
"Kiaaannnnddddd! " teriak Dian saat dia melihatku keluar dari pintu lift
"Aduhhh Di! gak bisa apa pelan dikit suaranya? "
"Ki, lo tau gak! "
"Gak.... " potongku
"Ihhhh! tadi Pak Darma nyariin lo, dia marah banget karena lo gak ada di meja kerja! " jelas Dian, dengan raut wajah yang panik
"Terus ? " tanyaku mulai ikutan panik, rasanya dadaku bergetar, ini gara-gara pak pandu, kalau sampai Pak Darma memberiku SP aku akan minta pertanggung jawaban
"Ya udah sekarang lo ke ruangannya aja! " titah Dian
"Yaudah! oh ya, nih tolong lo taro di meja gue, yang ini buat lo! " Ku sodorkan papper bag pada Dian, dan segera berlari ke ruangan Pak Darma. Sesampainya disana ternyata sudah ada Kak Nanda juga.
"Permisi pak! " Sapaku sambil membuka pintu
"Hmmm! masuk! " raut wajah Pak Darma begitu menyeramkan, seperti singa yang siap menerkam mangsanya. Aku berjalan perlahan dengan kepala menunduk, Kak Nanda menatapku dengan menggelengkan kepalanya
"Duduk! " perintah Pak Darma, tubuhku rasanya bergetar seketika
"Jam berapa ini? " tanya Pak Darma dengan lantang
"Ma-ma-maaf pak! " jawabku terbata-bata
"Di hari pertama kerja, kamu sudah bikin ulah ya!" ujar Pak Darma sambil memukul meja di depannya, membuat aku terkejut
"Ma-ma-maaf Pak! " hanya itu yang bisa keluar dari mulutku
"Maaf, maaf! ini tempat kerja, bukan rumah, kamu gak bisa seenaknya keluar kantor seprti itu! " Nada suaranya semakin meninggi, hingga aku sulit untuk menjelaskan duduk permasalahan sebenarnya "Dari mana kamu? "
"Sa-sa-saya pergi dengan Pak. Pandu! " jawabku ragu
"Apa? " Ucap Kak nanda dan Pak Darma serentak
"Jangan bercanda kamu! " seru Pak Darma ragu
"eng-enggak pak! sa-saya nggak bercanda! " jawabku
"Bagaiaman mungkin Pak pandu mau pergi sama karyawan baru seperti kamu? " tanya Pak Darma
"Panjang pak ceritanya, tapi bener, sumpah saya pergi dengan Pak Pandu! " Aku menaikan kedua jariku tanda aku tidak berbohong
Pak Darma tampak melirik ke arah Kak Nanda, seperti ingin memastikan apa perkataanku dapat di percaya "Nanda, nanti kamu cek, dia bohong atau enggak, kalau sampai dia bohong, saya tidak akan memaafkannya, buatkan surat pemecatan untuk dia! "
Rasanya aku seperti di tampar mendengar perkataan Pak Darma, dia memang menyeramkan.
"Baik pak! " jawab Kak Nanda
"Ya sudah! kembali ke meja kerjamu, ingat saya hanya mencari orang yang serius bekerja! mengerti! " tegas Pak Darma
Setelah mendengar ocehan Pak Darma yang membuat telingaku sakit, aku kembali ke meja kerjaku, Kak Nanda masih di ruangan, entah apa yang sedang merrka bicarakan. Aku berjalan lesu ke meja kerjaku, seperti biasa, Dian akan dengan cepat menghampiriku untuk mencari informasi
"Ki! gimana? " tanyanya saat aku baru saja menaruh tubuhku di atas kursi "Ohh ya by the way, thanks banget, itu baju mahal banget ki! lo dapet dari mana? " ucapanya dengan ekspresi terkesan "Nanti dulu, nanti dulu! " dia terlihat melihat keadaan sekitar, sebelum kemudian berbisik padaku "Lo gak jual dirikan? "
mendengar perkataan Dian, aku segera memukul kepalanya "Auuuuu! sakit tahu "
"Lagian! lo fikir gue cewek apaan? buat apa juga gue jual diri cuman buat pakaian kerja? "
"Yahhh kali aja lo khilaf, emangnya lo kemana sih? terus bisa dapet baju itu dari mana? " tanya Dian jiwa penasarannya muncul
"Dian, Kiand! ini tempat kerja bukan tempat bergosip! Dian, kembali ke meja kamu! " tegur Bu Rita bagian Administrasi, yang kebetulan melihat kami berdua
"Tuh kan lo sih! sana , sana! " usirku pada Dian, akhirnya dengan berat hati dia meninggalkan meja kerjaku tanpa mendapat informasi apapun. Dia memang pemburu gosip, mak lambe mah kalah, Apapun di lakukan untuk mendapatkan informasi.
