
Setelah membujuk Kiand, akhirnya dia mau berkeliling kota surabaya denganku, kami benar-benar menghabiskan waktu bersama. Aku sadar dunia kami berbeda, tapi cinta kami tulus, aku yang terlahir dengan segala kelebihan bukan berati tak kekurangan, begitpun kiand dengan segala keterbatasannya, bukan tak berarti tak ada kelebihan.
Suasana malam di pinggir sungai Kalimas surabaya begitu tenang, lampu hias bersinar silih berganti, angin malam yang berhembus terasa begitu lembut, seakan mengerti dengan apa yang aku dan kiand sedang rasakan. Aku duduk di sebuah undakan tangga hanya diam tanpa bicara, kita seolah melepas beban yang ada di pundak kita malam ini.
"Ki, ayo kembali! " ucapku begitu saja, aku ingin dia kembali dalam pelukanku, bersamaku menjalani hari-hari berdua seperti saat itu.
Kiand hanya senyum " Itu akan sangat sulit Pak! "
"Saya tahu, tapi kita bisa lalui itu sama-sama "
"Kita lalui itu bersama? tapi disini keluarga saya yang menderita pak! sudah cukup beban hidup saya saat ini, saya tidak ingin hubungan kita justru semakin mempersulit saya dan keluarga saya"
Aku duduk mendekati kiand yang hanya berjarak satu undakan anak tangga, kuraih tangannya, kali ini tidak ada penolakan darinya. " Ki mungki alam semesta menolak hubungan kita, tapi bukan berarti kita harus menyerah, aku janji akan ku pastikan keluargamu aman! kita jalani ini diam-diam" Kata-kataku seraya memohon pada Kiand,
"Pak! Pak pandu tahu, kita adalah dua raga yang diibaratkan seperti jeda, yang berhenti karena koma bukan titik, akan ada tulisan tulisan lain yang mengikuti koma, berbeda dengan titik, mereka akan menulis Kalimat baru setelahnya. Sepertinya cukup sampai disini perasaan saya untuk Pak Pandu, sebisa mungkin saya akan hapus semua memori tentang kita, saling memulai hidup baru, sesuai dengan kehidupan kita masing-masing, semua kisah yang terjalin kini sudah usai, semua tentang kita sudah selesai. Kita adalah pernah, bukan punah, bukan juga menyerah, hanya saja sudah. semua sudah berakhir! " air mata jatuh membasahi pipi kiand, terdengar berat kata-kata yang dia ucapkan, tak ada yang keluar dari mulutku, aku hanya menariknya dalam pelukanku, mendekapnya begitu erat
"Saya sudah berusaha untuk terlihat utuh, meski nyatanya jiwaku hanya tinggal separuh... " ucapnya sambil menangis tersedu-sedu dalam pelukanku
"Saya tidak akan mengakhiri cerita tentang kita, cerita itu tidak akan sampai pada halaman terakhir, jika kita tidak bersama, karena halaman terakhir dari cerita kita adalah kebersamaan dan kebahagiaan untuk kita" ku usap rambut Kiand yang begitu lembut
"tolong jangan paksakan sesuatu yang jelas tidak akan pernah bersatu, sampai kapanpun minyak tidak akan bisa menyatu dengan air, meski sekuat apapun Pak pandu berusaha untuk menyatukannya" ujar Kiand,
"Ki tidak menyatu bukan berarti tidak bersama, saya akan cari jalan keluar untuk hubungan ini, kamu percaya sama saya? " Ku lepaskan pelukan kiand, ku tatap matanya yang sembab lekat -lekat "Kamu percaya sama saya? " tanya ku sekali lagi, dia terlihat mengangguk
"Saya percaya sama Pak Pandu, saya yakin Pak Pandu akan melakukan apapun untuk saya, tapi saya nggak mau seperti itu. Biarlah kita begini apa adanya, saya adalah kiand karyawan seorang Pandu bagaskara"
"Nggak bisakah lebih dadi itu? " tanyaku, dan dia menggelengkan kepalanya
"Oke, tapi kamu ingat, aku akan buat kita bukan hanya sekedar atasan dan karyawan " Apapun kesulitan yang akan aku hadapi kedepannya akan aku jalani, aku akan tetap berada pada tujuanku, untuk membuat Kiand kembali padaku.
