
POV Kiand
Pemandangan ini begitu membuat hatiku nyeri, bagaimana mungkin orang tua bersikap tak adil pada anaknya?
Pak Pandu pergi begitu saja, ia bahkan tidak menoleh kearahku sama sekali, Suasan ruangan yang tadi riuh dengan gemuruh amarah Pak Pandu, kini berubah menjadi sepi, Sang ibu hanya bisa menangis, saat anak yang selama ini tak ia pandang meluapkan isi hatinya, sedang sang ayah, hanya diam menutupi kesedihannya, dan....
rasanya aku tak sanggup mengucapkan nama itu, wanita yang pernah ada di hati pak pandu, wanita yang pak pandu anggap begitu istimewa, ternyata dengan mudahnya mematahkan hati pak pandu.
Kami semua membisu, seakan ucapan pak pandu menjadi renungan bagi mereka, meski aku tahu tidak untuk pak Candra.
"Om, dan tante sudah lihat, bagaimana sakitnya pak pandu? " tanyaku memberanikan diri, akupun geram dengan ketidak adilan yang pak pandu terima
" Selama ini pak pandu hanya berpura-pura untuk tetap kokoh berdiri, tetap tersenyum, dan mungkin tetap hidup, hanya untuk kalian, lalu apa yang kalian berikan padanya? "
"Hey cewek bayaran, berani kamu bicara seperti itu! " sahut pak Candra
"Seandainya saya memang wanita bayaran, tapi saya tetap bisa menjaga perasaan orang lain, apa lagi adik sendiri! " balasku
"Udah ki, ayo pergi! " Kak Nanda menahanku untuk tidak ikut terlalu dalam
"Ingat satu hal! suatu saat kalian akan menyesal karena telah bersikap tidak adil pada pak pandu! " Aku, pak jefry, kak nanda dan pak yoga meninggalkan ruangan. Saat ini Pak Pandu benar-benar terluka
"Ki, lo samperin pandu, gue sama yang lainnya tunggu di coffee shop" ujar Pak Yoga. Aku menjawab dengan anggukan dan bergegas ke ruangan pak pandu
Karin tampak senang ketika melihatku, ia langsung berdiri dari kursinya
"Bu kiand! " panggilnya
"Pak Pandu ada di dalam? " tanyaku
Karin mengangguk, raut wajahnya penuh ke khawatiran
"Saya masuk dulu ya...! "
Ku buka gagang pintu secara perlahan, sungguh aku terkejut saat aku lihat ruangan pak pandu yang berantakan, kertas berserakan, buku, bahkan telepon terputus dari kabelnya. Aku berjalan sambil mengambil beberapa buku dan map yang berserakan, Pak Pandu tampak kacau, ia bahkan duduk di lantai dengan kedua kaki yang di tekuk, serta tangan yang ia taruh di atas lutut dan bersandar pada kaki meja kerjanya.
Ku taruh beberapa buku yang sempat ku ambil di atas meja kerja. Ku turunkan tubuhku, tepat di hadapan pak pandu, wajahnya begitu kusut, masih tersisa air mata dari ujung matanya.
"Maaf...! " ucapannya terdengar lirih, Ku hapus sisa air matanya, ku genggam tangannya aku menggelengkan kepalaku, karena kata maaf itu tidak perlu pak pandu ucapkan
"Terima kasih! " ucapku, akupun tak mampu membendung air mataku, melihat pak pandu sekacau ini hatiku sakit, sangat sakit. "Pak pandu selalu membelaku! "
Pak Pandu terlihat melipat kedua kakinya, tangannya mengusap air mataku, dia menjatuhkanku dalam pelukannya
"Kamu tahu, betapa rapuhnya aku saat ini! " ujarnya "aku bahkan tidak yakin apakah aku anak mereka atau bukan? "
"Pak Pandu... " ku dekap erat tubuh pak pandu
"Mau ku tunjukan sesuatu? " tanyaku, aku berniat membawa pak pandu pada satu tempat, bukan tempat yang mewah, tapi cukup efektif untuk meluapkan kesedihan hati.
Ia melepaskan pelukannya, menghapus air matanya, dan tersenyum "Apa yang mau kamu tunjukan? " tanyanya
"Hal yang membuat pacar tidak sedih lagi! " jawabku
"Memangnya ada hal yang seperti itu? " tanya pak pandu tampak tidak yakin
"Ada dong! gimana mau nggak? " tanyaku
"Oke, tapi kalau itu nggak ngebuat saya happy, kamu harus temani saya malam ini! " pintanya
"Ihh pak pandu... genit! " aku segera bangkit menjauh dari pak pandu, senang rasanya melihat ia masih bisa tertawa meski hanya sedikit.
