
POV Kiand
"Lo yakin nggak mau? " Dian terus memaksaku agar aku mau menerima coklat pemberian Pak Pandu
"Yakin gue, lo abisin aja tuh coklat" ujarku kesal, kejadian tadi tak bisa hilang gitu aja dari otakku
gampang banget dia minta maaf setelah apa yang udah dia lakuin sama aku
"Beneran buat gue? " tanya Dian dengan girang
"Iya, lo makan aja, lagian gue lagi diet, nanti gue gendut"
"Gendut dari mananya sih? " tanya Kak Nanda, " cari alesan yang logis, badan kerempeng aja takut gendut" ejek Kak Nanda
"yah kalau kebanyakan kak! " sahut ku
Saat aku tengah fokus pada kerjaanku, sebuah pesan masuk di ponsel, ku lihat Pak Pandu, aku sengaja membacanya tapi tak ingin membalasnya
.
"Siapa? pak pandu? " tanya Kak Nanda, yang melihatku hanya tersenyum menatap ponsel
.
"iya! " jawabku sambil menganggukan kepala
Dia terus mengirim pesan untukku, dan aku terpaksa membalasnya karna ancamannya yang menyebalkan.
Dia memintaku untuk bertemu di coffe shop, dan sebelnya lagi, dia mengancam akan memotong gajiku jika aku tidak menemuinya, contoh atasan yang menyalahgunakan kekuasaan.
"Kak izin sebentar ya, di panggil Pak Pandu" ujarku pada Kak Nanda
"Udah baikan? " tanya Kak Nanda
"Belum! ini sih namanya pemaksaan" jawabku sambil meninggalkan meja
"Kiand mau kemana? " teriak Dian saat melihatku bergegas meninggalkan meja kerja
Aku mendngar teriakannya, tapi ku biarkan dan tak mejawab pertanyaan Dian
Sepanjang jalan aku terus menggerutu kesal, "Dasar cowok mesum, Mentang-mentang dia bos, dia bisa seenaknya nyuruh orang" gerutuku.
Aku turun ke lantai dasar menaiki sebuah lift, saat keluar lift, terdengar orang membicarakan sebuah perkelahian
"Parah sih mereka" ujar seorang perempuan yang hendak masuk lift
"adek kakak kok nggak akur, dasar orang kaya" sahut perempuan lainnya yang sedang berdiri di depan lift
Aku sedikit bingung siapa yang sedang mereka bicarakan
"Baru liat pak pandu semarah itu! " ucap seseorang lainnya
mendengar nama Pak Pandu aku semakin penasaran apa yang terjadi, aku berlari ke arah coffe shop yang berada di lobby
semua orang berkumpul di pintu masuk coffe shop
dari luar kaca, aku melihat Pak Pandu tengah berdiri berhadapan dengan Pak Candra dan Bu Bintang
Aku memberanikan diri mendekat, melihat apa yang sedang mereka debatkan, namun kakiku enggan melangkah, saat Pak Candra mengucapkan namaku.
"cewek murahan, di bayar berapa dia untuk jadi pacar pura-pura lo? " Perkataan Pak Candra menggema di telingaku, sependek itukah pikirannya.
Aku masih berdiri mematung di antara kerumunan, hal yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya, dengan tegas Pak Pandu membelaku, aku bahkan melihatnya tersungkur karena pukulan Pak Candra, rasanya kaki ini ingin berlari, tapi aku takut jika aku kesana masalah akan semakin runyam.
Sikap Pak Candra memang sangat keterlaluan, apa selama ini dia tidak menyadari sesakit apa pak Pandu karena perbuatannya? kakak macam apa dia, yang lebih memilih kebahagiaannya dari pada kebahagiaan adiknya sendiri.
Pak Pandu terlihat masih emosi, aku benar-benar tak bisa melihatnya seperti ini, dia membelaku, dia menjaga harga diriku, bodoh sekali jika aku hanya diam disini, aku melihat Pak Pandu hendak melayangkan kembali pukulan ke arah Pak Candra, refleks aku berlari dan memeluknya.
Ada rasa yang tak biasa kurasakan, hatiku rasanya sakit saat melihat Pak Pandu terluka.
