For A Great Love

For A Great Love
Episode 10 Pelukan hangat



POV KIAND


Pak Pandu memintaku untuk secepatnya pindah ke apartemen, tapi aku menolak, karena aku baru saja membayar uang kontrakan, rasanya rugi banget kalau aku harus keluar dari rumah ini, toh uangku sudah masuk dan tidak akan bisa di kembalikan.


"Jadi kapan kita pindah ke apartemen kak? " tanya Arga saat kami sedang menghabiskan malam sambil menonton televisi


"Bulan depan ! " jawabku, mataku masih fokus pada tayangan sinetron yang menampilkan para aktor tampan dan berbakat.


"Kenapa gak bulan ini aja sih kak? " Arga memang belum melihat kondisi apartemennya, tapi aku sudah menceritakan bagaimana mewahnya apartemen itu, dari mulai kasur dan sofa yang empuk, tv plasma yang besar sangat berbeda dengan televisiku yang masih berbentuk tabung, dan banyak sekali semutnya, belum lagi kitchen setnya yang aesthetic.


"Kakak sudah bayar kontrakan sama Bu gatot, sayang kalau kita keluar, uangnya tidak mungkin di kembalikan! "


"Ya elah kak! lagian uang kontrakan kita cuman lima ratus ribu! " gerutu Arga,


"Kamu pikir lima ratus ribu itu daun? kakak kerja keras buat dapetin uang segitu, sekarang kamu bilang cuman! " Ujarku kesal, padahal aku sedang ingin konsentrasi dengan acara televisi yang tak pernah aku lewatkan ink, tapi karena Arga menyinggung masalah uang, konsentrasiku teralihkan "Udah ah kakak ngantuk mau tidur! "


Aku menaruh remot TV dan bergegas menuju kamar, Arga hanya diam melihatku, dia tahu jika kakaknya marah, tak ada kata yang boleh terucap dari mulutnya, karena ujung-ujungnya kami akan berdebat.


...****************...


Mendenfar suara bising Alarm berkali-kali membuatku perlahan mulai terbangun dan segera mencari keberadaan handphoneku yang tak pernah jauh dari sisiku. Tubuhku langsung terperanjat saat melihat jam di handphone sudah menunjukan pukul enam lebih tiga puluh menit


Shiiitttt ! aku telat! umpatku pada diri sendiri


Setelah membuat kue aku kembali tertidur, padahal biasanya itu tidak pernah aku lakukan. Dengan cepat aku membangunkan Arga yang masih tertidur di ruang TV, kebiasaan yang tak pernah hilang dari Arga, TV akan selalu menyala meski ia sudah tertidur, padahal sudah ku bilang, jika itu membuat listrik menjadi boros.


"Argaaaaaa!!!!!!! " teriakku persis di telinga Arga, membuat dia langsung terperanjat dan membuka mata


"Apa kak? " jawabnya panik


"Kita telat! cepat mandi! " perintahku, tanpa AIUEO Arga langsung berlari ke kamar mandi, dan aku hanya membasuh muka di keran tempat cuci piring


"Argaaaa sikat gigi kakak keluarin! " teriakku


"Iyaaaaa!!! " Setelah mencuci muka dan menyikat gigi aku langsung mengganti pakaian kerja.


"Argaa cepet! nanti kamu nggak bisa masuk! " ujarku sambil sibuk menyiapkan peralatan kerjaku


"Iya iyya...!!! "


Setelah memastikan semuanya sudah siap, aku dan Arga segera berlari keluar gang untuk menaiki Bus ke arah sekolah Arga. Untunglah Arga sampai di sekolah tepat waktu, dengan napas yang tersisa aku menaiki anak tangga sambil berlari untuk sampai ke halte Transjakarta.


Kondisi Halte begitu ramai tidak seperti biasanya, aku juga tidak melihat nouval pagi ini, ada apa sebenarnya? kenapa pagi ini penumpang transjakarta begitu membludak.


Aku memutuskan bertanya ke salah satu karyawan Transhakarta "Permisi mbak! kok tumben ya ramai banget"


"Iya mbak, ada bus mogok di jalur transjakarta! " jelas salah satu karyawan yang sedang bertugas di loket pembayaran


hadehhhh kenapa pagi ini sial banget! gumamku, tapi mau tidak mau aku harus ikut antrian karena sudah terlanjur di halte, rasanya males banget kalau harus kembali menaiki anak tangga.


Aku bersandar di sebuah besi karena terlalu lelah menunggu, sudah setengah jam Transjakarta belum juga datang.


"Woy...! " seseorang menepuk bahuku di tengah keramaian, saat aku menoleh ternyata Naufal, dia tampak santai dengan kaos polis dan celana jeans nya


"Lo gak kerja? " tanyaku karena dia tidak memakai seragam


"Nggak gue libur! " jawabnya "tumben lo jam segini masih disini? ada gangguan ya? "


"Iya nih! mana udah jam setengah delapan lagi, gue udah kesiangan! " keluhku


"Mau gue anterin? " Nauval menawarkan diri untuk mengantarku ke kantor.


