
"Kiand, kalau gue sama Yoga balik nggak papakan ?" tanya Pak jefry
Aku terdiam sejenak, itu artinya aku hanya akan berdua saja dengan Pak Pandu
"Kiand! " panggil Pak Jefry
" ehh itu ya pak, memangnya pak Jefry dan Pak Yoga harus pulang? " tanyaku merasa keberatan
"Gue masih banyak kerjaan nih! " jawab Pak jefry
" saya juga Ki! " tambah pak yoga
"hmmm, tapi kira-kira saya aman pak disini? nggak akan ada penggerebekan gitu? " tanyaku. mereka berdua terlihat tersenyum geli mendengar pertanyaan ku
"yahh kalau di gerebek, paling kamu di bawa Ki! " jawaban Pak Yoga seperti meledek
"Pak...! saya serius" ujar ku
"Lo pikir apartemen Pandu hotel melati....! " lanjut Pak jefry, dan lagi-lagi mereka berdua tertawa
"Pak saya serius ihhh! " tegas ku
"Nggak akan ada yang namanya penggerebekan, lagian memang kamu bawa narkoba?" tambah Pak Yoga
"hmmm ! " aku berpikir sejenak, mataku melihat kearah kamar Pak Pandu, kasian juga kalau aku tinggal sendiri
"Ki...! " panggil Pak Jefry
"Ya udah deh pak, saya tetap disini jagain Pak Pandu" jawabku pasrah
"Ya udah kalau gitu, saya pulang dulu ya...! titip Pandu ya" Pak jefry menepuk pundak ku dengan alis yang terangkat
"Udah ayo balik, jangan gangguin kiand! " Pak Yoga menarik tangan Pak jefry
"Bye Ki....! " mereka melambaikan tangannya dan menghilang di balik pintu
Apartemen Pak Pandu terasa sepi, aku mulai bingung harus melakukan aktivitas apa? ku intip kamar Pak Pandu, dia masih terlelap, begitu banyak alkohol yang dia minum, hingga dia semabuk ini.
Aku berjalan ke dapur, perutku mulai terasa lapar, saat ku buka kulkas, aku hanya melihat buah-buahan dan sayuran, ku buka lemari gantung yang ada di dapur, untunglah aku menemukan mie instan.
Aku mulai meracik mie buatan ku, ku tambahkan beberapa sayuran yang ada di kulkas
"Prankkk!!! " terdengar suara keras dari dalam kamar Pak Pandu, dengan cepat segera ku matikan kompor dan berlari ke arah kamarnya
Pak Pandu tengah duduk dan bersandar pada divan kasur, di lantai berserakan serpihan kaca, yang berasal dari sebuah pigura.
"Ada apa pak? " tanyaku saat melihat kamar Pak Pandu yang begitu berantakan
"Kamu! " Pak Pandu terkejut melihatku " Gimana kamu bisa ada disini? " tanyanya
"Aku di suruh Pak Jefry dan Pak Yoga menjaga Pak Pandu" jawabku gugup.
Ku rapikan beberapa pecahan kaca yang berserakan di lantai
"Nggak usah di rapikan ! " wajah Pak Pandu begitu lesu
"Tapi pak..."
"Saya bilang nggak usah di rapikan! " teriak Pak Pandu memotong pembicaraanku
Aku begitu terkejut mendengarnya, wajahnya memerah, amarah terlihat dari kedua matanya
"Pak ini banyak pecahan beling bahaya! " ujar ku sambil tetap merapikan beberapa pecahan kaca
"Keluar, tinggalin saya sendiri! " pintanya .
