
Pov Pandu
Aku melangkah perlahan mendekati Bintang yang berdiri di depan meja kerja.
"Ada apa Bi? Apa Kak Candra tahu kalau kamu kesini? " Ku hentikan langkahku tepat di hadapannya. Bintang hanya menggelengkan kepala, itu artinya Kak Candra tidak tahu jika Bintang menemui ku
"Kenapa? Apa sekarang Kak Candra juga melarang kamu untuk menemui ku? " tanyaku sedikit sinis
"Tidak Pandu, aku hanya menjaga perasaannya saja! " jawabnya
Aku terdiam. Ku susuri wajah Bintang dari samping, Bintang yang ku kenal dulu sangatlah berbeda, dia memang tampak lebih cantik, tapi anehnya perasaanku tak sedalam dulu
"Lalu bagaimana dengan perasaanku? " tanyaku. Bintang hanya tertunduk setelah menatapku "Kamu nggak usah khawatir, aku baik-baik saja" jawabku
"Pandu, aku mengakui semua adalah salahku. Aku mohon maafkan Aku " Bintang memutar tubuhnya dan menatapku, melihat binar-binar di matanya, aku jadi bertanya-tanya apakah ucapan ku tadi terlalu menyakitkan.
"Aku sudah memaafkanmu Bi! jadi kamu tidak perlu khawatir" jawabku sambil mendekap diriku sendiri
"Pandu...! " Bintang menegakan kepalanya seperti ada yang ingin ia ucapkan namun terasa sulit
"Ada apa? "
"Tentang tantangan yang Om Bagaskara berikan,.... " Kalimat Bintang menggantung, ia terlihat berpikir keras untuk mencari kata yang tepat "Tolong di pikirkan lagi" ujar Bintang Lirih
"Kenapa? kamu khawatir jika aku bisa mengalahkan Kak Candra? " tembak ku, Tubuh Bintang tampak mengejang mendengar ucapan ku yang tajam.
"Aku mengenal kamu Pandu! sangat mengenal kamu.... aku tahu, kamu tidak pernah mau bersaing dengan kakak mu sendiri, jadi aku mohon pikirkanlah keputusanmu " ujar Bintang seraya memohon
"Kamu memang sangat mengenalku, bahkan lebih dari diriku sendiri, tapi apa kamu juga memikirkan perasaanku, seperti kamu memikirkan perasaan Kak Candra " Aku menghela napas panjang lalu memandang kedua mata Bintang dalam-dalam, teringat kembali janjiku saat itu, aku bilang pada Bintang, jika dia adalah awal dan akhir kisah ku, aku akan berada di sampingnya, menggenggam tangannya, dan menjaganya, namun keputusan Bintang justru sebaliknya, dia memilih meluluh lantahkan janji dan perasaanku.
"Pandu " Bintang berjalan mendekat tangannya menyentuh bahuku "Aku tidak bermaksud merusak hubungan kalian berdua, maaf harusnya dari awal aku mengatakan yang sejujurnya jika aku mencintai kakakmu, tapi saat itu aku tak bisa.....kedekaatan kita membuat aku bimbang, kamu memperlakukan aku seperti seorang ratu, tapi perasaanku tidak tertuju padamu, dan aku tidak bisa terus membohongimu" Suara Bintang bergetar, ujung matanya sudah basah oleh air mata. Saat aku hendak mengapusnya, bintang dengan cepat menolak, dia lebih memilih menghapus air matanya sendiri.
"Maaf Bi, tapi ini bukan keputusanku, tapi keputusan papi, jadi lebih baik kamu bicarakan masalah ini pada papi" jawabku dingin
"Pandu, kamu tahu posisi aku saat ini? " tanya Bintang, perlahan tangannya menggenggam tanganku dan aku hanya bisa menatap itu. "Aku sudah tidak bisa lagi berada di pihakmu seperti dulu, kali ini aku akan membantu candra 100 persen, itu yang membuatku berat, seandainya aku bisa memilih, aku tidak ingin terlibat dalam masalah ini, tapi Candra memintaku membantunya, " Bintang memang ahli dalam hal ekonomi, jauh dariku dan Kak Candra, itulah keuntungan kak Candra.
"Kamu nggak usah khawatir bi! apapun hasilnya nanti, tapi aku akan tetap berusaha semampuku" jawabku melemparkan senyuam ke arahnya,
"Maaf jika sekarang aku bukan lagi orang yang mendukungmu, melainkan lawanmu" Bintang tertunduk, air matanya jatuh hingga meninggalkan bekas di lantai, ada rasa sakit yang mencuat kala aku tidak bisa lagi mengusap air matanya
"Aku mengerti... " jawabku dan saat itu juga Bintang langsung memelukku dengan erat, aku hanya diam tanpa membalas pelukannya. aku merasa dalam hatiku sudah tidak ada cinta sebesar dulu.
