For A Great Love

For A Great Love
Episode 122 : hari bahagia



Pagi ini aku bergegas menemui Jefry, kediaman Jefry begitu ramai, saking ramainya sampai aku sulit menemukan anak tengil ini.


"Permisi ..!" tanyaku pada seorang wanita yang tengah sibuk entah apa yang ia kerjakan


"ohhh iya, temannya nak Jefry ya?" tanyanya langsung, setelah melihatku


"iya, Jefry ya dimana ya? Tadi coba ke kamarnya gak ada!" jelasku


"Jefry ada di kamar depan mas, dia lagi di massage" ujar wanita itu sambil senyum senyum tipis


"Ohh baik kalau gitu!" mataku mengitari seluruh sudut rumah Jefry, aku sama sekali tidak melihat keluarganya, semua yang kulihat terasa begitu asing.


Aku berjalan ke kamar yang di tunjukan si ibu tadi, beberapa kali aku menghubungi Jefry sama sekali tidak di angkat, dasar anak ini.


"tok tok tok " aku mengetuk kamar yang berada tak jauh dari ruang keluarga, setahuku ini kamar orangtuanya


"sebentar....." terdengar suara dari dalam kamar


Kreakkkk!!!! Seseorang dari dalam membuka gagang pintu


"OMG.....OMG ..OMG......." seorang yang ku kenal begitu terkejut melihatku


"Ochannnnnnn! Apa kabar?" aku tersenyum dan cukup kaget, karena sudah cukup lama tak bertemu dengannya, dia adalah pegawai terbaik di salon Jefry sayangnya dia harus resign karena satu hal.


"me? fine of course! You gimana?" jawabnya dengan gaya dia yang sedikit gemulai


"seperti yang Lo liat !" jawabku sambil membuka lebar kedua tanganku


"anak monyet....." teriak Jefry dr dalam.


Aku dan Ochan masuk ke dalam, terlihat Jefry tengah berbaring, dengan wajah yang di lumuri oleh masker


"Lo ngapain Jef?" tanyaku sedikit meledek


"lagi main billiard!" sungutnya ketus "maskeran lah....."


Aku tertawa melihat Jefry yang begitu pasrah, dia paling benci namanya perawatan wajah, meski dia sendiri memiliki salon.


"lagi mau nyaingin Ochan?" tanyaku tertawa


"ihhh, you.....jangan you ajak ngobrol Jeje, nanti maskernya pecah!" ujar Ochan


"tau, emang si anak monyet....gue lagi gak bisa aja nonjok Lo!" sahut Jefry


...****************...


Setelah Jefry selesai perawatan, kami melanjutkan perbincangan di sebuah cafe yang tak jauh dr rumah Jefry, karena suasana rumah Jefry yang ramai, membuatku agak tidak nyaman


"Ochan Lo sedikit macho!" puji ku sambil memegang bahu Ochan "Gimana salon Lo?"


"Baik dong.....! Malah ay sekarang lagi mau buka butik, doain ya........!'


"wihhhh mantap, mau buka di daerah mana?" tanya Jefry


"kelapa gading boulevard "


"wahhh keren, terakhir gue denger dari Jefry Lo lagi buka salon..."


"iya, padahal waktu itu ay titip undangan sama nih anak curut!" Ochan menoyor kepala Jefry yang duduk di sebelahnya


"gue lupa sorry!" Jefry tertawa tanpa dosa


"ohhh, gak papa santai aja !" jawabku pada Ochan yang merasa tak enak


"Ohh ya, ajaklah pacar you ke salon Ay, jangan ke salon Jeje Mulu....biar ay tau!" ujar Ochan sangat antusias


Aku hanya terdiam dan tersenyum kecut, begitupun Jefry, Ochan tampak sadar dengan maksud senyumku itu


" wait, Jangan bilang you gak punya pacar?" tanyanya dengan wajah kaget


"Punya dia, tapi .....!" Jefry tak melanjutkan perkataannya


"tapi apa?" Ochan penasaran, dia menatap wajah aku dan Jefry bergantian


"tanya aja sama orangnya!" ujar Jefry


"Du, pacar you kenapa? " tanya Ochan


"Lo yang bikin hubungannya gak jelas!" sahut jefry


"what? I'm not understand...." Ujar Ochan sambil memegang kepalanya


"Udah setahun lebih gue gak ketemu Kiand!" ucapku


"Kiand? Who is Kiand? Your love?" tanya Ochan, rasa penasarannya semakin kuat.


"yah, Kiand, dia orang yang paling berharga buat gue, tapi terpaksa gue harus menghindar dari dia untuk beberapa waktu...." jelasku


"seriosly?!!!......My God Du, Why......?"


