
Malam ini begitu cerah, berbeda sekali dengan hatiku yang gundah gelisah, aku masih memikirkan Pak Pandu, bagaimana ia di sana? mungkin aku sudah egois tapi aku tak bisa membiarkan hatiku terus terluka. Aku duduk di bangku panjang yang berada di sebuah taman samping rumah noval, dari sini aku bisa dengan jelas melihat Bintang, langit yang gelap tampak begitu indah karena pancaran cahayanya, apakah Bu Bintang sama indahnya di hati Pak Pandu? Ahhh semakin aku berusaha melupakannya, semakin Pak Pandu lekat di pikiranku.
"Hai...! " sapa Noval berjalan ke arahku, aku tampak aneh melihat ia mengenakan hoodie abu di padu dengan celana panjang, biasanya aku melihatnya mengenakan seragam, atau kaos pendek dan celana pendek.
"Hai... " jawabku tersenyum kearahnya
"Gue cari-cari taunya ada disini" sahut noval duduk di sebelahku
"Iya, lagi cari angin.. " sahutku
"Angin di cari, duit di cari... " canda noval membuat aku bisa tersenyum
"Dasar, kenapa nggak bilang kalau kamu sebenarnya anak Pak Tio? " tanyaku, Pak Tio adalah salah satu pejabat tinggi di perusahaan BUMN
"Untuk apa? " tanyanya "gue males hidup dengan embel-embel nama ayah, toh gue bisa sukses kok tanpa itu" sahutnya
"Yah bukan gitu, gue jadi nggak enak aja, suka nyuruh-nyuruh lo seenaknya" jawabku.
"Hahah... santai aja kali...! " sahutnya
"Ada yang mau lo ceritain ke gue? " tanya Noval, suasana malam ini terasa lebih serius, mungkin aku masih tidak percaya jika noval bukanlah orang sembarangan seperti yang ku kenal
"Hmm" ku naikan bahuku, sambil menggelengkan kepala menandakan tak ada yang ingin ku ceritakan padanya
"Kenapa? biasanya lo banyak cerita ke gue? " aku pun tak mengerti rasanya enggan berbagi kesedihan ini pada noval
"entahlah val, rasanya gue nggak mau bahas masalah ini, cuman bikin hati gue sakit" jawabku
"Se cinta itu lo sama... " Noval tampak berpikir
"Pak Pandu! " sahutku sambil menoleh kearahnya
"nah itu! "
"Heeemmm huuuu" ku tarik napas kemudian ku hembuskan "Gue nggak pernah cinta sama orang seserius ini val, dan yah hasilnya gue terluka"
Noval menyentuh tanganku yang ku letakan di atas kedua paha, aku sedikit terkejut dan reflek menatapnya
"ki, terkadang kita harus merasakan luka untuk bisa mengerti arti dari bahagia... " ujarnya " anggap aja ini proses hidup"
"heheh dapet kata-kata dari mana lo? " ledekku,
"ohh itu barusan ada yang bisikin" jawabnya asal
Dia selalu seperti itu, ada aja ucapannya yang membuat aku bisa tersenyum
"Nah gitu dong, kan cantik kalau ketawa" puji nya saat aku tertawa
"gue emang selalu cantik! " ujar ku membanggakan diri
"iya makanya gue suka... " sahutnya, tapi dengan nada yang pelan, hanya saja aku bisa mendengar dengan jelas
"maksudnya..?" aku segera menoleh ke arahnya
" yahh suka, suka sama lo! " jelasnya
"val.... " aku melemparkan tatapan tajam
"iya suka jadi sahabat lo... " ia memperjelas kata-katanya, membuat aku merubah tatapanku menjadi senyuman
"Masuk yuk! banyak nyamuk nih! " ajaknya
"Gue masih mau disini, mandangin Bintang... " jawabku
"Bukannya Bintang yang bikin hati lo patah! "
"ihh noval apaan sih! " aku mendorong bahunya, tapi kali ini Noval justru merangkul ku, dan membiarkan kepalaku bersandar di bahunya
"Lo nggak sendirian ki, gue ada buat lo, jadi gue harap lo selalu andelin gue, dalam masalah lo" ucapnya, terdengar begitu dalam.
Noval pria yang baik, dia juga sederhana dan nggak neko - neko, sayangnya di hatiku bukan ada noval, tapi pak pandu.
