
Mobilku memasuki kawasan global hotel, dimana Bintang bekerja, untunglah saat tadi ku hubungi Bintang belum berangkat ke kantorku, karena kami memang ada jadwal meeting bersama.
"Pak pandu! " sapa sekertaris Bintang, sudah lama sekali aku tidak menginjakan kaki di kantor ini, terakhir, sebelum Bintang bertunangan dengan kak candra
"Bu Bintang ada? " tanyaku
"Ada pak di dalam, silahkan pak masuk! "
"Makasi ya...! " Ku ketuk pintu terlebih dahulu sebelum aku membukanya. Bintang tengah sibuk, dengan beberapa kertas yang berhamburan di meja.
"Pagi! " sapaku kaku
"Hei du, masuk...! " ujarnya. Bintang terlihat lebih kurus, wajahnya sedikit pucat, tidak berseri seperti dulu.
"Gimana kabar kamu? " tanyaku, dia masih duduk di kursinya sambil melempar senyum
"aku baik, kamu sendiri? "
"Nggak terlalu baik! " jawabku
"Hidup itu kadang berjalan tidak sesuai rencana kita pandu! " ucapnya, sambil merapikan beberapa kertas di mejanya, dan aku berjalan menghampirinya "hal penting apa, yang membawa kamu, menginjakan kaki ruangan ini lagi? "
"Aku udah tahu semua! " aku berdiri tepat di hadapan Bintang, setelah sekian lama, aku kembali menatap mata Bintang sedekat ini.
"Candra udah cerita semua! " ucap Bintang santai
"Kenapa Bi? " tanyaku
"Kenapa apa? "
"Kenapa kamu lakuin itu , kenapa kamu berpura-pura seolah kamu mencintai kak candra? kenapa? " tanyaku, Bintang masih terlihat santai dan hanya tersenyum
"Aku nggak lakuin apa-apa pandu! aku benar-benar mencintai candra"
"jangan terus membohongi dirimu sendiri! "
"Aku nggak membohongi diriku sendiri, aku memang mencintai candra... "
Ku tarik tangan Bintang, dan ku paksa dia menatapku "Bi, liat mata aku, sekarang bilang kalau kamu nggak cinta sama aku! "
"Pandu! lepasin ini kantor! " Bintang berusaha melepaskan cengkraman ku
"Bi, aku mohon bi! " pintaku
"pandu, tolong lepasin! " tegasnya
"aku nggak akan kepasin tangan kamu sampai kamu jujur sama aku! "
"lalu kalau aku jujur sama kamu apa akan merubah keadaan? apa kamu akan mencintaiku lagi seperti dulu? apa kamu akan melepaskan kiand dan kembali sama aku? " aku hanya membeku menatap Bintang, semua pertanyaannya sukses membuat otakku seperti ingin berhenti berpikir
"Itu tidak mungkin terjadi, saat ini aku snagat mencintai Kiand! "
"Yah, jadi untuk apa kamu tanya semua ini, kita hanya menjalani apa yang sudah menjadi pilihan kita masing-masing pandu! "
"tapi kenapa ? kenapa kamu melakukan itu? kak candra hanya mendonorkan ginjalnya untukku, dan kenapa kamu yang harus berkorban untuk itu! "
"Dan kamu tahu, apa yang terjadi setelah dia mendonorkan ginjalnya? bagimana perlakuan dia terhadap kamu setelah itu? kamu selalu di perlakukan tidak adil du, kamu ingat bagaimana dia dengan santainya merebut apa yang kamu miliki, dan kedua orang tuamu hanya meminta kamu untuk mengalah, bukankah itu terjadi sampai saat in?, bahkan saat dia merebut aku dari kamu, dan apa? om dan tante masih menyuruh kamu mengalah untuk kakak kamu, apa menurut kamu aku bisa melihat itu terjadi terus menerus? "
"lalu menurutmu dengan kamu mengorbankan perasaan kamu semua selesai? kamu sadar betapa frustasinya aku saat itu, kamu tahu bi, aku bahkan berpikir untuk mengakhiri hidupku! "
"Tapi bukannya kini sudah berubah? " ujar Bintang, aku tahu bintang akan menyinggung kiand kali ini
"Maksud kamu? "
"Kiand! bukannya kiand bisa menggantikan aku? " Bintang berjalan kearahku, kami saling berhadapan, mata kami mulai bertaut.