Drrtttt...!!!! Ponselku berbunyi, memecahkan keheningan diantara aku dan Kiand, saat ku lihat, jelas terpampang nama monic pada layar ponselku,
tak ingin mendengar ocehannya aku memilih tidak menjawab panggilannya
"Kok nggak diangkat? " tanya kiand saat aku me reject telponnya
"Nggak penting! " jawabku. Kiand tampak melirikku tatapannya tersirat sebuah pertanyaan yang tak terucap dari mulutnya. Tak lama ponselku kembali berdering, dan lagi-lagi monic
"Angkat aja, nggak papa siapa tahu penting! " titahnya tapi dengan nada kesal, sepertinya dia cemburu aku bisa lihat dari ekspresi wajahnya
"Nggak usah biarin aja! "
"siapa? tunangannya? " jleb pertanyaan kiand sukses memberi kejutan untukku, dari mana kiand tahu aku punya tunangan, tepatnya calon tunangan
"Hmm.. ohhh... itu ... bukan, bukan biasalah, partner bisnis " elakku
"Partner bisnis namanya monic? " pertanyaan berupa sindirran terlontar dari mulut Kiand, rupanya dia melihat ponselku "Kenapa harus berbohong? lagian gosip tentang Pak Pandu yang akan bertunangan udah tersebar di kantor! "
"Dia bukan tunangan saya, tepatnya wanita yang di jodohkan papi untuk saya! " jelasku
"Yah saya sudah dengar! " jawabnya sambil melempar senyum
"Terus...? "
"Terus apa? "
"mau yang jujur atau yang bohong? " ujarnya
"Boleh jujur boleh bohong! " jawabku
"Awalnya sakit, tapi saya tahu posisi saya, saya tidak akan bisa menang jika memaksa bersaing dengannya"
" Siapa bilang! kamu adalah pemenang di hati saya, sampai kapapun perasaan itu tidak akan pernah berubah" mendengar jawabanku pipi kiand terlihat merona, senyum yang terlempar biasa saja, kini seakan bermakna
"gombal...! " celetuknya
"saya nggak gombal, saya gila ki, saat kamu memutuskan untuk pergi! " ku rangkul pundak kiand, meski awalnya ia tampak ragu, akhirnya kiand menyadarkan kepalanya di bahuku
"Munafik kalau saya bilang, saya nggak gila saat saya memutuskan untuk pergi, sayapun merasakan hal itu, hancur hidup saya, tapi saya bisa apa pak? " ucap kiand, tatapannya menatap langit yang gelap, namun terlihat indah dengan hiasan bintang yang bersinar
"Saya sayang sama kamu, saya cinta sama kamu, dan kamu pun merasakan hal yang sama, jadi tidak ada alasan untuk kita saling menyakiti! "
"seandainya ya! tapi sayangnya tak semudah itu...!
" Ki! saya akan perjuangkan semuanya ! "
"Nggak usah pak! saya nggak pantas untuk di perjuangkan, lebih baik Pak Pandu pulang, mungkin tunangan pak pandu sudah menunggu" Kiand mengangkat kepalanya dari pundakku.
"Ki! " ku tarik tangan kiand saat dia hendak beranjak
"Sudah malam juga Pak! Bi Nur takut khawatir"
Langit memang semakin gelap, anginpun berhembus lebih kencang, Cuaca yang hangat terasa lebih dingin malam ini, cahaya lampu yang berkilau, perlahana mulai meredup.
Dering ponselku kembali berbunyi, Kiand hanya menatapku, dia sedikit menganggukan kepalanya, memintaku untuk menjawab panggilan itu, tapi aku tetap merijectnya.
"Kenapa nggak di jawab, kasian loh... dia pasti kesal! " Kiand berjalan menuruni anak tangga menuju parkiran
" nggak penting! " jawabku.
Di parkiran kami sempat saling memandang satu sama lain, ku rengkuh tubuh kiand, ku bawa ke dalam pelukanku. Betapa aku sangat merindukannya, saat ini hati kami terombang ambing dalam ketidakpastian.
"saya mau menikah sama kamu ki! saya akan lepaskan semuanya, kita mulai hidup kita yang baru! "
Kiand melepaskan pelukanku, dia memandangku dengan hati yang terluka.
" saya pun ingin hal yang sama pak! tapi itu akan sulit. Dalam hidup kadang kita harus terima bahwa tak semua yang kita harapkan, bisa menjadi kenyataan" Kiand menggenggam tanganku
"Tidak kiand, kamu adalah warna dalam hidup saya, cuman kamu yang bisa mengerti saya ki! kamu lihat setoxic apa keluarga saya? saya akan tetap bertahan meski kamu menyerah! "
" nggak ada yang bisa kita pertahanin lagi pak! perasaan itu harus selesai sekarang! makasih untuk setiap pengorbanan yang pak pandu lakukan! terima kasih untuk malam-malam yang penuh cerita. ini adalah akhir dari cerita kita, saya harap Pak Pandu bisa terbiasa tanpa saya, dan bahagia dengan hidup pak pandu " kata-kata itu terdengan dengan suara yang berat, terasa sesak dan menyakitkan
"Ki! " ku tatap lekat mata kiand! apa mungkin aku harus melepaskan hubungan ini? apa hubungan ini terlalu menyakitkan untuk kiand?
"Ayo kita pulang, Bi Nur dan Ayah pasti lagi nunggu saya"
Dengan hati yang berat aku mengantar kiand pulang kerumah, aku hanya mengantarkannya di depan pintu rumah, tanpa masuk ke dalam, karena sudah terlalu malam juga. Setelah mengantar Kiand, aku tidak langsung pulang ke apartemen, Ku pacu motorku dengan kecepatan tinggi, kota surabaya begitu lenggang di malam hari, sangat tepat untuk self healing.
"Aghhhhhhh!!!!!! " Aku berteriak sekuat tenaga meluapkan semua amarah, benci, kecewa, hancur dan semua kesakitanku. Bagaimana aku meyakinkan diriku sendiri jika semua sudah usai?