa minum, dia pasti langsung mabuk....


Benar saja dugaan ku saat aku sampai kepala kiand tergeletak lemah di atas meja


"Kiand... kiand... " aku mencoba menyadarkannya


"hmmm... " dia berusaha membuka matanya yang berat bahkan untuk mengangkat kepalanyapun sulit


"Kenapa kamu kesini? " tanyaku , aku berusaha memapahnya, tapi dia berontak


"lepas!!!! hahaha.. kan akhirnya pak pandu dateng! " ujarnya dengan kondisi setengah sadar, di meja sudah terlihat dua botol minuman kosong


"kenapa pak pandu menghindar? " tanyanya lagi


tanpa menggubris pertanyaannya, aku segera mengangkat tubuh kiand dan membawanya ke mobil, kami sempat menjadi tontonan para pengunjung, karena kiand terus berbicara tanpa hrnti


"sebenarnya aku ini siapa ? kamu datang terus pergi gitu aja"


Tanpa menghiraukan ocehannya aku segera memasukannya ke dalam mobil lalu membawanya ke apartemen


Ku taruh tubuh kiand di atas kasur, tubuhnya begitu lemah, tapi mulutnya tak berhenti bicara


"Dia itu pengecut! harusnya dia bilang semuanya" ujar kiand


"Maaf! " ucapku


"Aku pusing, aku mual!!!! " tiba-tiba kiand membuka matanya


"Aku mau muntah.. " ujarnya berusaha bangun dari tidurnya


"tunggu... tunggu!"aku mencari sesuatu untuk menampung muntahan kiand, namun saat aku hendak melepaskan tanganku dari leher kiand, kiand sudah dulu muntah hingga mengenai semua tubuhku


" Aku bilang aku mual! " ujarnya lemah


"Ya.. ya.. tak apa kiand" ujarku


Aku membersihkan muntahan kiand terlebih dulu, setelah itu aku baru membersihkan tubuhku


kiand begitu tersiksa, sepertinya meninggalkannya bukanlah keputusan yang tepat.


selesai membersihkan tubuh, aku kembali ke kamar untuk melihat kondisi kiand, dia sudah tertidur pulas, akupun sangat mengantuk dan lelah.


Ku selimuti tubuh kiand, lalu bergegas keluar dan beristirahat di ruang tv