"Kamu nggak mau bantu aku bangun? "
"memangnya pacar anak bayi! bisa bangun sendiri kan? "
"baiklah! " ia tampak berusaha untuk bangun "auuu... auuu... aduhhh dada saya sakit" rintihnya
dengan cepat aku berlari kearahnya "Pak Pandu nggak papa? " tanyaku menyondongkan kepala tepat di wajahnya
"Aduhhh sakit! " dia masih merintih
"Mana yang sakit? " tanyaku
Pak Pandu memegang pergelangan tanganku, dan menaruh di dadanya
"Ini yang sakit...! " jawabnya, namun tidak dengan merintih, tapi dengan senyuman, ternyata aku di tipu olehnya
"Pak Pandu! " ujarku kesal
Aku berusaha melepaskan tanganku dari genggaman tangan pak pandu, tapi pak pandu justru menariknya, hingga bibir kami saling menempel, aku membeku dalam hitungan detik, namun aku segera tersadar, saat menatap mata pak pandu yang terpejam, segera ku tarik tanganku, dan mendorong wajahnya dengan tangan kananku. aku segera menjauh darinya, dan merapikan kembali pakaianku
"Dasar mesum! " umpatku, dia hanya tersenyum sambil bangkit dari duduknya
"Bukan mesum, cuman mau minta satu ciuman aja... "
"Saya bingung! apa pak pandu memiliki dua kepribadian? " tanyaku
"yah, dalam hitungan menit saja kesedihan pak pandu bisa berganti begitu saja... "
"itu karna saya punya kamu! " jawabnya " jadi nggak mau tunjukin saya sesuatu? "
"Jadi dong, tapi tunggu sebentar! " aku merapikan dasinya, dan jas yang ia kenakan, tadi itu seperti bukan pak pandu yang selalu terlihat keren
Setelah mengabari pam yoga, Kami pergi menuju sebuah taman di tengah kota, yang memiliki sebuah air mancur, suasananya cukup sepi di saat jam kantor, tapi akan sangat ramai di hari libur
Mobil pak pandu parkir di tempat yang sudah di sediakan
"Jadi cuman taman yang mau kamu tunjukan? " tanya pak pandu
"Udah ikut aja! " aku membawa pak pandu masuk kedalam taman, yang menyuguhkan pemandangan indah, serta air mancur yang cantik
"Saya kalau lagi sedih suka banget kesini! "
"Sama siapa? "
"Sendiri! " jawabku
"ngapain? "
"Pak Pandu coba teriak deh! " titahku
"Teriak? " tanyanya
"Iya teriak! kaya gini! aaaaggggggggghhhhhhhhhhh" teriakku sekencang-kencangnya
"saya coba ya! " ujarnya "aggggggghhhhhhhhhhhhhhhh"
"Ayo kita teriak bareng ya.... satu... dua.. tiga... "
kami berteriak sekuat tenaga, dan setelah itu kami saling tertawa, aku senang melihat pak pandu tertawa lepas seperti ini, ia tampak jauh lebih baik
"Gimana? lebih enakan ? " tanyaku
"yahh, lebih baik! " jawabnya
Kami saling bergandenagn dan kembali berteriak, meluapkan segala kesedihan dan kemarahan kami.
"Pak pandu tunggu sini! " pintaku
"kamu mau kemana? " tanyanya
"udah tunggu aja! "
aku berlari ke sebuah kedai yang tak jauh dari taman, di situ menjajakan es cream berbentuk
"permisi mbak" sapaku pada penjaga kedai
"ohh iya mbak, mau beli apa? " tanya penjaga kedai
"Saya mau es cream dua ya! " Penjaga kedai itu memberikan 2 cone es cream rasa coklat, setelah membayar, saya kembali ke taman menemui pak pandu
"Nih! " ku sodorkan 1 cone es cream
"Makasi, ini saya di traktir nih? " tanyanya
"Hmmmm! untuk kali ini saya traktir pacar, tapi kalau nanti pacar ajak saya kesini, saya yang di traktir ya..."
Kami berjalan menyusuri air mancur sambil menikmati es krim.
"menurut penelitian es krim adalah salah satu makanan yang bisa membuat kita bahagia" ujarku
"oh ya? kenapa? "
"karena es krim itu mengandung gula yang mampu melepaskan hormon serotonin dalam tubuh"
"Kamu tahu dari mana? "
"dari artikel yang pernah saya baca"
"artikel itu kamu tidak benar! "
"loh lenapa? saya selalu bahagia saat saya menikmati sebuah es krim " aku menghentikan langkahku sejenak
"Karena bukan es krim yang buat saya bahagia, "
"teru apa? "
"Tapi menikmati es krim itu sama kamu! " Pak pandu menunjuk hidungku, dan jujur aku tersipu malu di buatnya
Kami menghabiskan waktu siang ini dengan berbincang, bincang, melupakan kesedihan yang terjadi hari ini, kami duduk di sebuah bangku taman, dan ku sandarkan kepalaku di bahunya, sambil menikmati musik yang tersambung melalui earphone milikku.
Cinta itu sederhana hanya saja kita sendiri yang membuatnya rumit.