"panjang ceritanya.....!" jawabku


"intinya dia terlalu pengecut buat hadapin Kiand!" sahut Jefry


Ochan terdiam dan menghembuskan nafasnya, "Kenapa Du?"


Aku menarik satu sudut bibirku, satu tanganku memainkan cangkir. Bagiku, sulit berada di posisi seperti ini, aku hanya ingin yang terbaik untuk Kiand, aku ingin dia bahagia, dia wanita yang selalu memberikan banyak hal untukku.


"Sulit Chan situasinya, untuk gue bisa sama-sama Ama dia!"


"hmmm pandu, ay yakin you pasti tersiksa dengan cinta yang seperti ini"


"bukan cuman dia yang tersiksa, Kiand juga!" ujar Jefry tak terima


"Cinta itu memang sulit Du, sabar ya, kalau memang you cinta, baiknya you perjuangkan!" nasihat Ochan


"ini lagi mau di perjuangin!" ujar Jefry gemas


"hah....! You mau temuin cewek itu?" tanya Ochan


Aku hanya tersenyum dan mengangguk,


"ahhhh good job! gitu dong, you harus bahagia...ingat bahagia!" ujarnya


...****************...


Hari ini, Hari bahagia untuk jefry, dan akupun tak kalah bahagia, selama persiapan menuju rumah Nanda, aku terus mendampingi Jefry, sayang Yoga tak bisa hadir, karena mendadak Reina sakit, ia tak tega meninggalkan Reina di Malaysia.


Sebelum berangkat, Yoga sempat Video Call dia begitu menyesal karena tidak bisa hadir di acara spesial Jefry, dan Jefry memaklumi itu.


Jantungku terus berdebar, sepanjang jalan, aku tak sabar untuk bertemu Kiand, dan aku ingin tau apa reaksi Kiand saat melihatku nanti.


Ku parkiran mobil pengantin di tempat yang di sediakan, Ayah Jefry terlebih dahulu turun dari mobil, di susul ibundanya dan Jefry, Dia begitu tampan dengan jas hitam hasil karya designer ternama, meski terlihat tampan, ketegangan dari wajahnya begitu jelas terlihat.


"Tenang Bro....!" aku merapikan jas Jefry, dia terlihat beberapa kali buang nafas, melepas ketegangannya


"tegang tau....!" jawabnya


Ibunda Jefry mulai menggandeng tangan anak kesayangannya ini, di susul ayahnya sedang aku ada di belakangnya, kami berjalan ke area gedung yang sudah di hias begitu megah. Seketika aku membayangkan pesta pernikahanku dengan Kiand , yang jelas akan lebih megah dari ini


Mataku terus mengitari seluruh ruangan yang cukup besar, tapi aku sama sekali tidak melihat Kiand, apa mungkin dia sedang menemani Nanda yang saat itu belum di perbolehkan untuk keluar.


kami begitu khidmat mengikuti setiap acara, sampai pada puncaknya, saat Jefry mengucapkan Janji di depan Ayah Nanda dan penghulu.


"Sah......!!!" ucap serentak para tamu undangan.


Ketegangan di wajah Jefry perlahan menghilang,


"huh ....." Jefry membuang nafas lega


Aku masih duduk di kursi tamu undangan, sambil terus mengamati dimana Kiand, rasanya tak sabar aku melihat Kiand.


Pembawa Acara meminta pengantin wanita untuk hadir di tempat akad, jantungku semakin berdebar tak karuan, aku yakin Kiand termasuk salah satu pendamping pengantin wanitanya.


Semua mata mengarah pada pintu masuk yang sudah di hiasi berbagai macam bunga dan hiasan lain, terlihat pengantin wanita mulai berjalan di atas karpet merah, tak butuh waktu lama, mataku langsung menemukan sosok yang aku cari, Kiand tampak cantik mengenakan gaun biru dengan rambut yang tertata rapi, rasanya aku ingin berlari ke arahnya.


Kiand masih belum menyadari keberadaan ku, karena aku sengaja duduk di antara saudara Jefry, aku tak ingin dengan mudah Kiand melihatku.


Acara akad sudah selesai, Jefry dan Nanda berjalan ke pelaminan, Kiand masih sibuk mendampingi Nanda sampai ia masih belum sadar dengan kehadiranku.


Aku melihat Jefry membisikan sesuatu pada Kiand, lalu mata Kiand mulai mengitari seluruh sudut ruangan, seakan sedang mencari seseorang, " dasar Jefry gak bisa jaga rahasia sebentar aja" gumamku dalam hati.