"Tapi Pak... " aku tetap merapikan pecahan kaca tanpa menghiraukan perintah Pak Pandu
"Kiand, kenapa kamu selalu mencampuri urusan saya? bisa nggak, kamu nggak selalu ada di hadapan saya, saya muak dengan sikap kamu yang keras kepala" Ucapan Pak Pandu begitu menyakitkan, Aku berdiri dan menatap matanya
"Niat saya baik ya pak! selama ini bukannya Pak Pandu yang meminta saya menjadi pacar pura-pura bapak, bapak juga yang membawa saya masuk dalam kehidupan bapak, bapak pikir saya mau? masalah saya sudah terlalu banyak, dan saya masih harus pikirin masalah bapak, kalau saya boleh pilih, saya lebih baik nggak kenal Pak Pandu" aku segera pergi meninggalkan Pak Pandu yang masih terdiam, rasanya begitu sesak saat Pak Pandu mengatakan "muak denganku" aku mengambil tasku dan bergegas keluar apartemen, tak perduli meski ini sudah larut malam.
sepanjang perjalanan aku menangis, ku raih ponselku dan segera menghubungi Pak Jefry
"Hallo pak... " panggilku dengan suara parau
"Kian, ada apa? lo nangis?" tanya Pak jefry
"maaf, saya nggak bisa temenin Pak Pandu, dan sepertinya saya tidak akan berhubungan dengan dia lagi, saya mohon jangan paksa saya untuk mengobati lukanya, karena justru hati saya yang terluka" jelas ku
"lo dimana sekarang? " tanya Pak Jefry
"aku baru keluar apartemen, aku mau pulang" jawabku masih dengan suara parau, karena tangis ku yang sulit terhenti
"Kiand, bahaya kamu jalan malam-malam sendiri, lebih baik lo balik lagi ke apartemen Pandu, besok pagi lo baru pulang"
"maaf pak, saya nggak mau, mulai hari ini saya tidak mau berurusan dengan Pak Pandu " jawabku dan langsung menutup sambungan telpon
Kota jakarta begitu sepi di malam hari, namun aku suka, hatiku tenang melihat lampu jalanan yang saling menyorot ke jalan raya. Beberapa orang terlihat masih melakukan aktivitasnya, tidak banyak kendaraan yang lalu lalang.
Dia terlalu jahat, nggak seharusnya Pak Pandu ngomong kaya gitu, emang selama ini aku mau masuk dalam kehidupannya, dasar egois, keras kepala, cowok mesum rasanya semua kata kasar masih kurang untuk menggambarkan sosok Pak Pandu yang menyebalkan.
Aku masih berjalan di pinggir trotoar, ku urungkan niatku untuk pulang ke rumah, jalanan menjadi nyaman saat ini, aku duduk di kursi taman yang berada di trotoar.
Angin malam seakan menjadi obat atas setiap luka hari ini, masalah yang datang silih berganti seketika lenyap. aku mulai merasakan kantuk yang teramat, mungkin karena angin yang terus berhembus. ku taruh tasku di ujung kursi, sebagai bantalan kepalaku, aku tidak perduli orang menatapku, aku oun tak perduli kemungkinan akan ada orang jahat yang menghampiriku, dan aku pun mulai memejamkan mata.
"Ki, Kian... kiannn" suara seorang terdengar memanggil namaku
"kian, bangun " ku coba membuka mataku yang terasa berat
"Pak pandu? apa itu dia? " aku pikir itu hanya mimpi
"Ki, aku minta maaf .... " suara Pak Pandu terdengar jelas, dan membuatku memaksa membuka mataku lebar-lebar
"Pak Pandu! " aku terkejut melihat Pak Pandu sudah duduk menatapku
"Ayo pulang, nggak baik wanita di luar malam-malam " ajaknya
"Nggak! " jawab ku ketus "ngapain bapak kesini? bukannya bapak muak dengan saya?" tanyaku mengingatkan ucapannya tadi
"Maaf Ki, tadi itu... "
"udahlah pak, bapak pulang aja, saya mau pulang, saya udah nggak mau berurusan sama bapak! "
aku beranjak dari kursi panjang dan meninggalkan Pak Pandu yang masih duduk terdiam
"Ki, Kian" panggil nya, aku mempercepat langkahku, agar tidak tersusul oleh Pak Pandu
"Kian...! " teriaknya, dan aku langsung berlari, untunglah Pak Pandu tak mengejar ku.