"Pak... udah pak" ucapku, pelukan ini terasa tulus, ada sebuah getaran menjalar menuju aliran darahku, perasaan tak biasa yang sulit ku jelaskan
"udah ya pak saya mohon" air mataku mengalir begitu saja, tak sanggup jika harus melihat pak pandu terluka lagi. untunglah amarah Pak Pandu mereda, dan aku segera melepaskan pelukanku, mungkin setelah ini Pak Pandu akan marah karena aku lancang memeluknya, aku tak perduli apa yang akan terjadi setelah ini.
"Lihat, cewek murahan itu datang, dan langsung memeluk pandu! " ucapan Pak candra memang sangat menyakitkan,
"Namanya Kiand kak, bukan cewek murahan... " teriak Pak Pandu, emosinya kembali memuncak, tapi dengan cepat ku sanggah
"Di bayar berapa lo sama Pandu, sampe lo mau jadi pacar pura-pura Pandu? " pertanyaan Pak Candra sudah sangat membuatku terluka
"Maaf Pak, semua tuduhan bapak tentang saya itu tidak benar" jelasku
"cuihhhh" Pak Candra bahkan meludah saat mendengar penjelasanku, serendah itukah aku di matanya?
"Cewek macam kaya lo itu udah jelas gampangan, " ujarnya begitu menyakitkan, Lo juga pasti manfaatin Pandu kan agar posisi lo aman di kantor ini? " Entah apa yang ada di otaknya Pak Candra kenapa sependek itu pikirannya
"Kak, tutup mulut lo! " terlihat amarah Pak Pandu semakin memuncak, dia bahkan berniat melayangkan pukulan lagi ke wajah Pak Candra, namun segera ku hadang
"Kenapa? ada yang salah sama omongan gue? "
"Maaf pak, tapi memang semua yang bapak katakan tidak benar, saya memang pacar pura-pura Pak Pandu, tapi saya tidak minta apapun darinya, seperti yang bapak katakan tadi.... " aku masih berusaha membela diri, terdengar suara riuh orang-orang yang menonton pertengkaran kami
"Jelas kamu akan mengatakan hal seperti itu, cewek murahan tetep aja cewek murahan" suaranya semakin meninggi, membuat orang menatapku rendah "pikir pakai otak, apa manfaatnya kamu jadi pacar pura-pura adik saya, kalau bukan karena uang? Nggak malu kamu? sok pura-pura jadi orang kaya, kasian orang tua kamu, dia pasti sudah menyesal telah melahirkan anak serendah kamu" Kali ini Pak candra benar-benar keterlaluan, dia menghinaku boleh, tapi kenapa harus bawa kedua orangtuaku, sejenak aku membeku menatapnya dengan amarah, air mataku mengalir, hatiku terasa tersayat dengan perkataan Pak Candra
"Kak, gue bilang cukupp" teriak Pak Pandu
"Buka mata lo Du, Gue tahu lo sakit hati sama gue dan Bintang, tapi nggak harus lo lampiasin sama cewek murahan kaya dia! " hatiku benar-benar seperti di hantam batu besar, sesak rasanya, sudah cukup aku di rendahkan disini. "Dan buat lo! gue kenal Pandu, gue tahu cewek seperti apa yang bakal dia cintai, jadi jangan pernah berharap lo bisa ambil hati Pandu! " Perkataannya semakin menyesakkan, tanpa sadar air mataku mengalir semakin deras, kupaksakan kedua kakiku untuk bergerak dan berlari.
Aku berlari mencari tempat yang sepi, agar tak ada yang menggangguku, teringat halaman belakang gedung, disana jarang sekali di kunjungi para karyawan ataupun tamu gedung.
Aku berdiri di depan sebuah air mancur, sambil terus menangis, tak tahu rasanya begitu sakit, saat menyadari jika tidak mungkin aku bisa mencintai Pak Pandu, jelas - jelas itu adalah kenyataan, dan saat ini hubungan kita hanya pura-pura, tapi kenapa aku begitu tak rela mendengarnya?
"Aghhhhhhhhhhh" teriakku melepaskan semua beban di pundakku
Aku tidak pernah merasakan rasa seperti ini, bagaimana caraku mengakhiri air mata ini?
aku begitu larut dalam tangisku, hingga aku merasakan sebuah pelukan, pelukan itu begitu hangat.
