For A Great Love

For A Great Love
episode 17 Rasa yang aneh



"Pandu! " seseorang teriak memanggil namaku, saat itu aku sedang duduk menunggu Kiand yang masih dalam penanganan dokter. Aku langsung menoleh kearah suara, dan ternyata Jefry tengah berlari kearahku


"Kiand kenapa? " tanya Jefry, aku masih tertegun lemas


"Dia kejebak di lift" jawabku lirih, Bintang terus berusaha menenangkan ku dengan tetap berada di sampingku, mata jefry mengarah pada sosok Bintang.


"Gara-gara lo? " ucapnya. Aku tak bisa menjawab dan hanya tertunduk, semua memang salahku, andai saja saat itu aku ingat janjiku pada Kiand, mungkin tidak akan terjadi. "Sini" jefry menarik tanganku menjauh dari Bintang.


"Apa sebenarnya yang ada di otak lo? bukannya lo tadi ada janji sama dia? lo tau, dia nungguin lo! " Baru kali ini aku melihat jefry seserius ini.


"Gue.. gue beneran lupa Je! "


"Emang lo ya! nggak punya perasaan! sampai kapan lo mau bergelut dengan perasaan lo sama Bintang? buka mata lo, buka hati lo! Bintang cuman Cinta sama Mas Candra bukan lo! " jefry begitu emosi, mungkin dia sudah lelah melihatku yang masih terobsesi pada Bintang.


"Gue juga gak tau Je! " Aku hanya tertunduk saat jefry terus meluapkan emosinya.


"Kiand anak yang baik Du, sampai kapan lo manfaatin dia, buat tipu daya hati lo sendiri! " Jefry tak menunggu jawabanku, dia langsung pergi dan duduk di kursi tunggu. Sampai saat ini aku pun belum tahu, kapan aku bisa membuka hatiku untuk orang lain. Cintaku pada Bintang seolah sudah tertanam cukup dalam, hingga sulit rasanya untukku menerima semua.


"Keluarga Pasien Kiand! " Suara suster terdengar dari pengeras suara, aku langsung mendekati pintu IGD, begitupun dengan Jefry dan Bintang


"Maaf hanya dua orang saja yang di perbolehkan masuk! " jelas seorang suster yang berjaga di pintu IGD


"Kalian masuk aja, biar aku tunggu disini, " ucap Bintang


Aku dan Jefry segera menemui Kiand di ruang IGD, saat kami masuk ke dalam ruangan yang hanya tertutup tirai, Kiand tengah terbaring lemah, namun ia sudah siuman.


"Hei gimana kondisi lo? " tanya jefry, aku hanya diam tak bisa berkata apa-apa.


"Heheh baik kok, saya udah nggak papa, " jawabnya dengan berusaha tersenyum meski masih terlihat lemah.


"Gue pikir lo nggak takut apa-apa, ehh ternyata nyali lo cuman sampai di dalam lift mati. " goda Jefry sambil duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Kiand, sedang aku hanya berdiri di sampingnya.


"Bapak belum tau aja rasanya ada di dalam lift mati, gelap lagi, kalau tiba-tiba tuh lift ambruk ke bawah apa nggak melayang nyawa saya" jawab Kiand. Satu hal yang selalu aku pikirkan saat melihat Kiand, bagaimana dia bisa tetap bahagia melewati segala masalah yang selalu dia hadapi.


"Hahahahha lo takut mati? " sahut Jefry


"Yah takut pak, saya masih banyak dosa, belum lagi adik saya Arga....! Arga! " Kiand langsung beranjak dari tidurnya saat menyebutkan nama Arga


"Saya harus pulang pak!" ujarnya


"Kiand, kamu masih sakit, bisa pelan sedikit nggak! " sahutku, refleks memegang tangan Kiand yang terpasang infus


"Tapi adik saya sedang tidak aman sekarang! " dia begitu panik


"Ada apa dengan adikmu? " tanyaku terbawa panik


"Nggak bisa di jelasin disini, yang jelas saya harus pulang! " Kiand terus memaksa untuk bangun dari tempat tidurnya


"Kiand bisa tenang dulu nggak! " bentakku, Kiand terdiam menatapku yang tanpa sengaja meninggikan suara


"Kamu masih harus dalam perawatan dokter, ngerti! " lanjutku


"Bapak pikir saya bisa tenang, sedang adik saya sedang ketakutan di rumah! " Kiand tampak tidak terima karena aku telah membentaknya


"Saya tahu tapi kondisi kamu.... "


"Kondisi saya nggak penting, adik saya lebih penting! " potongnya, dia masih bersikeras untuk turun dari kasurnya


" kondisi kamu sangat penting buat saya! " lagi-lagi aku membentaknya, dia hanya terdiam menatapku lekat, begitupun Jefry, kata-kata itu keluar begitu saja.


Suasana seketika hening, tak ada kata yang terucap dari Kiand, begitupun dariku, tapi setidaknya Kiand meluluh dan mau mendengarkanku untuk tetap berada di kasurnya.