"Bi, saat ini aku tidak membicarakan kiand! ini tentang kamu dan perasaan kamu! aku hanya tidak ingin kamu terus menerus berkorban demi aku! "
"kenapa? " tanyanya "karena kini perasaan kamu telah berpaling? kamu tidak mau, merasa berhutang budi karena pengorbanan ku kan? "
Aku terdiam, apa yang bintang pikirkan mungkin benar, semua terasa mengganjal di hatiku, saat aku tahu jika semua yang bintang lakukan karena aku, aku bingung kerena hatiku tidak sepenuhnya mencintai bintang, dia hanyalah masa lalu dari ceritaku, dan kini perasaanku sudah sepenuhnya untuk kiand.
"kamu nggak bisa jawab bukan? "
"Bi, aku sangat mencintai kiand, aku minta maaf untuk itu, disaat aku bebar-benar terpuruk, kiand hadir menyadarkanku, jika apapun yang terjadi hidup harus terus berjalan, "
"aku tahu, dan kami akan menghadapi semua itu"
"Meski itu akan membuat kalian menderita? " tanya bintang "Pandu, aku cuman nggak mau kamu terluka"
"lalu bagaimana dengan kamu? kenapa kamu justru melukai dirimu sendiri? "
"Ini beda ceritanya pandu, Candra bahkan akan ... "
"memenjarakan aku? " potongku
"kamu tahu? "
"yah, aku juga mendengar itu, saat kak candra bicara sama mony"
"lalu? "
"itu tidak akan terjadi, sebenci-bencinya kak candra, dia tidak akan membuat aku di penjara"
"kamu yakin? " tanyanya
"yah, kamu bisa pegang ucapan ku! "
Bintang tersenyum, aku melihat ketulusan dari kedua bola matanya,
"Bi, ku raih tangan Bintang, Jawab pertanyaan aku, apa kamu mencintai kak candra? " ku tatap bola matanya yang bulat sempurna
"Aku mencintainya pandu! "
"kamu yakin, akan benar-benar menikahinya! "
Hangat telapak tangannya menyentuh pipiku seolah menularkan energi lain
"Aku memang mencintai kamu pandu, tapi aku akan lanjutkan pernikahan ini, ini sudah menjadi pilihanku, dan kamu tahu aku bukan? aku tidak pernah merubah pilihanku, meski aku harus menerjang sebuah badai besar sekalipun" Bintang tampak tak mampu menyembunyikan kesedihannya
ku sentuh punggung tangan bintang, yang mengelus pipiku, ku rasakan hangatnya cinta mengalir hingga membuat jantungku berdetak, rasa ini, rasa yang pernah ku rasakan dulu, tapi anehnya, aku tak menginginkan rasa ini kembali tumbuh
"Bi, aku minta maaf, aku tidak menyadari semua ini lebih awal, aku salah menilai kamu, maaf karna aku meragukan ketulusan cinta kamu, "
"Kamu nggak salah pandu! ini keputusanku, jadi tolong hargai itu"
Ku tarik tubuh bintang jatuh kedalam pekukanku, ku lepaskan semua perasaanku untuknya, dan pelukan ini sebagai permohonan maafku karena aku tidak bisa menepati janjiku, untuk selalu mencintai bintang selama hidupku
"Tetap bahagia untuk aku ya bi! " ucapku, air mataku tak sanggup ku bendung
"Aku akan bahagia pandu, kamu tenang aja! " jawabnya, Bintang memang tidak pernah berubah, dia begitu mengerti jika kekhawatiran ku hanya saat melihat dia terluka dan dia selalu meyakinkanku jika dia selalu bahagia.
"Boleh aku minta satu hal ? " tanyanya
"apa? " aku masih belum melepaskan pelukannya
"Jangan pernah terluka meski itu untuk kiand! aku tak sanggup melihat kamu seperti waktu itu, aku tidak bisa menjagamu pandu, aku tidak bisa merawat mu, meski sebenarnya aku mau"
"Iya bi, aku janji, aku akan lebih jago lain kali...! "
"Panduuu...! " bintang melepaskan pelukanku
Aku hanya tersenyum melihatnya sedikit merajuk
"Iya bintang, tapi aku nggak bisa janji, aku harus melindungi kiand! "
"kamu tahu, saat kamu mengatakan nama kiand aku cemburu" ujar bintang
"aku tahu bi, ! aku minta maaf, "
"kamu nggak perlu minta maaf, aku akan terbiasa, bukan hanya mendengar kamu menyebut namanya, tapi akan melihat kebersamaan kalian! "
Pagi itu, hubunganku dan Bintang membaik, tapi dengan status yang berbedal, bintang benar-benar melepaskan ku untuk kiand, begitupun aku,
Aku kembali ke kantor, dengan hati yang lega, meski masih ada sedikit ke ke khawatiranku pada Bintang.
Saat memasuki ruangan, ku lihat kiand sudah berada di sana, dia hanya tersenyum melihatku datang, aku yakin Yoga dan jefry mengatakan jika aku bertemu bintang.