"Boleh! " balasku tanpa pikir panjang, aku bisa telat jika masih berharap pada transjakarta.


"Ya udah tunggu, gue ada perlu sebentar sekalian pinjem helm! " Nauvalpun terlihat memasuki loket transjakarta dan berbicara pada seorang wanita yang tadi menjawab pertanyaanku


"Yuk! " ajak Nauval, Aku mengikuti langkahnya menuju tempat parkiran karyawan transjakarta


"Nih pake! " Nauval menyodorkan helm berwarna hitam yang langsung ku pakai.


"Naik! " suruh Nauval, Tanpa ragu aku segera menaiki motor yang nauval kendarai. "pegang erat-erat ya! kita ngebut biar lo nggak ke telat! " Akupun mengikuti perintah nauval untuk memegang pinggangnya erat-erat, namun Nauval mencoba menarik tangan ku agar aku melingkarkan di pinggangnya


"Jangan nyari kesempatan ya! " ucapku pada Nouval


"Gue nggak nyari kesempatan, gue cuman takut lo jatoh kalau pegangannya begitu! " teriak nauval sambil memacu motornya dengan kecepatan tinggi


Sesampainya di lobby, lagi-lagi aku menjadi pusat perhatian. Tapi aku tidak terlalu menghiraukan itu, aku segera membuka helm dan memberikannya pada nauval


"Thanks ya! " ucapku sambil menyodorkan helm


"Iya sama-sama! pulang mau gue jemput juga nggak? " tanya nauval


"Nggak usah, gue bisa pulang sendiri! " tolakku tak ingin terlalu banyak merepotkan Nouval "Ya udah gue masuk ya! lo hati-hati! "


"Oke! gue jalan ya! met kerja...!!!! " Nauval melambaikan tangannya dan aku membalasnya hingga motor nauval melaju meninggalkan lobby.


Aku terkejut saat mataku justru menemukan Pak Pandu sedang berdiri memperhatikanku dari sebrang lobby.


Sesampainya di meja kerja aku mencoba mengatur napasku, entah masalah apa yang akan terjadi setelah ini.


"Hei Ki! " sapa Kak Nanda seperti biasa


"Hey kak! " jawabku dengan sisa napas yang ada


"Kamu kenapa? abis ketemu setan? "


"Nggak kak, tadi takut telat! "


ini sih bisa di bilang ketemu rajanya setan


"Ohhh...! yaudah kerja! nih property yang harus kamu cek, sekalian besok tolong kamu bikin denah untuk perumahan yang di mampang ya! " perintah Kak Nanda sambil menyodorkan beberapa kertas laporan


"Iya kak! "


Baru saja aku akan menyelesaikan oekerjaanku, Ella datang menghampiriku, Ella adalah sekertaris Pak Darma.


"Mbak Kiand, di panggil Pak Darma ke ruangan! " titah Ella. Napasku aja belum teratur, jantungku di buat kembali berdebar aishhhhh ada apa lagi ini?


"Ohhh I-Iya! tapi kalau boleh tahu kenapa ya? " tanyaku penasaran


"Kurang tahu, tadi saya cuman di suruh untuk panggil mbak kiand! jawabnya.


Akupun segera meninggalkan meja kerja dan bergegas menuju ruangan Pak Darma


" Permisi pak! bapak memanggil saya! " ucapku setelah membuka pintu ruang kerja Pak Darma


"Ohhh iya! Masuki ki! " Dilihat dari raut wajah Pak Darma sepertinya tidak ada masalah, dia nampak santai dan tersenyum "Duduk Ki! "


Akupun duduk persis di hadapannya "Begini, mulai hari ini sampai tiga hari ke depan, Pak Pandu meminta kamu untuk bekerja di ruangannya! " jelas Pak Darma


"Ohhh iya pak! " jawabku. Kemarin Pak Pandu memang bilang, jika dia akan mengajarkanku etika berjalan, makan duduk dan entahlah apa lagi, benar-benar merepotkan jadi orang kaya


"Ya sudah, Pak Pandu sudah menunggu, jadi kamu langsung ke ruangannya aja ya! " titah Pak Darma


Sesuai perintah Pak Darma aku segara menuju ruangan Pak Pandu di lantai delapan belas. sepanjang jalan hatiku berdebar, membayanglan wajah Pak Pandu tadi saat di lobby


"Permisi pak! " sapaku saat pintu terbuka


"Masuk" Katanya sambil memoerhatikan entah berkas apa.


Akupun menutup pintu di belakangku dan melangkah mendekaati mejanya. Tapi Pak Pandu hanya diam, matanya tetap fokus pada sebuah kertas


"Hmmm! " Aku berdehem untuk mengalihkan perhatian Pak Pandu, tapi dia masih diam saja, entah apa maksudnya, dia juga tidak menyuruhku duduk jadi terpaksa aku tetap berdiri sambil memperhatikannya


"Hmmmm! " ku coba berdehem sekali lagi, kali ini dengan suara yang agak tinggi, tapi hanya mampu membuatnya melirik saja dan kembali fokus pada berkas yang ada di tangannya.