"Ki! " Aku sangat mengenali suara itu, suaranya terasa hangat dan lembut, namun suara itu semakin membuat dadaku sesak. Pak Pandu membalikan tubuhku, hingga aku dapat dengan jelas melihat wajahnya, sungguh rasa itu sangat kuat, ku tumpahkan tangisku dalam dekapannya
"Apa pemikiran semua orang seperti itu sama saya? " tanyaku sambil terus terisak dalam pelukan Pak Pandu
"Ngga Ki, contohnya aku! aku sama sekali tidak berpikir kamu seperti itu, justru kamu adalah wanita yang unik," ujar Pak Pandu sambil mengelus kepalaku, membuatku semakin nyaman, aku tak mau melepaskan dekapan ini, tak mau.....
Tapi aku kembali tersadar dengan ucapan Pak Candra, yang terus terngiang di telingaku . Aku siapa dan Pak Pandu siapa. Dengan berat hati, ku lepaskan pelukan Pak Pandu
"Harusnya kita memang nggak usah ketemu pak! " ujarku membuat Pak Pandu menatapku lekat
"saya takut, apa yang Pak Candra katakan itu benar, dan jika itu terjadi, hati saya yang akan semakin hancur"
"Maksud kamu ki? " tanya Pak Pandu tak mengerti
"Saya sadar saya siapa, dan Pak Pandu siapa, kita di ciptakan dengan hidup yang berbeda" jawabku
"Ki...! " Pak Pandu mencoba meraih pundakku, namun dengan cepat aku mengelak
"saya nggak mau terlalu nyaman dengan dekapan pak Pandu, jadi jangan buat saya terbang terlalu tinggi, karena saat saya jatuh, hanya saya yang akan merasa sakit"
"Ki, apa maksud kamu saya nggak ngerti? " tanya Pak Pandu
"Boleh saya tanya sesuatu? " tanyaku
Pak Pandu menjawabnya dengan anggukan
"Apa Pak Pandu mencitai saya? " jujur bibirku bergetar saat aku menanyakan hal itu.
Pak Pandu hanya menunduk dan tak bergeming.
"Saya sudah tahu jawabannya pak, jadi bapak nggak perlu jawab pertanyaan saya" ujarku " Saya pergi dulu pak, maaf jika saya lancang menanyakan hal itu" Aku pun segera berbalik hendak meninggalkan Pak Pandu, namun Pak Pandu menarik tanganku, dan menjatuhkanku dalam pelukannya.
"please, jangan pergi! " ujar Pak Pandu yang membuatku terkejut "Kasih aku waktu Ki, aku akan berusaha untuk bisa melepas Bintang"
Napasku sempat tertahan mendengar perkataan pak Pandu, perlu waktu untuk melepas Bu Bintang? , dan seandainya waktu yang ku berikan tidak pernah cukup untuk melupakan Bu Bintang, apa yang terjadi denganku? pikirku
"Maaf pak! " aku melepaskan pelukan Pak Pandu, meski itu terasa nyaman " itu tidak perlu, sebeberapa banyak pun waktu yang saya berikan untuk Pak Pandu, jika hati Pak Pandu masih ada Bu Bintang, semua akan sulit, Pak Pandu hanya akan menjadikan saya sebagai pelampiasan saja" jawabku
"Ki, saya mulai nyaman berada di samping kamu, tapi bayangan dan Cinta untuk Bintang memang masih tersisa di hati saya, dan saya akan berusaha membuang semua itu, cuman kamu yang bisa membuat saya melupakan Bintang" ucap Pak Pandu
"Itu bukan perasaan cinta pak! pakPandu nggak akan pernah bisa mencintai saya, dan saya nggak mau ada bersama bayang-bayang Bu Bintang di kehidupan Pak Pandu" ujarku dengan air mata yang masih mengalir " Maaf Pak sudah mau jam setengah 2 saya harus segera kembali bekerja"
"Ki.... " Pak Pandu menggenggam tanganku
"Maaf" satu kata yang ia ucapkan, namun memiliki beribu makna untukku
Aku hanya mengangguk dan berpaling dari Pak Pandu. Sebesar apapun aku meyakini Pak Pandu akan bisa mencintaiku,tapi kenyataannya aku salah, Bu Bintang tak akan pernah terganti selama nya.
Bu Bintang adalah mutiara untuk Pak Pandu, sedang aku adalah sebuah debu, yang jika menempel sjaa akan segera di bersihkan dan bodohnya aku, aku tidak bisa menerima kenyataan saat ini.