"Lo harus siap-siap kalau tidur sama dia" ujarku saat menengok arga dari pintu kamar noval
"kenapa? " tanyanya
"pokoknya semua jurus silat keluar kalau dia lagi tidur" jawabku
"hahahha... gue bisa tidur di tempat lain kok, lo tenang aja, jadi gue aman dari serangan arga... "
Kamar noval begitu luas, jika di banding kamar kosannya, anehnya dia lebih memilih tinggal di kosan dari oada di rumah yang mewah ini, kadang aku saja suka mengeluh saat tinggal di kobtrakan, yang sempit dan kumuh.
"Ya udah gue tidur dulu ya.. bye! " ku lambaikan tanganku sebelum aku berjalan turun ke lantai bawah.
...****************...
Pagi ini aku di antar noval berangkat kerja, rasanya jika bukan karena sebuah tanggung jawab aku enggan untuk pergi .
"thanks ya.. " ucapku sebelum aku keluar dari mobil noval
"Iya sama-sama, kalau pulang lo kabarin gue aja, nanti gue jemput" pesan Noval
"iya gampang, gue udah banyak ngerepotin lo, nanti gue bisa pulang sendiri " jawabku tak enak hati
" oke.. "
Aku berjalan keluar, dengan harapan tak bertemu pak pandu, tapi saat hendak memasuki lobby, pak pandu justru sedang berjalan ke arah lobby, kami saling menatap sebentar, sampai suara Noval membuyarkan tatapan kami
"Ki..! " panggilnya, ia terlihat berlari dari arah mobil, aku dan pak pandu menoleh ke arah noval berbarengan " nih tempat makan lo ketinggalan" ujarnya sambil membawa sebuah tas kecil, aku sempat lupa tadi bunda noval memang memberi bekal makanan untukku dan arga
"ohh iya gue lupa, thanks ya... " sahutku
Pak pandu masih terdiam kaku melihatku,
"bunda bisa marah kalau bekalnya nggak di makan" ujar noval sambil melirik ke arah pak pandu
"iya, gue makan thanks ya! " jawabku " ya udah gue kerja dulu ya, bye! " saat hendak berbalik noval menarik tanganku, dia melayangkan kecupan di keningku
"met kerja" ucapnya. aku yang syok hanya diam membisu tanpa bisa berkata apa-apa , aku tahu ini hanya cara noval untuk membuat pak pandu cemburu, dan caranya berhasil, bukan hanya aku yang terlihat kaget, pak pandu pun seperti itu, saat aku menoleh ke arahnya dia menatapku tajam, tapi Aku berusaha bersikap biasa-biasa saja.
"bye... " jawabku sebelum aku masuk ke dalam lobby.
Kami berjalan masing-masing, Pak Pandu menaiki lift khusus direksi, sedang aku menaiki lift karyawan, masih terasa sakit dalam hatiku saat aku menatap wajah pak pandu
"kenapa aku masih saja berharap padanya? " batinku
sulit sekali melupakan semuanya.
Sesampainya di kantor, aku di sambut hangat oleh dian dan Kak Nanda, ternyata kak nanda sudah menceritakan semuan yang terjadi pada dian
"Jadi lo udah pindah dari apartemen ki? " tanya kak nanda terkejut saat aku bilang sudah tak tinggal lagi di apartemen
"iya kak, untuk sementara ini gue tinggal di rumah noval" jawabku
"noval temen lo yang ketemu di tukang bakso? " tanya dian berusaha mengingat
"iya di...! " jawab ku
"Ya allah Kiand, sabar ya... " dian memelukku iba,
"thanks ya...! " ucapku
"kerjaan lo gimana? " tanya kak nanada
"gue masih akan ngelenjutin tapi setelah ini gue mau resign" jawabku
"kiand.... " kami saling berpelukan, berat memang saat aku harus memutuskan berhenti dari pekerjaan yang aku impikan dari dulu, bukan aku tidak membutuhkan pekerjaan, aku sangat membutuhkannya, terlebih aku masih harus mengirim uang untuk ayah di kampung, selama ini aku berusaha hidup sederhana karena aku harus membiayai pengobatan ayah.
Aku dan kak nanda kembali melanjutkan pekerjaan, sketsa gedung yang pak pandu minta juga sudah selesai, tiga hari lagi kami akan menyerahkan proposal ini pada pak jonathan untuk di kaji ulang, begitupun pihak pak candra, dan pakk jonathan akan memilih proposal pak pandu atau pak candra.