...****************...
"Gue duluan ya! " pamitku pada Dian yang masih menekuk wajahnya, karena aku masih belum cerita, dari mana aku mendapatkan baju itu.
Akupun berjalan keluar gedung, dan pergi menuju halte transjakarta. Seperti biasa Nouval akan terlihat berjaga di pintu masuk saat aku sudah berada di Halte berikutnya. Aku hanya melewati dua halte saja, kemudian naik bus umum untuk sampai ke rumahku.
Setibanya di kontrakan, aku tak menemukan Arga, tidak biasanya dia pergi tanpa mengabariku, aku berusaha menghubungi ponselnya, namun tak ada jawaban, aku juga sudah coba menghubungi temannya, apa mungkin ada kelas tambahan, tapi temannya bilang tidak ada! aku mulai panik saat itu dan berniat menyusul ke sekolahnya, namu tak lama dia pulang dengan napas tersenggal-senggal, matanya terus menatap arah jalan dimana dia berlari
"Arga! " Dia bahkan hampir menabrakku saat akan masuk rumah
"kakak, tolongin Arga ka! " raut wajahnya seperti ketakutan, entah apa yang terjadi dengannya
"Kamu kenapa? " tanyaku sambil segera mengunci pintu
"Ar-arga di kejar preman! " jawabnya sambil berusaha mengatur nafas
"Kok bisa? gimana ceritanya? " tanyaku
"Ar.Arga...! "
"Tok.. tok.. tok! terdengar suara ketukan dari luar, Arga semakin ketakutan, aku sendiri bingung apa sebenerarnya yang terjadi dengan Arga
" Kak, jangan di buka! " tangannya menggenggam tanganku begitu erat
Tok.. Tok. Tokk! Orang itu kembali mengetuk pintu
"Tapi ka? "
"Kamu percaya sama kakak! " aku memegang kedua pundak Arga untuk meyakinkan semuanya akan baik-baik saja. Arga adalah satu-satunya harta yang ku miliki, dengan cara apapun aku harus melindunginya. Setelah memastikan Arga sudah aman di kamar. Aku memberanikan untuk membuka pintu
"Cari siapa? " tanyaku pada dua orang pria bertubuh tinggi besar dengan mengenakan kaos hitam
"Mana bocah ingusan tadi? " tanyanya. Mungkin maksud mereka itu Arga
"Gak ada bocah disini! " jawabku berlagak bego
"Jangan bohong, jelas-jelas gue liat, bocah itu masuk ke rumah ini? " jawabnya lantang
"Terus kalau bocah itu masuk ke rumah ini, kalian mau apa? " jawabku sok berani, padahal sebenernya hatiku gemetar saat itu, bayangkan pria itu besarnya bisa lima kali lipat dari tubuhku, dengan otot-otot kekar yang dia punya, mungkin hanya butuh satu kali pukulan untuk membuatku tak berdaya
"Dia udah buat bos gue rugi besar! " jawabnya
"Gimana bisa seorang anak SMA bisa bikin rugi bos kalian? " tanyaku heran
"Udah mana anak itu! " pria yang satu menarik tanganku, hingga aku hampir tersungkur. Beberapa orang yang melihat keributan di rumahku hanya diam, maklum kawasan rumahku memang banyak preman, dan tak jauh dari sini juga banyak club malam, jadi hal tersebut seakan lumrah untuk mereka
"Woy kalian gak bisa masuk seenaknya kaya gitu dong!" Dua pria itu masuk dan mengecek keberadaan Arga, Di kontrakan yang hanya dua petak, jelas keberadaan Arga langsung di temukan. dengan kasar dia menyeret Arga
" Lepasin adik saya, kalian siapa? apa salah adik saya! " aku menarik baju dua pria itu, namun tenaga mereka jauh lebih kuat
"Kakak! tolong Arga ka, tolong! " tangis Arga. Akhirnya aku berlari ke dapur membawa pisau untuk mengancam mereka, saat mereka akan ke luar rumah, aku berlari dan berdiri di hadapan mereka.
"Berhenti, kalo gak saya tusuk kalian" ancamku, jujur tanganku bergetar saat itu, entah keberanian dari mana aku bisa mengancam mereka.