Kreak!!! Suara pintu memaksa kepalaku menoleh ke belakang, dan ku lihat Kiand tengah berdiri kaku memandangiku yang tenfah berpelukan dengan Bintang, aku segera melepaskan pelukan Bintang dan menghampiri Kiand, saat ku tanya dia hanya diam dan berlalu pergi, aku mencoba mengejarnya, tapi sepertinya dia marah, entah kenapa ada rasa senang saat aku melihat Kiand marah saat itu, aku berharap tindakan Kiand kali ini karena dia cemburu melihatku dengan Bintang, ku ikuti perlahan kemana ia pergi, ternyata ia ke toilet dan aku memutuskan untuk menunggunya.
Akhir-akhir ini aku merasa isi otak dan hatiku tidak karuan, semuanya seperti keluar dari rute yang telah ku rencanakan belum lagi tumpukan map yang harus selesai dalam beberapa hari kedepan.
Aku memilih melupakan semua pekerjaan yang membuat aku muak, terdiam sejenak sambil mengingat kembali bagaiman ekspresi wajah Kiand saat tadi di janitor wajahnya yang polos hanya mampu menatapku tanpa berkata apa-apa. Aku seperti orang gila, hanya senyum-senyum sendiri sambil memutat mutar pulpen di tanganku.
Dering telpon memecahkan lamunanku tentang Kiand, segera ku raih ponsel yang berada di dalam saku jas ku, terpampang nama Jefry di layar ponselku.
"Heh kunyuk, kemana aja lo? " tembakku, saat panggilan mulai tersambung
"Pandu sorry, gue malam ini ada acara nih, gue nggak bisa nemenin lo ya! " ujarnya. Aduh anak tengik ini memang menyebalkan, di saat pekerjaanku membludak dia justru tidak membantu ku
"Lo mau kemana? " tanyaku
"Hahahah ada deh, urusan anak muda, bukan urusan pengusaha " ledeknya
"Kurang ngajar lo, terus gue lembur sendiri? "
"Yahh sehari doang, Yoga juga katanya nggak bisa ya! "
"Ya udah, tapi besok pagi lo ke kantor ya, ada yang harus gue jelasin" ujar ku
"Oke...! ya udah ya bye, " sambungan telpon terputus tanpa menuggu balasan dariku
Terpaksa aku harus membawa pekerjaanku ke apartemen, karena ini harus selesai besok, rencananya besok aku akan memanggil perwakilan dari beberapa perusahaan yang ku pilih untuk mempersentasikan hasil proposal mereka, jadi besok pagi aku harus sudah siapakan perusahaan mana saja yang bisa ku pilih.
Jam menunjukan pukuk 11 malam, sedang aku masih berada di kantor, aku bahkan lupa mengisi perutku hingga terasa sakit. Ku putuskan untuk pulang ke apartemen, dan melanjutkan pekerjaanku di sana.
Sepanjang perjalanan aku merasa badanku tidak karuan, beberapa kali aku menaikan suhu ac mobil, tapi rasa dingin masih saja menusuk, untunglah aku masih bisa fokus mengendarai hingga sampai apartemen. Setelah memarkirkan mobil, aku berjalan menuju lift dan naik kekamarku di lantai atas, langkahku sempat terhenti saat berada di depan pintu kamar Kiand, lusa kamar ini akan kosong, dan mungkin aku akan merindukannya.
Kiand memang wanita sederhana, tapi dia bisa membuatku tersenyum disaat diriku sendiri saja memilih untuk menghapus senyum itu. Aku kembali berjalan menuju kamar, rasa perih di perut sudah tidak tersa lagi, membuatku mengurungkan niat mengisi perut, dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
Aku mulai membaca kembali beberapa proposal, hingga ku tidak menyadari jika jam menunjukan pukul 4 dini hari, itu artinya aku tidak makan dan tidak tidur seharian. Pantas saja kepalaku mulai berat, aku beranjak dari meja kerjaku, hendak mengambil obat sakit kepala, dan air di dapur, tapi saat aku akan meraih gelas, pandanganku tiba-tiba kabur, hingga membuat beberapa gelas terjatuh dan pecah
Aku terdiam sesaat menyandarkan tubuhku pada sebuah meja, perlahan ku tutup mataku lalu kembali ku buka, berharap cahaya yang berada dalam mataku hilang, tapi bukannya hilang pandanganku semakin tidak jelas
Tok tok tok!!!! "Pak Pandu... "aku mendengar suara Kiand dari luar kamar, tapi aku ragu, apa itu sungguh dia atau hanya halusinasi aku saja karena terlalu memikirkannya
"Pak..... teriakan itu terdengar lagi, kali ini di barengi dengan ketukan pintu , itu benar Kiand! gumamku Aku berusaha berjalan menuju pintu, tapi sakit kepalaku semakin dahsyat, beberapakali aku terhenti hanya untuk menyeimbangkan tubuhku yang mulai sempoyongan
"Pak tolong buka pintunya ...!!!!!"suara itu kembali terdengar. Dengan tergopoh gopoh aku membuka pintu, benar saja Kiand sudah berdiri di hadapanku, aku senang bisa melihatnya lagi, tapi sekitika pandanganku gelap dan aku tidak ingat lagi apa yang terjadi.