"Pak Panduuuuu! " Panggilku memakai alunan nada, lagi-lagi dia hanya melirikku. Aku sampai bingung gimana caranya membuat laki-laki sedingin es ini mengalihkan perhatiannya padaku


"Halooooo any body home? " Aku menundukan wajahku, dan mendekatkannya ke wajah Pak Pandu yang tertutup map, saat wajahku semakin mendekat, Pak Pandu menurunkan mapnya dan tanpa sengaja hidung kami bertabrakan, Aku terhanyut seketika, saat mataku menangkap bola mata Pak Pandu yang begitu tajam, cukup lama kami saling melempar pandangan, sampai akhirnya Pak Pandu menarik wajahnya menjauh dariku


"Mau ngapain kamu? " tanyanya "Mau cium saya ya! "


"Iihhhhhhh enak aja! bapak tuh yang cari kesempatan, pake acara saya panggil diem aja! " sergahku


"Kamu tahu saya lagi kesel sama kamu! " ujar Pak Pandu, menaruh berkasnya di atas meja dan beranjak dari tempat duduknya menghampiriku


"Kenapa? " tanyaku tanpa dosa


"Kamu tahu semua karyawan disini sudah lihat kita jalan berduaan kemarin! "


"Semua? sebagian kali pak! " potongku membuatnya melirik kearah ku,dia menyandarkan tubuhnya di sisi meja dengan kedua tangan yang ia silang di dada


"Yah sebagian! dan akan jadi semua! " ucapnya "Lalu kenapa tadi kamu di antar pria, pake acara dadah dadah! "


Ku angkat kepalaku dan langsung menatapnya, pertanyaan Pak Pandu tadi seperti mengisyaratkan jika ia cemburu "Bapak cemburu ya? " godaku


"Jangan GeEr kamu! Saya sama sekali nggak cemburu, tai yang jadi masalah kamu tuh statusnya pacar saya sekarang! kalau orang melihat kamu dengan laki-laki lain apa kata orang? "


"Ohh iya pak saya lupa! " jawabku sambil menggaruk kepala yang tak gatal


"Ini peringatan pertama untuk kamu, kalau saya melihat kamu bersama laki-laki lain di kantor ini, kamu bukan hanya saya keluarkan, tapi kamu harus mengganti ponsel saya yang kamu jatuhkan waktu itu! paham? " Kata-kata Pak Pandu begitu menyeramkan, bagaimana mungkin aku bisa mengganti ponselnya yang harganya lima kali lipat gajiku disini belum lagi ancaman yang selalu keluar dari mulutnya, Seketika kakiku lemas membayangkan jika itu terjadi, tambah lagi beban hidupku.


Ayo Kiand! jangan lakukan hal bodoh lagi


"Iya pak maaf! tadi tuh bus yang harusnya saya naikin nggak juga dateng, karena ada bus lain yang mogok di jalur transjakarta, kebetulan tadi itu teman saya! dan menawarkan diri untuk mengantar saya kerja, agar saya tidak telat! " jelasku


"Apa setiap pria yang mengajakmu, kamu selalu mau? " Tanya Pak Pandu, dan itu membuatku naik pitam, selama ini aku tidak pernah berhubungan dengan pria manapun kecuali nauval dan Arga! dan Pak Pandu saat ini.


"Maksud bapak apa? " aku balik bertanya dengan nada yang kesal, Wajahku bahkan sampai mendongak, agar bisa sejajar dengan wajah Pak Pandu yang jauh lebih tinggi dariku


"Yahh kayanya kamu gampang banget mau di ajak sama cowok! " jawabnya semakin membuatku kesal


"Bapak pikir bapak bisa seenaknya ngomong kaya gitu sama saya? Kalau bukan karena saya ingin bertahan di perusahaan ini, saya nggak mau jadi pacar pura-pura bapak, itu sangat merepotkan buat saya! tapi saya nggak punya pilihan lain, saya harus bekerja disini demi memenuhi kebutuhan hidup saya, Arga dan Ayah saya!? Dan Bapak yan sudah membuat saya terjebak tanpa bisa saya mengambil pilihan lain, selain saya menuruti semua perintah Pak Pandu, tapi itu bukan berarti saya wanita murahan seperti yang bapak pikir, Bapak enak, bapak nggak perlu mikir bagaimana caranya bayar uang sekolah! bagaimana caranya membeli obat yang harganya luar biasa mahal! bagaimana saya punsing harus memikirkan bayar kontrakan karena bapak punya segalanya, bapak bisa lakukan apapun yang bapak mau dengan uang bapak, tapi bapak nggak bisa menginjak harga diri saya!" air mataku menetes begitu saja, perkataan Pak Pandu sungguh membuat hatiku terluka " Dan satu lagi! yang tadi mengantar saya, dia adalah teman saya, selama saya hidup di bumi ini, saya tidak pernah dekat dengan laki-laki kecuali ayah saya, Arga dan nauval! " lanjut ku "Permisi! " Aku segera berbalik sambil menghapus air mataku, saat tanganku meraih gagang pintu dengan cepat Pak Pandu menarik tanganku dan menjatuhkan tubuhku dalam pelukannya.