"Hmmm dasar bocah! " salah satu pria itu hanya mendengsu, sambil tersenyum tipis
"Salah adik saya apa? jelaskan? kalau adik saya membuat kerugian pada bos kalian, mana buktinya, jangan bersikap seenaknya kalian! " ucapku, Arga masih terlihat shock dan terus menangis
"Kalau kamu mau tahu, ayo ikut kami! " ucapa salah satu pria yang memegang tangan Arga
"Oke, siapa takut! " jawabku. Aku menutup pintu dan ikut bersama dua preman tersebut ke sebuah club malam yang tak jauh dari rumah. Jangan di tanya kenapa kami memilih lokasi ini sebagian tempat tinggal kami, selain murah, dari pertama aku merantau ke jakarta memang tempat ini yang aku datangi, ada bibi yang kebetulan tinggal disini dan bekerja di salah satu club malam. Lokasinya tak jauh dari pusat kota.
"Dasar bocah ingusan, kenapa lo biarin Imel pergi! " teriak seorang wanita dengan riasan wajah menor dan baju yang sangat mini.
Arga hanya tertinduk tak mampu menjawab, dia masih terus menangis ketakutan
"Imel? siapa imel? " tanyaku yang masih bingung dengan masalah Arga
"Lain kali ajarin adik lo, untuk gak ikut campur urusan orang dewasa! " wanita tersebut balik membentakku
"Sebenarnya apa masalah adik saya? " tanyaku, kali ini bukan hanya dua pria bertubuh tegap tapi ada lima, kami berada di sebuah ruangan yang penuh gambar wanita cantik, belum lagi botol kosong sepertinya itu botol minuman keras tertata rapi dalam lemari kaca
"Lo mau tahu masalah adik lo apa? dia membiarkan imel pergi, dan lo tahu siapa imel? imel adalah salah satu pekerja gue, dia bekerja untuk membayar hutangnya sama gue, sekarang kalau udah gini, siapa yang mau bayar hutang imel ? " bentak wanita itu penuh amarah
"Arga! apa bener kata ibu itu? " tanyaku
"Ibu, ibu...! memang lo fikir gue ibu lo? " bentaknya saat aku menyebutnya ibu, karen memang dari wajahnya dia sudah terlalu tua untuk di panggil mbak, atau kakak
"Ma-maaf " kataku
"Panggil mommy jasmin! " jawabnya sambil bergaya
"Ohh i-iya mommy jasmin! "
"Iya ka! " jawab Arga lemas,
Sepertinya masalah besar lagi kali ini! masalah terus datang silih berganti padaku, yah meski aku percaya tuhan tidak pernah memberikan masalah di luar batas kemampuan makhluknya, tapi rasanya masalah ini cukup berat
"Aduhh Arga, masalah kita aja udah berat, kenapa kamu nambah-nambahin masalah! " keluhku. Arga hanya menundu kan kepalanya
"Maaf kak! Arga gak tega liat Imel nangis terus! " jawabnya
"Kamu kenal Imel? " tanyaku. Dia mengangguk, rasanya tak percaya bagaimana mungkin Arga mengenal wanita pekerja club malam "Kenal dimana? " tanyaku
"Sudah, sudah, itu gak perlu di bahas disini, yang jelas gue mau lo tanggung jawab, semua hutang imel! " ujar mommy jasmin
"Memangnya berapa hutang imel? " tanyaku
"Tujuh puluh lima juta ! " Aku terkejut mendengar nominal yang di ucapkan Mommy Jasmin, Uang dari mana sebanyak itu, buat makan aja aku kerja keras.
"Ohhh gak, gak, gak bisa! ini bukan urusan kita, dengan imel aja saya gak kenal! " tolakku
"Oke! gak papa! tapi adik lo bakal gue suruh kerja disini buat gantiin imel! " ujar Mommy Jasmin. Aku tak mengerti apa sebenarnya skenario yang tuhan tulis untukku, kadang aku berfikir, setidak beruntung itukah aku, dengan semua masalah yang rasanya membuat otakku mau pecah
"Kalian gak bisa seenaknya seperti itu! kami bisa laporkan kalian ke polisi! " ancamku kesal
"Silahkan! gue gak takut! coba aja kalau berani? paling besok adik lo tinggal nama! " Dia balik mengancam, benar juga! dia punya kekuasaan disini, sedang aku?
"Oke..! oke! tapi jangan segitu! dan saya juga butuh waktu buat cari uang sebanyak itu! " negoku
.
"Gak masalah! gue kasih waktu lo selama tiga bulan! " jawabnya "Dan hutangnya gue kurangin jadi lima puluh juta! "