"Udah, udah! ini rumah sakit, masih sempet-sempetnya kalian bertengkar" jefry mencoba memecah keheningan "Dimana adek lo? gue yang bakal jagain dia, gue bakal bawa dia kesini! " ujar Jefry


"Maksudnya? " tanya Jefry tak mengerti


"Ceritanya panjang yang jelas sekarang bapak harus cepetan ke kontrakan saya, masih ingatkan? "


"Iya masih! "


"Ya udah cepet sana...!!!! " Aku tak mengerti apa sebenarnya yang terjadi dengan adiknya Kiand.


"Iya.. iya...! " sahut Jefry "Ya udah gue cabut ya..! " Jefrypun meninggalkan ruangan, kini hanya ada aku dan Kiand. Kami tak saling bicara hanya menatap satu sama lain, kemudian berpaling. Aku dududk di kursi samping ranjang Kiand, dia kembali berbaring setelah Jefry pergi.


"Saya minta maaf, " ucapku lirih


"Untuk apa? bapak nggak salah kok! " jawabnya, masih dengan memalingkan wajah


"Karena saya lupa dengan janji saya! "


"Ohhh...! santai aja kali pak, itu bukan salah bapak, sayanya aja yang bodoh, terlalu yakin bapak akan tepati janji bapak! " Ucapan Kiand aku anggap sebuah sindiran


" Ki! " panggilku, Dia menoleh menatapku "Saya benar-benar minta maaf, saya tidak... "


"Hahahhaah.... "Dia tertawa lepas di saat aku benar-benar merasa bersalah


" Kenapa kamu ketawa? " tanyaku kesal


"Bapak pikir saya serius ya tadi? "


"Maksudnya? " aku semakin tak mengerti dengannya, tadi itu wajahnya benar-benar seperti kecewa tapi kali ini dia biasa saja malah tertawa terbahak-bahak.


"Aku bercanda kali pak! nggak usah di bawa serius gitu! " ujarnya "Bapak nggak usah minta maaf sama saya, lagian tadi itu saya ketiduran di ruangan bapak, saya sempet denger mbak karin membangunkan saya, dan bilang kalau akan ada pemadaman listrik, tapi saya ngantuk banget, jadi saya lupa deh pas Arga telpon bilang ada seseorang yang nunggu kita di depan rumah" jelasnya begitu polos, membuatku tiba-tiba kikuk dan tak tau harus bersikap bagaimana.


"Kamu tuh ya! lagian bisa - bisanya kamu tidur nyenyak di ruangan saya, kalau nanti kamu ngiler gimana? ruangan saya jadi bau.... " Ku tunjukan rasa kesal yang sebenarnya hanya menutupi rasa grogi ku saja.


"Bapak pikir tadi saya marah ya? " godanya sambil menunjukan jarinya ke pipiku


"Ihhh Geer kamu, lagian kamu mau marah atau nggak, saya nggak perduli" gumam ku memalingkan wajah.


"Yakin bapak nggak perduli sama saya? " godanya, aku hanya terdiam melihat sekitar karena tak sanggup menatap wajahnya, aku bingung bagaimana aku bisa perduli pada Kiand? " pak. bapak" panggil Kiand


"Saya mau cari minum, kamu tunggu disini! " aku beranjak dari kursi dan berniat melangkahkan kaki meninggalkan Kiand, namun tangan Kiand seketika menyentuh tanganku, ada yang aneh saat aku menoleh kearahnya, melihat senyumnya, dadaku berdetak hebat, hingga aku hampir sulit mengontrol perasaanku , tapi seketika bayangan Bintang muncul di kepalaku.


"Saya mau juga ya" ucapnya tersenyum manja


"Hmmm" Aku langsung melepaskan pegangan tangan Kiand, otak dan pikiranku mulai bergulat dengan rasa aneh yang kurasakan pada Kiand, meski tertampik oleh bayangan Bintang


Aku berjalan keluar ruang IGD dengan perasaan yang aku sendiri tidak mengerti. Bintang langsung berjalan kearahku saat melihat aku sudah berada di pintu IGD


"Bagaimana kondisi Kiand? " tanya Bintang, Aku hanya menatap Bintang tanpa menjawab pertanyaannya


Apa mungkin aku bisa melupakan wanita yang berdiri di hadapanku gumamku dalam hati


"Pandu, Du..... Pandu!"


" ohh iya kenapa? tadi kamu tanya apa? " Aku tak sadar jika Bintang tengah berbicara padaku


"Kamu kenapa sih? aku tanya kondisi Kiand , bukannya jawab malah bengong! " ujar Bintang


"Oh iya maaf, Kiand baik-baik aja, kamu mau liat ke dalem? aku mau cari minum dulu" ucapku


"Ohh ya udah, aku ke dalem dulu ya! " Bintang pun masuk untuk melihat kondisi Kiand, sedang aku berjalan ke luar rumah sakit, menenangkan pikiran dan perasaanku sambil mencari minuman untukku, Bintang dan Kiand.